Perang dingin terus berlangsung antara aku dan Serina. Sepulang dari acara Grand Opening, Serina memilih diam. Tak satu kata pun terucap darinya, bahkan tidur pun dia pisahkan—mengunci diri di kamar tamu seolah rumah ini hanya tempat singgah baginya. Pagi-pagi sekali, dia sudah pergi tanpa meninggalkan pesan pada para ART seperti biasanya.
Aku sarapan sendiri di ruang makan yang hening, sementara pikiranku jauh dari kata tenang. Semakin kacau saat berita infotainment pagi ini menyembur di layar televisi. Nama Avan mendominasi—dokter muda, investor sukses, dan kini, "sosok hangat" di balik wanita muda dan anak kecil yang mulai dikenal publik.
Gambar Avan menggendong Zahra terpampang jelas. Luna berada di sampingnya, tertawa, tersenyum. Keduanya tampak… serasi. Aku nyaris melemparkan gelas kopi saat melihat headline berbunyi: "Dokter Tampan Investor Muda, Siap Nikahi Desainer Medina?"
Sakit hati ini bukan hanya karena cemburu. Tapi karena aku tidak tahu. Aku tidak tahu sejauh apa Luna telah pergi dari hidupku, dan seberapa dekat dia kini dengan Avan. Ini tak bisa dibiarkan begitu saja.
Aku mengangkat telepon. “Aira, bawa kemari kontrak kerja sama dengan Ibu Aluna Fatimah. Sekarang.”
Tak lama, Aira datang dan meletakkan setumpuk berkas di mejaku. Aku menemukan alamat Medina di dalamnya. Tanpa pikir panjang, aku langsung meluncur ke sana.
***
Apa yang kulihat jauh dari dugaanku.
Aku kira Medina hanyalah butik kecil milik desainer pemula. Tapi bangunan ini menyerupai sebuah perusahaan mapan. Interiornya modern, pelayanan para staf begitu profesional, customer datang silih berganti. Medina bukan sekadar butik—ini korporasi.
Kakiku melangkah masuk, disambut oleh seorang resepsionis berhijab dengan senyum ramah.
“Saya ingin bertemu dengan Ibu Luna,” kataku.
“Maaf, apakah Bapak sudah membuat janji?” tanyanya sopan.
Aku mengerutkan dahi. “Katakan saja pada Bu Luna kalau Lintang direktur LAGTv ingin bertemu.”
Dia tampak ragu.
“Saya ingin membicarakan sesuatu yang penting,” ucapku tegas, mulai kehilangan kesabaran.
Setelah menghubungi seseorang lewat telepon, ia menjawab, “Bu Luna sedang bersama customer. Mungkin Bapak bisa menunggu sekitar tiga puluh menit.”
Tiga puluh menit? Aku hampir tertawa sinis. Apakah sekarang aku harus mengantri untuk bertemu dengan perempuan yang dulu keberadaannya tidak kuakui.
“Aku hanya butuh bicara sebentar. Menunggu selama itu tidak sepadan dengan apa yang ingin ku sampaikan.”
“Jika Bapak keberatan, silakan datang kembali lain waktu. Dan jangan lupa membuat janji, Pak,” ucapnya sambil menunduk.
Aku mendengus kesal tapi memilih duduk. Hatiku berkata aku harus bertemu Luna hari ini, apa pun yang terjadi.
***
Tiga puluh menit terasa seperti tiga puluh tahun. Namun akhirnya, seorang wanita muda datang menghampiriku. “Halo Pak Lintang, silakan ikut saya.”
Kami berjalan menyusuri koridor yang elegan. Aku mencoba mengorek informasi darinya.
“Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?”
“Baru enam bulan, sejak Medina dibuka,” jawabnya.
Aku mengangguk. Hanya enam bulan, tapi sudah sebesar ini?
“Bos kamu hebat sekali.”
“Tentu saja,” sahutnya cepat, tersenyum bangga. “Banyak pria rela mengantri hanya untuk bertemu Bu Luna.”
Aku meliriknya tajam. Apa maksudnya?
“Maaf Pak Lintang, saya terlalu banyak bicara,” katanya buru-buru. “Silakan masuk.”
Dia membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk.
***
Di dalam, aku mendapati Luna duduk anggun di balik meja kerjanya. Dikelilingi tumpukan berkas, namun tetap tenang, cantik, dan berwibawa. Cahaya matahari menyusup dari jendela, memantul pada wajahnya—menghidupkan kenangan yang selama ini ku pendam dengan keras kepala.
Jantungku berdegup tak beraturan. Untuk pertama kalinya, aku merasa seperti pria asing yang datang mengganggu dunia yang tak lagi menjadi milikku.
***
POV Author
Lintang kini berdiri mematung di hadapannya. Kehadirannya mengacaukan emosi Luna, meski ia berusaha tetap tenang dan menjaga ekspresi.
Lintang sendiri seperti terpukau. Tatapannya tak lepas dari Luna. Jika semalam Luna tampil memesona dengan balutan gaun anggun, maka pagi ini kecantikan natural Luna justru lebih menohok. Ia hanya mengenakan abaya polos dan hijab sederhana, tapi pesonanya begitu menyilaukan.
“Silakan duduk, Pak Lintang,” ucap Luna tenang, mengambil alih situasi.
Lintang merapikan jasnya—yang memang sudah rapi sejak awal—berusaha menutupi rasa gugupnya. Ia lalu duduk tanpa banyak bicara.
“Kebetulan sekali Anda datang kemari. Saya jadi tidak perlu repot-repot mencari Anda,” ucap Luna dengan nada datar namun tajam.
Lintang sedikit terkejut. Ia datang ke sini untuk menemui Luna. Tapi ternyata, Luna juga punya urusan dengannya.
“Ada hal penting yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Lintang, mulai merasa tak nyaman.
“Saya pikir justru Anda yang punya tujuan lebih besar hingga rela melangkah ke sini di tengah kesibukan Anda sebagai seorang direktur,” jawab Luna sambil tersenyum tipis. “Daripada menanyakan apa yang ingin saya sampaikan, lebih baik Anda jelaskan dulu apa yang ingin tujuan anda.”
Lintang terdiam. Gaya bicara Luna yang begitu dewasa dan terkontrol membuatnya merasa kalah dalam medan yang seharusnya bisa ia kuasai.
“Sekarang kamu pandai bicara, Luna. Sampai-sampai aku tak tahu harus membalas apa,” katanya, mencoba menekan nada frustrasinya.
Luna menyeringai kecil.
“Rupanya benar kata Serina. Kamu datang lagi dalam hidupku hanya untuk menghancurkan rumah tanggamu sendiri. Sengaja membawa anak kecil untuk menjebak ku. Padahal jelas-jelas anak itu bukan anakku, bukan?”
“Bagaimana jika Zahra memang anakmu?” Luna memancingnya tenang.
“Tidak mungkin!” Lintang berseru. “Avan sudah mengaku di hadapan media bahwa anak itu miliknya. Aku mendengarnya langsung. Jadi kenapa kau masih bersikeras bahwa aku ayahnya?” Lintang naik pitam, merasa harga dirinya diinjak.
Luna menunduk sejenak. Penyesalan memeluk hatinya. Ia tak menyangka bahwa membawa Zahra ke rumah Lintang akan berujung seperti ini. Kini semua ketakutannya menjadi kenyataan: Lintang menolak Zahra.
“Baiklah,” ucap Luna lirih namun tegas. “Mulai hari ini, saya tidak akan pernah menyebutkan nama Anda di depan Zahra lagi.”
Lintang terdiam. Ucapan itu seharusnya melegakan. Tapi entah mengapa, hatinya terasa sesak. Dalam diam, ia sebenarnya berharap Luna menyangkal pernyataan Avan—menegaskan bahwa semua itu hanya kesalahpahaman. Tapi Luna tak memberinya kepastian itu.
Tangan Lintang mengepal. Buku-bukunya memutih menahan gejolak batin.
“Saya tidak pernah memaksa Anda untuk mengakui Zahra, Pak Lintang,” lanjut Luna. “Itu sepenuhnya hak Anda. Saya hanya menyampaikan kebenaran.”
Lintang membuang napas kasar. “Kalau begitu, kenapa kamu membawanya ke rumahku? Kamu pasti punya maksud di balik semua ini. Atau, jangan-jangan—”
“Balas dendam?” Luna menyelesaikan kalimatnya. Sorot matanya menantang.
Lintang bungkam. Untuk sesaat, ia merasa sedang berada di ruang interogasi, bukan ruang kerja seorang desainer.
“Tenang saja, Pak Lintang,” lanjut Luna dengan senyum sarkastik. “Saya tidak kembali hanya untuk membalas dendam. Anda bisa lihat sendiri, saya sibuk membangun hidup saya, bukan meruntuhkan milik orang lain. Semua yang terjadi hanyalah kebetulan—termasuk kerja sama kita.”
Lintang menatap Luna dengan mata menyipit. “Kamu bukan tandinganku,” katanya pelan namun penuh ego.
“Saya juga tidak pernah berniat menandingi Anda,” jawab Luna ringan. “Tapi jika Anda keberatan dengan kontrak kerja sama kita, silakan dibatalkan. Anda tentu tahu konsekuensinya.”
Perkataan Luna tajam, namun sepenuhnya logis dan sah. Ia tidak memberi celah pada Lintang untuk kembali menekan seperti masa lalu.
Lintang bangkit dengan gerakan mendadak. “Kita lihat saja nanti! Saya tidak akan bangkrut hanya karena membayar ganti rugi, bahkan kalau harus dua kali lipat sekalipun!” katanya, lalu berbalik pergi.
Luna tetap duduk tenang. Ia memandang punggung Lintang yang dulu begitu ia rindukan, tempat ia berharap bisa bersandar saat lelah. Tapi kini punggung itu tak lagi penting.
Ia telah membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri, bahkan lebih tinggi dari bayangan yang dulu mengungkungnya.
Namun sebelum Lintang menghilang dari balik pintu, Luna berseru:
“Pak Lintang, saya hampir lupa.”
Langkah Lintang terhenti.
“Soal hinaan dan tamparan istri Anda waktu itu... Saya masih mengingatnya dengan sangat jelas. Saya sudah lama menunggu permintaan maaf dari istri Anda. Tapi karena sepertinya itu tidak akan pernah terjadi... maka hari ini, saya akan melaporkan istri Anda ke kantor polisi.”