12. Wajahnya Tidak Asing

1364 Kata
Lintang memukul setir mobilnya berulang kali. Amarah, kekecewaan, dan kebingungan berdesakan di benaknya, membentuk badai emosi yang nyaris tak tertahankan. Pertemuan dengan Luna menjadi pemicu segalanya—ucapan wanita itu mengguncang keyakinannya, membuat Lintang merasa seolah Luna kembali hanya untuk menghancurkan kehidupan yang sedang ia coba bangun. "Tidak... Luna tak boleh melakukan ini," gumamnya lirih, meski hatinya sendiri penuh keraguan. Logikanya menolak, tapi pikirannya berkecamuk—terlebih hubungannya dengan Serina yang kian memburuk, dan semua itu berawal sejak kemunculan Luna. Ucapan Luna kembali menggaung dalam pikirannya. "Soal hinaan istri anda dan tamparannya waktu itu, sampai saat ini saya masih merasakannya. Saya sudah lama menunggu permintaan maaf istri anda, tapi sepertinya semua itu tidak akan terjadi. So, hari ini saya akan melaporkan istri anda ke kantor polisi." Lintang menghela napas berat, pikirannya kusut seperti benang yang tak terurai. Ia pun kembali ke kantor dengan wajah suram. Beberapa staf yang berpapasan dengannya memilih menunduk, tak berani menyapa. Saat membuka pintu ruangannya, Lintang dikejutkan oleh kehadiran Serina. Istrinya tampak memesona dengan gaun merah menyala tanpa lengan, berpadu dengan rok mini yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Perut rampingnya terekspos, mempertegas citra seorang model papan atas yang sangat menjaga penampilan. Serina duduk santai di sofa, memainkan ponsel "Darimana?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Meeting," jawab Lintang singkat, lalu duduk di sofa seberang. "Meeting?" Mata Serina akhirnya beralih, menatap Lintang tajam. "Sekretaris mu bilang tidak ada jadwal luar hari ini. Jangan bohong!" "Aku punya banyak urusan, Serina. Tolong jangan curiga terus. Kau tahu posisiku di perusahaan ini." "Bagaimana aku tidak curiga? Kau sendiri yang menyalakan api cemburu ini!" Nada suara Serina mulai meninggi. Lintang mencoba meredam, "Kamu yang membakar dirimu sendiri, Serina. Aku—" "Tak ada asap kalau tak ada api!" sergah Serina. Matanya mulai berkaca-kaca, meski ia menahan air matanya karena sadar itu tak lagi ampuh untuk meluluhkan Lintang. "Gara-gara dia, kamu berubah. Kamu bukan suami yang dulu lagi. Kamu berbohong, mengabaikan ku, menyalahkan ku!" serunya lirih namun tegas. "Cukup!" Lintang ikut tersulut. "Maumu apa?!" "Putuskan semua kerja sama dengan wanita kampung itu! Dia datang hanya untuk menghancurkan kita. Anak itu jelas bukan anakmu!" suara Serina meledak. Lintang terdiam sejenak, lalu berkata, "Baik. Tapi ada satu syarat." "Apa?" tanya Serina curiga. "Kau ingat pernah menampar Luna di depan umum? Dia akan melaporkanmu ke polisi jika kau tidak minta maaf padanya." Wajah Serina langsung menegang. Ia berdiri, menatap ke luar jendela. "Seharusnya dialah yang minta maaf padaku," gumamnya pelan namun tajam. Lintang mendekat, menepuk bahunya lembut. "Lakukan ini demi kita. Tolong turunkan egomu sedikit saja." Serina menepis tangan Lintang dan membalikkan badan. "Ego? Kamu yang dia rebut dari Aku, dan akhirnya aku tetap jadi pilihan kedua!" katanya dengan mata yang nyalang, lalu mengambil tas dan pergi begitu saja. Lintang berdiri mematung, menatap punggung istrinya. "Harga dirinya terlalu tinggi..." gumamnya. Sementara itu, di sebuah ruangan khusus, Hengki menunjukkan tiga nama klinik terbaik di kota itu. "Ini rumah sakit terbaik, Bos. Termasuk yang anda dan Ibu Serina pilih untuk program itu." Lintang mengangguk. Selama empat tahun pernikahan tanpa kehadiran anak, ia dan Serina telah mencoba berbagai program kehamilan, termasuk bayi tabung. Diagnosa dokter menyebutkan Lintang mengalami oligoteratozoospermia—kondisi dimana s****a terlalu sedikit dan banyak yang abnormal. Maka, bayi tabung menjadi satu-satunya harapan. Namun kemunculan Luna, membawa seorang anak perempuan, mengguncang keyakinannya. Apalagi anak itu diakui oleh Avan di hadapan media. Meski begitu, hati Lintang tak tenang. "Lakukan tes DNA diam-diam pada gadis kecil itu. Dan cari informasi lengkap soal rumah sakit tempat saya dan Serina dulu melakukan program," perintahnya pada Hengki, dingin namun mantap. *** Sementara itu, Luna berdiri terpaku di depan sebuah bangunan bercat putih krem. Pandangannya kosong, namun hatinya bergemuruh. Kantor polisi bukanlah tempat yang ingin ia datangi hari ini—melaporkan istri dari mantan suaminya tidak pernah masuk dalam rencananya. "Ini bukan balas dendam," bisiknya, menenangkan diri. “Ini bentuk pembelaan diri. Semua yang bersalah harus bertanggung jawab, tak peduli setinggi apa pun kekuasaan mereka.” Dengan langkah mantap, Luna masuk ke ruangan pelaporan. Ia menjelaskan semuanya dengan runtut—mulai dari tamparan Serina, hinaan yang ia terima di depan umum, hingga ancaman-ancaman terselubung. Ia juga menyerahkan bukti video dan menyebutkan beberapa saksi yang bisa memperkuat laporannya. Hampir tiga jam ia menghabiskan waktu di sana hingga malam menjelang. Begitu selesai, Luna langsung pulang. Rasa rindu pada Zahra mendorong langkahnya, membuat keletihan sepanjang hari seakan menguap begitu saja. Begitu pintu rumah dibuka, tubuh kecil itu langsung menyambut dengan pelukan hangat. "Mama! Rindu." Zahra memeluk Luna erat, wajahnya berbinar bahagia. "Mama kok gak jemput Zahra?" tanya Zahra manja. Sejak pindah ke kota ini, Luna menyekolahkan Zahra di PAUD nasional bertaraf tinggi—sekolah anak-anak para artis, pengusaha, dan pejabat. "Maaf, Mama sibuk hari ini. Tapi tadi Kak Ica jemput kamu, kan?" "Tapi Kak Ica suka terlambat." Zahra merajuk. "Iya, iya, nanti Mama bilangin Kak Ica supaya jemput kamu lebih awal, ya." "Janji?" "Janji." Luna mengangguk sambil mengecup dahi Zahra. Aroma tubuh anaknya seolah menghapus lelah dan gundah yang membebani pikirannya. Meski Zahra adalah anak dari lelaki yang tak bertanggung jawab, Luna mencintainya tanpa syarat. Gadis kecil itu adalah sumber kekuatannya. "Mama..." "Hm, apa lagi?" Luna tersenyum geli, sudah bisa menebak nada itu menandakan ada sesuatu. "Tadi Zahra ketemu oom-oom. Dia beliin Zahra es krim dan elus kepala Zahra." "Terus?" Luna menahan kekhawatiran, tetap tenang demi mendengar lebih lanjut. "Oom itu cerita banyak. Dia ganteng dan baik, Mama. Kami... kami berencana ketemu lagi. Oom itu janji beliin es krim lebih banyak!" "Zahra mau?" "Tentu saja! Dia romantis, Mama. Zahra suka." Luna menggeleng pelan. Sifat impulsif Zahra terhadap laki-laki dewasa semakin terlihat jelas. Luna tahu, itu tumbuh dari rasa kehilangan figur ayah sejak bayi. Anak itu haus perhatian dari sosok pria dewasa yang ia anggap lebih pengertian dan bisa mendengar. Di kamar, Luna mendudukkan Zahra di atas tempat tidur. "Zahra lupa pesan Mama?" Zahra tampak berpikir sejenak. "Jangan makan es krim?" "Bukan itu." Luna menggantung kalimatnya. "Jangan terlalu dekat dengan orang yang baru di ke..." "Kenal!" sahut Zahra cepat, bangga bisa menebak maksud ibunya. "Lalu kenapa kamu tetap melakukannya?" Luna menjawil hidung putrinya. "Karena dia ganteng dan baik, Mama." Zahra menjawab manja. "Kalau dia jahat? Kalau dia penculik?" Zahra terdiam. Raut wajahnya berubah—rasa takut mulai merayapi. Luna menyesal membuat anaknya khawatir. "Maaf ya, sayang. Lain kali jangan diulang lagi. Mama juga akan bilang ke Kak Ica supaya jaga kamu lebih ketat, ya?" "Baik, Ma. Tapi… boleh nggak Zahra ikut Mama kerja? Di rumah bosan." Luna mengangguk, pasrah. Ia tahu, semua ini tak bisa sepenuhnya disalahkan pada Zahra. Menjadi orang tua tunggal adalah perjuangan yang berat. Ia harus bekerja keras, dan waktu yang bisa ia berikan pada anaknya menjadi sangat terbatas. Malam itu, saat Zahra terlelap, Luna termenung di sisi ranjang. Dalam hatinya, ia bergumam, "Andai aku punya suami... mungkin Zahra tidak akan pernah merasa kekurangan kasih sayang." Sementara itu, Lintang masih berada di kantor. Malam telah larut, tapi pikirannya jauh dari tenang. Ia duduk di kursi kerja dengan mata terpaku pada layar komputer, meski pikirannya melayang entah ke mana. Laporan dari Bara datang lebih dulu. "Wanita itu benar-benar melapor ke kantor polisi hari ini, Bos. Tapi tidak ada wartawan yang membuntuti pergerakannya." Lintang mengangguk, tapi hatinya semakin gelisah. Luna benar-benar membuktikan ancamannya. Dan jika Serina tetap menolak minta maaf, reputasi mereka bisa hancur. "Pantau terus gerak-geriknya, 24 jam. Jangan ada yang terlewat," perintahnya. Kemudian datang laporan dari Hengki. "Saya sudah ambil sampel rambut gadis kecil itu, dan kirim ke lab untuk tes DNA. Hasilnya akan keluar dua minggu lagi." "Kenapa selama itu? Bayar berapa pun supaya dipercepat!" Lintang mulai kehilangan kesabaran. "Maaf, Bos. Tes DNA tak bisa dipercepat hanya dengan uang. Prosedurnya tetap butuh waktu." Hengki ragu-ragu sebelum menambahkan, "Tapi, saya ingin menyampaikan satu hal penting." "Katakan!" jawab Lintang tajam. "Saat melihat gadis kecil itu, saya melihat banyak kemiripan, Bos. Matanya, bibirnya... bahkan hidungnya. Dia mirip sekali dengan Anda." Lintang tertawa pendek, sinis. "Omong kosong." Hengki menyerahkan ponsel yang menampilkan foto Zahra. "Silakan lihat sendiri, Bos." Lintang mengambil ponsel itu. Pandangannya langsung terpaku pada wajah kecil di layar. Ada sesuatu di sana—tatapan mata, lengkung bibir yang terasa tidak asing. Sesuatu dalam dirinya mulai goyah. Tes DNA mungkin butuh dua minggu. Tapi jawabannya sudah mulai mengusik dari sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN