13. Mimpi Yang Nyata.

1012 Kata
Apa yang di ucapkan oleh Hengki jelas membuat Lintang tidak tenang, keraguan demi keraguan muncul di dalam benaknya, apa iya Zahra benar anakku? Foto Zahra yang tersenyum centil menampakan barisan gigi rapi putih yang terawat, lesung pipinya menambah kecantikan gadis kecil itu, poni lurusnya menutupi dahi di tambah dengan rambut kuncir kuda, gadis itu memakai seragam anak TK bewarna hijau toska dan putih, hidung mancung dengan bibir tipis yang sedikit berbelah di bagian bawahnya adalah bagian yang paling mirip dengan lintang dan karena itu juga lintang terus menatap foto itu tiada henti-hentinya. Semakin Lintang memperhatikan foto itu semakin hatinya di penuhi dua perasaan yang bertolak belakang, keraguan dan keyakinan, ragu kalau itu adalah anaknya karena selama ini dia punya masalah kesuburan, yakin karena Zahra seperti versi Lintang jika berjenis kelamin wanita. Menunggu hasil tes DNA terlalu lama bagi Lintang, namun menebak-nebak juga tidak bisa menyelesaikan masalah yang seperti teka-teki yang tidak punya jawaban. Ini begitu melelahkan bagi Lintang, sekuat apapun dia berpikir tidak bisa dia pecahkan. Serina masuk kedalam kamar dengan wajah kelelahan, dia baru saja menyelesaikan pemotretan membuat Serina harus pulang larut malam, Serina cukup terkejut melihat suaminya yang belum tidur dan masih bersandar di kepala ranjang. "Baru pulang?" Lintang berbasa-basi menegur Serina. "Hm." Jawab Serina dingin, kelelahan membuat dirinya tidak ingin berbasa-basi terlalu panjang, bukan saja fisiknya yang lelah, pikiran Serina pun ikut lelah akhir-akhir ini. Serina berjalan gontai dengan tungkai kakinya yang panjang, masuk kedalam walk in closed untuk meletakan tas dan segala aksesoris yang di pakainya kembali pada tempat semula, lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tanpa Serina sadari Lintang menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan, di dalam diri Lintang bertanya-tanya, kenapa dirinya tidak seantusias dulu saat melihat Serina, rasa cintanya yang menggebu-gebu seakan telah pudar, hubungannya dan Serina tidak sehangat saat mereka masih berpacaran. Siapa yang salah? Lintang memilih bangkit dari tempat tidur dan duduk di sofa, dia ingin berbicara dengan Serina, memecahkan permasalahan yang terjadi di dalam keluarga kecil mereka. Hampir satu jam Lintang menunggu, akhirnya Serina selesai mandi, dengan memakai piyama tidur berbahan satin tipis membalut tubuh sexy nya Serina langsung menuju tempat tidur tanpa menghiraukan Lintang yang menunggunya sejak tadi. "Apa kamu sudah tidak menghargai saya lagi sebagai seorang suami Serina?" Lintang langsung menghujamkan kata-kata tajam kepada Serina, Lintang sudah muak karena sejak tadi menunggu tapi di abaikan. Serina yang hampir saja berbaring terpaksa duduk kembali, dengan malas dia berbicara "Apa lagi Mas, aku capek, sekarang sudah pukul dua pagi." Serina tidak berbohong, selain rasa lelah yang menyerang dia juga mengantuk, butuh istirahat karena besok dia harus melanjutkan pemotretan. "Apa yang kamu lakukan itu adalah keinginan kamu? Kenapa harus mengeluh?." Amarah yang terpendam akhirnya keluar juga. "Mas, please! Kita sudah bicarakan ini berkali-kali, aku capek Mas." Serina seolah tidak peduli dengan kemarahan Lintang, dia memilih untuk kembali berbaring. "Luna telah melaporkan kamu kekantor polisi, apa kamu tidak peduli itu?" Ucap Lintang. Serina tidak bergeming, dia tetap berbaring, tubuhnya benar-benar lelah, bukan itu saja Serina tau Lintang tidak akan membiarkan istrinya masuk penjara, selain dari itu Serina yakin Lintang juga masih membutuhkan nama baik keluarga mereka, Lintang pasti akan mengurusnya. "Pikirkan lagi Serina, Luna sudah menawarkan solusi untuk kamu, dia akan mencabut laporan selama kamu mau minta maaf kepadanya secara langsung." Serina tetap diam, dia memilih tidur tanpa mempedulikan apa yang di ucapkan oleh suaminya. Lintang tentu saja kesal, seolah dia sedang berbicara dengan batu, tidak ada jawaban, tidak ada respon, lintang memilih meninggalkan Serina di dalam kamar menuju ruangan kerjanya. Disana dia duduk di depan sebuah meja, membuka laptop dan mulai bekerja, mencoba menghilangkan semua pikiran berat, namun percuma, bayangan Luna dan Zahra muncul bergantian di dalam benaknya. "Tuan, Saya minta maaf, Tuan sedang mabuk, saya sangat takut Tuan." Tangan dan tubuh Luna bergetar seirama, Lintang pulang dengan jalan sempoyongan, bau alkohol dari tubuhnya begitu kentara, dia mabuk. Luna yang kebagian tugas membuka pintu di seret oleh Lintang secara membabi buta. Luna menangis kesakitan, beberapa kali tersandung dan terjatuh saat menaiki tangga, tidak ada kekuatan untuk melawan Lintang yang seperti kerasukan. "Tolong lepaskan saya Tuan, saya minta maaf jika saya ada salah!" Ucapan di iringi oleh Isak tangis Luna yang tidak membuat iba Lintang, bahkan dia semakin keras menyeret gadis yang telah menjadi istrinya beberapa bulan yang lalu. Sesampainya di kamar Lintang melempar tubuh Luna di atas tempat tidur dengan keras. "Maafkan saya Tuan, apa salah saya Tuan? Kenapa Tuan menjadi kasar seperti ini?' "Jangan pura-pura bodoh, inikan yang kamu mau?." Lintang membuka pakaiannya dengan cepat membuat tubuh Luna semakin bergetar hebat. "Tuan, anda sedang mabuk, jangan seperti ini Tuan, Saya mohon." Luna benar-benar ketakutan tapi tidak membuat Lintang berhenti, Lintang mendekati Luna dan merobek seluruh pakaian yang melekat pada tubuh Luna. Luna memberontak namun percuma, tenaga Lintang begitu besar, tidak sebanding dengan kekuatannya. "Jangan Tuan, saya mohon, jika tuan tidak menginginkan saya tolong kembalikan saya ke kampung." Luna memelas memohon ampun. Tapi percuma, Lintang tidak perduli, dengan segala kekuatannya dia merudapaksa Luna, Luna menjerit kesakitan dan memohon agar Lintang berhenti sama sekali tidak di dengar Lintang, semakin Luna menjerit semakin Lintang bersemangat untuk menyakiti Luna lebih dalam. Mata Lintang tiba-tiba terbuka dan dia langsung terduduk dengan peluh yang mengucur. "Ah ah ah." Napasnya terengah-engah bagaikan habis di kejar binatang buas. "Mimpi, hanya sekedar mimpi, Astaghfirullah ..." Lintang mengusap wajahnya berkali-kali, ya benar dia ketiduran di ruang kerjanya sampai harus bermimpi, bukan, ini bukan mimpi, tapi kejadian yang terekam di alam bawah sadar Lintang dan kejadian itu terus di putar ulang layaknya CD rusak. "Rasanya begitu nyata." Ucap Lintang lirih, bukan satu kali ini Lintang mengalaminya, bahkan berkali-kali. Sebenarnya apa yang terjadi di malam itu Lintang tidak terlalu ingat, dia berada di bawah pengaruh alkohol, yang di rasakan oleh Lintang adalah kenikmatan saja, karena itu pertamanya dia melakukan hubungan badan dengan seorang wanita, sisanya dia tidak mendengar apa-apa, jeritan kesakitan dan minta ampun dari Luna tidak masuk kedalam telinganya. Lintang bingung bagaimana menghilangkan mimpi buruk itu, dia bahkan sudah beberapa kali mendatangi psikiater untuk berkonsultasi namun hasilnya nihil, mimpi itu tetap terulang kembali. "Apa aku harus minta maaf pada Luna?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN