Lintang duduk sendirian di meja makan seperti biasanya. Sepiring nasi, telur mata sapi, dan segelas jus jeruk tertata rapi di hadapannya. Bukan Serina yang menyiapkannya, tentu saja, melainkan Bibi Atun. Serina masih di kamar. Tidur. Dulu Lintang pernah protes. Tapi Serina selalu punya jawaban tajam. "Aku lelah, Mas. Kamu tahu jadwal aku padat. Acara ini, komunitas itu, endorse-an ini. Kan ada Bibi yang masak. Sama aja, kan?" Awalnya Lintang hanya diam. Namanya juga cinta. Tapi makin lama, yang ia rasakan justru kehampaan. Pernikahan yang ia bayangkan akan penuh cinta dan kehangatan justru terasa seperti hidup serumah dengan rekan bisnis yang sibuk sendiri. Baru saja ia menghabiskan suapan terakhir, Serina muncul. Sudah rapi, make-up on point, alis presisi seperti penggaris, dan bibir

