16. Bara Api di Tengah Hujan.

1128 Kata

Senja di café atap kota itu menggantung tenang, membalut langit dengan warna jingga yang lembut. Angin mengibaskan helaian rambut Luna yang dibiarkannya tergerai. Duduk berhadapan dengan Avan di balik meja kayu berlampu gantung temaram, suasana itu seperti mengingatkan pada sore-sore mereka dulu di depan warung nenek. Avan tak banyak bicara. Ia tahu, Luna sedang dalam perang batin yang besar. Sesekali ia hanya menyodorkan senyuman tipis, atau menambahkan s**u ke dalam cangkir teh Luna. Hal kecil yang dulu biasa ia lakukan. Luna menatap cangkirnya dalam-dalam. Lalu pelan, suaranya pecah di antara sunyi. “Aku kira hidupku akan biasa saja, Van. Dulu setelah kamu pergi... aku gak tahu harus percaya pada siapa. Nenek tiba-tiba bilang aku harus menikah. Katanya demi masa depan.” Avan mengang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN