18. Sedikit Waktu.

1017 Kata

Kantor Medina hari itu ramai, seperti biasa. Suara dering telepon, tawa pelanggan, langkah kaki petugas resepsionis—semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Tapi tidak di dalam ruang kerja Luna. Ia duduk di balik meja kacanya, tatapannya kosong menembus jendela yang menghadap ke taman kecil. Tangannya menggenggam sebuah mug teh yang sejak tadi tak tersentuh. Di layar laptop, pemberitaan masih bermunculan—judul-judul besar yang menyayat, menyebut namanya bersama nama Lintang, Avan, bahkan... Zahra. Zahra... Nama itu saja sudah membuat jantungnya seperti diremas. Ketakutan yang selama ini ia tekan, kini meluap begitu keras. Dulu, saat memutuskan menyimpan segalanya sendiri, Luna yakin bisa melindungi anaknya dari dunia yang kejam. Tapi sekarang, semua rahasia itu dibuka oleh tangan-tangan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN