2-Sang Target

705 Kata
Bip.... Griz mendekati mobil sport merah yang mulai menyala itu. Saat hendak membuka pintu, perhatiannya tertuju ke mobil yang terpantul dari kaca. Griz lantas berbalik, melihat mobil sport merah keluaran terbaru. "Dia ngejek atau gimana?" geramnya sambil bertolak pinggang. "Punya siapa, nih, mobil?" Seketika Griz mengedarkan pandang. Dia melihat beberapa pengunjung yang hendak pulang tengah memperhatikannya. Hingga perhatiannya tertuju ke seseorang yang keluar dari lift. Griz menurunkan kedua tangan berganti melipat di depan d**a. Seorang lelaki berjas hitam melewati mobil Griz kemudian mendekati mobil di sampingnya. Dia hendak membuka pintu saat menyadari ada yang menatapnya. "Apa?" Griz tersenyum samar. "Mobil lo?" "Kalau bukan mobil gue mana mungkin gue bisa buka pintunya?" Lelaki itu menjawab dengan nada dingin. Griz tersenyum samar lalu menggerakkan tangan. "Oke silakan pergi." Lelaki itu tidak menjawab. Dia tampak menunduk dan mengambil sesuatu, setelah itu dia menutup pintu. Saat hendak kembali, dia melihat dua orang lelaki mendekatinya. "Mari Pak Ravin!" Dua orang itu membungkuk hormat kemudian menggerakkan tangan meminta bosnya melangkah lebih dulu. Lelaki yang dipanggil Ravin itu menarik ujung jasnya kemudian melangkah lebih dulu. Dia sama sekali tidak menoleh ke wanita yang memakai croptop tanpa lengan dan rok yang cukup pendek itu. Sedangkan Griz masih menatap ke arah lelaki barusan. Dia tersenyum samar menyadari lelaki itu tampak angkuh. "Tapi, harus gue akui dia keren." Griz masuk mobil kemudian melajukan kendaraannya. Dia mengambil kacamata kemudian mengemudi dengan kecepatan sedang. Angin yang berembus dengan atap mobil yang dibiarkan terbuka membuat rambutnya bergerak ke belakang. Namun, bukannya terlihat semakin buruk, dia tampak seperti model yang sedang melakukan syuting. Tin... Tin.... Terdengar suara klakson. Si pengendara sepertinya menggoda Griz. Sayangnya, tidak ada tanggapan dari Griz. Dia tetap mengemudi dengan senyum samar. Kehidupan yang seperti ini sudah dia lalui sejak dia kecil. Banyak orang-orang yang ingin dekat dan berkenalan dengannya, tapi Griz tetap tidak peduli. Dia terbiasa hidup mewah dan semua keinginannya selalu terwujud. Dia bak ratu di dunia modern. *** Setelah seminggu liburan di Korea, tidak lantas membuat Griz bermalas-malasan. Sekarang, masih pukul tujuh pagi tapi dia sudah rapi dengan setelan kantorannya. Dia memakai kemeja putih dengan hiasan tali yang menyerupai dasi. Penampilannya terlihat tidak monoton saat dia memakai rok asimetris di atas lutut dengan motif kotak-kotak kecil berwarna hitam dan putih. Tidak lupa, dia menyempurnakan penampilannya dengan heels berwarna hitam dan tas tangan kecil berwarna putih pucat. Griz menatap penampilan dirinya sekali lagi. Rambutnya terlihat rapi, makeup pagi ini tidak terlalu tebal dan lipstick nude yang menggemaskan. Wanita itu terlihat puas dengan penampilannya sendiri. Barulah setelah itu dia keluar dari walking closet. Tok... Tok... Tok.... Suara heels-nya beradu dengan lantai dan menggema di rumah dengan bangunan yang cukup tinggi itu. Griz mempercepat langkah menuju pintu kemudian mendekati mobilnya yang telah terparkir. Kemudian ada seorang pembantu yang menyerahkan kunci. Griz mulai mengemudikan mobilnya menuju kantor. Berangkat ke kantor tanpa sarapan dan berpamitan adalah hal yang biasa. Menurutnya justru aneh ketika dia sarapan bersama kemudian saling berpamitan. Sejak kecil, Griz sering melewatkan sarapan. Pertama, karena mama dan papanya terbiasa tidak sarapan. Kedua, dia sangat malas sarapan seorang sendiri. Ketiga, dia sering bangun terlambat dan harus buru-buru berangkat. Kebiasaan itu terus terulang hingga sekarang. Beberapa menit kemudian, Griz sampai di gedung perkantoran. Dia melangkah menuju lift khusus dengan dagu terangkat. Dia terkenal dengan ciri khas pandangan lurus dan penuh percaya diri. Banyak karyawan bawahannya yang kagum dengan tindakan itu. Tring.... Griz hendak masuk, tapi ada beberapa orang yang hendak keluar. Matanya terlihat melebar, karena lift khusus hanya boleh dipakai untuk petinggi kantor. Sayangnya, saat hendak protes dia melihat lelaki yang berdiri di paling belakang. Sudut bibir Griz tertarik ke atas. Sorot matanya yang terlihat tajam kini sedikit melembut. Dia memiringkan wajah, memperhatikan lelaki yang semalam dia temui. "Ada keperluan apa di kantor saya?" Ravin mengembuskan napas melihat wanita yang berdiri di tengah, menghalanginya yang ingin keluar. Dia maju selangkah kemudian bergeser hendak pergi. Sayangnya, wanita itu ikut bergeser dan menghalanginya. "Saya tanya Anda," ujar Griz dengan nada tajam. Ravin bergeser tapi Griz menghalangi lagi. Tidak kekurangan akal, dia menyenggol wanita itu. Akibatnya, Griz terdorong ke belakang dan kehilangan keseimbangan. Ravin refleks menarik pinggang itu dan menahannya. Griz terlihat tidak kaget saat tubuhnya terdorong ke belakang. Apalagi, saat lengan kekar itu menariknya mendekat. "Hai."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN