"Hai."
Ravin merasakan pundaknya diremas pelan oleh wanita yang berada di bawahnya. Dia melirik jemari lentik dengan cat kuku berwarna pink menyala. Kemudian pandangannya tertuju ke wanita yang belum juga kembali berdiri. Dia menarik wanita itu hingga sepenuhnya berdiri kemudian menjauhkan tangannya dari pinggang ramping itu.
Griz berdiri tegak, tapi tangan kanannya masih memegang lengan Ravin. Dia memperhatikan lelaki berwajah oval dengan mata tajam seperti elang itu. Lelaki itu terlihat tampan dan cool. Matanya selalu tajam. Belum lagi alisnya yang tebal dan tulang dahi yang sedikit menonjol, semakin membuat kesan tatapan yang dalam.
"Ck!" Ravin berdecak karena wanita itu tidak kunjung menjauhkan tangan dari pundaknya. Dia menyentak tangan itu kemudian melangkah begitu saja.
"Tunggu...." Tidak disangka, Griz mengikuti Ravin. Dia menarik tangan di depannya, hingga Ravin terpaksa menghentikan langkah.
Ravin memejamkan mata sejenak karena lagi-lagi wanita itu menghalanginya. Dia menyentak tangan itu kemudian melangkah lebih dulu. "Ambil mobil!" perintahnya kepada dua bodyguard-nya.
Griz memanfaatkan kesempatan itu. Dia berdiri di samping Ravin sambil menatap depan. "Saya sering lihat Anda di majalah."
Tidak ada respons dari Ravin. Dia tidak suka diajak bicara dengan orang asing. Terlebih, wanita ganjen di sampingnya. Dia melirik dan mendapati wanita itu juga meliriknya. Refleks, Ravin bergeser menjauh.
"Ke mana?" Griz kembali mendekati Ravin.
Ravin memilih berdiri di dekat pilar. Dia mengepalkan tangan karena anak buahnya terlalu lama. Sedangkan dia sudah gerah dengan wanita berambut cokelat yang terus mengikutinya itu.
Griz memilih berdiri di depan Ravin. Dia menahan tawa melihat lelaki itu yang memilih membuang muka. Banyak lelaki yang berharap ditatap oleh Griz. Namun, lelaki di depannya justru menolak kesempatan itu. "Di mata saya, Anda sangat menarik."
"Saya memang menarik." Ravin menatap wanita di depannya. Matanya terlihat menajam saat wanita itu justru mendekatkan wajah. "Jangan bikin saya marah."
"Enggak...." Griz menggeleng pelan. "Saya ingin tahu saja Anda orangnya seperti apa."
"Pak Ravin!"
Ravin refleks menoleh ke sumber suara. Dia melihat bodyguard-nya berdiri di samping pintu penumpang. Ravin bergeser kemudian melangkah cepat menuju mobilnya.
Kali ini, Griz tidak mengikuti. Dia menatap Ravin yang langsung masuk dan duduk menatap depan. Griz melipat kedua tangan di depan d**a. Dia merasa Ravin bukan lelaki yang mudah ditakhlukkan. "Menarik," gumamnya sambil menatap mobil hitam yang melaju menjauh itu.
Griz berbalik dan berjalan cepat menuju lift. Dia harus mencari tahu kedatangan lelaki itu di kantornya. Selama ini, dia tidak pernah mendapat klien setampan Ravin.
Sampai di lantai atas, Griz masuk ke ruangan yang paling luas di antara ruangan lainnya. Dia berdiri, melihat papanya yang duduk sambil mengusap kening. "Papa...."
Farizan mengangkat wajah. Dia tersenyum samar sebelum akhirnya geleng-geleng melihat penampilan anaknya. "Kamu mau kerja atau gimana?"
Griz terlihat bosan dengan pertanyaan itu. Dia melangkah mendekat dan duduk di depan papanya. "Papa habis meeting?"
"Ya. Cuma sebentar." Farizan menutup berkas di depannya kemudian memasukkannya di laci. "Ada apa pagi-pagi nemuin papa?"
Sudut bibir Griz tertarik ke atas. "Lelaki tampan tadi, jadi partner bisnis kita?"
"Jangan macem-macem. Papa nggak akan izinin kamu deketin dia." Farizan tahu kebiasaan anaknya yang suka bergonta-ganti pacar itu. Entah, anaknya itu mencari lelaki seperti apa. Kebanyakan Griz memutuskan pacarnya karena tidak cocok. Dia yakin, jika anaknyalah yang justru berbuat ulah.
Griz memajukan tubuh. "Papa tahu, keinginanku selalu terwujud?" tanyanya dengan senyum samar. "Sekarang aku mau dia."
"Griz! Jangan macem-macem!" Nada suara Farizan meninggi. "Udah saatnya kamu berubah. Tidak semua yang kamu mau selalu terwujud!"
"Apa yang aku inginkan selalu terwujud!" Griz berdiri kemudian menyibak rambutnya ke belakang. "Oke, kalau papa nggak mau ngasih tahu. Aku bisa cari sendiri." Griz berbalik dan meninggalkan ruangan.
Farizan membingkai kepala melihat kelakuan anaknya. "Hidup nggak akan ada yang tahu Griz, dan kamu belum belajar tentang itu."