4-Sok Cantik

552 Kata
Ketika jam makan siang, Griz memesan makanan sehat dan segelas jus jeruk. Sambil memakan, jemari lentiknya bergerak di ponsel keluaran terbarunya. Dia mencari berita tentang Ravin beserta media sosialnya. Namun, lima belas menit mencari dia tidak berhasil menemukan. Berbeda dengan artikel yang banyak membahas tentang kepintaran Ravin dalam berbisnis. "Ah! Nih, orang kayaknya kolot!" Griz mendorong ponsel kemudian menyeruput minumannya. "Bagaimana mungkin orang zaman sekarang nggak punya media sosial?" Griz kembali mengambil ponsel dan mengetikkan nama Ravin. "Ravindra Axelle, Roish" gumamnya saat melihat artikel tentang lelaki itu. Ibu jarinya bergerak, hingga mendapati salah satu restoran yang baru dibangun Ravin. Tak.... Griz meletakkan ponsel di atas meja. "Gue tahu harus ke mana!" Griz mengambil tas dan memasukkan ponsel di sana. Setelah itu dia mengambil kacamata hitam yang tergeletak di ujung meja. Dia melangkah keluar sambil memakai kacamata eyecat yang dia beli saat liburan bulan lalu. Wanita itu mengemudikan mobilnya ke salah satu restoran tidak jauh dari kantor. "Benar apa kata gue, keinginan gue selalu terwujud," gumamnya sambil menambah laju kecepatan mobilnya. Beberapa saat kemudian, Griz sampai di restoran Jepang yang didominasi warna merah. Dia turun dari mobil dan membuka kacamata. "Baru tahu kalau restoran ini punya dia," gumamnya sambil memperhatikan bangunan dua lantai itu. Griz melangkah masuk dan berjalan menuju meja kasir. "Saya ingin bertemu manajermu." Penjaga kasir terlihat kaget dengan pengunjung yang terlihat angkuh itu. "Maaf, Kak. Apa sudah membuat janji?" "Saya nggak perlu buat janji." Griz memajukan tubuh kemudian menyandarkan dagu di atas jemari. "Cepat!" Gadis berambut pendek itu terlihat ketakutan. Dia bergerak mundur kemudian berlari menuju pantry. Griz berdiri tegak sambil tersenyum samar. Baginya sangat mudah untuk mengintimidasi orang lain. "Permisi. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang lelaki berkemeja biru mendekat. Pandangan Griz tampak menilai lelaki di depannya. "Saya ingin bertemu bos kamu." "Bo... bos?" Lelaki itu terlihat kaget. "Ada perlu apa?" Griz tidak langsung menjawab. Dia menarik kursi terdekat kemudian duduk di sana. Dia kembali memakai kacamata lalu menyilangkan kedua kaki. "Bawa bos kamu ke sini!" "Anda tidak bisa berbuat seenaknya!" jawab Manajer Restoran. "Saya minta Anda pergi dari sini!" "Pergi?" Griz menarik sisi kacamatanya kemudian mengedipkan mata. "Bisa jadi ini hari terakhir kamu kerja, karena tidak mempertemukan bos kamu dengan pacarnya yang sudah lama tidak ditemui." *** "Maaf, Pak Ravin." Ravin mengangkat wajah karena ada seseorang yang masuk ruangannya begitu saja. "Apa?" "Ada telepon dari manajer restoran." "Ck!" Ravin menerima ponsel yang diulurkan kemudian menempelkannya di telinga. "Kamu tahu, kan, saya percayakan restoran ke kamu?" "Iya, Pak. Tapi ini ada masalah lain." Satu alis Ravin tertarik ke atas. "Masalah?" "Ada wanita yang memaksa ingin bertemu dengan Bapak. Katanya pacar Bapak." Ravin menggaruk kening. "Kamu tahu, ribuan wanita di luar sana berharap jadi pacar saya? Jadi, kenapa harus kamu tanggapi serius?" "Tapi wanita ini berbeda, Pak. Dia terlihat memaksa dan tidak bisa dicegah." Tut.... Ravin memutuskan sambungan secara sepihak. "Pastikan cari tahu apa yang ingin dibicarakan, sebelum kasih ke saya." Azkia-sekretaris Ravin-mengangguk. "Tolong Bapak lihat ini." Dia mengulurkan ponsel yang berisi pesan dari manajer restoran. Ravin menerima ponsel itu lagi. Dia mengernyit, melihat wanita berkacamata dengan kemeja putih yang duduk dengan angkuh. Wanita itu terlihat berbicara dengan seorang pelayan yang ketakutan. "Kamu urus. Saya nggak mau urus urusan nggak penting." Rahang Ravin mengeras. Dia tidak menyangka, wanita itu benar-benar mengusiknya. Wanita angkuh yang sok cantik!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN