Lelaki yang tertidur dengan selimut tebal itu perlahan menggeliat. Dia merasa gerah dan membuat tidurnya tidak nyaman. Perlahan dia menyibak selimut kemudian menatap jam dinding yang telah menunjukkan pukul sebelas.
Seketika Ravin bangkit dari kamar dan berjalan keluar. Dia mengernyit melihat beberapa snack yang berserakan di meja ruang tengah. Kemudian di sofa panjang ada seorang wanita yang berbaring meringkuk.
Kruk....
Tangan Ravin memegang perut setelah mendengar suara itu. Dia menuju dapur dan melihat sebuah panci di tengah meja makan. Ravin membukanya dan melihat sebuah kuah putih. Setelah itu dia melihat ke potongan daging dan sayur yang masih terbungkus plastik.
"Griz!" teriak Ravin. Dia yakin, pasti Griz yang memesan. Sayangnya, wanita itu tidak langsung memakan-makanan itu.
Ravin menyentuh sisi panci dan terasa sangat dingin. Dia lalu mengambil kompor listik dan meletakkan di atas meja. Setelah itu dia memanaskan kuah itu. "Griz!" panggilnya kala tidak mendapat jawaban.
Griz yang sebelumnya terlelap seketika terjaga. Dia mengucek mata kemudian mengedarkan pandang.
"Griz!"
Seketika Griz meloncat turun dan berlari mendekat. "Gue tadi coba bangunin lo," ujarnya. "Gue tadi pesen makanan."
Ravin mengaduk sukiyaki di depannya lalu memeriksa daging sapi dengan potongan tipis dan panjang itu. Setelah itu dia mendekatkan ke Griz.
"Panas!" tolak Griz sambil mendorong tangan Ravin. Dia lalu menarik kursi dan duduk di sana.
Diam-diam Ravin memperhatikan raut Griz yang tampak marah. "Ambil mangkok."
"Ambil sendiri!"
Ravin geleng-geleng karena Griz tidak menuruti perintahnya. Dia mengambil dua buah mangkuk lantas duduk di hadapan Griz. Dia mengambil beberapa daging dan jamur setelah itu melahapnya sendiri.
Griz pikir Ravin mengambilkan makanan untuknya. Ah, dia lupa jika berhadapan dengan makhluk yang paling tidak peka. Griz mengambil mangkuk kemudian menuangkan kuah sukiyaki hingga penuh. Setelah itu dia juga mengambil isinya sangat banyak.
Gerakan mengunyah Ravin terhenti. Dia melongok, melihat isi panci yang hanya terdapat jamur. Kemudian dia melirik mangkuk Griz yang tampak penuh. "Nggak mau berbagi?"
Griz mengangkat bahu. Dia menyantap sukiyaki itu tanpa menatap ke Ravin. Dia sengaja melakukan itu agar Ravin sadar dengan tindakannya.
"Ck!" Ravin berdecak. Dia meletakkan sendok lantas segera berdiri. "Gue mampu beli sendiri."
"Beli aja sendiri."
Ravin melirik Griz yang masih sibuk memakan. Entah kenapa, daging yang dimakan Griz tampak enak. Ravin kemudian membuang muka, dia anti minta. Dia segera kembali ke kamar dan memesan sukiyaki untuk dirinya sendiri.
Sedangkan di dapur, Griz masih melahap makanannya. Dia tidak tahu kenapa sangat lapar. Mungkin karena sejak tadi dia buang-buang tenaga.
Beberapa saat kemudian, Ravin kembali dengan tampang suntuk. Dia melihat mangkuk Griz telah kosong sedangkan di panci hanya tersisa kuahnya. Ravin mendekati rak makanan dan melihat TomYam instan. Setelah itu dia membuka kulkas dan mendapati beberapa potong udang.
"Ngapain?" Ternyata Griz memperhatikan Ravin yang membuka bungkusan yang dia tebak mi instan.
Ravin tidak merespons. Dia membersihkan kotoran udang kemudian memasukkannya ke air panas. Setelah itu dia mulai memasak TomYam instan itu.
Aroma rempah-rempah seketika menguar di dapur yang tidak terlalu luas itu. Griz menegakkan tubuh, ingin mencicipi kuahnya. Apalagi dia sempat melihat Ravin memotong udang. "Gue di sini tamu, kan?"
Ravin langsung tahu apa yang diinginkan Griz. "Minta? Lo aja nggak ngasih tuan rumah. Jangan harap."
"Pelit!"
"Lo juga!"
Griz beranjak ke sisi Ravin dan melihat kuah berwarna kemerahan itu. Kemudian dia melihat udang gemuk-gemuk berwarna kemerahan. "Bagi satu udang."
Ravin mengangkat semangkuk TomYam-nya dan berjalan menuju ruang tengah. Ternyata Griz mengikutinya.
Ravin tidak peduli dan mulai menyeruput kuah itu kemudian memakan udangnya. Setelah itu dia menatap Griz dengan senyum puas.
Griz terdiam, melihat cara makan Ravin. "Gue udah kenyang."
"Tapi sebenarnya lo pengen!"
"Enggak!" jawab Griz sambil mengangkat dagu. "Gue bisa beli sendiri!"
Ravin manggut-manggut. "ATM gue kapan dibalikin?"
Griz memutar bola matanya malas. Benar, kan, apa yang dia bilang? Ravin itu sangat pelit. "Sabar. Duitnya belum gue cairin."
"Lo tahu kan kalau ada pajaknya?" Ravin mengingatkan perjanjian mereka waktu itu. "Semakin lama pinjam, semakin lama pajaknya."
"Iya!" balas Griz sambil berteriak. Dia mengambil bantal sofa dan memeluknya erat.
Diam-diam Ravin melirik Griz yang diam tidak bersuara. Dia mengartikan jika wanita itu sedang ngambek karena tidak dibagi makanan. "Nih, ambil dikit!" Ravin mendorong mangkuk itu.
Griz melihat semangkuk TomYam yang tersisa setengah. Dia mendorong mangkuk itu kemudian menatap ke arah luar. "Lo punya kenalan seseorang? Gue pengen beli apartemen yang murah."
"Nggak punya!"
Griz mengembuskan napas. "Lama-lama nggak enak numpang terus."
"Baguslah kalau sadar."
Satu alis Griz tertarik ke atas. Dia menatap Ravin yang masih sibuk dengan makanannya itu. "Nyindir gue?"
"Hmm...." Ravin menjawab apa adanya. "Udah berapa kali lo numpang di tempat gue?"
"Gue pacar lo!"
"Bukan!"
Griz seketika beranjak dan menangkup kedua pipi Ravin. "Gue pacar lo!" geramnya sambil mendekatkan wajah.
"Jangan modus!" Ravin mendorong kening Griz dengan jari telunjuk. Setelah itu dia berdiri dan mengangkat mangkuk kotor. Ravin segera menuju dapur sebelum Griz menghentikannya.
"Ck! Banyak cowok yang berharap gue gituin!" geram Griz sambil berbalik menatap Ravin. Dia melihat lelaki itu menegak minumannya. Griz terpana, menurutnya gerakan meminum Ravin sangat seksi. "Coba lo siram kepala lo."
"Hemp...."Ravin seketika menyemburkan minuman itu. Dia menoleh dan mendapati Griz tengah memperhatikannya dengan mata berbinar. Seketika dia tahu apa yang dipikirkan wanita itu. "Jangan harap!" Dia membuang botol air mineral itu kemudian menjauh.
Sebelum masuk kamar, Ravin memperhatikan Griz sekali lagi. Wanita itu masih memperhatikannya dengan senyum jail. Ravin menunjuk seolah sedang memberi peringatan. Setelah itu dia masuk kamar dan menguncinya dari dalam.
Di ruang tengah, Griz mendengar suara kunci yang diputar. Dia menahan tawa. "Lo pikir gue bakal diem-diem masuk dan serang lo?" gumamnya. "Enak aja! Gue masih punya harga diri."