30-Bersekongkol

786 Kata
Hujan di pagi hari seperti menghambat aktivitas. Banyak orang yang mengeluh saat pagi hari sudah diguyur hujan. Namun, jika hari Minggu pagi hujan banyak orang yang merasa senang. Mereka jadi memiliki alasan untuk berlama-lama di tempat tidur. Sekadar melamun, berbincang atau bahkan memilih tidur lagi. Termasuk, Griz. Sejak dulu saat hujan dia paling enggan beranjak dari ranjang. Hawa yang mendadak dingin membuatnya enggan melakukan banyak pekerjaan. Beruntung, sekarang hari Minggu dan dia tidak harus menembus hujan demi sebuah pekerjaan. "Hoaam...." Griz menguap sambil merentangkan kedua tangan ke atas. Dia berbalik menghadap jendela, melihat tetesan air hujan membasahi kaca. Griz seketika turun dari ranjang dan berdiri di depan jendela. Dia menyentuh kaca yang dingin itu. Setelah itu dia berdiri sambil melihat kedua tangan di depan d**a, melihat langit yang begitu gelap. Tiba-tiba Griz terbayang akan membuat makanan berkuah dan disajikan dengan hangat. Apalagi jika agak pedas, pasti lebih enak. Kemudian dia terbayang akan membuat cokelat panas dan memakan makanan manis. "Aaa! Kayaknya gue pengen kayak gitu!" teriak Griz sambil berlari keluar kamar. Saat melewati kamar Ravin, dia melihat pintu telah terbuka. Griz mengedarkan pandang, tapi tidak mendapati lelaki itu. "Ravin!" Griz menuju ruang kerja dan membuka pintunya. Dia mengintip dari celah dan melihat seseorang yang memakai sweater rajut berwarna krem. Griz memperhatikan Ravin yang tampak serius membaca buku. Mata lelaki itu tampak menajam, tapi tetap terlihat indah. Dia melihat Ravin sudah segar sehabis mandi. Rambut lelaki itu bahkan terlihat masih sedikit basah. Griz heran karena Ravin pagi-pagi sudah mandi, padahal tidak ke mana-mana ditambah di luar masih hujan. "Apa dia nggak punya malas?" Tanpa sadar Griz mendengus. Hidup seorang Ravin selalu lurus dan sepertinya banyak aturan. Ravin sangat jarang mengeluarkan berbagai ekspresi, kecuali marah-marah. Seolah ekspresi lelaki itu sangat mahal. Selain itu Ravin juga tidak pernah memuji seseorang. Sepertinya jika memuji, dunia dan seisinya akan runtuh. "Ngapain?" Tubuh Griz berjingkat hingga tanpa sadar keningnya membentur pinggiran pintu. "Aw!" gerutunya sambil mendorong pintu itu. Ravin memperhatikan Griz yang bertingkah ceroboh. Dia sadar saat Griz membuka pintu, hanya saja dia memilih pura-pura tidak tahu. Buku bacaannya lebih menarik daripada menganggapi wanita gila itu. Namun, lama-lama dia risih karena terus diperhatikan. Griz mendekat sambil mengusap kening. Dia duduk di sofa kemudian menatap Ravin yang masih membaca buku. "Butuh yang anget-anget!" "Ha?" "Itu...." Griz menarik turunkan kedua alisnya. Ravin menatap penuh selidik, menebak apa yang sedang dipikirkan wanita itu. "Mikir jorok?" Griz menutup mulut. Dia beranjak sambil menyugar rambutnya ke belakang. Dia mendekati Ravin sambil menatap lelaki itu menggoda. Ravin mengangkat dagu, ingin melihat apa yang akan dilakukan wanita itu. Saat Griz telah menunduk, dia langsung menjitak kening itu. Setelah itu dia berdiri. "Jangan harap ada anget-angetan kayak yang lo pikirin." "Ish...." Griz menyentuh kening. "Padahal gue cuma mau ngajak sarapan." Dia terkekeh geli. *** Tok... Tok... Tok.... "Ma...." Arvin berdiri di depan pintu kamar mamanya. "Mama!" "Masuk, Vin." Arvin membuka pintu dan melihat mamanya sedang duduk di samping ranjang. Dia mendekat dan duduk di hadapan mamanya. "Lagi ngelihatin apa?" Artari menunjukkan album foto lamanya. "Mama cantik, kan?" Perhatian Arvin tertuju ke wanita berambut panjang dengan kemeja bunga-bunga. Di samping wanita itu ada dua orang yang mengenakan pakaian dengan konsep sama. Dia mengernyit, melihat sebuah spanduk yang terlihat setengah di foto itu. "Ada acara, ya?" "Iya, acara kampus." Artari mengambil album foto itu kemudian membalikkan halaman selanjutnya. "Ini papa Griz." Arvin melihat seorang lelaki dengan rambut gondrong berkaus tanpa lengan. Di samping lelaki itu ada mamanya dan seorang wanita berambut sebahu. "Kalian akrab banget?" "Ya...." Artari mengusap foto Soraya. "Mama Griz cantik banget, kan?" "Hmm...." Arvin sekarang tahu bibit unggul Griz dari siapa. "Ah, Griz ke mana, Ma? Rumah kayaknya sepi." "Biarin. Nanti dia juga ke sini." "Terjadi sesuatu?" "Nggak ada." Artari kembali membuka album foto. Kali ini dia langsung membuka halaman terakhir kemudian menunjukkan ke Arvin. Arvin mengernyit melihat fotonya duduk di samping anak bayi yang memakai selimut pink. "Dia...." "Griz," jawab Artari. "Kamu nggak inget?" "Enggak...." Arvin menggeleng pelan. Seumur hidup, dia tidak pernah memiliki teman dekat perempuan. Saat sekolah dulu, dia lebih sering satu kelas dengan banyak lelaki. "Jadi, aku sama dia udah pernah ketemu?" Artari tersenyum samar. "Setelah kalian foto bareng, bahkan kami ngomongin perjodohan kalian." "Jadi, aku udah dijodohin dari kecil?" Arvin kaget dengan berita itu. Dia melirik fotonya bersama Griz saat masih bayi. "Griz tahu soal ini?" "Belum." Artari menatap Arvin. Arvin semakin dekat dengan Griz. Namun, hanya sebatas itu. Griz sepertinya belum tertarik kepadanya. "Kamu suka Griz?" Arvin tidak langsung menjawab. Dia membayangkan wanita berambut panjang yang sering kali membuatnya marah itu. Pesona wanita itu juga kuat, hingga Arvin terpikat begitu cepat. "Iya, Ma." "Mama dukung kamu." Artari memegang kedua tangan Arvin. "Sebentar lagi dia jadi milikmu." Arvin mengusap lengan mamanya sambil tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN