“Ehem.” Pelayan itu memberi kode agar keributan dapat diminimalisir dan dengan tatapan tajamnya ia sukses membuat Claudia dan Madame Sherlyn ketakutan. “9,6 miliar, harga yang cukup murah untuk ukuran CEO perusahaan mekanik sekelas Anda.”
Ivan Ivanovic, seorang yang biasa dipanggil Ivan atau Ivan itu terkenal karena dia merupakan CEO sekaligus direktur utama perusahaan yang bergerak di bidang tekstil.
Entah bagaimanapun tampilan luar pelayan toko itu yang serba sederhana, wibawanya dalam mengatasi masalah ini sungguh luar biasa. Bahkan, bisa dibilang ia sangat ahli dalam menyelesaikan konflik. Begitu profesional.
“Aku yang salah, Sherlyn, bukan Nanda. Dia hanya berdiri di depan pintu toko dan melihat dari balik kaca. Maaf, Claudia, maafkan atas kecerobohan papamu ini.”
Nanda terus menatap Ivan tanpa sedikitpun ada rasa iba. Harga dirinya sudah tidak ada lagi di pandangan keluarga ini.
“Nah, berarti salah Nanda juga dong, Pa-” Claudia kembali naik pitam. “Kenapa dia hanya berdiri saja di depan pintu dan tidak ikut berada di samping Papa layaknya pembantu seperti biasanya?”
Ivan dan Madame Sherlyn yang selalu merendahkannya dan menganggapnya sebagai pembantu. Claudia pun begitu, sangat mendominasi rumah tangga mereka dan menjadikan Nanda sebagai pesuruh di keluarganya.
“Sudah cukup, hentikan keributan ini!” Suara Ivan tidak kalah kerasnya dari berontak Claudia yang kesal dengan Nanda. Nampak sekali jika pikiran Ivan sudah mulai, apalagi perusahan yang dipimpinnya sekarang sedang mengalami defisit neraca. “Cepat carikan uang itu. Cepat!”
“Saldoku hanya tinggal enam ratus juta.” lirih Claudia pada Madame Sherlyn, berharap tidak didengar oleh pelayan Flower Garden.
“Perusahaan juga sedang turun, bahkan anggaran bulan kemarin masih belum cair. Setidaknya, papamu sudah mengetahui hal ini.”
“Hanya satu solusinya, kita harus meminjam uang kepada Colin.” Madame Sherlyn menepuk pundak Ivan.
“Hah! Tidak. Aku tidak setuju. Dia lebih kejam dari iblis. Dia laki-laki paling licik yang pernah kutemui.” Claudia menggelengkan kepala sambil memasukkan handphonenya kembali ke dalam tas. “Jangan bilang Mama mau menjebakku!”
“Maksudmu?”
“Mama tahu sendiri watak dari Colin, begitu busuk. Buaya yang menyembunyikan identitasnya di balik topeng direktur. Apa jangan-jangan, Mama ingin menjual tubuhku ke lelaki buaya itu!”
Gleg!
Nanda menelan ludah. Perlahan dia ke belakang, lalu mengirim pesan ke asistennya, Melvin. “Kirim aku uang sepuluh miliar, sekarang!”
Tidak perlu basa-basi lagi, Madame Sherlyn langsung menelepon Colin dan segera meminta pinjaman untuk mengganti vas yang dipecahkan suaminya. Tidak butuh waktu lama untuk Colin mengangkat telepon, apalagi mengetahui itu dari Madame Sherlyn.
“Hmm, menarik. Ada tawaran apa sampai kau nekat meneleponku?” Colin berbicara santai. “Aku yakin, selama dua tahun menikah, gadismu itu masih perawan. Mana sudi gadismu disentuh seorang pembantu tak berguna. Hahaha!”
Seperti biasa, Colin selalu menjadi provokator ulung ketika ada masalah yang menimpa keluarga Ivan. Dia masih menyimpan dendam setelah lamarannya ditolak Josh, kakek kandung Claudia, tepat tiga tahun lalu.
“Aku butuh uangnya sekarang, Colin.Plis, ini harus ada.”
“Datang hanya saat butuh, begitulah ciri orang yang tak memiliki sopan santun. Dulu, waktu aku melamar putri cantikmu Claudia, si tua bangka Josh menolak mentah-mentah di depan keluargaku. Betapa malangnya harga diriku sebagai anak seorang wakil walikota direndahkan sedemikian rupa. Bisa kau bayangkan, kan, keluargaku harus menanggung malu, apalagi diliput wartawan?”
Madame Sherlyn hanya diam tanpa jawaban. Benar apa yang diucapkan Claudia barusan, Colin memiliki hati yang sangat busuk; lebih busuk dari bunga bangkai saat mekar.
“Katakan permintaanmu segera, aku sangat membutuhkan uang itu. Apapun. Apapun yang kau minta akan kuturuti.”
“Claudia. Aku menginginkan Claudia bersujud di hadapanku dan mengemis agar aku jadi suaminya. Bagaimana?”
“Tidak mungkin, anakku tidak pernah bisa kau rendahkan seperti itu. Dia putriku satu-satunya. Sungguh busuk sekali hatimu, tak memiliki rasa kemanusiaan!”
“Harga diri dibalas harga diri, begitulah konsep kehidupan.” Colin tertawa sinis dari balik telepon, semakin memojokkan Madame Sherlyn untuk menuruti keinginannya. “Kalau tidak mau, silakan Madam mencari ke orang lain saja.”
“Sebentar!” Madame Sherlyn menahan Colin untuk tidak mematikan telepon ini lebih dulu. “Beri aku tenggat waktu untuk membayar dan aku akan membayarnya dua kali lipat.”
Tidak ada alternatif lain yang terpikir bagi Madame Sherlyn untuk mencari pinjaman. Hanya Colin satu-satunya orang yang bisa diandalkan.
“Oke, sangat menguntungkan bagiku. Aku kirim uangnya sekarang melalui cek. Katakan berapa nominal yang kau butuhkan!”
“Sembilan koma enam miliar.”
“Wow, fantastik. Angka yang lumayan. Dua kali lipat, hmm, tidak buruk juga. Aku terima tawarannya.”
“Cepat transfer uang itu dan jangan memperpanjang sandiwaramu ini! Aku butuh sekarang. Katakan tentang tenggat waktuku membayar hutang ini!”
“Sudah kutransfer atas nama perusahaan. Aku tunggu sampai nanti malam, jika uangnya belum kembali, maka akan bertambah bunganya menjadi dua kali lipat. Atau, ada tawaran simpel. Biarkan Claudia bermain denganku selama satu minggu.”
“Ta-tapi...”
“Tidak ada tapi, kesepakatan tetap kesepakatan. Okay, senang berbisnis dengan Anda, Madam.”
Telepon ditutup dan Madame Sherlyn nampak sangat geram dengan perilaku Colin yang semena-
Membayar hutang itu nanti malam? Uang dari mana?
Tanpa disadari siapapun, Nanda sudah berada di pojokan toko sembari menguping pembicaraan Madame Sherlyn dengan Colin.
Nanda berjalan masuk ke dalam ruangan staff Flower Garden, berdiri di dekat pintu staff dan berharap bisa keluar lebih dulu sebelum Madame Sherlyn membayar kerugian ganti rugi vas.
“Sudah kukirim lewat cek. Sekarang, lepaskan suamiku!”
Dua divisi keamanan toko berbadan besar berbaju hitam melepaskan cengkeraman kuatnya dari Ivan yang sedari tadi meringik kesakitan.
Nanda meninggalkan ruangan staff, tidak ingin mendengar lagi cacian Ivan yang tidak tahu diri. Ia melangkahkan kaki perlahan menuju telepon umum di balik toko Flower Garden yang lumayan mewah, memasukkan koin itu di lubang kecil samping gagang telepon.
“Hello, Sir, sudah muak menjadi orang miskin dan mendapat cacian?”
Suara dari lawan bicara Nanda membuka percakapan siang hari ini. Dia nampak seperti sahabat baik Nanda.
“Melvin, aku butuh bantuanmu sekarang. Ini urusan darurat. Perkara istriku. Jika aku tidak segera menyelesaikannya, istriku akan jadi bahan ranjang laki-laki hidung belang.”
“Katakan apapun yang Anda inginkan, Tuan, aku selalu siap untuk melayanimu.”
Dia adalah Melvin, ajudan pribadi Nanda yang sudah seperti sahabat sendiri. Mereka bersama sejak kecil. Dan, ayah kandung Nanda mengangkat Melvin sebagai anak angkat karena orang tua Melvin terlibat kasus obat-obatan terlarang.
“Colin.” Nanda menyebut sebuah nama, diam sejenak, lantas melanjutkan, “Colin yang ingin meniduri istriku dengan jaminan hutang 9,6 miliar.”
Sebagai seorang suami, tentu Nanda tidak tega melihat Claudia akan dijadikan jaminan untuk melunasi hutang ini. Meski dihina dan dicaci, juga tidak diberi izin menyentuh kulit Claudia selama dua tahun, Nanda ingin menunaikan tugasnya sebagai suami yang baik.
“Aku sudah mengetahui semuanya, Tuan. Anda yang berdiri di luar dan disuruh ganti rugi. Pengejaran Ivan yang tidak tahu tanggung jawab. Ganti rugi vas mahal Flower Garden. Dan terakhir, Madame Sherlyn yang meminjam uang dari Colin dan harus melunasinya nanti malam.”
Nanda kaget, Melvin mengetahui semua kronologi kejadian barusan, bahkan detailnya juga tahu. “What? Melvin, bagaimana kau bisa tahu? Di mana dirimu sekarang?”
“Sudahlah, Tuan, aku memang ditugaskan untuk mengawasimu. Semua urusanmu tidak lepas dari pengawasan mata elang Melvin yang handal ini.” Nanda tertawa penuh kemenangan setelah membuat tuannya bingung. “Mataku tidak hanya dua, tapi ribuan, tersebar di seluruh daratan Skotlandia, lebih-lebih Edinburgh.”
“Cepat cari tahu tentang Colin! Aku sudah muak mendengar nama itu.”
“Tenang, Tuan, sebelum Anda meminta pun aku sudah mencari idenditas lelaki yang tidak kau suka.”
Melvin tertawa mengejek. “Colin, CEO The Lyceum, perusahaan penguasa pangsa pasar teater seantero Edinburgh. Memiliki wakil yang sangat setia dan bertanggung jawab, sayang selalu dianggap figuran di perusahaan.”
“Buaya, bagaimana dengan perkataan Madame Sherlyn yang menyebut dirinya buaya?”
“Memanfaatkan jabatannya sebagai CEO untuk menggaet wanita. Dia menawarkan posisi krusial di perusahaan hanya untuk tidur satu malam dengan wanita-wanita cantik. Begitulah info yang kudapat, Tuan.”
Kini, Nanda tidak mau basa-basi lagi mengenai nasib Claudia jikalau Madame Sherlyn tidak melunasi hutangnya sampai nanti malam. Dia mengajukan permintaan tidak masuk akal pada Melvin.
“Hancurkan dia! Balaskan dendam istriku yang sudah membencinya! Aku tidak mau tahu, sebelum matahari terbenam, dia harus terpuruk karena posisinya sebagai CEO direbut oleh orang lain!”
Ya, bukan lagi membayar utang, melainkan langsung membeli perusahaan milik Colin.
“Aku tidak peduli dengan urusan memimpin Daidalos. Yang terpenting sekarang, siapkan uang dan beli keseluruhan saham The Lyceum sebelum matahari terbenam.”
“Bahkan sebelum Anda beranjak keluar dari Highway Street, status The Lyceum sudah menjadi milik Anda.”
“Oke, Nanda, nanti sore kirimkan pasukanmu untuk menjemputku di depan Waverley Mall. Jam empat sore seperti biasa. Bawa mobil sedan biasa, jangan keluarkan Lamborghini ataupun Ferrari, aku tidak mau identitasku terungkap!”
“Paham, Tuan. Tunggu saja, setelah ini The Lyceum akan berpindah tangan dan Claudia akan aman bersamamu. Aku yang menjamin.”
Telepon ditutup.
Dari kejauhan, ternyata Claudia sedari tadi memperhatikan Nanda yang asyik berbicara dengan seseorang di depan telepon umum dekat Flower Garden. Tentu, dia tidak dapat mendengar perbincangan itu karena kaca mobil yang tertutup. Tapi, dari mimik yang dipancarkan Nanda, sepertinya ia merencanakan sesuatu dibalik kejadian siang ini.
Nanda Daidalos, calon Tuan Muda penguasa pangsa pasar bisnis dunia.
Daidalos, perusahaan elit Internasional yang kelak akan diwariskan kepada Nanda merupakan pemegang pasar terbesar dunia saat ini. Tahun lalu, mereka tidak bisa menyalip sss yang menguasai pasar dunia.
Tapi tidak untuk tahun ini. Mereka memanjat lebih tinggi lagi dan meninggalkan sss sebagai perusahaan kedua yang paling berpengaruh di dunia.
“Huft, The Lyceum, hanya recehan yang bertebaran di tengah jalan. Tidak ada nilainya jika dipimpin orang yang arogan. Tunggulah, Colin, akan kubeli perusahaanmu itu!”