Nanda mendengar kabar bahwa Madame Sherlyn, mertua perempuannya, akan menikah dengan seorang lelaki kaya raya bernama Ivan. Dia adalah miliarder negeri seberang. Kekayaannya sudah terendus berbagai media.
Tapi, ada satu hal yang tidak disukai publik dari pribadi Ivan.
Pria itu sangatlah arrogan, suka memaki orang miskin, apalagi dia selalu membeda-bedakan mana orang kaya dan mana orang yang tidak punya harta.
“Mungkin mereka cocok, sama-sama arrogan. Kita lihat saja, siapa yang akan bertahan, antara Madame Sherlyn berhasil menguras seluruh harta Ivan, lalu mencampakkannya, atau malah Madame Sherlyn yang dicampakkan,” lirih Nanda, dia berjalan menuju rumah keluarga Setiawan.
Meskipun sudah diusir mentah-mentah dan menandatangani surat cerai, Nanda tidak mau gegabah karena dia ingin sekali membalas perlakuan Claudia dan Madame Sherlyn dengan cara elegan.
Bisa saja dia mencampakkan Claudia dan Madame Sherlyn, tapi menurut Nanda, hal itu tidak cukup membuat mereka berdua tersiksa. Hanya dengan berpura-pura jadi sebagai orang miskin, dia bisa tetap memantau keduanya dari dekat.
Tentu, alasan kuat Nanda tetap menyembunyikan identitasnya adalah karena dia tidak ingin Fasya tahu ingatannya telah kembali. Dan, jika itu memang terjadi, ada kemungkinan, Fasya mengalami sesak nafas karena syok mengetahui Nanda adalah Legume Magician yang tiga tahun belakangan hilang karena sebuah insiden.
“Woi, kamu lihat apa, cepat ke sini!?” Ivan memaki Nanda, padahal mereka baru kenal tadi pagi.
“Dasar gembel tidak tahu diri, sudah numpang ngerepotin pula. Gara-gara kamu vas mahal itu pecah di depan mataku.” Nanda tetap berdiri terdiam sambil mendengarkan cacian Ivan, membebaskan nyanyian amarah itu berlantun.
“Tapi, kan, aku diluar dan...”
“Tidak ada alasan lagi untukmu, dasar pembawa sial keluarga!”
Sebuah vas bunga berhiaskan serutan emas di lapisan luarnya sudah tidak lagi berbentuk, terpecah-belah menjadi serpihan kecil setelah bertatapan langsung dengan lantai marmer bercat putih mewah dalam toko vas bertuliskan Flower Garden, sebuah toko vas terkenal yang cabangnya sudah bertebaran di seluruh dunia.
“Hey Sir, kamu harus ganti rugi untuk keseluruhan harga vas ini.” Seorang pelayan toko dengan balutan baju putih rapi dan rambut klimis keluar, menagih tanggung jawab Ivan. “Itu vas kebanggaan toko kami, hanya dibuat 15 saja di dunia.”
“Apa? Vas murahan gitu dianggap kebanggaan?”
“Dan hanya ada satu di Negeri X. Sekarang stoknya habis setelah Anda memecahkannya.”
“Semua gara-gara kamu, Nanda. Kesialan, ketidakberuntungan, dan sekarang terulang lagi. Kamu yang harus membayar. Dasar menantu tidak berguna, tidak tahu terima kasih.”
Ivan berlari menyusuri barisan toko-toko mewah di Tunjungan Street, jalanan paling prestisius di Negeri X yang memiliki latar belakang sejarah tiada tara.
“Sir, Anda tidak perlu takut. Di toko kami sudah ada prinsip, kamu yang bersalah dan kamu yang harus bertanggungjawab. Anda tidak bersalah apapun. Jadi, tidak usah khawatir.”
Pelayan Flower Garden nampak sangat sopan saat berbicara dengan Nanda yang hanya memakai celana jeans pendek dengan paduan kaos putih polos tanpa merk. “Hmm, 100 juta. Benar, kan? Aku bisa menaksir harga vas yang jatuh itu.
Pelayan itu kembali menatap Nanda setelah menyuruh petugas keamanan toko untuk mengejar Ivan, seakan tidak percaya jika Nanda hampir saja menebak harga vas itu dengan benar. “Wah, Anda pengamat barang mewah juga ternyata. Harga tepatnya 108 juta, hampir saja Anda benar menebaknya.”
Bagi Nanda, uang seratus juta seperti sebuah recehan yang bisa didapatkannya dengan mudah. Tidak lebih dari satu menit ia bisa mengganti kerugian vas itu, tetapi identitasnya tidak boleh tersingkap, apalagi oleh Ivan dan keluarganya.
“Ini orangnya, Tuan, dia berlari hampir mendekati ujung Tunjungan Street.”
“Cengkeram tangannya dan dudukkan di bawah. Orang kaya yang tidak punya rasa tanggung jawab lebih rendah dari orang biasa yang mengerti tata krama.”
Dua lelaki kekar berbaju hitam polos memegangi Ivan dan memiting kedua tangannya di belakang. Ia didudukkan di ruangan staf dalam toko beralaskan atas lantai marmer yang agak dingin karena Negeri X sedang dirindu panasnya matahari.
“Handphone. Beri aku handphone.” Ivan berteriak sembari sedikit meringis kesakitan. “Aku tidak akan kabur lagi dan lepaskan rasa sakit ini.”
Nanda memberikan handphone android keluaran terbaru yang mungkin harganya bisa mencapai ribuan Dollar.
Dengan gaya yang sok pamer jam tangan Rollex serta handphone mewah miliknya, Ivan mengambil handphone itu dan menekan beberapa angka, lantas meletakkan setan kotak itu di telinganya.
“Claudia, suamimu bertingkah lagi. Kali ini aku yang harus ganti rugi membayar total ratusan juta hanya untuk vas yang dipecahkannya.”
“Apa...?” Teriak Claudia dalam telepon, “Memang suami nggak guna! Kerjaan tak punya, hidupnya cuman mondar-mandir nggak jelas dirumah.” Ia menghela nafas panjang kemudian bertanya, “kirim lokasi Papa saat ini. Aku akan berangkat kesana secepat mungkin.”
Benar saja, jarak sepuluh menit dari perbincangan di telepon itu usai, sebuah sedan mewah berwarna merah berhenti di depan toko. Claudia dan Madame Sherlyn, sosok anak dan ibu dengan pakaian serba mewah ditambah hiasan berlian di kalung mereka.
“Katakan padaku, berapa harga vas itu!” Angkuh Madame Sherlyn menatap pelayan itu sekilas, lantas memicingkan mata pada Nanda. “Menantu bodoh. Kerja enggak, nyusahin iya. Kesal sekali sampai rasanya aku ingin menendangmu.”
Claudia yang memang asalnya arrogan, tidak membela suaminya sedikitpun. “Uang tak punya, rumah apalagi. Tidur sama makan numpang saja pakai sok megang vas mahal.”
“Aku bisa membayarnya,” seru Nanda tanpa ada beban ketika mengucapkannya. “Beri aku pinjaman handphone, akan kuhubungi Jason.”
“Diam saja kau menantu tidak tahu terima kasih. Sudah tiga tahun tidak berjasa apa-apa di keluarga Setiawan, sekarang malah ingin meninggikan diri. Percuma, orang sepertimu memang cocok sebagai pembantu.”
Madame Sherlyn dan Ivan tidak memberikan sedikitpun welas asihnya kepada Nanda, begitu pula dengan Claudia yang masih berstatus sebagai istri sahnya. Pelayan Flower Garden yang geram melihat Nanda dicaci tiada henti, langsung membentak mereka bertiga.
“Diamlah! Permasalahan ini harus segera selesai atau aku akan lapor pihak berwajib. Tidak peduli seberapa kaya kalian, yang terpenting adalah tanggung jawab.” Pelayan itu menatap dua kawannya yang kekar, berisap memberi perintah jika Ivan kembali berulah.
“Ganti rugi atau orang ini yang akan menjadi jaminan,” pungkas si pelayan sembari menunjuk Ivan.
“Hello, kenapa harus dia yang bersalah?” tanya Claudia membela papanya yang masih terintimidasi tatapan si pelayan.
“Kenapa tidak kau habisi saja gembel satu ini? Kami rela. Atau, ambil saja organ dalamnya, lalu jual! Harganya jauh lebih mahal dari vas yang dia pecahkan! Tenang saja, kami malah bahagia kalau kamu mau singkirin cowok tidak tahu diri itu dari kehidupan kami. Kami tidak akan lapor. Bahkan, kami akan mendukungmu menghabisinya.”
Claudia, potret seorang istri tidak beradab dan tidak tahu terima kasih atas harta yang ia pakai selama ini. Perusahaan milik keluarganya merupakan anak cabang dari perusahaan milik keluarga Nanda.
Nanda baru menyadari hal itu ketika ingatannya kembali. Dan, dengan mengetahui hal itu, Nanda ingin menguras kekayaan Claudia dan orang tuanya pelan-pelan, namun pasti, hingga tidak ada lagi harta yang tersisa.
“Lihatlah, tinggal menunggu waktu sampai kalian bersujud dan mengemis di hadapanku,” lirih Nanda.