Anda Sangat Baik, Tuan

1267 Kata
“Kamu janji menjemputku pukul sembilan, tapi sampai setengah sepuluh kamu tak kunjung keluar. Telepon mati, di sms juga tidak balas. Kamu juga lupa memberiku kartu akses sehingga dua pengawal di luar melarangku masuk. Sialan kamu, Melvin!” “Ohh dua pengawal itu, biar nanti saya yang mengurusnya. sekali lagi saya minta maaf, Tuan, saya tidak sengaja meninggalkan jam itu di dekat bar. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi.” “Untung ada dia. Kalau tidak, aku sudah membeku di luar. Mana aku pakai pakaian tipis!” Sheila bangkit dari kursinya. “Tuan? Panggilan saya anda, apa maskudnya ini?” Nanda dan Melvin bertukar pandang, lalu mengangguk. Sheila semakin bingung. “Ja-jadi dia adalah Tuan Muda Daidalos?” “Iya. Saya ajudan pribadi Tuan Nanda. Terima kasih sudah menyelamatkan Tuan Nanda dari dua pengawal tidak tahu diri itu!” Ucapan Melvin membungkam mulut Sheila. “Tuan Nanda, kenalkan semua kawan lamaku. Perempuan yang duduk di sebelah Anda adalah putri sulung Keluarga Mayapada, lulusan terbaik ekonomi bisnis di Universitas Cambridge, sekaligus pengusaha butik paling terkenal di Indonesia. Anda sepertinya cocok dengan Sheila.” Melvin memperkenalkan Sheila pada Nanda. Malam itu mereka ngobrol sebentar di ruang Super VIP sebelum pindah ke ruang istimewa khusus tamu penting wakil Daidalos. Dari percakapan singkat itu, akhirnya Nanda tahu kenapa Sheila mendapat keistimewaan dari dua pengawal yang berjaga di pintu depan. “Bagaimana menurut Anda? Sheila cantik, bukan? Dan satu lagi yang belum Anda ketahui tentang Sheila yang mungkin Tuan Nanda suka. Sheila sesuai kriteria Tuan Nanda, tidak membedakan siapapun, juga tidak melihat orang dari harta dan kastanya.” “Sepertinya Sheila lebih tua dariku,” kata Nanda, dia berubah dingin. “Enak saja!” Sheila meninggikan suaranya. Dia tidak segan berbincang dengan Nanda, seperti dua sejoli yang saling memadu cinta. “Memang umurmu berapa sampai berani bilang aku lebih tua?” “Tolong yang sopan dengan Tuan saya,” lirih Melvin sembari menepuk pundak Sheila. “Tidak perlu sopan pada orang yang tidak pernah menjaga mulutnya. Enak sekali bilang aku lebih tua. Justru kamu sendiri yang harusnya sadar usiamu delapan tahun lebih tua dariku! Wajah cantik gini dibilang tua.” Sheila bersemu merah, hal itu membuat Nanda tersenyum. ”Terserah kamu saja. Aku ingin merebahkan tubuh. Bai, senang bertemu denganmu,” kata Nanda, berjalan meninggalkan Sheila bersama Melvin dan teman-temannya. “Tuanmu sedikit aneh,” kata Sheila, bibirnya manyun. “Sudah ditolong, tidak mengucap terima kasih.” Baru beberapa langkah menuju ruang pribadi Daidalos, Nanda ingat dia melupakan sesuatu. Dia bergegas kembali, tapi mengambil jalan memutar. “Terima kasih.” “Aaaaaaaaaa…” Sheila berteriak karena terkejut ada bisikan misterius di telinga kanannya. Beberapa pengawal sempat mengerubunginya, tapi Sheila menyuruh mereka pergi. “Dasar orang tua tidak tahu diri!” “Hahaha…” Nanda tahu Sheila tidak benar-benar menyukainya. Wajah tampan dan juga mapan, tentu menarik perhatian semua wanita, tak terkecuali anak miliarder terkaya se-Indoensia. Nanda sangat menyayangi Bella, tapi memorinya tak henti-henti memutar senyum manis Sheila. Nanda mengakui kecantikan Sheila. Kalaupun disandingkan antara Sheila dan Bella, dua-duanya memiliki aura tersendiri. Tidak ada yang lebih cantik, tidak pula jelek. Mereka setara dengan pesona masing-masing. Membaringkan badan belasan menit, Melvin masuk ke ruangan itu. “Anda tadi bilang dicegat dua pengawal Beverley Hall?” “Benar.” “Berani-beraninya mereka tidak membiarkan Anda masuk ke sini! Apa mereka tidak tahu kalau Tuan adalah utusan resmi Daidalos, atau mereka pura-pura bodoh? Tuan harusnya meneleponku sejak awal.” “Taruh minumanmu dan bicaralah sesuai fakta!” Nanda memukul perut Melvin. “Kamu sendiri yang lupa menaruh jam tangan di dekat bar, malah nyalahin aku!” “Ma-maafkan saya, Tuan. Baik, apa yang Anda inginkan sekarang?” “Pemecatan.” … Dua petugas naik ke ruang Super VIP, melalui pemeriksaan ketat oleh petugas yang lebih senior. Beberapa dari mereka merupakan anggota militer negara dengan pangkat tinggi. Begitu keduanya masuk ke ruangan Melvin, mereka terkejut melihat Nanda duduk sembari menyilangkan tangan di d**a. “Anda memanggil saya, Tuan?” tanya petugas itu. “Tentu saja. Aku menelepon kalian berarti aku memanggil kalian. Untung kalian segera datang ke sini. Jika tidak, kalian akan merasakan akibatnya.” “Ampun, Tuan, kami minta maaf.” “Mengakulah … siapa di antara kalian yang melarang dia masuk ke Beverley Hall? Apa kalian tidak mengenRafinya?” Nanda tersenyum sinis sembari memelototi dua pengawal yang mulai ketakutan. “Kami tidak tahu, Tuan, kami hanya menjalankan tugas dari atasan. Siapapun yang tidak memiliki kartu khusus atau akses resmi dari petinggi Elit X, maka tidak diperkenankan masuk sesuai aturan yang berlaku. Apapun alasannya, dan siapapun orang itu.” Melvin menggebrak meja dengan kakinya. Nanda tidak menyangka Melvin bisa seperti itu kala emosinya terpancing. Padahal selama ini, Nanda lah yang sering merusak meja. Kedua satpam itu melirik Melvin, tidak berani membela diri lagi. “Dia adalah Tuan Muda Daidalos yang diberi mandat Tuan Besar Juta menghadiri event ini. Bisa-bisanya kalian melarangnya masuk. Apa kalian ingin menantang Daidalos? Kami bisa membeli perusahaan komunikasi ini dalam hitungan detik!” “Maaf, Tuan, kami tidak tahu. Kami hanya menjalankan tugas.” “Jangan mengkambing hitamkan tugas! Mulai malam ini, kalian bisa berberes karena aku akan menelepon Nayama untuk membahas pemecatan kalian!” Nanda mengernyitkan dahi. “Yakin ingin memecat mereka?” “Mereka tidak membiarkan Anda masuk ke sini. Itu merupakan pelanggaran terbesar yang pernah mereka lakukan. Tidak ada yang boleh bertindak semena-mena terhadap Anda, termasuk Sheila sekalipun.” Bisikan Nanda merasuk ke telinga Melvin. “Mereka hanya menjalankan tugas. Apa kamu tidak kasihan melihat wajah melas mereka? Justru kamu harus apresiasi kinerja mereka; tidak membiarkan masuk bagi mereka yang tidak punya kartu khusus atau akses resmi dari Elit X. Sekarang sangat susah mencari petugas seperti mereka. Percaya aku, aku lebih sering menghabiskan waktu bersama petugas-petugas seperti mereka.” “Maksud Tuan, saya tidak boleh memecat mereka?” tanya Nanda. “Itu hanya saran dariku. Tapi pikirkan lagi, mereka punya anak dan istri yang harus dinafkahi. Jika kamu di posisi mereka, kamu akan melakukan hal yang sama pada orang-orang yang tidak memiliki kartu atau akses resmi. Mereka sangat setia. Mereka harus dipertahankan.” “Saya ada ide,” ujar Melvin. “Kita pecat mereka, lalu kita tarik mereka jadi pengawal utama pembangunan di Daidalos Losment. Madun dan Tono kewalahan menghadapi mafia uang seperti Rafi dan Risma.” “Ide yang bagus.” Nanda menatap petugas itu. “kalian boleh pergi. kalian tinggal pilih, ingin tetap bekerja di sini dengan gaji naik dua kali lipat, atau pindah bekerja di Daidalos.” Keduanya saling pandang heran. Bekerja di Daidalos merupakan impian tiap orang. Hanya bermodal CV pengalaman kerja di sana, bisa dipastikan lamaran kerja itu diterima oleh HRD. Nama Daidalos seperti sihir karena perusahaan itu tidak sembarangan memilih orang untuk jadi pegawai. “Te-terima kasih, Tuan, tapi saya ingin mengabdi di sini saja. Kami terlanjur nyaman dengan Tuan kami, David Nayama.” “Ohh, tidak masalah. Itu keputusan kalian.” Nanda diam sejenak, lalu memandang Melvin. “Tolong urus gaji mereka. Bilang pada David bahwa aku ingin gaji mereka dinaikkan dua kali lipat.” Dua satpam itu tidak mengira bisa bertemu langsung dengan Tuan Muda Daidalos yang isu-isunya tidak pernah menunjukkan identitas. Mereka sangat bahagia, bahkan hampir menitikkan air mata. Nanda menjamu mereka karena kagum dengan kinerja mereka. “Mau minum?” “Ti-tidak, Tuan, kami terlampau bahagia bisa berbincang dengan Anda.” “Santai saja, tidak usah terlalu formal. Aku akan membelikan kalian minum. kalian duduklah di sini!” Nanda bergerak, lalu menyela ucapan dua satpam itu. “Jangan membantah ucapanku atau kalian dipecat!” “Te-terima kasih, Tuan. Sesuai rumor yang beredar, Anda sangat baik pada pegawai-pegawai Anda.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN