Pura-pura tidak dengar, Sheila menoleh sebelum melangkahkan kakinya. “Eh, kamu bilang apa tadi?”
“Ti-tidak. Terima kasih telah mengajakku masuk.”
“Ahahaha, tidak masalah. Lagian setiap tamu Super VVIP diperkenankan membawa satu tamu tanpa akses. Kebetulan hari ini aku datang sendiri. Papa dan mamaku sedang memimpin rapat besar di Brunei. Aku yakin kamu punya urusan penting karena tidak sembarang orang bisa masuk lewat pintu depan.”
Nanda tadi berangkat bersama Jason. Jason membawa identitas pengenalnya. Kartu namanya ada cap Daidalos Accent dan semua orang tahu, Jason adalah mantan presdir Daidalos Accent, perusahaan telekomunikasi paling sukses di Indonesia.
Namun usai menurunkan Nanda di parkiran khusus untuk tamu-tamu istimewa, Jason pamit karena harus menemani Pak Gibran negosiasi tender pembangunan Daidalos Losment.
Baru beberapa langkah memasuki Beverley Hall, Nanda sangat ingin mencari Melvin dan memukul kepalanya. Bisa-bisanya Melvin tidak membawa jam tangan mahal itu saat Nanda sedang membutuhkannya.
“Hello…” Sheila mendekatkan wajahnya ke wajah Nanda. “Kamu jadi menerima tawaranku atau tetap berdiri menunggu di sini?”
“Ini gratis kan?” tanya Nanda.
Sheila terkekeh. “Dari pada akses satu tamu tidak diisi, lebih baik kamu ikut masuk ke dalam. Toh aku hanya menolongmu. Bisa saja kamu merupakan anak miliarder terkenal atau memiliki kepentingan di dalam. Tidak apa, aku tidak memungut biaya. Memangnya kenapa?”
“Karena di dunia ini tidak ada yang gratis.”
“kecuali oksigen,” balas Sheila, lantas menarik tangan Nanda ke dalam perusahaan. “Sudah, tidak usah dipikirkan. Aku bukan orang pelit. Aku punya harta dan berhak mengeluarkannya sesuka hati.”
Nanda melintasi dua pengawal yang terus memelototinya dengan tatapan tidak suka.
Event ini sangat meriah dan dihadiri orang-orang penting, termasuk walikota dan gubernur. Awalnya Nanda pikir ini seperti acara penjamuan dengan bir dan lampu disko, tapi ternyata lebih dari itu.
“Ayo naik ke atas, ke ruang Super VVIP,” ajak Sheila.
“Eh, ti-tidak usah. Aku sangat berterima kasih karena menolongku masuk ke sini.”
“Apa etis menolak orang yang sudah menolongmu? Lagian tampangmu cukup tampan untuk ukuran cowok-cowok di sini. Bahkan setara dengan artis-artis Hollywood. Tapi tenang, aku tidak bermaksud memanfaatkan ketampanan dan keelokan tubuhmu.”
“Hahaha, bisa saja.”
“Mau minum apa?” tanya Sheila.
“Aku tidak minum. Terima kasih.”
Sheila mengajak Nanda masuk ke sebuah ruangan. Lampu berbagai warna menghiasi lantai. Semua orang berdansa dengan pasangan. Seluruh temboknya dilapisi peredam suara karena lantai empat memiliki empat ruangan berbeda.
Ruangan ini khusus dihuni mereka yang ingin berpesta dan mabuk-mabukan. Sedangkan ruangan sebelah khusus penikmat jazz mellow dan orchestra.
“Ki-kita duduk di sini,” tanya Nanda. Sheila mengajaknya duduk di pojokan, dekat pintu keluar darurat. “Apa tidak terlalu rawan?”
“Rawan apa? Semua orang di sini sudah diverifikasi. Tidak ada yang punya niat jahat. Kalaupun ada, dia pasti diamankan sebelum dia sampai lantai empat.”
“Ohh, begitu ternyata.”
DJ Room tidak terlalu besar. Mungkin satu ruangan muat untuk seratus sampai seratus tujuh puluh orang. Sheila pamit memesan makanan, tapi Nanda tidak menggubrisnya. Pemuda itu masih berkutat dengan ponsel bututnya, ingin menelepon Melvin.
“Mau makan?” tanya Sheila.
“Ti-tidak usah.”
“Makanan dan minuman di sini gratis. Jangan cemaskan harganya! Kami tamu Super VVIP mendapat keistimewaan yang tidak bisa dihitung nominalnya. Pesan saja kalau kamu lapar. Biar aku yang bilang ke pelayan.”
“Kenyang.”
“Ha?”
“Aku sudah kenyang. Tadi sore aku makan di rumah teman. Terima kasih atas tawarannya. Tidak perlu repot-repot.”
Sheila pergi memesan makanan dan kembali dengan sebotol Wine Pepsky asli Finlandia. Nanda ditawari minum, tapi dia menolak.
Kemudian Sheila berkata. “Ngomong-ngomong, apa tujuanmu datang ke sini?”
“Kakek menyuruhku datang, tapi aku ditinggal sahabatku. Aku tidak diberitahu kalau masuk ke event ini harus memiliki kartu identitas khusus.”
“Oh ya? Siapa kakekmu? Sepertinya orang sibuk sampai menyuruhmu datang. Kami sesama pemilik Super VVIP card sRafing mengenal satu sama lain. Kami juga memiliki daftar hadir tamu VIP dan reguler. Mungkin aku bisa bantu mencarikannya.”
“Itu dia orangnya,” kata Nanda dengan muka bahagia.
Dari bRafik kerumunan tamu-tamu Super VVIP, Melvin muncul dengan sendirinya. Melvin menghampiri Nanda yang sedang duduk bersama Sheila, anak dari keluarga terkaya di Indoensia. Melvin bersama dua kawan lamanya yang sekarang sukses menjadi miliarder di Tokyo.
“Mr. Melvin, nice to meet you,” sambut Sheila dengan senyum mengembang. Senyuman itu sungguh manis. Bahkan orang sedingin Nanda saja sampai terpesona dibuatnya. “How are you today?”
“Im fine, how about you?” balas Melvin.
“Sama denganmu, aku baik-baik saja. Ta-tapi, apa yang kamu lakukan di sini? Orang sepenting kamu menghadiri pesta yang diadakan Beverley Hall, ini sungguh momen langka. Sudah hampir 25 tahun Tuan Besar Juta menolak hadir ke pesta seperti ini.”
“Beliau berhalangan hadir karena ada urusan penting di Skotlandia. Beliau menyuruh Tuan Muda Daidalos hadir di sini.”
Nanda sengaja tidak menyela omongan Sheila untuk menjaga perasaannya. Dia mengedipkan mata kepada Melvin, memberi kode agar Melvin segera menyelesaikan basa-basinya. Tapi itu tidak berhasil karena Sheila lebih dulu menyela.
“Eh kamu bukannya anak kandung Pak Travis ya?” tanya Sheila, menunjuk lelaki di sebelah Melvin.
“Aku dengar karirmu berkembang pesat. Kamu dikenal seantero Tokyo dan berhasil mendongkrak nama besar Travis. Papamu pasti bangga. Karenamu, Keluarga Travis dinobatkan sebagai keluarga terkaya nomor empat di Indonesia.”
“Benar, Nona, senang bertemu dengan Anda. Aku sudah lama tidak bersua dengan kalian berdua. Aku rindu dengan kalian.”
Sheila berjabat tangan dengan lelaki itu, lalu mengRafihkan pandangannya ke perempuan yang berdiri di samping Melvin. Dia sangat cantik, mungkin blasteran Inggris. Rambutnya pirang semampai.
“Kenalkan, Sheil, ini teman akrabku dulu. Namanya Nana, kami bertemu di Skotlandia dan sering bertukar kabar sampai saat ini.”
Sheila memperkenalkan Nanda yang duduk di sebelahnya. “Aku juga punya teman baru.”
“Kamu itu ke mana saja, ditelepon tidak menjawab! Apa kamu fokus pada Nana sampai lupa. Aku menunggumu sampai tiga puluh menitan!” Nanda langsung memarahi Melvin.
Melvin terkekeh ringan. “Hehe … maafkan saya, Tuan, jam tangannya saya tinggal di dekat bar. Saya baru mengambilnya dan alarmnya berbunyi, pertanda Anda ada di sekitar sini.”
Tuan?
Apa aku salah dengar?
Siapa laki-laki itu sampai Melvin menyebutnya dengan sebutan Tuan?
Sheila nampak bingung, begitu juga dengan Nana dan anak sulung Travis yang berdiri di sisi kiri Melvin. Mereka semua yakin, Nanda bukan orang sembarangan. Bahkan, sekelas Melvin saja memanggilnya dengan sebutan Tuan.
Mereka meneguk ludah. Mereka masih tidak percaya kalau Nanda adalah Tuan Muda Daidalos.