Usai puas membalas perbuatan teman-teman kampusnya, Nanda kembali ke villa keluarga istri kontraknya untuk istirahat. Esok dia harus berangkat menjadi kuli bangunan agar tidak ada yang curiga kalau dia sebenarnya adalah cucu dari seorang miliarder terkaya di kota ini.
Bangun pagi-pagi, Nanda langsung merapikan sisa-sisa makanan sekaligus mencuci piring yang habis digunakan pesta tadi malam. Ada beberapa orang sedang tidur di sofa ruang tengah, beberapa menggunakan rok mini dan para lelaki sudah mencopot kaosnya.
Nanda tidak mau berpikiran buruk.
Usai mencuci piring dan membereskan itu semua, Nanda mengambil semua botol wine yang tergeletak di mana-mana, mengepel lantai, lantas memotong rumput di halaman rumah. Semua itu dia lakukan karena terpaksa, demi bisa pergi dari villa itu sambil membawa gajinya sebagai pekerja kontraktor.
Sesaat kemudian, seorang lelaki keluar dari kamar Claudia.
“Oh, jadi kamu suami Claudia? Hmm, menarik juga. Tampan dan atletis. Tapi, percuma, wajah tampan kalau nggak punya uang bisa apa juga? Mending kamu cepat-cepat ceraiin Claudia, deh. Kasihan dia sama kamu, nggak bahagia sama sekali. Bisamu cuma apa? Kerja kontraktor sama pelayan klub malam, kan?”
“Bahagia perempuan itu hanya soal uang,” timpal Nanda.
“Heh, jaga mulutmu!?” Levy mencengkeram kerah baju Nanda karena telah berani menghina pacarnya. “Mulutmu bisa aku beli. Jangankan mulutmu, semua anggota badanmu bisa aku beli cash! Sekarang, cepat pergi, aku muak melihat wajahmu!”
“Ada apa, Sayang?” tanya Claudia dengan muka bantalnya. Tubuh gadis itu cuma terlilit handuk putih tebal, pertanda mereka telah melakukannya semalam.
“Oh, gembel ini bikin kamu marah pagi-pagi, emang ga punya malu, ga punya harga diri! Masih untung Papa mau bayarin operasi dia. Coba enggak, dia bisa mati kehabisan darah tiga tahun lalu! Cepat menyingkir! Pagi-pagi sudah bikin ribut, dasar miskin!?”
“Ta-tapi, kan, kita masih berstatus suami-istri sah...”
“Hah? Jangan bercanda! Sesuai perjanjian, kamu diizinkan tinggal di sini sampai pergantian bulan dengan catatan kamu bukan lagi anggota keluarga kami, melainkan pembantu yang gantiin tugas Bi Lijah sampai Bi Lijah balik ke sini!”
“Udah, nggak ada waktu urusin orang satu ini, mending kita mandi terus pergi ke bank buat urus pembayaran mobil Fortuner kamu. Buang-buang waktu aja!” ajak Levy, lantas menarik tangan Claudia masuk ke kamar.
Menyebut kata bank, Nanda teringat tentang kartu yang diberikan Mila sebelum perempuan cantik itu pergi meninggalkannya di depan kantor.
Cepat-cepat Nanda ganti pakaian dan berangkat menuju tempat kerjanya, lantas bersiap datang ke Bank Platina, sesuai arahan Mila.
Di tempat kerja, seperti biasa, dia selalu direndahkan, dan di anak-tirikan. Berbeda dengan pegawai lain, Nanda selalu diperlakukan tidak layak.
“Angkat sekopmu dan pindahkan semen yang berserakan! Gara-gara kamu, semua pekerja di sini ikut repot. Dasar tidak tahu diri, mending kamu kerja di bar jadi pelayan tante-tante!” seorang pekerja nampak memaki Nanda karena tidak fokus mengangkat sak semen hingga salah satunya jatuh.
“Aku tidak mau tahu, jangan sampai gara-gara semenmu yang jatuh, kami juga ikut ganti rugi! Cepat, bayar 150 ribu untuk harga satu sak semen! Masih untung kami mau bantu kamu beresin, coba nggak, kamu bisa dipecat dari pekerjaan ini!”
Nanda hanya diam. Dia masih berpikir keras apakah dirinya memang anak seorang bangsawan terkemuka, atau hanya seorang kuli bangunan kumuh.
Usai menyelesaikan semuanya, Nanda tidak ambil jatah makan siang dan langsung pergi ke Bank Platina, berharap, dia bisa menemukan lokasi bank itu sebelum hari beranjak sore.
“Aneh. Tumben-tumbenan bocah itu nggak ambil jatah makan siang? Apa dia sakit hati karena perkataan kita tadi?” tanya Jalu, rekan kerja Nanda di kontruksi.
“Nggak usah terlalu dipikir, dia cuma bocah manja yang sok-sokan pingin jadi pekerja kasar. Biarkan saja, nanti paling balik lagi karena dia kelaparan dan nggak punya uang buat beli makan,” balas pekerja yang lain.
“Makan saja makanan kalian, tidak usah pedulikan Nanda,” kata mandor proyek yang tiba-tiba datang membawa satu cepet rokok Surya 16 dan membagikannya pada para petugas. “Besok kita diberi jatah libur dari pusat. Harusnya kalian bersyukur, setelah 2 bulan yang menguras tenaga dan membuahkan hasil memuaskan, bos menaruh simpati sehingga kita diberi jatah libur ekstra, jadi sebulan enam kali.”
“Benarkah itu?”
“Bapak tidak bercanda?”
“Syukurlah, aku bisa menghabiskan waktu dengan anak-anakku yang masih kecil. Terima kasih, Pak, kami sangat bahagia mendengar kabar ini.”
“Nanda bagaimana?” celetuk Jalu, yang disambut tatapan tidak enak dari para pekerja lain.
Mandor segera menghampiri Jalu dan berkata, “Sudah, biarkan saja bocah sok elit itu. Biar dia masuk kerja sendiri besok pagi, terus bingung mencari keberadaan kalian.”
Di sisi lain, Nanda menyusuri jalanan pusat kota JC hingga akhirnya tiba di sebuah persimpangan dekat perumahan elit. Dia ingin masuk, tapi tiba-tiba ada teriakan dari belakang.
Bangun pagi-pagi, Nanda langsung merapikan sisa-sisa makanan sekaligus mencuci piring yang habis digunakan pesta tadi malam. Ada beberapa orang sedang tidur di sofa ruang tengah, beberapa menggunakan rok mini dan para lelaki sudah mencopot kaosnya.
Nanda tidak mau berpikiran buruk.
Usai mencuci piring dan membereskan itu semua, Nanda mengambil semua botol wine yang tergeletak di mana-mana, mengepel lantai, lantas memotong rumput di halaman rumah. Semua itu dia lakukan karena terpaksa, demi bisa pergi dari villa itu sambil membawa gajinya sebagai pekerja kontraktor.
Sesaat kemudian, seorang lelaki keluar dari kamar Claudia.
“Oh, jadi kamu suami Claudia? Hmm, menarik juga. Tampan dan atletis. Tapi, percuma, wajah tampan kalau nggak punya uang bisa apa juga? Mending kamu cepat-cepat ceraiin Claudia, deh. Kasihan dia sama kamu, nggak bahagia sama sekali. Bisamu cuma apa? Kerja kontraktor sama pelayan klub malam, kan?”
“Bahagia perempuan itu hanya soal uang,” timpal Nanda.
“Heh, jaga mulutmu!?” Levy mencengkeram kerah baju Nanda karena telah berani menghina pacarnya. “Mulutmu bisa aku beli. Jangankan mulutmu, semua anggota badanmu bisa aku beli cash! Sekarang, cepat pergi, aku muak melihat wajahmu!”
“Ada apa, Sayang?” tanya Claudia dengan muka bantalnya. Tubuh gadis itu cuma terlilit handuk putih tebal, pertanda mereka telah melakukannya semalam.
“Oh, gembel ini bikin kamu marah pagi-pagi, emang ga punya malu, ga punya harga diri! Masih untung Papa mau bayarin operasi dia. Coba enggak, dia bisa mati kehabisan darah tiga tahun lalu! Cepat menyingkir! Pagi-pagi sudah bikin ribut, dasar miskin!?”
“Ta-tapi, kan, kita masih berstatus suami-istri sah...” Nanda meneguk ludah. “Kita belum resmi bercerai. Tapi, kenapa kamu setega itu padaku? Mempertontonkan adegan tidak senonoh tepat di hadapan suamimu?”
Mendengar hal itu, Claudia terbelalak. Vas bunga sudah dia pegang dan siap dilempar tepat di wajah Nanda.