Pembalasan Nanda

1215 Kata
“KAU YANG MENGHAMILI NADIA!” Mila ikut kesal karena tuannya difitnah. Dia meninggikan suaranya sampai Labib Hutama menjauhkan ponselnya ke lantai. Labib Hutama ingin membela diri, tapi Mila langsung menutup telepon. Setelah itu, Mila mengirim pesan singkat. ‘Besok kau harus menerima akibatnya!’ Labib Hutama kelabakan mendapat ancaman itu. Dia tahu siapa sosok Mila. Nasi sudah menjadi bubur, rencana yang awalnya berjalan mulus, ternyata menjadi senjata makan tuan. Sang rektor salah mencari lawan, dia tidak menyangka Nanda adalah Tuan Muda Daidalos. Nanda bisa menghilangkan jabatan rektornya hanya dengan jentikan jari. Labib semakin gusar. Dia menelepon Prima, berulang kali, tapi tidak ada jawaban. Malam itu dia tidak bisa tidur dengan tenang. Istrinya coba membuatkan teh hangat, tapi Labib terus-terusan menggerutu. Hani terus menanyai Labib, masalah apa yang sedang dihadapinya saat ini, tapi Labib tidak mau menjawabnya. “Masalah di kampus, kamu tenang saja, besok pasti selesai,” enteng Labib. Ya, masalah itu selesai, kehidupan Labib juga selesai. Nanda dan Mila pasti tidak tinggal diam menyaksikan fitnah kejam yang direncakan Prima bersama pihak rektorat. Yang dihukum tentu bukan Prima, tapi Labib yang sudah memfasilitasi fitnah ini. Esok harinya, Labib pura-pura sakit. Dia bilang kepada Hani kalau kepalanya pusing. Awalnya rencana itu berhasil, tapi ada telepon masuk dari orang tidak kenal. Labib segera bersiap, mengurungkan niatnya stay di rumah. “Ada apa, Sayang? Kenapa kamu buru-buru seperti orang kesurupan?” tanya Hani. Labib diam saja. Dia harus pergi ke kampus sebelum orang-orang ini menerornya dan keluarganya. Agaknya dia bisa dianggap sebagai ayah yang baik. Tapi melihat dari sudut pandang kampus, dia adalah pengasuh busuk yang tidak bisa merawat mahasiswanya. ... Mobil lamborghini kuning disiapkan untuk Nanda, tapi sayang, pemuda itu tidak mau pergi ke kampus. Citranya sudah hancur. Tidak ada lagi orang yang mempercayainya, kecuali Bella. Semua mahasiswa akan mengoloknya waktu dia menginjakkan kaki di kampus. Jangankan mahasiswa, satpam dan tukang kebun bahkan mengecam Nanda kalau dia nekat berangkat. Mila merayu Nanda agar dia mau berangkat ke kampus. Jika tidak, Tuan Juta akan memergokinya bolos kuliah. Juta tidak suka Nanda bolos dari kampus. Semakin lama dia lulus, makin lama pula dia bisa memiliki 100 persen aset Daidalos. “Apa kamu tidak peka? Sakit rasanya dihina oleh semua orang. Mereka pasti mikir, laki-laki biadab sepertiku tidak seharusnya kuliah di kampus terbaik. Pikirkan itu, Mila, pikirkan!” “Maaf jika menyinggung perasaan Anda, Tuan, saya tidak bermaksud.” “Aku mau berangkat kuliah, tapi citraku harus kembali lebih dulu.” “Saya ada caranya, Tuan.” *** Nanda berangkat ke kampus mengikuti ide Mila. Baru sampai di gerbang, semua mahasiswa menyorakinya. Beberapa perempuan cantik mengerumuni mobil Nanda. Seperti yang Mila pikir, citra Nanda akan kembali jika dia datang menggunakan mobil sport mewah. Nanda pergi ke kampus menggunakan Lamborghini Aventador merah. Harganya sebanding dengan uang kuliah selama 50 tahun. Dia memamerkan kendaraan itu di hadapan teman-temannya. Tapi sayang, Prima dan gengnya tidak hadir di kampus. Nanda tanya pada salah satu mahasiswi yang terkenal sebagai ayam kampus paling mahal, katanya Prima sedang mengadakan pesta dan menyewa sauna pribadi. Tidak masalah. Yang terpenting adalah image nya tidak lagi buruk di hadapan para mahasiswa. “Tolong minggir, aku ingin memarkir mobil,” lirih Nanda. Para mahasiswa membentuk barisan di kiri-kanan Lamborghini merah itu. Nanda sudah seperti raja yang disambut oleh seluruh rakyatnya. Mahasiswa yang kemarin menghina Nanda kini menjilatnya dan meminta jadi temannya. Nanda tidak menghiraukan hal tersebut. Dia membuka pintu, dan mahasiswi langsung berteriak kegirangan. “Bawa aku ke dalam sana, Nanda, aku akan memberimu pelayanan terbaik.” “Nanda, aku mau dong diajak jalan-jalan. Aku cantik lho, ukuran dadaku juga besar. Aku bisa memuaskanmu kapanpun kau minta.” “Aku suka kamu, Nanda, kamu yang paling tampan di sini!” Semua rayuan tidak berarti apa-apa bagi Nanda, dia sudah muak dengan para penjilat. Hanya satu orang yang nampak tidak senang melihat kedatangan Nanda membawa Lamborghini Aventador. Dia adalah Bella. Perempuan itu memperhatikan Nanda dari lantai dua sembari berpikir, siapa Nanda sebenarnya. Kemarin Nanda bilang jika dia ingin membalas perbuatan para petinggi kampus, tapi bagaimana caranya? Yang Bella tahu, Nanda hanya seorang cleaning service yang tidak lagi memiliki orang tua. Semua informasi itu dia dapat dari pamannya. Tapi ini aneh, cleaning service mana yang memiliki Lamborghini? Bella bersyukur, Nanda tidak sedikitpun tergoda dengan rayuan para mahasiswi. Padahal yang menggoda kebanyakan sangat cantik. Tapi bagaimanapun juga, kecantikan Bella masih tiada tanding. Bel pun berbunyi, Bella harus masuk kelas karena dia harus menyiapkan materi. Dia dipilih jadi asisten dosen karena nilainya terlampau sempurna, baik Bellan maupun praktek. “Semua kembali ke kelas!” teriak Pak Januel yang berdiri di lantai dua. Semua mahasiswa bubar, termasuk Nanda. Bedanya, Nanda tidak masuk ke kelas, dia melangkahkan kaki menuju taman belakang kampus. Ada seseorang yang ingin dia temui. Di taman kampus, ada seorang lelaki yang menggunakan capil sawah seperti yang biasa digunakan tukang kebun kampus. Nanda duduk di belakangnya dan memperhatikan lelaki itu. “Bagaimana rasanya jadi rakyat biasa yang tidak punya kekuasaan? Pagi kelaparan, siang kepanasan, dihina dan disuruh-suruh, apa itu enak?” sapa Nanda. Lelaki itu menoleh, wajahnya tertutup masker. Meskipun begitu, Nanda bisa tahu kalau si tukang kebun adalah Labib Hutama, rektor kampus yang akan dia hinakan. “Nanda, apa yang kamu lakukan di sini! Sekarang jam kuliah, bisa-bisanya kamu bolos pelajaran! Cepat masuk kelas atau kulaporkan perbuatanmu pada Januel!” bentak Labib Hutama, dia memakai pakaian layaknya seorang tukang kebun. Pagi sebelum berangkat, Labib mendapat teror dari seseorang. Dia diancam mati apabila tidak mau berangkat ke kampus mengenakan pakaian tukang kebun. Entah siapa yang melakukan itu, Labib akhirnya percaya dan mau menuruti keinginan konyol si peneror. Nanda tertawa terbahak-bahak. “Sstt... Anda tidak boleh marah, Pak Rektor, maksudku, tukang kebun yang sudah tidak punya harga diri! Lagi pula aku bisa membocorkan identitas aslimu ke publik. Pak Rektor yang selama ini disegani, ternyata suka menghinakan diri sendiri ya...” “SIALAN!” Labib Hutama mengangkat sabitnya ke arah Nanda. “Eits, jangan lakukan itu atau kamu bisa dipidana. Lihatlah sekeliling, banyak mahasiswa dan dosen lalu lalang. Mereka semua anak buahmu. Apa kamu tidak malu jika semuanya tahu kamu melakukan hal sebodoh ini?” Labib menggerutu kesal. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Nanda menang telak untuk saat ini. Labib terpelongo tidak berdaya dengan pakaian tukang kebun. “Apa yang kamu inginkan?” tanya Labib. “Masih bertanya? Jangan pura-pura bodoh, deh! Kamu rektor, tapi otakmu masih setara anak-anak sekolah dasar.” Nanda mendekati Labib, menatap matanya tajam-tajam. “Balas dendam, itu yang kuinginkan!” “Ma-maksudmu?” Labib gemetar takut, dia tidak menyangka Nanda melakukan hal senekat ini. “Hahaha ... aku sangat senang melihat tukang kebun punya gelar S3 dari luar negeri. Ini sungguh ironi! Puluhan tahun belajar ilmu pengetahuan, tapi berakhir sebagai tukang kebun!?” Labib heran, kenapa Nanda bisa tahu kalau dia sedang ada di sini memotong rumput. Pasti ada yang aneh. Yang tahu dia dipecat hanyalah Mila dan mahasiswi sewaan yang kemarin datang ke hotel. Tapi kenapa Nanda bisa tahu? Atau ada yang memberitahunya? “Kenapa denganmu, Tuan Rektor Yang Terhormat? Kamu takut melihatku? Atau kamu sudah tahu bahwa aku lah yang membuatmu seperti ini?” Nanda membusungkan dadanya, menunjukkan siapa yang berkuasa di kampus ini. “Ja-jadi kamu yang menyuruh-” “Benar. Mila adalah bawahanku. Aku yang memberinya perintah untuk memecatmu dari kursi rektor. Mengapa, kamu tidak terima?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN