Pelakunya Adalah...

1347 Kata
Pintu ruang rektorat ditutup sangat keras. Anggota BEM kampus dan beberapa reporter majalah mahasiswa berkumpul di sana. Mereka berebut merekam wajah Nanda dan Nadia. Pak Januel langsung memukul Nanda dengan buku setebal lima centi. Nanda terhuyung, keseimbangannya goyah dan kepalanya hampir menabrak ujung meja rektorat. “Setelah mengacaukan rencama kami tiga tahun lalu, sekarang apa lagi? Menghamili seorang mahasiswi dan berniat pergi tanpa ada tanggung jawab? Perbuatanmu tidak bisa dimaafkan. Kamu telah mencoreng nama baik kampus!” Pak Labib selaku rektor merasa terganggu dengan keributan ini. Dia berdiri dan menyuruh semua orang yang tidak berkepentingan untuk duduk. Seorang mahasiswa culun dipanggil sebagai saksi, sebut saja Kimol. Nadia mengaku, sebelum kejadian malam itu dia sempat kerja sama bersama Kimol dan Kimol mengabari jika Nanda berangkat menuju kos-annya. Nanda bertanya pada Kimol, apa kos Nadia kosong tidak ada orang. Kimol mengangguk. Awalnya dia tidak curiga, tapi lama-kelamaan, dia mulai khawatir karena tahu Nadia adalah gadis polos yang tidak pernah pacaran sekalipun. Kimol langsung tancap gas ke kos Nadia dan mendapati Nanda berdiri di depan kos. Nanda sempat mencongkel jendela, tapi tidak berhasil. Dia juga membawa obeng untuk merusak lubang kunci. Hingga akhirnya Nadia menyerah, dia membukakan pintu. Dia tidak bisa berteriak karena kosnya terletak di ujung gang. Percuma juga berteriak, tidak ada yang menolongnya. Kosnya juga terlalu bebas, laki-laki dan perempuan bisa masuk tanpa jam khusus. Kimol mengintip dari sisi jendela yang terbuka dan melihat Nanda tidak menggunakan pakaian apapun. Dia memaksa Nadia agar membuka pakaian dalamnya. Kebrutalan Nanda semakin didramatisir oleh kata-kata busuk Kimol. “Jangan berbohong! Aku tidak melakukan semua hal yang kau sebutkan! Jangankan ke kos Nadia, letak kos-kosannya saja aku tidak tahu,” bela Nanda. “Ssstttt, teruskan kesaksianmu,” pinta Pak Labib. “Sudah, Pak, hanya itu yang bisa saya ceritakan. Selebihnya saya tidak tahu karena saya langsung balik agar tidak dicurigai. Takutnya ada penghuni kos sebelah yang bangun.” “Baiklah, kamu boleh pergi. Kesaksianmu lebih dari cukup.” “Pak, kenapa hanya Nadia dan lelaki itu yang dimintai kesaksian, bagaimana denganku? Apa Bapak tidak ingin mendengar pembelaanku dulu?” Nanda coba membela diri. “Tidak perlu. Kamu sudah jelas bersalah. Kesaksian dua orang korban lebih kuat dari pada satu orang tersangka.” “Di sini aku yang jadi korban, bukan mereka!” “Nanda, diam dan hormati Pak Labib!” Pak Januel membentak. Nadia pura-pura sedih ketika melihat wajah Nanda. Dia nangis, mengelus perutnya yang mulai membuncit. Dia pura-pura seakan Nanda memang lah pelaku sebenarnya. Nanda tidak jadi iba dengan Nadia. Padahal, dia ingin menolong Nadia dan mencari siapa sebenarnya yang menghamili perempuan itu. Tapi tingkah Nadia membuat Nanda muak. Dia walk out dari ruang rektorat dan tidak peduli dengan keputusan para petinggi. “Nanda, jika kamu keluar, kami tidak segan memberimu SP 3 resmi dari kampus!” Nanda tidak menoleh. Dia keluar dari ruangan lalu menyingkirkan wartawan kampus yang ingin meliputnya. “Licik sekali lingkungan kampus. Lihat saja, aku akan membalas semuanya!” *** Prima sudah merancang semuanya. Dia minta tolong pada Heri agar dia bisa bertemu dengan Pak Labib. Sebagai anak salah satu kontributor kampus, Prima dipersilakan berbincang empat mata dengan rektor. Di sana dia melaporkan kejadian itu pada rektor, bahkan sebelum Nadia datang ke kampus. Pak Labib kaget, bagaimana Prima bisa tahu sedangkan dewan keamanan saja belum ada yang mengetahui kasusnya. Prima merayu rektor agar percaya dengan iming-iming fasilitas AC gratis di kelas pascasarjana. Sebagai rektor yang baik, Pak Labib sangat menginginkan hal tersebut. Mengorbankan satu orang untuk kenyamanan ratusan orang yang lain apa salahnya? Mereka berdua sepakat untuk menjebak Nanda, meskipun Pak Labib sadar jika kasus itu belum tentu benar. Skenario pun dikarang dan Pak Labib pura-pura tidak tahu, padahal pelaku penghamilan adalah dia sendiri. Sungguh kejam dan busuk! Di sisi lain, paman Bella mulai mendapat satu per satu bukti. Atasan memintanya untuk menyimpan bukti tersebut. Bella bertanya pada pamannya, tapi pamannya menolak untuk menjawab. Bella semakin curiga akan kasus ini. Setelah bebas dari cengkeraman Prima, dia pergi ke ruang rektorat. Tapi sayang, sidang sudah selesai dan Nanda dijatuhi surat peringatan tiga. Dalam arti lain, DO! Bella tidak terima dengan ketidakadilan petinggi kampus. Dia lari menghampiri Nanda, tapi lelaki itu seakan tidak peduli. Tidak ada tangis yang menetes di mata Nanda. Wajahnya merah padam, memendam amarah yang sudah semakin memuncak. “Kamu jaga diri baik-baik ya, Bel, aku tidak bisa melindungimu lagi dari cengkeraman Prima,” pesan Nanda, lantas tersenyum. “Ini tidak benar. Aku tahu kamu tidak bersalah. Aku tahu kamu dijebak. Kenapa kamu tidak membela diri di hadapan petinggi kampus?” “Membela diri? Para petinggi hanya peduli dengan uang, uang, dan uang, tanpa sedikitpun paham bagaimana menjadi guru yang baik, yang berjasa di bidang pendidikan. Petinggi beda dengan dosen, mereka jarang mengampu kelas dan hanya mengurus admininstrasi.” “Ta-tapi, kan?” “Sudah, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan membalas mereka, tunggu saja besok,” ucap Nanda lalu pergi begitu saja. Dia sangat kacau. Kalau sampai berita ini sampai ke telinga Claudia atau Madam Sherlyn, bisa-bisa dia diusir mentah-mentah. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan Andre selain menelepon Mila dan minta dijemput di kedai makan murah dekat kampus. Dia masih belum sepenuhnya percaya kalau dia adalah Tuan Muda Daidalos, tapi tidak menelpon Mila sama saja bunuh diri. Dia ingin kasus ini segera diusut. Ternyata Mila sudah tahu kasus tersebut dari salah satu mata-mata yang dia sewa untuk mengawasi Nanda selama laki-laki itu ada di kampus. Andre, Paman Angkat Nanda, meneleponnya karena curiga ada yang menjebak Nanda. Mila menceritakan semuanya. Dan Nanda terkejut, bahwa paman Bella adalah bawahan Andre. Sebagai ketua intel pusat, Andre memiliki kekuasaan penuh untuk memberi perintah. Dia menyuruh paman Bella menyelidiki kasus itu tanpa tahu bahwa Bella dan Nanda ada di kampus yang sama. Nanda sangat takut kembali ke villa. Tapi, tidak kembali ke sana sama buruknya seperti masuk ke kandang macan liar. Sembari membulatkan tekad, di hari itu juga, Nanda menyuruh Mila menjemputnya saaat itu juga. Atas rayuan Mila, Nanda akhirnya mau menginap di istana Daidalos. “Hubungi Labib, aku muak melihat mukanya! Wibawanya sudah hilang di hadapanku. Dia tak lebih dari sampah yang hanya mengincar harta!” Nanda emosi sampai memecahkan lemari pakaiannya yang terbuat dari kayu jati. “Ba-baik, Tuan, saya akan meneleponnya saat ini juga,” ujar Mila sedikit terbata-bata. Dia takut, tapi juga senang. Nanda akhirnya bisa menggunakan kekuasaannya sebagai Tuan Muda. “Apa yang Anda inginkan untuk membalas perbuatan Labib?” “Rombak semua petinggi kampus. Sebelum dipecat, aku ingin Labib jadi tukang potong rumput kampus seharian penuh jika ingin gajinya cair! Oh iya, aku curiga kasus ini ada kaitannya dengan Labib dan prima. Usut juga sampai tuntas, aku tidak mau tahu!” “Baik, Tuan.” Mila tidak memberitahu Nanda tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dia bersama Andre berhasil menemukan pelaku sebenarnya, tapi memilih tutup mulut. Gadis itu segera menelepon Labib tepat pukul sepuluh malam. Labib tidak peduli dengan hapenya yang berdering. Dia masih asyik berduaan dengan mahasiswinya di hotel. Yah, hampir tiap malam dia melakukan itu. Bagai hubungan mutualisme, mahasiswi itu mendapat nilai bagus dan jaminan beasiswa, sedangkan Labib mendapat kepuasan nafsu sesaat. Labib adalah badjingan yang sebenarnya. Menjual nilai bagus dan menggunakan kekuasaannya sebagai rektor agar bisa menikmati mahasiswinya sendiri. Karena merasa terganggu, Labib mengambil ponselnya dan membaca nama yang tertera. Matanya terkejut bukan main. Kenapa utusan Daidalos meneleponnya malam-malam begini? Urusan sepenting apa yang harus dibicarakan? Labib meminta mahasiswinya diam untuk sementara waktu. “Bagaimana rasanya bebas dari kasus yang menjeratmu? Menggunakan mahasiswa sebagai korban dan bertingkah seakan sudah bebas dari semuanya?” Mila to the point, menggunakan majas untuk memojokkan Labib. “Aku tidak paham apa yang Anda maksud, Nona,” Labib pura-pura tidak tahu. “Haha, meski kau mengelak, kami memiliki mata-mata di seluruh Indonesia, bahkan aku tahu kau ada di mana saat ini. Menuduh mahasiswa lain agar kau bebas dari jerat kasus, licik sekali perbuatanmu!” “A-apa maksud Anda, Nona Mila?” “Aku sudah tahu semuanya. Tahu bahwa,” Mila diam sejenak, memandangi ponselnya dengan mata merah menyala Pasti ada sesuatu besar yang akan terjadi. Entah apa yang Mila ketahui, pasti ada hubungannya dengan Nanda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN