Selamat Datang Di Istana

1314 Kata
“Semua yang aku bilang barusan itu bukan bualan. Bukti nyatanya ada. Tim intel pusat Daidalos sudah coba mencari berkas-berkas di tiap CCTV dan koran-koran selama tiga tahun terakhir. Dan, kita menemukan sebuah tragedi yang sangat persis seperti mobil yang kamu tumpangi.” “Kamu dijebak sopir pribadi Daidalos, lalu dikirim ke markas musuh. Banyak sekali yang ingin mengincar nyawa anggota keluarga Daidalos karena dendam pasca bisnis mereka kalah tender. Percaya padaku, jika bukan karena selamat dari ancaman itu, kamu pasti sudah mati.” “Mereka sengaja menculikmu dan ingin membunuhmu, tapi untungnya, kamu berhasil kabur, lalu melarikan diri ke Indonesia. Tapi, pengejaran tidak cukup di situ...” Mila menarik nafas dalam, selaras kemudian, melanjutkan ceritanya. “Di pinggiran kota JC, mereka berhasil menemukanmu dan ternyata ponselmu sudah ditukar. Daidalos diminta mengeluarkan imbalan, tapi Tuan Besar Davin tidak mau memberinya karena tahu itu cuma tipuan. Hingga pada saat pengejaran hampir usai, kamu tidak sengaja menabrakkan mobil milik orang asing di sana yang baru saja kamu beli, lantas dirimu koma selama beberapa hari.” Mila mulai hampir menitikkan air mata mengingat kisah itu. “Kondisimu parah, tapi seseorang menyelamatkanmu dan membawamu ke rumah sakit. Dia adalah Fasya, ibu angkatmu. Juga ada orang baik hati, yaitu ayah kandung Claudia, sekaligus mertua laki-lakimu. Mereka sepakat mengucurkan ratusan juta untuk operasimu. Dan, sekarang, kamu sudah kembali. Kami berhasil menemukanmu.” Tanpa sadar, Nanda sudah melakukan apa yang diminta perempuan itu. Dan memang, seperti yang selalu terjadi, dia tidak bisa mengingat apa-apa soal kehidupannya sebelum dia tinggal bersama ibu angkatnya. Malah dia justru sakit kepala ketika kembali mencobanya. Dengan kata lain, tiga tahun yang lalu itu, dia memang hilang ingatan. Dan, yang dia ingat hanya namanya, Nanda Ardiansyah, tidak lebih. Tetapi, tetap saja, bukan berarti apa yang dikatakan perempuan itu padanya tadi benar adanya. Pria tampan nan jangkung itu tidak langsung percaya, akan tetapi masih menimbang-nimbang. Jika dia memang benar pewaris sah seluruh harta kekayaan Daidalos, dia bisa memanfaatkan itu untuk membalas perlakuan Madame Sherlyn dan Claudia yang selama ini terus menindasnya, juga pacar baru Claudia yang merupakan anak salah satu miliarder di negeri ini. Nanda menggelengkan kepala. “Pergilah! Sebentar lagi istriku muncul dan aku harus mengantarnya pulang,” ucap Nanda, ketus. Mendapati upayanya membawa Nanda kembali ke Daidalos nyaris sia-sia, Mila menghela napas. Dia lalu mengeluarkan sebuah kartu dan menunjukkannya pada Nanda. “Apa ini?” tanya Nanda, mengambil kartu tersebut. “Ini kartu ajaib yang hanya dimiliki oleh anggota-anggota terbaik Daidalos. Kartu ini bisa digunakan untuk segala jenis transaksi, mulai dari yang legal maupun ilegal. Tanpa ada limit apa pun!” jawab Mila. Nanda membolak-balik kartu itu. Warna dominannya hitam pekat, dan ada tulisan putih bersepuhan emas bertuliskan Daidalos di ujung pojok kiri bawah. ‘Apalagi ini?’ pikirnya. Jika benar itu prank, Nanda salut sebab tampaknya perempuan di hadapannya ini sudah menyiapkan segalanya dengan baik. Bahkan dia dan timnya sudah mencetak sebuah kartu yang terlihat sangat berkelas dan elegan itu! “Kalau nanti kamu berubah pikiran, hubungi saja aku di nomor ini,” ucap Mila kemudian, kali ini menyodorkan selembar kertas kecil berisi nomor ponselnya. Sesaat kemudian, seorang lelaki keluar dari kantor Claudia. “Oh, jadi kamu suami Claudia? Hmm, menarik juga. Tampan dan atletis. Tapi, percuma, wajah tampan kalau nggak punya uang bisa apa juga? Mending kamu cepat-cepat ceraiin Claudia, deh. Kasihan dia sama kamu, nggak bahagia sama sekali. Bisamu cuma apa? Kerja kontraktor sama pelayan klub malam, kan?” “Bahagia perempuan itu hanya soal uang,” timpal Nanda. “Heh, jaga mulutmu!?” Levy mencengkeram kerah baju Nanda karena telah berani menghina pacarnya. “Mulutmu bisa aku beli. Jangankan mulutmu, semua anggota badanmu bisa aku beli cash! Sekarang, cepat pergi, aku muak melihat wajahmu!” “Ada apa, Sayang?” tanya Claudia dengan muka bantalnya. Tubuh gadis itu cuma terlilit handuk putih tebal, pertanda mereka telah melakukannya semalam. “Oh, gembel ini bikin kamu marah pagi-pagi, emang ga punya malu, ga punya harga diri! Masih untung Papa mau bayarin operasi dia. Coba enggak, dia bisa mati kehabisan darah tiga tahun lalu! Cepat menyingkir! Pagi-pagi sudah bikin ribut, dasar miskin!?” “Ta-tapi, kan, kita masih berstatus suami-istri sah...” “Hah? Jangan bercanda! Sesuai perjanjian, kamu diizinkan tinggal di sini sampai pergantian bulan dengan catatan kamu bukan lagi anggota keluarga kami, melainkan pembantu yang gantiin tugas Bi Lijah sampai Bi Lijah balik ke sini!” “Udah, nggak ada waktu urusin orang satu ini, mending kita mandi terus pergi ke bank buat urus pembayaran mobil Fortuner kamu. Buang-buang waktu aja!” ajak Levy, lantas menarik tangan Claudia masuk ke kamar. Menyebut kata bank, Nanda teringat tentang kartu yang diberikan Mila sebelum perempuan cantik itu pergi meninggalkannya di depan kantor. Cepat-cepat Nanda ganti pakaian dan berangkat menuju tempat kerjanya, lantas bersiap datang ke Bank Platina, sesuai arahan Mila. Di tempat kerja, seperti biasa, dia selalu direndahkan, dan di anak-tirikan. Berbeda dengan pegawai lain, Nanda selalu diperlakukan tidak layak. “Angkat sekopmu dan pindahkan semen yang berserakan! Gara-gara kamu, semua pekerja di sini ikut repot. Dasar tidak tahu diri, mending kamu kerja di bar jadi pelayan tante-tante!” seorang pekerja nampak memaki Nanda karena tidak fokus mengangkat sak semen hingga salah satunya jatuh. “Aku tidak mau tahu, jangan sampai gara-gara semenmu yang jatuh, kami juga ikut ganti rugi! Cepat, bayar 150 ribu untuk harga satu sak semen! Masih untung kami mau bantu kamu beresin, coba nggak, kamu bisa dipecat dari pekerjaan ini!” Nanda hanya diam. Dia masih berpikir keras apakah dirinya memang anak seorang bangsawan terkemuka, atau hanya seorang kuli bangunan kumuh. Usai menyelesaikan semuanya, Nanda tidak ambil jatah makan siang dan langsung pergi ke Bank Platina, berharap, dia bisa menemukan lokasi bank itu sebelum hari beranjak sore. “Aneh. Tumben-tumbenan bocah itu nggak ambil jatah makan siang? Apa dia sakit hati karena perkataan kita tadi?” tanya Jalu, rekan kerja Nanda di kontruksi. “Nggak usah terlalu dipikir, dia cuma bocah manja yang sok-sokan pingin jadi pekerja kasar. Biarkan saja, nanti paling balik lagi karena dia kelaparan dan nggak punya uang buat beli makan,” balas pekerja yang lain. “Makan saja makanan kalian, tidak usah pedulikan Nanda,” kata mandor proyek yang tiba-tiba datang membawa satu cepet rokok Surya 16 dan membagikannya pada para petugas. “Besok kita diberi jatah libur dari pusat. Harusnya kalian bersyukur, setelah 2 bulan yang menguras tenaga dan membuahkan hasil memuaskan, bos menaruh simpati sehingga kita diberi jatah libur ekstra, jadi sebulan enam kali.” “Benarkah itu?” “Bapak tidak bercanda?” “Syukurlah, aku bisa menghabiskan waktu dengan anak-anakku yang masih kecil. Terima kasih, Pak, kami sangat bahagia mendengar kabar ini.” “Nanda bagaimana?” celetuk Jalu, yang disambut tatapan tidak enak dari para pekerja lain. Mandor segera menghampiri Jalu dan berkata, “Sudah, biarkan saja bocah sok elit itu. Biar dia masuk kerja sendiri besok pagi, terus bingung mencari keberadaan kalian.” Di sisi lain, Nanda menyusuri jalanan pusat kota JC hingga akhirnya tiba di sebuah persimpangan dekat perumahan elit. Dia ingin masuk, tapi dilarang oleh petugas keamanan. “Pengemis dilarang masuk ke perumahan ini,” kata petugas. “Ta-tapi, Pak, saya ingin cari alamat Bank Platina. Bapak bisa memberitahukannya?” “Dih, kamu itu ngemis tapi sok-sokan tanya lokasi bank. Bank Platina? Bank apalagi itu? Aku tidak pernah dengar nama bank asing di sini. Udah, udah, cepat pergi, mules perutku ngeliat cowok macam kamu!” Setelah cukup lama mencari, samar-samar Nanda melihat Mila dari kejauhan, sepertinya Nanda sadar kalau Mila terus mengawasi seluruh aktivitas yang dia lakukan. Mobil yang dinaiki Mila pergi ke arah Selatan, dan Nanda membuntuti arahnya karena merasa Mila memberi kode agar dia ikut ke sana. Dari kejauhan, dia melihat sebuah bangunan mewah tapi hanya terdiri dari satu lantai. Dan, ada dua pasang mata sedang menatapnya tajam. Baru ingin melangkahkan kaki kembali dari pos satpam, seseorang langsung membekap mulutnya. Nanda tidak bisa bergerak, dia akhirnya pingsan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN