Nanda sebenarnya enggan pergi ke acara Keluarga Travis, namun karena Davin terus mendesaknya, Nanda pun pergi ke sana.
Acara itu berlangsung di auditorium Beverley Hall, perusahaan media terkemuka. Hampir semua stasiun televisi bekerja sama dengan Nayama. Tidak hanya acara meeting antar miliarder, tapi juga event sekaligus obral butik-butik merk mahal juga diadakan di sana.
Setelah memarkir mobil di parkiran khusus, Nanda masuk lebih dulu. Melvin sudah menunggu di dalam karena dia harus mengisi daftar hadir tamu.
Di pintu masuk Beverley Hall, Nanda dicegat dua orang lelaki berpakaian hitam ketat dan lengan yang kekar.
“Tunjukkan kartu invitation yang dikirim langsung oleh Keluarga Travis!” kata petugas itu.
Hah?
Nanda mengernyitkan dahi. Kartu invitation katanya? Jelas dia tidak punya. Dia hanya datang bermodal ucapan Melvin. Melvin sendiri tidak memberikan kartu apa-apa, tidak juga memberi rekaman suara.
“Aku tidak punya kartu itu. Di mana aku bisa mendapatkannya?” tanya Nanda.
“Ada dua jenis kartu, VIP dan reguler. Kartu reguler bisa kau beli di situs resmi Nayama, sedangkan kartu VIP diberikan khusus bagi mereka tamu-tamu penting Keluarga Travis. Jika kau tidak punya keduanya, maka kau tidak bisa masuk.”
“Kenapa aku tidak boleh masuk? Aku diundang langsung oleh pemimpin Keluarga Travis!”
“Peraturan tetap peraturan. Jika kau tidak bisa menunjukkan kartu identitas khusus, kau tidak boleh masuk apapun alasannya.”
“Jangan menahanku sebelum kalian dalam masalah tidak membiarkanku masuk ke dalam sana!”
“Hah? Ngomong apa? Kami tidak peduli denganmu. Memangnya kamu siapa, ha? Jangankan gembel berpakaian lusuh sepertimu, anak walikota saja tidak bisa masuk ke tempat ini kalau tidak punya kartu identitas khusus. Di Kota B, hanya Nayama yang memperlakukan semua orang secara adil.”
Nanda menyilangkan tangannya di d**a.
“Semua miliarder sudah paham akan aturan yang berlaku. Simpelnya, jika kamu tidak punya kartu, kamu tidak boleh masuk. Beres!”
Nanda menelepon Melvin, tapi tidak diangkat. Dia berulang kali menelepon tapi hasilnya tetap nihil. Melvin tidak menjawab telepon dari Nanda karena dia sedang asyik berpesta dengan yang lain.
“Aku adalah utusan Daidalos, jangan macam-macam!”
Dua penjaga itu tertawa terbahak-bahak. “Mana mungkin utusan Daidalos menggunakan pakaian kumal dan tidak dikawal militer negara?”
“Kamu tidak percaya aku utusan Daidalos?” tanya Nanda. “Tuan Besar Davin yang menyuruhku datang ke sini.”
“Hey, jangan mengada-ngada! Kau adalah orang ke sekian ratus yang mengaku sebagai utusan Daidalos. Jangan pikir kami percaya begitu saja!”
“Aku tidak bohong.”
“Memang Daidalos menyanggupi hadir di event besar lima tahunan ini. Atau begini, kau kuberi kesempatan untuk menunjukkan bukti bahwa kau memang utusan Daidalos. Aku baik hati, bukan?”
Nanda menyelesal, kenapa dia lupa membawa dompet. Padahal di dompet itu ada jam tangan khusus dan kartu hitam yang hanya dimiliki orang-orang penting Daidalos.
Andai saja dompet itu ia bawa, Nanda bisa langsung masuk tanpa menunjukkan kartu identitas khusus Keluarga Travis. Tapi sayang, dia lupa membawanya.
“Oke. Aku akan menelepon Melvin. kalian tunggulah di sini!”
“Hahaha … kami tidak takut. Cepat lakukan!”
Telepon tulisannya berdering, tapi Melvin tidak mengangkatnya. Entah ke mana perginya pria itu sampai Nanda kesal dibuatnya.
Dua penjaga menertawakan kebodohan Nanda.
Hampir 30 menit dia berdiri di depan dua penjaga itu. Setiap ada tamu yang masuk, keduanya selalu mengolok Nanda dan menganggapnya sebagai badut yang tidak jago dalam penyamaran. Berulang kali dia minta izin masuk ke acara itu, tapi keduanya terus-terusan menolak.
Karena kesal, dua penjaga itu mengancam akan menendang perut Nanda apabila dia masih keras kepala.
“Ada keributan apa ini?”
Seorang perempuan cantik memecah perdebatan antara Nanda dan dua penjaga event. Nanda menoleh. Sesosok bidadari berdiri di belakangnya. Rambutnya panjang semampai, hitam lebat, dan tentunya harum. Parfum avocadonya menyeruak. Pakaiannya sangat mewah bak seorang permaisuri raja.
Gadis itu datang sendiri tanpa pengawalan. Berbeda dengan kebanyakan tamu yang dikawal oleh bodyguard dan asisten pribadinya masing-masing.
Dua penjaga langsung berubah sikapnya menjadi sopan.
“Selamat malam, Nona Sheila, Anda tamu Super VIP di event ini. Semua tamu VIP dan tamu reguler sudah menunggu Anda di dalam. Ada ruangan khusus di lantai empat khusus tamu Super VIP, jamuan dan pertunjukan spesial sudah menanti Anda.”
Nanda menengok. “Super VIP? Katamu hanya ada dua kartu, kenapa ada merk lain?”
“Diam kamu, Gembel! Kartu Super VIP hanya dimiliki oleh orang-orang terkaya di Indoensia. Nona Sheila merupakan anak kandung Tuan Mayapada, Keluarga Terkaya nomor satu di negara ini.”
“Hmm, nomor satu ya … sepertinya kalian salah. Perusahaan kakekku yang nomor satu, Mayapada jauh di bawah perusahaan kakek.”
“Sudah miskin, membual juga. Mulutmu memang tidak ada kapoknya ya!”
Nanda berdecak sebal. Dua penjaga itu membeda-bedakan kasta. Saat berbincang dengan Sheila, mereka berbicara lembut seperti singa yang berubah jadi kucing. Namun, ketika menatap Nanda, kebuasan mereka kembali bak singa mengincar mangsa.
“Kalian ini ... jangan sampai aku membalas perbuatan kalian dengan perlakuan yang lebih tidak manusiawi lagi!?” Nanda mengancam hingga hampir ada adu pukul di antara dia dan dua satpam. Hingga pada akhirnya, sebuah suara terdengar, membuyarkan perdebatan itu.
“Dia kenapa?” tanya seorang wanita, yang sontak membuat dua satpam itu membungkuk.
“No-Nona Sheila, sejak kapan Anda di sini?”
“Dia kenapa?” tanya Sheila sembari menunjuk Nanda.
“Dia tidak punya kartu, tapi maksa masuk ke event sakral ini. Kami sudah melarangnya, tapi dia keras kepala. Sudah tiga puluh menit dia berdiri mematung di sana. Nona pasti tahu aturan Nayama tidak boleh membiarkan siapapun masuk kecuali punya kartu identitas khusus.”
“Ayo masuk bersamaku,” ajak Sheila.
Semua terkejut mendengarnya, termasuk Nanda sendiri.
Nanda memilih menjauh dari perempuan itu. Wajahnya begitu familiar. Nanda pernah melihatnya, tapi lupa di mana. Seperti baru melihat perempuan itu beberapa hari lalu.
Pemuda tampan itu terkejut kala sadar Sheila sudah berdiri tepat di sampingnya.
“Mari masuk bersamaku,” kata Sheila sembari menyunggingkan senyum tipis.
Nanda terheran-heran, apa ini bukan mimpi, tidak mungkin sosok wanita terhormat seperti Sheila menggandeng tangannya memasuki Beverley Hall. Dia menoleh sembari mengernyitkan dahi.
“Kenapa kamu mengajakku masuk?” tanya Nanda.
Sheila menoleh sebelum melangkahkan kakinya. “Eh, kamu bilang apa tadi?”
“Ti-tidak. Terima kasih telah mengajakku masuk.”
“Ahahaha, tidak masalah. Lagian setiap tamu Super VVIP diperkenankan membawa satu tamu tanpa akses. Kebetulan hari ini aku datang sendiri. Papa dan mamaku sedang memimpin rapat besar di Brunei. Aku yakin kamu punya urusan penting karena tidak sembarang orang bisa masuk lewat pintu depan.”