Tiga orang dicurigai menjadi tersangka, tapi Nanda tidak menunjukkan ekspresinya.
“Pelakunya ada dua orang,” kata Nanda. “Satu orang sudah tertangkap, tinggal satu orang lagi. Jika tidak ada yang mengaku, pak tua rambut putih itu akan kuhabisi!”
“Tolong jangan sakiti Pak Gibran, Tuan,” ucap seorang perempuan yang kira-kira berusia tiga puluh. “Saya yang selama ini membantu Pak Gibran menggelapkan dana tender perusahaan.”
“Hmm?”
“Saya bagian pengawas. Jika ada yang mencurigakan, saya akan memberi kode. Tolong jangan siksa Pak Gibran karena saya sudah mengaku!”
Lelaki lain mengacungkan tangan. “Jangan bohong, Mel, aku yang sebenarnya melakukan itu. Kamu jangan membuat pengakuan palsu.”
“Tidak, aku yang melakukannya!”
Perdebatan berlangsung. Semua berebut menjadi tersangka. Nanda menampakkan senyumnya yang misterius. Dari semua petinggi, hanya Rafi, Risma, dan lelaki pemabuk itu yang tidak bereaksi.
“Baiklah, kalian semua kupecat kecuali Rafi, Risma, dan Barok!”
Keputusan itu mengejutkan semua orang. Dipecat? Apa mereka tidak salah dengar? Nanda memecat mereka tanpa basa-basi.
Tujuh petinggi meminta keringanan, tapi Nanda tidak menggubrisnya.
“Apa? Kita dipecat?” kata mereka serempak.
“Benar. Silakan kalian boleh pergi, kemasi barang-barang kalian di kantor. Sementara tunggulah di pos keamanan. Temani lelaki yang kalian panggil Bapak itu!”
“Kami pulangnya bagaimana, Tuan?” tanya Amel.
“Aku sudah menelepon bawahan, dua mobil akan menjemput kalian. kalian berdelapan akan dibawa ke rumah masing-masing. Tidak perlu risau.”
Mereka pergi dengan raut muka penyesalan. Meski begitu, mereka bisa tenang karena Pak Gibran tidak jadi disiksa oleh Tono dan Madun.
Tak lama kemudian, terdengar suara knalpot mobil sport mewah. Melvin datang membawa Porsche GT 29 keluaran terbaru. Warna merahnya menyilaukan mata.
Dua mobil fortuner putih mengiringi suara knalpot Porsche milik Melvin.
“Ohh, jadi ini yang dimaksud Tuan Nanda.” Melvin memandangi para petinggi yang duduk menunggu di depan pos keamanan. “kalian semua silakan naik ke mobil. Tuan Nanda ingin yang terbaik dari kalian.”
“Yang terbaik?” mereka berucap sRafing pandang.
”Tidak perlu heran, nanti saya jelaskan pada kalian,” ucap Melvin sedikit lebih formal. “Silakan, kalian bebas milih mobil yang mana, asal jangan Porsche merah ini. Barang-barang bisa kalian tinggal di pos keamanan. Tono dan Madun bisa menjaganya sampai matahari terbenam nanti.”
Pak Gibran mendekati Melvin. “Tuan jangan memecat kami semua, cukup aku saja! Aku yang mengkorupsi dana tender ini.”
“Hahaha … Tuan Nanda hanya menguji kesetiaan kalian. kalian semua lolos ujian. Asal kalian tahu, yang sebenarnya korupsi dana tender adalah pemimpin kalian sendiri.”
“Hah!”
Semua orang terkejut mendengarnya.
“Sudah, kalian mau ikut atau tidak? Saya disuruh Tuan Nanda membawa kalian ke suatu tempat. Yang pasti, bukan rumah kalian. Tono dan Madun jangan khawatir. kalian ada tumpangan sendiri nanti. Untuk sementara, kalian temani Tuan Nanda menginterogasi tiga petinggi yang tersisa.”
Bersamaan dengan itu, Nanda menghajar Rafi hingga babak belur. Dia tidak memberi ampun pada Rafi.
“Aku sudah susah payah membangun proyek ini, mendiskusikannya dengan tender. Gara-gara kau seorang, tidak ada lagi tender yang mau mengambil proyek Daidalos! Kau pantas merasakan ini semua!”
Risma tidak tega melihat pacarnya dihajar. Dia ingin menolong, tapi tidak bisa. Dia takut Nanda menghajarnya kalau melawan perintah.
“A-aku tidak tahu, maafkan aku!”
“Lebih baik kau bungkam mulut sampahmu sebelum tangan kananku yang membungkamnya!” satu pukulan mendarat di bibir Rafi, merompalkan gigi-giginya.
Risma berlari mendekati Rafi, tapi Nanda segera memalingkan wajah. “Diam di sana! Kau tak ubahnya perempuan hidung belang! Mau saja diperbudak lelaki seperti Nanda.”
Barok hanya diam saja menyaksikan penyiksaan itu. Dia sedang dalam pengaruh minum-minuman keras. Matanya siwer, seperti melihat pertunjukan gulat internasional.
Puas memukuli Rafi hingga babak belur, Nanda pergi begitu saja. “Jason, hancurkan karir lelaki itu! Pastikan namanya diblacklist dari semua perusahaan di Indoensia, tanpa terkecuali!”
“Apa tidak ada hukuman lain, Tuan? Memblacklist dari semua perusahaan Indonesia itu terlalu kejam!”
“Kau harusnya bersyukur, aku masih mau memungutmu lagi setelah kesalahan besar yang kau perbuat. Cepat lakukan perintahku!”
Saat Nanda keluar, beberapa wartawan langsung mengerubunginya. Ternyata nama Daidalos sudah dikenal di kalangan wartawan sebagai perusahaan yang suka membohongi tender proyek.
Nanda geram karena nama Daidalos tercoreng gara-gara seorang lelaki.
Nanda menuntut tanggung jawab Rafi karena telah mencoreng nama Daidalos. Dia memutar badan, menghampiri Rafi yang sedang dirawat Risma.
“Cepat selesaikan urusan ini! Bilang kepada mereka semua bahwa kau lah yang menggelapkan dana tender proyek!” Nanda melayangkan satu pukulan ke wajah Rafi.
“Sudah babak belur, masih tetap saja dipukuli. Dasar lelaki tidak tahu malu!” Risma membela pacarnya.
Jason menyeret Rafi ke depan kantor dan memaksanya menandatangani surat pengakuan dengan materai resmi berlogo Daidalos. Jika tidak menandatanganinya, Rafi akan dipukuli habis-habisan.
Rafi awalnya menolak, tapi Risma terus merayu. Rafi pun menandatanganinya.
“Urusan selesai,” kata Nanda. “Pastikan dia ganti rugi biaya kerugian Daidalos!”
“Baik, Tuan.”
Tepat pukul dua siang, Nanda berangkat menuju salah satu perumahan elit di Sukabumi.
Dua orang polisi mencegatnya karena knalpot mobil Nanda terlalu bising, tapi Nanda berhasil bernego. Hanya dengan menunjukkan kartu hitam Daidalos, dua polisi itu langsung tutup mulut.
Nanda memberi mereka uang dua Davin untuk jatah makan siang selama satu minggu. Keduanya sempat menolak karena jumlahnya yang terlalu besar.
“Halah, uang tip kalian jauh lebih banyak dari itu,” gusar Nanda. Dua polisi itu hanya nyengir.
Di sebuah villa yang letaknya tidak jauh dari Daidalos Losment, Nanda mengadakan pesta kecil-kecilan bersama delapan petinggi lainnya. Dia minta maaf pada Pak Gibran karena telah memperlakukannya seperti pelaku.
Acara itu berlangsung meriah. Mereka tidak lagi memikirkan kerugian tender ataupun cap buruk yang ditujukan pada Daidalos.
Sore itu juga, Melvin mendatangi Nanda, memberi kabar bahwa semua siaran tv Nasional sepakat menanyangkan berita yang menjadi topik panas di kalangan para miliarder.
“Dia pasti kapok berani melawanku,” kata Nanda.
“Saya yakin dia tidak berani melakukannya lagi.”
Melvin pamit undur diri. Tapi baru beberapa langkah menuju pintu keluar, dia kembali. Undangan diberikan pada Nanda, tertulis yang mengundang adalah Keluarga Travis, salah satu petinggi Elit X.
Elit X merupakan organisasi yang didirikan oleh Daidalos.
Terdiri dari 100 miliarder terkaya di negeri ini, mereka membuat aliansi agar bisnis di negeri X seimbang, tidak berat sebelah. Elit X juga yang mengatur kerjasama bilateral maupun multilateral negeri X.
Bisa dikata, elit X adalah penguasa pangsa pasar negeri X, tapi tetap saja, penguasanya adalah Daidalos. Tidak ada yang bisa mengalahkan raksasa penguasa pangsa pasar bisnis dunia ini!