Aku Tahu Siapa Pelakunya

1137 Kata
Seorang lelaki maju beberapa langkah. “Dania, percuma kamu menjelaskan panjang lebar padanya. Sampai mulutmu berbusa pun, dia tidak akan paham dengan urusan bisnis. Kamu menyebut Daidalos Accent saja dia tidak mungkin tahu!” “Benar. Mana mungkin pengemis tahu nama-nama perusahaan terkemuka di negara ini.” “Wajahnya memang tampan, tapi kalau tidak punya duit, sama saja bohong. Ketampanan hanya sementara. Duit itu segalanya. Tampan tak berduit sama seperti makan lauk tanpa nasi. Nggak kenyang!” Nanda melirik mereka. “Jaga omongan kalian! Harusnya kalian menghormatiku karena aku adalah pemimpin kalian yang sebenarnya!” Rafi tertawa terbahak-bahak. “Pemimpin katamu? Cuih … aku tidak sudi dipimpin gembel bau sepertimu! Yang kamu bisa hanya menyebarkan najis di setiap tempat yang kamu datangi. Cepat pergi sebelum proyek ini jadi sial karena kedatanganmu!” “Diam kau, Koruptor!” Nanda memaki Rafi. Rafi terbelalak hebat. “Apa? Kamu bilang apa? Koruptor? Mana buktinya?” “Hahaha … aku punya bukti kuat bahwa kamu lah yang mengkorupsi semua dana proyek pembangunan ini. Hampir lima triliun masuk ke kNandagmu! Sedangkan dua triliun lainnya masuk ke kNandag sekutumu!” “Kamu mabuk ya? Aku ini presdir. Aku tidak mungkin melakukan hal segila itu!” Dania dan yang lain sadar gerak-gerik mencurigakan Nanda, apalagi setelah dia tahu perusahaan ini sedang mencari pelaku penggelapan dana tender proyek Daidalos Losment. Rafi masih belum sadar tentang kecurigaan Nanda. Dia tetap menghina Nanda di depan pegawai yang lain. Madun dan Tono tidak ingin mencari masalah. “Ayo kabur, Jok,” ajak Tono. “Iya. Kita tidak boleh ikut campur masalah ini. Aku curiga, lelaki yang dianggap sampah ternyata Tuan Muda Daidalos. Kita bisa dipecat jika ikut campur masalah ini!” “Madun, Tono, kalian mau ke mana? Cepat bawa dia pergi!” Suara Rafi tidak menghentikan niatan Madun dan Tono kabur dari sana. “Woi, kalian pergi ke mana. Cepat urus gembel satu ini sebelum kalian dipecat!” Tono pura-pura tidak dengar. Dia pergi ke warung makan yang letaknya tidak jauh dari Daidalos Losment. Madun sendiri mematung di sekitar garis kuning polisi. Hingga Jason datang dan menyapanya. “Tuan Jason, Anda sudah lama ada di sini?” tanya Madun. “Lumayan lama. Tadi aku ke kamar mandi dulu. Habis, perutku mual karena kebanyakan makan sambal terasi.” Jason bercanda sejenak dengan Madun. “Ngomong-ngomong, apa kamu lihat pemuda menggunakan kemeja putih polos dengan bercak merah di bagian bahunya?” “Ma-maksud, Tuan?” “Aku sedang mencari pemuda itu. Di mana dia berada?” tanya Jason. “Ada keperluan apa sampai Anda mencari keberadaannya?” “Dia tamu paling istimewa di proyek ini. Aku ingin minta maaf karena membiarkannya masuk seorang diri.” Gleg. Madun menelan ludah. Dugaannya benar, ternyata pria berpakaian lusuh itu merupakan Tuan Muda Daidalos. Dia mengajak Jason pergi ke tempat pembangunan. Di sana, Nanda sedang dicaci sedemikian rupa. Rafi, Dania, dan beberapa petinggi lain mengolok Nanda. “Mana ada Tuan Muda berpakaian seperti ini! Tuan Muda itu datang menggunakan porsche, pakaian bermerk, sepatu kulit, dan kacamata mahal. Sedangkan kamu, beli baju putih bersih saja tidak bisa!” Jason datang. Semua orang hormat padanya, termasuk Rafi dan Dania. “Tuan Jason, akhirnya Anda datang,” sambut Rafi, sikapnya berubah hangat. “Ada keributan apa ini? Apa kalian tidak malu keributan itu didengar oleh penjaga warung di sekitar proyek pembangunan?” Rafi menunjuk Nanda. “Ini semua gara-gara dia, Tuan.” Jason menoleh. Dia terkejut melihat luka sobek di bibir Nanda. Jason segera mengelapnya dan meminta maaf karena tidak menemani Nanda masuk ke proyek pembangunan ini. Rafi, Dania, dan seluruh petinggi lain membelalakkan mata. Mereka terkejut melihat Jason yang bersimpuh di hadapan Nanda. “Tu-tuan Jason … kenapa Anda bersimpuh di kaki gembel seperti dia?” Jason bangkit dan memukul Rafi sangat keras sampai dia terhuyung beberapa meter. “kalian bodoh ya … dia itu atasan kalian, Tuan Muda Daidalos.” “Tu-Tuan Muda?” “Benar. Aku Tuan Muda, kalian mau apa? Masih mau menghina pakaianku, sandalku, atau rambutku yang acak adut? Silakan. Aku tidak sakit hati dihina seperti itu.” “Tidak mungkin! Jangan bercanda, Tuan Jason, dia tidak mungkin Tuan Muda Daidalos!” Rafi masih tidak percaya. Nanda mendekati Rafi dan ingin membalas perbuatan pria paruh baya itu. “Kesombongan membuatmu lupa kalau di atas langit masih ada langit yang lebih tinggi!” Nanda memanggil semua petinggi Daidalos Losment. “Pelaku pencurian dana proyek tender ini adalah salah satu dari kalian. Aku tahu orangnya, tapi aku tidak mau menyebutnya. Aku ingin meminta kejujuran kalian.” “Sa-saya tidak tahu apapun,” ucap Risma, sekretaris pribadi sekaligus pacar gelap Rafi. “Aku hitung sampai sepuluh. Jika tidak ada yang mengaku, jangan harap kalian bisa keluar dari perusahaan ini dengan selamat!” Seorang lelaki rambut putih bernama Gibran maju selangkah. “A-aku yang melakukannya.” “Pak Gibran … jangan mengorbankan diri seperti itu! Bapak orang baik. Bapak jangan membuat pengakuan palsu seperti itu.” “Benar, Pak, kami memang tidak tahu siapa pelakunya, tapi kami yakin pelakunya bukan Bapak.” “Tolong jangan lakukan ini, Pak Gibran! Siapa lagi yang akan mengayomi kami di sini. Bapak sudah seperti orang tua kandung kita sejak kita bekerja di Daidalos Accent.” Lelaki bernama Gibran itu menahan air matanya agar tidak keluar. Dia nekat membuat pengakuan demi menyelamatkan petinggi-petinggi yang lain. “Saya pelakunya, tolong jangan percaya ucapan mereka,” kata Gibran pada Nanda. Hampir semua petinggi menangisi Gibran dan tidak ingin lelaki itu pergi dari Daidalos Losment. Jason menarik lengan Nanda hingga mereka sedikit menjauh dari para petinggi. Kemudian Jason berbisik. “Dia orang baik. Dia orang yang sangat jujur. Dia tidak mungkin melakukan ini.” “Bagaimana kau tahu?” tanya Nanda. “Informasi mengenai dirinya, semuanya positif. Dari perusahaan-perusahaan tempatnya bekerja dulu, Gibran selalu mendapat pujian karena kinerja dan tanggung jawabnya. Untuk itulah aku menariknya jadi salah satu petinggi Daidalos Accent sebelum Kenneth menjabat jadi presdir.” “Dan kau yang memilihnya untuk menduduki kursi calon petinggi Daidalos Losment?” “Benar, Tuan. Saya sangat yakin bukan Gibran pelakunya.” Nanda kembali berkumpul dengan para petinggi. Dia memanggil Gibran, meminta pria tua itu meninggalkan barisan petinggi. Madun dan Tono mengamankannya di pos satpam. “Eksekusi dia!” Nanda memberi perintah Jason sembari mengedipkan mata. Jason seketika paham kode yang diberikan Nanda. “Baik, Tuan.” Tangisan mulai pecah. Mereka tidak tega melihat Gibran dipukuli oleh Tono dan Madun. Bahkan dua dari sepuluh petinggi, nekat mengejar Gibran, tapi Nanda segera melarang. “Tetap berdiri di tempat kalian!” Nanda menyisir pandangan. Dari sepuluh orang yang tersisa, hanya mata Rafi dan Risma yang tidak menunjukkan raut gelisah. Sebenarnya ada satu orang lagi, lelaki yang menggunakan kemeja kotak-kotak putih. Matanya sedikit sayu seperti orang habis minum minuman keras. Tiga orang dicurigai menjadi tersangka, tapi Nanda tidak menunjukkan ekspresinya. “Pelakunya ada dua orang,” kata Nanda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN