“Hanya kita bersepuluh yang punya akses ke ATM khusus milik Daidalos. Dan hanya kita juga yang bisa mengambil uang itu.”
Nanda samar-samar mendengar debat kusir di kantor utama Daidalos Losment. Dia menguping. Namun dua lelaki berbadan kekar kaos hitam polos lengan pendek mendatanginya.
“Hey anak muda, berani-beraninya kau menguping pembicaraan petinggi Daidalos Losment,” kata lelaki dengan tindik di daun telinganya.
Mereka adalah dua preman yang disewa khusus untuk menjaga keamanan selama pembangunan ini berlangsung. Ali membayar mahal mereka.
Tidak satu pun boleh menginjakkan kaki di area kantor kecuali sebelas total petinggi perusahaan, termasuk Ali yang memimpin proyek pembangunan. Penasaran membuat Nanda masuk melintasi garis polisi. Dia tidak membaca larangan yang tertera.
“Jawab, anak muda! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya preman bernama Madun.
“Tadi aku disuruh masuk oleh seorang lelaki. Dia pamit ke kamar mandi karena perutnya sakit. Iya begitu, aku akhirnya masuk untuk mengikuti rapat di kantor utama Daidalos Losment.”
“Lihat pakaianmu, sangat lusuh dan tidak terawat! Bau badanmu lebih menjijikkan dari tumpukan sampah yang ada di Utara perusahaan. Dari sandalnya saja sudah kelihatan kalau kamu cuma pengemis yang ingin mengais recehan dari para petinggi, bukan?”
Madun mendekati Nanda dan mencengkeram kerah bajunya. “Mengaku saja! Jangan sok kaya! Aku bisa membuangmu ke selokan kalau kamu berani macam-macam di daerah terlarang ini.”
“Daerah terlarang?” tanya Nanda, dia mengernyitkan dahi.
“Matamu ditaruh di mana, Bodoh? Itu ada garis kuning polisi, pertanda tidak semua orang diizinkan masuk ke sini. Kamu ini tahu hukum atau tidak, hah?”
“Jika garis kuning polisi berarti larangan, lalu kenapa kalian berkeliaran di daerah terlarang ini?”
Madun naik pitam. Dia ingin memukul Nanda, tapi ditenangkan oleh Tono, rekan premannya.
“Jangan gunakan kekerasan! Kasihan pengemis ini. Dia berdandan rapi agar bisa mengais rupiah dari para petinggi. Setidaknya hargai usaha dia membeli pakaian walau pakaian murahan,” kata Tono.
Kemudian Madun menyela dan menatap Nanda lekat-lekat. “Aku ditugaskan langsung Presdir Rafi menjaga keamanan di sekitar sini. Sedangkan kamu, hanya orang biasa yang tidak punya akal! sekali lagi kamu menyela omonganku, aku tidak segan menghajarmu sampai babak belur!”
“Ohh, si Rafi, dia anak buahku,” kata Nanda dengan entengnya.
Tono ikut emosi mendengar perkataan Nanda. “Jangan seenak jidat memanggil presdir langsung menyebut namanya! Otakmu ditaruh mana sih. Sudah sok kaya, nggak punya akhlak pula!”
“Aku peringatkan sekali lagi, jangan macam-macam dengan Daidalos Losment atau kamu menerima akibatnya!”
Nanda terheran-heran, dia bisa memecat dua satpam itu dalam hitungan detik, tapi dia butuh Rafi untuk memecatnya.
“Panggil Rafi ke sini!” ucap Nanda.
Tono mencengkeram kerah baju Nanda, lantas memukul pipi kirinya. “Tutup mulutmu, Sampah! Jangan seenak jidat memanggil nama presdir kami! Mana sopan santunmu? Ingat, kamu hanya gembel yang tidak sengaja masuk ke tempat pembangunan ini!”
Keributan itu didengar Rafi dan semua kawanannya. Mereka keluar dari ruang meeting.
“Ada apa ini, Madun, Tono?” tanya Rafi, dia memakai setelan rapi, tuxedo dengan dasi kupu-kupu di antara kerah bajunya. “kalian tidak peka apa ya … kita di dalam sana sedang melaksanakan rapat, tapi kalian membuat keributan begini!”
“Benar,” kata salah seorang perempuan, nampaknya dia menjabat sebagai sekretaris. “kalian itu cuma preman yang ditugasi jadi petugas keamanan! Bisa-bisanya kalian mengganggu kenyamanan meeting kami.”
Madun membusungkan dadanya. “Lihatlah sampah itu, dia yang membuat keributan!”
“Maksudmu orang ini?” tanya Rafi. “Dia tidak bersalah, namun…”
Rafi yang melihat Nanda, seketika memicingkan matanya. Dia menutup hidung karena bau badan Nanda jauh lebih busuk dari sampah yang menumpuk. Nyatanya bau Nanda tidak sebusuk yang mereka kira. Itu semua hanya gimmick.
“Kenapa pengemis kalian persilakan masuk!” Rafi membentak Madun dan Tono.
“Dia nekat melewati pembatas polisi saat kami membereskan puing bangunan di sana. Yang mengejutkan, dia berani memanggil nama Anda langsung tanpa embel-embel Pak, presdir, atau tuan. Sungguh keterlaluan, bukan?” Tono coba memancing konflik.
“Apa katamu? Jangan bohong atau kamu kupecat, Ton!”
“Saya tidak bohong. Saya mendengarnya sendiri. Jika Pak Presdir tidak percaya, Bapak bisa tanya pada Madun.”
Tak berselang lama, Jason datang, membungkam mulut semua orang di sana.
“Berani sekali dia memanggil namaku tanpa memberi imbuhan pak atau presdir!”
Rafi mendekati Nanda, menampar mulutnya. Tangan Rafi bergerak sangat mulus.
Nanda makin geram dibuatnya. “Jangan macam-macam denganku! Aku bisa memecatmu kapanpun aku mau! Kamu hanya bawahan. Daidalos lah yang sebenarnya berkuasa!”
“Lihatlah pemuda ini … mungkin dia pura-pura gila. Dia takut dipukuli Tono dan Madun sampai-sampai dia berani mengatakan kRafimat seperti itu.” Rafi mendorong Nanda hingga Nanda menabrak salah satu tiang besi penyangga bangunan.
“Sakit, tidak? Pasti sakit lah! Kamu pantas merasakannya.” Rafi mendekati Nanda. “Kuperingatkan sekali lagi, jangan berani melawan Rafi Kadafi, karena aku lah penguasa di sini!”
“Aku jamin, lima menit lagi jabatanmu berubah menjadi rakyat jelata!” Nanda memaki Rafi, meludahi baju tuxedo mewahnya.
Rafi marah dibuatnya. Dia menghajar Nanda sampai Nanda meringkuk kesakitan.
Tendangan terakhir diluncurkan, tapi Nanda berhasil berkelit dengan memutar tubuhnya di tanah. Nanda memegang kaki Rafi, mendorongnya hingga presdir sombong itu jatuh dengan posisi kepala di bawah.
Madun dan Tono segera bereaksi. “Jangan macam-macam dengan kami!”
“Majulah! Aku tidak takut walau harus satu lawan dua,” kata Nanda, lalu mengusap darah yang mengalir dari bibir kanannya.
Tono maju lebih dulu. Bogem melayang, namun berhasil ditangkis Nanda. Nanda tahu, Tono adalah pria kidal. Oleh sebab itulah, Nanda lebih pilih menghindari serangan tangan kiri Tono.
Saat ada kesempatan, Nanda meremas jemari kanan Tono hingga terdengar bunyi seperti retakan.
“Ampuuunn … aku mengaku kalah. Tolong lepaskan aku! Rasanya sangat sakit.” Tono merintih seperti bayi minta dibelikan permen.
“Tidak!” ketus Nanda.
Madun ikut maju menyerang Nanda, tapi Nanda melarangnya. “Aku tahu Tono lebih kuat darimu. Tono saja bisa kukalahkan dengan mudah, apalagi dirimu!”
Benar kata Nanda, Tono jauh lebih kuat dari Madun, apalagi kekuatan pukulan tangan kirinya. Madun beringsut mundur, tidak berani melawan Nanda.
“kalian semua, camkan omonganku! Presdir kalian tidak lebih mulia dari perampok jalanan. Perampok jalanan saja bertaruh nyawa demi mendapat sesuap nasi. Sedangkan orang yang merendahkan sesama manusia, tidak ada bedanya dengan hewan!” Nanda memelototi petinggi Daidalos Losment.
Dania, wanita cantik rambut sebahu mendekati Nanda. “Tutup mulutmu, Dasar Gembel! Apa kamu tahu, kamu sedang berhadapan dengan siapa?”
“Memangnya kenapa?”
“Kita adalah petinggi Daidalos Losment. Kita dipilih langsung oleh tangan kanan Tuan Besar Juta! Kita mendapat mandat dari Jason Steward selaku mantan direktur Daidalos Accent, perusahaan telekomunikasi terbesar di Asia.”