“Pusing, Dok, apa yang Anda lakukan padaku? Kenapa kepalaku tiba-tiba seperti ini? Aku melihat banyak sekali layar yang memutar wajahku. Tapi, aku tidak ingat sama sekali kapan dan mengapa aku bisa di sana. Tolong aku, Dok, tolong...”
Mila dan Melvin hampir membuka pintu, tapi Andre datang untuk melarang mereka.
Andre adalah paman Nanda sekaligus anggota tertinggi intel pusat. Dia yang bertugas mencari dokter spesialis terapi pemulihan ingatan untuk Nanda.
“Percayakan urusan ini pada Joyce, dia bisa diandalkan. Jika Joyce berniat membunuh Nanda, aku yang akan bertanggung jawab. Aku bisa pastikan, Joyce adalah terapis terbaik dari yang terbaik di dunia. Sementara, jangan ganggu prosesi, kita bantu saja dengan doa dan harapan.”
“Benar kata Andre,” suara serak tiba-tiba terdengar dari kejauhan. “Cukup duduk dan tunggu sampai prosesi selesai.”
“Tu-Tuan Besar...”
Ketiganya langsung membungkuk. Tuan Besar Davin datang langsung menyupport Nanda. Dia bersama dua bodyguard pribadi Daidalos.
Hampir dua jam berlangsung, yang terdengar dari dalam ruangan hanya erangan Nanda dan suara samar-samar Dokter Joyce. Sampai, pada akhirnya, Nanda keluar dan....
Selama dua jam itu juga, mereka bertiga tertunduk lesu di depan ruang terapi. Giginya gemertak, khawatir terapi ini gagal dan Nanda kembali jadi lelaki biasa, yang lupa akan masa lalunya.
Cemas? Tentu.
Tapi, mereka selalu berharap, terapi ini berhasil, dan Nanda mau kembali menjadi Tuan Muda Daidalos..
Tak lama kemudian, Dokter Joyce keluar dari ruang terapi. Senyum bahagia terpancar dari bibir Dokter Joyce. Cukuplah itu sebagai tanda kalau terapinya berhasil.
Keduanya berpelukan, lalu masuk, dan mendekati ranjang tempat Nanda berbaring.
“Bagaimana?” tanya Andre.
“Aku rasa, ceritamu tadi cukup masuk akal. Sedikit banyak aku ingat kejadian itu, tapi masih samar. Semakin kuingat, rasanya, kepalaku makin sakit.”
Dokter Joyce lantas menjelaskan. “Memang, ingatanmu tidak sepenuhnya kembali. Butuh waktu sampai seluruh puzzle-nya tersusun rapi. Tidak lama, kok, tapi kamu harus sabar.”
Mereka berdua kembali ke dalam ruangan, sampai pada satu momen, Nanda tiba-tiba keluar dari ruangan seorang diri.
“Siapa kalian?” tanya Nanda, tiba-tiba.
Semua yang ada di sana terkejut. Apa ingatan Nanda kembali rusak dan terapinya gagal total?
Mila, Andre, Melvin, dan Tuan Besar Davin menengok ke dalam ruangan. Dokter Joyce terlihat pingsan di atas lantai. Sedangkan, Nanda keluar dengan mata merah menyala.
“Ka-kamu apakan Dokter Joyce?” tanya Andre, nada suaranya meninggi.
“Tenang, dia hanya kecapekan. Tidak lama lagi, dia pasti siuman. Aku tidak melukainya sama sekali. Cuma, tadi dia coba terlalu dalam masuk ke alam bawah sadarku dan membuat kepalaku makin pening. Rasanya sungguh menyakitkan! Karena itu, aku totok urat nadi kanannya dan membuatnya pingsan selama dua puluh menit.”
“Welcome back, Nanda Ardiansyah kembali menjadi Nanda Daidalos. Terima kasih atas kerja keras kalian. Aku tidak menyangka, ternyata aku memang pewaris sah seluruh kekayaan Daidalos, sekaligus calon orang terkaya nomor satu di negeri ini.”
Semua menangis bahagia.
Tidak ada yang menyangka, terapi ini berhasil begitu cepat.
“Ehm,” terdengar suara batuk dari dalam ruangan.
“Anak Setan! Bisa-bisanya dia menotok nadi kananku setelah aku berhasil menyembuhkan ingatannya. Coba dia bukan Tuan Muda Daidalos, aku tidak segan menghapus seluruh ingatannya dan membuatnya mengalami sindrom!”
“Hahaha ... maafkan aku, Dok, aku sengaja melakukan itu untuk menahan diri. Rahasia Daidalos terlalu mahal untuk diketahui.”
Pada kesempatan ini, Nanda ingat sesuatu. Ada urusan yang harus dia selesaikan di kota sebelah. Masalah proyek tender Daidalos yang dikorupsi tiga tahun lalu.
“Aku harus segera pergi,” kata Nanda.
...
Nanda harus menyelesaikan masalah di Kota S. Dia kembali ke Negeri X setelah mendapat izin dari Mila. Diskusi alot sempat berlangsung, tapi akhirnya Mila luluh.
“Bukan maksudku meninggalkanmu sendirian di sini, tapi aku harus balik ke Negeri X. Masih banyak hal yang harus kuurus, termasuk masalah pencurian dana dari tender,” kata Mila.
“Iya, aku paham. Hati-hati ya, jangan terlalu memforsir tenagamu. Jaga kesehatan. Terapimu baru saja selesai. Sampai kamu pingsan, akan berakibat fatal. Ingat, kamu sekarang bukan lagi orang biasa, melainkan Legume Magician yang akan mewarisi seluruh harta kekayaan Daidalos.”
Pembangunan perusahaan mebel di Negeri X terkendala masalah dana. Sebenarnya, Daidalos tidak ingin mengurusi pencurian dana, tapi Nanda mempermasalahkannya. Kasus tiga tahun lalu masih belum selesai dia usut. Dan, sepasang direktur-wakil direktur yang terlibat, kini dipindahkan untuk mengurusi proyek tender baru di kota S.
Nanda tidak ingin kesalahan yang sama terulang kembali. Jadi, untuk menebus rasa bersalahnya di masa lalu, Nanda segera berangkat menuju Daidalos Accent cabang kota S bersama Jason, teman lamanya.
Pencurian dana adalah penghianatan.
Tender yang mengambil proyek sudah dipercaya orang-orang Daidalos, tapi mereka membawa kabur uang yang sudah ditranfer. Entah ke mana mereka pergi, orang-orang Daidalos sedang mencari informasi.
Melvin diminta mengantar Nanda ke sana, tapi dia menggelengkan kepala, lantas mendekati Nanda.
“Tuan, maaf, saya harus pergi karena saya harus menghadiri rapat penting bersama Kenneth di kota M. Kita ada rencana memperluas jaringan bisnis baru di negeri ini. Kota M sangat strategis untuk dijadikan cabang baru Daidalos.”
“Ohh, tidak apa. Rapat itu lebih penting. Biar aku dan Jason yang menyelesaikan urusan di sini. Tapi, setidaknya, antar aku ke tempat proyek baru Daidalos di kota S. Ada Jason yang akan menemaniku. Kamu bisa berangkat ke kota M setelah aku dan Jason tiba di sana dengan selamat.”
“Baik, Tuan. Terima kasih.”
Tiga puluh menit perjalanan, mereka sampai di sebuah bangunan pencakar langit yang belum jadi, masih berbentuk kerangka. Nanda dan Jason turun, sedangkan Melvin langsung berangkat menuju kota M karena rapat akan dimulai tiga jam lagi, sedangkan perjalanan dari kota S ke kota M memakan waktu dua sampai tiga jam.
Jason ikut pergi karena perutnya tiba-tiba mual. “Saya tinggal ke kamar mandi dulu, Tuan. Jika Tuan ingin masuk ke sana, Tuan bisa menemui penanggung jawab proyek. Dia bernama Ali.”
“Ali ya, cepat pergi sana! Bau kentutmu sangat mengganggu.”
“Hehe, baik, Tuan.”
Nanda masuk ke gerbang yang sudah dibatasi garis kuning polisi. Beberapa lelaki berkumpul. Ada dua perempuan membawa catatan, sepertinya catatan keuangan perusahaan.
Tidak ada yang mengenali Nanda karena dia tidak pernah menunjukkan wajah sejak pembangunan Daidalos Losment berlangsung.
Lelaki bernama Ali duduk di kantor utama. Dia nampak bingung. Harus mengganti uang milik Daidalos, jumlahnya tentu sangat besar. Bahkan harga proyek ini tidak bisa ditebusnya walau harus mengabdi seumur hidup pada Daidalos.
Ali yang pusing menumpahkan amarahnya pada seluruh bawahan.
“Saya tidak habis pikir, kenapa bisa proyek ini kecolongan! Pelakunya adalah teman kalian sendiri. Saya pasrahkan urusan tender pada kalian, tapi kalian malah mengacaukannya. Sekarang lihat, uangnya raib dan kita tidak tahu siapa yang membawanya!”
Seorang perempuan mengangkat tangan. “Pelakunya pasti salah satu dari kita bersepuluh.”
Ali menggebrak meja sangat keras. “Bagaimana kau bisa seyakin itu?”