.... Lepaskan! Keduanya mengerang, memekik kuat ketika Ardi dan Asma mencapai titik kenikmatan. Pejuh menyatu. Semburannya terasa hangat membasahi kewanitaan yang sama mendamba dan menghamba. Ardi terkulai lemah di samping Asma, memeluk tubuh telanjang perempuan yang masih terengah. Oksitoksin memenuhi seluruh pembuluh darah. Kelesah tergantikan renjana. "Bagaimana kalau kita menikah, Asma?" Asma bahagia bukan kepalang. Apa yang dia harapkan akan tercapai. Tetapi tidak, Asma tak ingin mengikat laki-laki itu. Terlebih dengan kondisinya yang sekarang. Tuhan mungkin menghukumnya. 'Kenapa Ibu menolak?" Revalia semakin gemas saja mendengar keluh kesah Asma. "Saya tidak mungkin mengikat Bapak dengan kondisi saya." Asma tersenyum miris. "Saya mandul, Put." Tubuh Revalia menegang. Dia tak

