.... "Bagaimana kalau saat itu, Bapak benar-benar memperkosa saya, Bu?" "Kalau Bapak ingin melakukannya, beliau tidak mungkin hanya bermain-main sampai beberapa jam, kan, Put?" Asma memiringkan tubuh, mengambil kedua belah tangan Revalia. Menggenggamnya erat. "Bapak hanya butuh waktu untuk ejakulasi tanpa penetrasi. Namun, Puput berhasil kabur. Bapak tidak punya pelampiasan." Asma menyibak satu demi satu, helai rambut yang menutupi wajah Revalia. "Saya yang dengan bodohnya menerjunkan diri ke dalam bara api. Bapak melakukannya di luar kesadaran. Buktinya, beliau menghukum diri sendiri. Sayang, Tuhan belum ingin mengambilnya. Mengharapkan taubat Bapak dulu." Revalia memalingkan wajah, nama Puput yang telah lama dia kubur, tak ingin dia ingat. Namun, panggilan dari Asma membuatnya rindu,

