“Gue ngerasa enggak pernah menyepakati itu!” Janatra masih berusaha menjaga intonasi suaranya, kendati emosi sudah menjalar sampai ke ubun-ubun. Kemacetan yang mengular, udara ac yang seperti tak memberi efek dingin meski sudah diset pada suhu rendah, serta respon Revalia yang menyakitkan merupakan kombinasi yang pas untuk membangkitkan amarah Janatra. Berkali-kali dia menyisir rambutnya ke belakang dengan memberi penekanan pada setiap ujung jari untuk menekan syaraf-syaraf kepalanya yang mulai menegang. Janatra masih berusaha untuk sabar. “Seenggaknya, beri kesempatan bagi kita untuk memulai, Re!” Tawa sinis melucur dari bibir Revalia, menyambut permintaan Janatra yang seperti lelucon paling menggelikan di seluruh dunia. “Memulai sesuatu yang bahkan kita sendiri tahu akan bagaimana akhir

