PERCIKAN KENANGAN “Mau sejauh apapun kaki berlari, yang namanya rindu dan segala kenangan dalam memori terus akan membayangi. Menjadi acuan terbesar untuk berhenti.” —Dante Abraham— *** Tempat yang penuh kenangan ini mencekik Dante sendirian. Pemuda dengan wajah babak belur itu duduk di sofa ruang tengah dengan tangis yang terus jatuh ke dalam, menatap ke setiap sudut rumah dengan perasaan kacau. Seolah-olah yang sedang dikenang menatap ke arahnya dengan senyuman lebar. Semenjak kepergian ibunya, suasana rumah tak lagi sama, yang Dante rasakan hanya kesepian, kesunyian, kesendirian. Banyak hal yang berubah, bukan hanya suasana rumah dan lingkungannya, tetapi juga keadaan diri yang sampai kini belum mampu menerima sepenuh hati apa yang sudah terjadi. Kehilangan tak hanya perk

