BAB 12

1838 Kata
SIAGA SATU TITIK MENCEKAM   "Jangan melepaskan genggaman erat demi mengejar genggaman lain yang bahkan sulit untuk kamu raih." —Dante Abraham—   ***   Kemarin saya liat kamu menangis lagi, dalam dekapan seseorang. Lain kali ingat saya, ya, dalam kesedihanmu. Saya tunggu." —Unknown— Anin menggigit bibir bawahnya, menatap kertas berwarna biru langit itu lekat. Sedang Nata yang berada tepat di sebelahnya mencoba mengintip karena diburu rasa penasaran akan isi surat dari sosok misterius itu. Lagi-lagi Anin kalah cepat dari sosok itu, datang pagi-pagi ke sekolah hanya membuang-buang waktu berharganya saja. "Gagal lagi," cicit Anin kecewa. Kegagalan yang membuatnya mau tidak mau melaksanakan rencana kedua. Yakninya, membuka seluruh kotak dan surat misterius itu yang menggunung di lemarinya. “Melelahkan!” Setelah memerhatikan secarik kertas dan membacanya pelan-pelan, Nata berucap jelas. "Masih belum percaya kalau surat dan hadiah misterius ini buat lo?" Ya, mungkin itulah kenyataannya. Kenyataan yang akhirnya dapat Anin terima dan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Sebab si misterius itu adalah orang terdekatnya. Mungkin sosok ini sering berinteraksi dengannya, namun tetap saja Anin tak mampu menebak siapa sosok di balik surat serta hadiah misterius itu. Mau tak mau Anin mengangguk menanggapi pertanyaan Nata. "Iya, sekarang gue percaya kalau hadiah dan surat ini buat gue," katanya pasrah. Nata tersenyum. "Buka, dong! Kotak hari ini isinya apa, ya, penasaran gue." Anin mengerucutkan bibir. Bisa-bisanya Nata tersenyum saat dirinya dilanda rasa takut yang kompleks terhadap orang misterius yang sampai kini tak bisa ia ketahui siapa. Bahkan untuk mencurigai seseorang saja ia tak berani, sebab belum ada kejelasan yang pasti mengenai petunjuk tentang orang misterius itu. Melihat Anin tidak bertindak, Nata bergerak cepat. Gadis beraparas imut itu tidak sabar ingin melihat apa isi kotak tersebut. Apakah isinya bongkahan berlian? Emas 50 karat? Kunci mobil? Atau apapun itu, yang jelas kotak tersebut sudah ada di tangan Nata saat ini. "Sapu tangan," ucap Nata histeris, tanpa ada rasa segan karena membongkar hadiah Anin. Tangannya mengangkat kain persegi itu tinggi. "Aniiin... dia romantis banget, ya, ngasih lo sapu tangan. Biar apa coba, lo tau, nggak?" Nata menyenggol bahu Anin pelan, membuatnya terkejut lantas menoleh. Nata yang terlampau girang membuat kesabaran Anin terkuras habis karena harus menghadapi setiap ocehannya. "Tau," tanggap Anin percaya diri, meski sebenarnya ia tidak yakin dengan pendapatnya. Nata mengubah ekspresinya menjadi lebih penasaran. "Apa-apa?" tanyanya tak sabaran. "Sosok misterius itu sama sapu tangan ini memiliki tujuan yang sama." Anin sengaja menjeda kalimatnya, supaya Nata merengek lagi dan memaksa Anin memperjelas maksud ucapannya. "Ah, lo berbelit-belit! Serius dong, Nin." Anin terkekeh, sahabatnya berhasil masuk perangkap. "Iya-iya, ini gue jelasin," katanya disela-sela kekesalan Nata. "Mungkin, ya, orang itu bermaksud untuk menghapus kesedihan yang gue rasain. Juga, dia ngasih sapu tangan ini supaya gue selalu inget sama dia pas lagi sedih, apalagi sampe nangis." "Tuh, kan! Dia tipe cowok romantis tingkat dunia, lo nggak penasaran gitu sama dia?" "Enggak, gue malah takut dia bersikap semanis ini sama gue. Takut kalau dia berniat buruk di balik semua kata-kata manisnya itu." Begitulah Nata. Hampir setiap hari menjadi saksi atas ditemukannya kotak dan surat misterius itu, membuat dirinya merasa paling bahagia. Reaksi mereka saling bertolak belakang. Anin yang seharusnya merasa bahagia justru bersikap biasa, sementara Nata? Sudah jangan ditanya dia sesenang apa. “Anin, gue pengen bicara sama lo!” Jantung Anin bagai tersengat listrik dikejutkan oleh Rega dengan suara lantangnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Nata, namun perbedaannya Anin tidak menanggapi, sedang Nata langsung memaki Rega. “Elo, ya, Manusia Es! Bisa enggak, sih, nggak pake acara kaget-kagetan segala, kalo tadi gue pingsan gimana?” “Buktinya lo nggak pingsan, ‘kan,” ketus Rega. “Nggak usah lebay!” Sebelah alis Nata terangkat, bibirnya tersenyum mengejek. “Kesambet setan apaan lo sampe dateng ke sekolah pagi-pagi?” sinisnya, kemudian melipat tangan di d**a, berlagak menjadi Bu Mari, guru killer yang sok berkuasa di sekolah ini, tentunya menjadi salah satu yang paling ditakuti. “Bukan urusan lo!” Kaki Rega melangkah melewati Nata yang sudah terpanggang api kemarahan di tempatnya. Arah pandang Rega hanya tertuju pada Anin yang kini memunggunginya. Tangan gadis itu bergerak cepat menyimpan sesuatu ke dalam loker, pun dengan Nata yang cepat-cepat menyimpan benda tipis berwarna biru ke dalam sakunya. Meski gelagat kedua gadis itu terlihat aneh, sedikit pun tidak mengundang kecurigaan bagi Rega. Justru lelaki itu menarik lengan Anin dan membuatnya saling berhadapan. Tatapan mereka bertemu dalam satu titik, membuat Anin enggan berbalik. “Mau ngomong apalagi?” tanyanya dengan nada meninggi. “Sikap lo sama gue udah menjelaskan semuanya, Ga.” Mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat serius, Nata menarik diri untuk tidak ikut campur. Memilih pergi dengan banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Perlahan, pandangan mata Rega merendah, kepalanya tertunduk lesu, dirinya dipenuhi rasa bersalah, sampai akhirnya helaan napas panjang terdengar. Sepersekian detik kepala itu kembali terangkat, kali ini dengan sorotan mata yang tajam, seakan menekankan Anin akan sebuah hal. “Gue terlalu membuat lo kecewa, ya? Maaf, rasa bersalah gue terhadap Tania membuat gue enggan jatuh cinta lagi. Lo pasti bilang gue pengecut, gue akui kalau gue pengecut. Tapi satu hal yang harus lo tau. Sekali gue mencintai, gue nggak akan berpindah ke lain hati.” Percakapan berhenti sampai disitu, melihat Anin yang tidak mau menatapnya membuat Rega merasa sangat terhina. Hingga ia memilih pergi dan membiarkan Anin berperang melawan hati dan pikirannya. *** Dua pasang sepatu converse melangkah lesu menyusuri koridor pada jam istirahat pertama. Kedua wajah pemiliknya ditekuk seperti dompet akhir bulan, membuat keduanya engan menginjakkan kaki di kantin sekolah yang membeludak. Nata, gadis berambut pendek itu melirik Anin. “Jadi, semalem lo berantem sama Rega?” tanyanya tidak enak hati, tapi sialnya rasa penasaran mengalahkan keseganannya. “Bukan berantem,” ralat Anin. “Lebih tepatnya gue kecewa sama Rega. Gue kecewa saat dia nggak bisa menghargai kehadiran gue.” Langkah keduanya terhenti, Nata langsung memiringkan tubuhnya menghadap Anin. “Terus saat lo memilih untuk menyerah memperjuangkan hati lo buat dia, si Manusia Es itu minta lo untuk bertahan? Bener-bener, deh, itu orang, otaknya ikutan beku kayak hatinya!” geram Nata sambil mencak-mencak di tempatnya. Melihat kemarahan Nata yang semakin berlarut-larut, Anin memillih untuk tidak melanjutkan kalimat. Tetapi bukan Nata namanya jika dia akan diam saja. “Pantes dia dateng pagi-pagi terus nyamperin lo,” dumel Nata sambil memutar bola matanya jengah. “Terus keputusan apa yang lo ambil, Nin? Nggak mungkin lo masih bertahan dalam keegoisan si Manusia Es itu, pengennya menang sendiri.” Lagi-lagi Anin menunduk, menunjukkan kesedihan yang teramat dalam. Merasa tidak kuat mengakhiri rasa yang sekiranya tak akan pernah bisa dipatahkan. ”Untuk saat ini, gue akan menjauh dari Rega. Lebih baik gue mengobati hati gue dulu, Nat, terus dalam masa pemulihan ini gue akan cari tahu siapa dalang di balik surat dan kotak misterius itu.”           Mendengar sahabatnya menguatkan diri, Nata menarik kedua sudut bibirnya ke bawah, lantas mengangguk yakin dan akhirnya berkata, “Gue setuju! Kita selidiki sama-sama, ya?” “Iya,” balas Anin sambil melengkungkan bibirnya. “Ikut gue!” Ditengah asiknya perbincangan dengan Nata, seorang gadis dari arah berlawanan tiba-tiba muncul dan langsung menyambar pergelangan tanan Anin dan membawanya pergi dengan paksa. Terlalu hanyut dalam obrolan membuat Anin dan Nata terkecoh akan kehadiran senior yang hobi membuli juniornya.  Diseret paksa oleh Ziva—gadis yang dikabarkan dekat dengan Dante—tidak membuat Anin berdiam diri menerima perlakuan tersebut. Anin berteriak dan menyentak tangan Ziva, berusaha lepas dari cengkeraman gadis berambut pirang tersebut. Sementara itu, Nata mengejar di belakang sambil menghubungi seseorang yang ia pikir mampu membuat Ziva menghentikan aksinya. Lagi dan lagi, Anin memberontak dan kembali menarik tangan Ziva, namun usahanya sia-sia, sampai akhirnya Ziva berhasil membawa Anin masuk ke toilet perempuan. Sebelum Anin berseru, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Tanpa badai dan angin topan, senior itu meninggalkan bekas luka di sudut bibir Anin, bahkan mampu membuat darah segar mengalir perlahan. “Maskud Kakak apa, kenapa Kak Ziva nampar aku?” tanya Anin sambil meraba kulit wajahnya yang memerih, sekaligus mengusap sudut bibirnya. Tidak terima Anin menantangnya, Ziva menekan leher Anin dengan cukup keras menggunakan tangannya, membuat gadis itu tersudut. “Lo denger baik-baik dimana letak kesalahan lo!” tukasnya lantang, Anin terlonjak kaget mendengarnya. Di luar toilet, anak-anak sudah bergerombol seperti ikan remora, penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Sudah ada Nata di sana yang berdiri di barisan terdepan, membuat keributan mulai dari menggedor hingga menendang pintu toilet. Berharap agar Ziva menghentikan tindakannya, juga berharap diantara para murid yang saat ini membeludak ada yang melapor kepada Pak Wirya atau guru lain yang dapat membantu Anin lolos dari kekejaman Ziva.  “Kak Ziva! Buka pintunya, lo apain Anin?” teriak Nata, kali ini ia mendobrak pintu dengan membenturkan tubuh mungilnya. “Kak, tolong jangan sakiti Anin.” Tak mau tinggal diam lagi, Nata buru-buru pergi meninggalkan kerumunan tersebut, mencari Rega, Dante, atau siapapun yang akan ia temui nanti. Sementara di dalam toilet, Ziva benar-benar tengah berada di puncak kemarahannya. Sebelum membuka mulut kembali, Ziva menarik napas dalam-dalam. “Pertama, lo udah pernah tidur sama Dante. Kedua, lo masuk ke sekolah ini dan menarik perhatian Dante. Ketiga, karena ngebelain lo, Dante berantem sama anak baru. Dan bikin dia ribut lagi sama bokapnya,” teriak Ziva keras-keras, membuat Anin kontan memejamkan matanya. Melihat Anin membeku, Ziva menarik wajahnya, lalu menyeringai jahat. “Diamnya orang-orang di sini bukan berarti mereka nggak tau soal kejadian yang lo perbuat sama Dante, mereka udah diancam sama pihak sekolah untuk tidak membicarakan masalah itu lagi. Tapi, kalo gue yang mengungkit kembali masalah itu, lo yakin semuanya akan baik-baik aja?” Mata Anin berubah nyalang, tidak terima. Masalah yang selama ini ia kubur dalam-dalam, perlahan digali kembali ke permukaan. “Lo ngancem gue?” balasnya bergetar. “Tentu!” balas Ziva cepat. Lagi-lagi gadis berseragam ketat dengan rok sejengkal di atas lutut itu menyeringai lebar, menertawakan ketidakberdayaan Anin. “Sekali lagi Dante terlibat masalah karena ngurusin lo, detik itu juga gue menobatkan lo sebagai target pembulian!” “Dia sendiri yang melibatkan diri!” teriak Anin ragu-ragu, membuat Ziva menatapnya sinis. “Gue udah berusaha ngejauh, kok.” “Usaha lo masih kurang!” “Tapi, itu udah yang paling maksimal.” “Bohong!” Tatapan keduanya bertabrakan. Meski tak sepenuhnya berani melawan Ziva, Anin mempertajam tatapannya. Ziva semakin termakan emosi. “Jangan pernah lo bohong sama gue. Lo pikir gue nggak tau sedekat apa lo sama Dante? Bahkan, Dante sampe ngajak lo ke rumahnya. Itu yang lo bilang udah berusaha menjauh?” Marah Ziva tertahan, keributan di luar toilet membuatnya kesal. “Ini peringatan pertama dari gue. Jangan minta peringatan kedua apalagi ketiga, karena gue yakin dengan peringatan pertama, lo udah mengerti apa maksud gue.” Cengkeraman Ziva melonggar, membuat Anin buru-buru menghirup udara segar sambil mengatur napasnya, sementara Ziva sudah berbalik dan berlalu meninggalkannya. Ini yang Anin takutkan, kejadian yang sama saat Ranti dulu mengusik hidupnya. Anin sudah tak mau ingat masa-masa kelam itu, bagaimana caranya ia menolak, takdir sendiri yang mempermainkannya. Gue harus apa? Menjauh dari Dante saat gue butuh sandaran? Atau mempertahankan hati gue buat Rega dalam ketidakpastian dan keraguan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN