BAB 11

1469 Kata
"Terlambat menyadari membuatmu lari, tapi aku akan coba menghampiri, membuatmu kembali." —Rega Algatama—   ***   Lima menit setelah kepergian Anin, Rega mulai terusik akan sebuah kecemasan. Mata tajamnya menerawang setiap sudut rumah, mencari keberadaan Anin yang diharapnya masih berada di sekelilingnya. Karena tidak berhasil menemukan sosok tersebut, Rega memilih bangkit dari duduknya kemudian berlari menuju teras. Tepat saat itu, Tika yang baru saja dari luar nyaris bertabrakan dengannya. Beruntung, Rega dan Tika dapat mengendalikan dirinya masing-masing, jika tidak, mungkin Tika sudah jatuh terpental ke lantai. Mata Rega yang menyiratkan kecemasan menatap Tika penuh harap. "Mama liat Anin?" Tika balas menatap, khawatir jika anaknya sedang ada masalah dengan Anin. "Tadi Mama papasan sama Anin di depan komplek, dia keliatan sedih banget. Mama nggak sempet tanya dia mau ke mana, tapi arah tujuannya, sih, ke jembatan," jelas Tika, sedikit tidak yakin. Karena tadi Anin terlihat sangat buru-buru, Tika jadi tidak sempat bertanya. Mata Rega membelalak lebar, terkejut saat ibunya memberitahu bahwa Anin menuju ke arah jembatan, tempat yang tidak ingin ia ingat lagi, sejak ia kehilangan sosok itu. Tanpa banyak-banyak berpikir, tanpa alas kaki, Rega berhambur ke motornya kemudian berlalu meninggalkan Tika yang menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Kendaraan roda dua yang ditunggangi Rega melaju cukup kencang, membelah jalanan dalam kecemasan yang tiada dua. Kejadian beberapa bulan lalu kembali berputar di kepalanya, bagaimana Tania meregang nyawa tanpa bisa ia selamatkan dengan cepat. Untuk itu, Rega berusaha memacu waktu, tidak ingin Anin melakukan hal bodoh hanya karena cinta yang ia miliki tidak mendapat balasan darinya. Tanpa helm dan pakaian tebal, Rega menghadang angin malam yang dinginnya menusuk tulang. Mata Rega memerah, di baliknya terdapat setumpuk air mata yang siap tumpah. Rahangnya yang tegas itu mengeras, pandangannya menajam ketika berhasil menemukan sosok yang membuatnya menggila. Anindita Maheswari. Gadis keras kepala yang selama ini mengejar cinta seorang Rega. Gadis berparas cantik yang rela menjadi asisten Rega hanya demi mendapatkan sedikit tempat di hati lelaki pengecut sepertinya. Ya, sejauh ini hanya Anin yang mampu bersikap sedemikian bodohnya demi Rega. Rega menghentikan laju motornya, memakirkan kendaraan itu di bahu jalan, tanpa berpikir lagi ia berlari mengejar Anin yang sudah berdiri di pembatas jembatan. Tidak peduli dengan laki-laki berperawakan tinggi yang sedang mengulurkan sebotol air mineral kepada Anin, Rega langsung berhambur memeluk Anin. Dengan langkah penuh hentakan, Rega berhasil memeluk gadis itu. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang Anin, sampai d**a bidang Rega benar-benar menempel di punggung Anin. Kini, bahu Anin memberat berkat kepala Rega yang bertumpu padanya, membuat Anin dapat merasakan embusan napas Rega yang tidak beraturan. Setelah Rega berbisik di telinganya, Anin tersentak lalu menarik diri dari pelukan Rega yang sejujurnya sangat nyaman untuknya. Sebenarnya Anin tidak mau jauh-jauh dari kenyamanan itu, namun apa daya, Anin sudah terlanjur kecewa. "Maaf." Suara Anin bergetar, penampilannya acak-acakan, tidak jauh berbeda dengan Rega yang hanya memakai kaus oblong berwarna putih, dengan bawahan boxer berwarna hitam tanpa memakai alas kaki. "Gue terlalu memaksa. Gue terlalu terobsesi sama lo, Ga. Maafin gue." Rega menggeleng pelan, tidak sependapat dengan Anin. "Rasa itu tumbuh tanpa lo minta, tanpa lo inginkan. Gue yang salah disini, seharusnya gue bisa mengerti itu dari awal. Bahwa usaha lo ini, adalah bentuk ungkapan rasa yang coba lo tunjukin ke gue. Gue yang salah, gue minta maaf." Mata Anin sembab, pipinya dipenuhi jejak air mata. Mungkin karena terlalu lama menangis, wajahnya terlihat seperti orang putus cinta. Gadis itu bergeming, tatapannya terpaku pada kaki Rega yang berpijak tanpa alas. Ingin sekali Anin meraih tangan Rega lalu mengajaknya pulang bersama, akan tetapi kekecewaan masih menguasai dirinya , membuatnya terpaksa mengurungkan niat tersebut. "Ribuan cara mungkin udah gue coba supaya lo bisa mundur memperjuangkan cinta lo buat gue, tapi lo keras kepala. Gue udah minta lo mundur, tapi lo memilih untuk terluka." Rega menatap Anin lebih serius dari biasanya. Bahkan tatapan ini dapat diartikan oleh Dante sebagai ancaman besar. Membuat lelaki berpenampilan kasual itu bereaksi tidak suka, merasa bahwa Rega sedang mencoba mempengaruhi Anin. Di poisisinya, Anin mencoba untuk tidak terlihat lemah di hadapan Rega, sekuat tenaga ia mencoba menelan pahitnya penolakan terhadap rasa yang selama ini ia tujukan untuk satu lelaki. Anin lelah menangis, sudah cukup ia membuang air mata untuk laki-laki yang bahkan tidak pernah memikirkan perasaannya. Tiba-tiba Rega menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Tampak berat mengutarakan, namun ia berusaha memaksakan. "Dulu, gue minta lo untuk mundur. Tapi mulai detik ini, gue minta lo untuk bertahan." "Bertahan dalam keegoisan lo?" Dante menyambar, tidak suka melihat Rega dengan seenaknya meminta Anin bertahan saat gadis itu memilih untuk berhenti. "Banci lo!" Disindir begitu kentaranya oleh Dante, membuat darah Rega mendidih sampai ke ubun-ubun, tetapi ia kembali teringat akan Anin, membuatnya mampu mengabaikan ocehan Dante yang menyulut emosi. "Nin," panggil Rega sambil menjangkau pergelangan tangan Anin. Belum sempat menyentuh, pergerakan itu langsung ditepis oleh Dante. "Cewek kalau nggak mau jangan dipaksa!" kata Dante memperingatkan. "Nggak usah ikut campur lo!" "Loh? Kenapa? Takut, ya, kalah saing sama gue?" "Najis gue takut sama lo!" Setelah lama terdiam dengan keadaan, akhirnya Anin membuka mulut. "Gue udah cukup bertahan dalam luka, kalau lo minta lagi, mungkin gue akan berada dalam keadaan paling mengenaskan. Hidup, tapi mati!" Kaki Rega melangkah, mencoba mengikis jarak, namun lagi-lagi langkahnya ditahan oleh Dante. Siapa peduli akan masalah yang sedang sedang diperbincangkan, yang jelas Dante hanya tidak ingin Anin terluka kembali. Jadi, sebaiknya Rega melepaskan Anin, sekaligus memberinya kesempatan untuk mengejar gadis itu. Senyuman mengejek tercetak jelas di bibir Dante. "Lo denger itu, kan? Gue rasa lo nggak budeg, semuanya jelas, Anin nggak mau bertahan," ujarnya dengan nada meledek. "Cowok yang nggak bisa move-on dari masa lalu macam lo nggak pantes buat Anin, apalagi sampai minta dia bertahan saat lo masih terikat sama cinta pertama yang udah jadi jadi masa lalu." Rega mendengus kesal, laki-laki di hadapannya kembali berulah. "b*****t! Lo nggak usah ikut campur!" maki Rega, lantas melayangkan pukulan mentah kepada Dante, membuat Anin terpekik karena tubuh Dante ambruk membentur pembatas jembatan. "Tau apa lo tentang masa lalu dan cinta pertama gue?" "Udah!" Anin menarik bahu Rega, lalu mendorong laki-laki itu menjauh dari Dante, lantas membantu Dante untuk bangkit. "Nggak usah kayak anak kecil, Ga. Dan nggak usah cari gue lagi kalau lo nggak pernah bisa menghargai kehadiran gue. Gue pernah berharap sama lo, bahkan hingga detik ini, harapan itu masih membentang luas di atas langit. Tapi hari ini, harapan itu sirna digulung keegoisan lo, gue kecewa, jangan pernah lo muncul lagi di hadapan gue!" Senyuman kemenangan tercetak jelas di bibir Dante, merasa bahwa peluang untuk membuat Anin jatuh cinta terbuka lebar. Lain halnya dengan Dante, wajah Rega justru berubah panik. "Nin, gue cuma—" Wajah Anin berubah merah padam, marah terhadap perbuatan Rega hari ini. "Gue nggak butuh alasan atau penjelasan. Mulai sekarang jangan temui gue lagi, karena kehadiran lo akan membuat usaha gue untuk melupakan lo jadi sia-sia." Semuanya terjadi diluar dugaan, niat Rega untuk mendiamkan Anin sementara waktu ternyata menjadi bumerang untuk dirinya sendiri, terlebih lagi Rega tidak suka tiap kali melihat kebersamaan Anin dan Dante, seakan-akan rasa cemburu merasuk ke dalam dirinya, entah pertanda apa, yang jelas Rega yakin bahwa sebagian hatinya bukan lagi milik Tania. Mendengar Dante terbatuk-batuk, Anin menoleh cepat, lalu berucap, "Anterin gue pulang, Kak!" Mendengar hal tersebut, belum terhitung satu menit perkataan Anin mendapat anggukan dari Dante. Tidak perlu menunggu lama, dua remaja itu langsung pergi meninggalkan Rega dalam kemarahan, dalam kekecewaan, dalam kecemburuan, juga dalam kebingungan. Bingung bagaimana caranya mengakui bahwa sebagian hatinya telah berhasil diisi oleh Anin, menggantikan posisi Tania. Di tempatnya berdiri, Rega memandangi kepergian Anin yang bahkan enggan bertatap muka dengannya sebelum gadis itu menghilang dari pandangannya. Rega berteriak kencang lalu berlari ke arah motornya, kemudian menghantam kendaraan itu dengan kakinya, membuat motor tersebut tumbang ke tanah. Setiap perhatian dari pengguna jalan yang berlalu-lalang menatapnya dengan tatapan menyipit, berpikir bahwa Rega sudah tidak waras. "Gue labil karena gue nggak yakin sama diri gue sendiri, Nin. Gue takut nggak bisa berpaling dari masa lalu, tapi di sisi lain gue juga nggak mau lo pergi. Karena itu, selama ini gue bersikap plin-plan dan membuat lo terluka. Semua itu gue lakuin untuk menguji bagaimana perasaan gue terhadap lo." Kepala Rega menengadah ke langit, menatap marah kabut-kabut hitam yang menghalang kemunculan bulan dan bintang. Dirinya dibuat frustasi, rasa bersalah di masa lalu membuat Rega takut untuk jatuh cinta, apalagi memberi harapan. Setiap kali ia ingin memberi Anin kesempatan, kejadian pahit di masa lalu pasti berputar dalam kepalanya. Rega benci itu. Tiap kali hal itu terjadi, Rega merasa bahwa dirinya berada dalam kutukan, itulah sebabnya mengapa selama ini ia memilih untuk terjebak dalam masa lalu. Walau harus mengorbankan perasaannya, kehidupannya, juga masa depannya. Namun mulai hari ini, semuanya berubah. "Dan sekarang, gue udah tahu jawabannya. Gue yakin gue suka sama lo," lanjut Rega pelan, lalu tersenyum seperti orang bodoh. "Terlambat menyadari membuat lo lari, tapi gue akan coba menghampiri, membuat lo kembali."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN