KABUT DAN ASAP
"Namanya juga hati, dia bebas menentukan tapi tidak bisa menetapkan!"
—Rega Algatama—
***
"Diteror pake cinta?"
"Istilah macam apa itu?"
Anin terheran-heran dengan tanggapan Renata soal sosok misterius yang selama ini menerornya dengan rangkaian kata-kata manis serta hadiah yang puluhan banyaknya. Pukul delapan lewat sepuluh menit. Sudah terhitung satu jam Anin menunggu Rega di rumahnya—tepatnya di kamar Renata—sambil berbincang-bincang. Membicarakan sosok misterius yang selama tiga bulan ini membantu Anin melewati masa-masa sulitnya.
Adik kesayangan Rega mengulum senyum, namanya Renata. Sudah punya pacar sekaligus tunangan, sahabat sekaligus calon adik ipar Anin. "Abang gue punya saingan," ucapnya asal ceplos. "Maksudnya kayak true stalker gitu, loh, Nin. Ada seseorang yang diam-diam memperhatikan lo dari jauh."
Di atas ranjang Renata, Anin duduk bersila sambil memeluk guling, sedang sahabat baiknya itu memeluk boneka beruang berwarna coklat. "Masa, sih?" balas Anin tak percaya. "Lo percaya sama yang begituan, Ren?"
Renata tampak berpikir sejenak. "Ya... percaya nggak percaya, sih," sahutnya. "Buktinya, lo mengalami hal itu, ‘kan?"
"Entahlah, gue juga bingung." Anin memasang raut bingung lengkap dengan lipatan-lipatan kecil di keningnya, membuatnya terlihat seperti manusia yang mempunyai banyak utang. "Hari ini gue juga dapet hadiah lagi, ada suratnya pula. Pertama kali gue nerima hadiah-hadiah itu gue pikir itu titipan buat Rega, makanya gue santai-santai aja, tapi makin ke sini lama-lama gue ngerasain perhatian lebih dari sosok misterius ini. Apa kegiatan gue selama sehari, dia pasti tau. Seakan-akan dia ngebuntutin gue dari pagi sampe malem, gue takut kalo suatu saat dia macem-macem."
Paras cantik itu berubah ketakutan, otak Renata dipaksa berpikir olehnya. "Buktinya selama tiga bulan lo diteror, nggak ada kejadian buruk yang menimpa lo."
"Siapa yang bisa memprediksi dua menit kedepan sih, Ren. Kita nggak tau motif dia apa, alasan apa yang membuat dia jadi sosok misterius kayak gini."
"Lo ada benernya," putus Renata akhirnya. Cewek berambut ikal itu mengangguk paham, kita tidak bisa memprediksi suatu musibah yang akan terjadi, sudah sepatutnya kita mawas diri. "Terus Bang Rega tau, nggak, masalah ini?"
Gadis berambut hitam itu menggeleng sedih sambil mempoutkan bibirnya, membuatnya terlihat imut. "Gue belum bilang apa-apa sama Rega," terangnya. "Dan lo harus janji, nggak akan ngomongin masalah ini sama siapapun sebelum lo dapet izin dari gue!"
"Sama mama juga nggak boleh?"
"Enggak! Pokoknya lo pendem sendiri dulu."
Baiklah, Renata mengerti. Saking mengertinya dengan persoalan yang sedang dibahas, Renata sampai kehilangan topik pembicaraan. Pasalnya persoalan mengenai sosok misterius itu adalah topik yang paling menarik perhatiannya, terlebih jika hal tersebut ada hubungannya dengan Rega, maka Renata akan bersemangat mengulik-ngulik masalah itu bersama Anin.
"Lo punya cara untuk menangkap basah sosok misterius itu?" Renata yang lama terdiam tiba-tiba berseru, membuat Anin terkejut lantas mengusap d**a.
"Boro-boro punya cara, kepikiran aja enggak," sahut gadis itu setelah merasa sedikit tenang. "Kata Nata gue harus mergokin dia pagi-pagi, pas dia lagi nyimpen hadiah berpita itu di loker gue."
Mengenai Nata, sebelumnya Anin sudah memperkenalkan gadis berbando merah muda itu kepada sahabatnya, Renata salah satunya. Maka dari itu saat Anin menyebutkan nama Nata, reaksi Renata terlihat biasa-biasa saja, ia tak bertanya apakah Nata itu teman baru Anin atau bukan.
Sepertinya Renata memiliki ide yang sama, lantas ia bertanya. "Udah lo coba belum?"
Kali ini kepala Anin mengangguk cepat. "Udah," singkatnya, menghasilkan tanda tanya kembali. "Berhasil?" Renata semakin penasaran.
"Gagal!" Kekecewaan tercetak jelas di wajah mungil Renata. "Mungkin lain kali gue coba lagi."
"Kalo misalkan nggak berhasil, lo pake cara apalagi?" Renata meraih ponsel yang bergetar di dekat kakinya.
Anin menghela napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan, lantas menjawab pertanyaan Renata. "Gue pake saran kedua dari Nata. Katanya mau nggak mau gue harus bongkar semua hadiahnya, termasuk surat-surat yang ratusan lembar itu. Kayaknya Sabtu depan gue punya waktu luang buat bongkar barang-barang misterius itu."
Mata Renata berbinar mendengar Anin punya waktu luang di hari Sabtu. "Boleh, ya, gue nginep di rumah lo?" Anin refleks mencibir.
"Temen k*****t lo emang," rutuknya kemudian, sedang gadis yang dirutuki hanya terkekeh sambil memiringkan kepala. "Bahagia banget lo di atas penderitaan gue?"
Kekehan Renata berhenti. "Bukannya gue mau bahagia di atas penderitaan lo, calon kakak ipar gue tersayang, kali aja lo butuh tempat pembuangan hadiah-hadiah berharga, maka dengan senang hati adik ipar lo ini menerimanya."
Lagi-lagi Anin mencibir di tempatnya, menatap Renata malas. "Kakak ipar dengkul lo petak! Gue bukan kakak ipar lo."
"Loh? Lo udah mengundurkan diri jadi masa depannya Bang Rega, ya?" kaget Renata sambil menatap serius sahabat semoknya itu.
Kesal mendengar sahutan Renata, Anin memberikannya pelototan tajam. "Kapan gue mendaftarkan diri?" ketusnya.
"Cielah, tenang aja kali," kata Renata sambil mencolek jail dagu Anin, membuat gadis itu merasa geli akan tingkah konyol sahabatnya. "Gue satu keluarga udah milih lo sebagai pendamping Rega, dari jauh-jauh hari kita udah voting suara."
"Tetep aja keputusan ada sama gue!"
Sahutan dingin dari seorang pemuda yang tiba-tiba muncul di balik pintu membuat dua perempuan itu mengatupkan bibir serapat mungkin. Mereka hanya memainkan mata, memberi isyarat apakah Rega akan mengamuk karena masalah ini? Entahlah, Renata hanya mampu mengangkat bahu.
***
Hampir lima belas menit Anin dan Rega bertahan dalam diamnya masing-masing. Anin sibuk memainkan tangannya di depan Rega, takut jika lelaki itu marah karena hal sepele yang begitu sensitif untuk dijadikan topik pembicaraan. Sedang Rega sibuk menulis sesuatu di balik bukunya, sejak tadi fokusnya selalu ke arah sana, mengabaikan Anin yang sesekali mencuri pandang ke arahnya. Di ruang tengah, keduanya saling berhadapan dalam kecanggungan. Dibatasi oleh meja kayu coklat persegi panjang yang di atasnya sudah ada buku-buku tebal milik Rega.
Berlangsung hingga satu jam kedepan, tidak ada sepatah kata pun yang terdengar. Kedua remaja itu bertahan dalam egonya masing-masing. Puas berlama-lama dengan orang yang tidak menghargai kehadirannya, Anin bangkit. Tetap tanpa kata, kesedihan menghujaninya dalam kebersamaan itu.
Anin berdiri cukup lama, memastikan apakah Rega akan menghentikannya atau tidak. Namun lagi-lagi kekecewaan besar menghantamnya, Anin harus menerima kenyataan bahwa Rega memang benar-benar tidak memiliki perasaan terhadapnya. Walau sekuat apa pun ia mencoba, hati Rega masih terpaku pada satu nama.
Anin menunduk sedih, bahkan hampir menangis. Ditatapnya Rega sejenak, lelaki itu masih sibuk menulis, hingga di detik berikutnya Anin mengangkat langkah. Berlari ke luar rumah tanpa membawa apa-apa.
Kabut dan asap memang tidak ada bedanya, sama-sama tidak berarti dan juga tidak pasti. Dalam hatinya, Anin mempertanyakan apa yang sedang ia pertahankan.
***
Malam ini langit sedikit berawan, lantaran langitnya kesepian tanpa bintang dan juga bulan. Persis seperti yang dialami Anin saat ini—kesepian. Di jembatan yang letaknya cukup jauh dari rumah Rega, ia menenangkan diri. Sebelum benar-benar tiba di jembatan itu, Anin sempat diganggu oleh beberapa preman, beruntung gadis itu bisa diselamatkan oleh seseorang.
Sekarang, orang itu tengah membeli air mineral di warung seberang jalan, sedang Anin berdiri kaku memandangi sungai di bawah jembatan. Tatap matanya tidak mau beranjak dari sana. Udara malam yang begitu dingin menusuk sampai ke tulang, mampu membuat Anin mendekap tubuhnya yang kedinginan. Kakinya bahkan tidak mengenakan alas, ujung jari kakinya berubah dingin, ia berlari tak tentu arah, mengikuti langkah yang membawanya entah ke mana. Sampai akhirnya ia berhenti di sini.
"Maaf, gue terlalu egois." Bibirnya mulai melafalkan kalimat-kalimat sendu, penyesalan, atau apa pun itu yang dapat membuatnya merasa lebih baik. "Gue terlalu mengharapkan sesuatu yang kehadirannya bukan ditakdirkan untuk gue, maaf."
Anin mulai menangis, bahunya berguncang sambil menekuk kepala, menggenggam pembatas jembatan erat. Membiarkan air mata mengalir deras di kedua pipinya, membiarkan setiap penyesalan dan kekecewaan itu menguasai dirinya. Malam ini ia ingin melepaskan beban di hatinya, sudah terlalu banyak sampah hati yang ia terima dari Rega. Sekarang waktunya pembersihan, supaya esok hari bisa bersikap seperti biasa lagi, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Anin," panggil seorang lelaki sambil menyentuh pundak kanan Anin. Lelaki itu menyodorkan sebotol air mineral di tangannya. "Jangan berlarut-larut dalam kesedihan, nggak baik."
Tanpa menoleh, bahkan tanpa bergerak, Anin menjawab. "Nggak usah sok peduli, lo sama aja kayak Rega, Kak. Kalian berdua ibarat kabut sama asap, yang hadirnya cuma sebentar, setelah itu musnah dihantam angin. Kalau pun kabut itu lebih kuat, ia tidak bisa menetap di satu tempat. Lo berdua sama-sama mengecewakan! Gue benci ada di situasi ini."
"Setidaknya, asap tidak pernah membuat lo menunggu. Beda sama kabut, yang membuat lo selalu menunggu ketidakpastian itu."
"Lo kenapa muncul lagi? Kenapa? Berkat lo, hidup gue perlahan-lahan hancur. Rega mungkin jijik deket-deket sama gue!"
Hati Dante bagai tertohok ribuan belati bermata dua. Pada kenyataannya, Anin memang berhak memakinya setelah apa yang terjadi. Karena hal sepele, Dante sampai merusak kehidupan orang lain. Apalagi saat ini orang tersebut telah berhasil memenangkan hatinya, sungguh rumit.
Ketika sosok yang dipanggil kakak oleh Anin ingin memberi pelukan hangat, seseorang dari arah berlawanan muncul tepat di hadapan Dante. Lelaki itu berhasil melingkarkan tangannya ke pinggang Anin, menaruh dagunya di bahu kanan Anin sambil memperdalam pelukan tersebut.
Ia lah Rega. Sosok laki-laki yang sejauh ini sulit ditebak. Saat ini Rega berhasil memeluk Anin dari belakang, namun Anin berusaha melepaskan diri lantaran menyangka bahwa yang memeluknya saat ini bukan Rega, melainkan Dante. Sosok laki-laki yang kini menatap dengan tatapan sinis.
Napas yang menderu tidak beraturan terdengar jelas di telinganya, membuat Anin memejamkan mata dan kembali menitikkan air mata. Hatinya sedih berada di situasi seperti ini, mencintai tanpa dicintai kembali. Sudah lama Anin menelan pahitnya perasaan terhadap Rega, terlalu berat jika saat ini Rega menambah beban dengan mengabaikan kehadirannya. Untuk itu ia berlari menjauh, tetapi sepertinya akan gagal kembali.
"Namanya juga hati, dia bebas menentukan tapi nggak bisa menetapkan!" Rega membisikkan kalimat tersebut tepat di telinga Anin, membuat gadis itu tertegun sebentar dan langsung tersadar kalau yang sedang memeluknya saat ini bukan lah Dante.
Iya, ini alasan yang membuat lo menjadi kabut. Batin Anin kembali menjerit.