BAB 9

1596 Kata
HATI DAN PEMILIKNYA YANG LABIL "Lebih baik lo terluka sejak awal, daripada terluka saat lo lagi sayang-sayangnya sama gue." —Rega Algatama—   ***   Kaki Anin meronta ketika tempat yang ia tuju tak sesuai dengan keinginannya. Gadis itu merengek seperti balita yang mau pulang ke rumahnya, tentunya sambil menenteng ransel hitam milik Rega yang seringan kapas. Iya, ringan. Lelaki bertubuh tinggi itu tidak membawa apa-apa ke sekolah setelah hari pertama. Kalau ada latihan selalu minta kertas selembar kepada Anin, terus pulpen juga hasil pinjaman dari Anin, jangan tanya lagi soal alat tulis lainnya. Dan tidak usah heran kalau sering berdebat dan terlibat cekcok dengan guru. "Kok ke sini, ‘kan tadi gue bilang mau pulang?" rengek Anin ketika keduanya menginjakkan kaki di rooftop kafe milik keluarga Ataric—Prismatrix kafe tepatnya. Rega memalingkan wajah, sengaja. Lelaki itu pun segera merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang di pojokan. "Jadwal lo buat jadi tutor gue," katanya mengingatkan. Setelah itu Rega memejamkan mata, dalam hati Anin kembali menggerutu, dasar aneh! Untuk melepas rasa kesalnya terhadap Rega, Anin menatap langit yang perlahan berubah mendung, angin yang berembus kencang di sana mengayun rambutnya, memaksa Anin untuk menyelipkan sebagian di balik daun telinganya. Berapa lama lagi Anin harus bertahan dengan sikap Rega, dirinya hanya bisa menunggu sambil berusaha. Berbagai cara sudah ia lakukan, tetap saja hasilnya sama, Rega tak menaruh sedikit perhatian pun padanya. Terkadang Anin berpikir untuk berhenti saja, namun setelah beberapa saat dirinya kembali memutuskan hal yang berbeda. Jika tak mengingat niat baik Papa Rega, mungkin sudah lama Anin mengambil keputusan itu. Tapi, sudahlah. Mungkin ini sudah keputusan yang Maha Kuasa, selagi masih ada kesempatan haruslah Anin mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Setelah lama menatap langit, kemudian Anin memalingkan wajahnya pada Rega. Mata besarnya menyipit menatap lelaki itu, bingung apakah Rega masih terjaga atau sudah terlelap. "Mau belajar apaan kalau tas lo kosong melompong begini?" "Tas lo di mana?" Rega baru sadar kalau ransel milik gadis keras kepala itu tidak ada di punggungnya. "Ketinggalan." "Ya, di mana, b**o?!" "Di rumah Kak Dante," jawab Anin sambil memasang wajah tanpa dosa. Ya, jelas, memang dia tidak salah, ia hanya mampir karena si pemilik rumah memaksanya. Mendengar nama Dante lagi-lagi menggema di telinganya, Rega bangkit dari posisi semula. Menatap garang Anin yang masih dalam posisi yang sama, memangku ransel hitam milik Rega sambil memandang langit yang kini sudah mulai cerah kembali. Entah mengapa setiap kali nama cowok itu menyapu pendengarannya, seolah ada yang bergemuruh di hati Rega, seakan-akan ia mau berkelahi saja dengan Dante. Mata Rega melirik kiri dan kanan, memikirkan sesuatu untuk memecahkan persoalan. "Ya udah, nanti malam aja gue jemput," kata cowok itu akhirnya. Anin berdecak seraya menjatuhkan ransel Rega ke lantai. "Terus sekarang ngapain? Gue capek mau pulang," rengeknya lagi. Kali ini Rega yang berdecak. "Bawel!" Tak berselang lama, Anin kembali memungut ransel Rega yang jatuh di dekat kakinya, lalu menghampiri Rega sambil mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya. Rega yang terheran hanya bisa memandang dengan beberapa pertanyaan. Anin menjatuhkan bokongnya di sebelah Rega, menaruh ransel itu di pangkuan Rega sambil meminta laki-laki itu menghadapnya. Rega mendengarkan, tanpa bantahan ia memutar tubuh menghadap Anin. "Siniin mukanya," suruh Anin sambil menarik pelan dagu Rega. Selagi Anin sibuk dengan plester di tangannya, Rega memandangi gadis itu penuh kagum. Tanpa sadar senyum tipis ikut mengembang di wajah tampannya, semakin lama ia merasakan perhatian Anin maka semakin ia merasa nyaman akan tatapannya terhadap gadis itu. "Saat lo sama Dante, gue cemburu." Ketika Anin menempelkan plester di pelipis Rega, sebuah kalimat yang tak mendasar membuat Anin bergeming. Meski rasanya Anin sudah melambung tinggi ke langit, ia berusaha untuk tidak memperlihatkan kegirangannya. Dirinya takut bahwa apa yang diucapkan Rega detik ini, ia patahkan di detik berikutnya, Anin terlalu hafal dengan kebiasaan itu. "Gue cemburu saat lo ngobatin dia di UKS." Rega kembali melanjutkan perkataannya, sadar kalau Anin hanya bisa diam tanpa berniat menjawab. "Gue cemburu lo lebih deket sama dia ketimbang sama gue." Untuk mengurangi rasa gugupnya, Anin terkekeh kecil menanggapi pernyataan Rega. "Apaan, sih, Ga. Lo ngomong kayak gini kesannya malah nyeremin bukan romantis," katanya menanggapi. Rega menyentak tangan Anin, menarik tubuh gadis itu agar sedikit mendekat padanya. Benar saja, wajah mereka yang tadinya berjauhan kini hanya dibatasi oleh tangan Anin yang tengah digenggam oleh Rega. "Gue serius!" ucap Rega tegas. Anin tetap diam, matanya terpaku pada sosok di depannya. Tubuhnya membeku seolah sedang berada di kutub utara. "Lo beneran cemburu?" tanyanya hati-hati. Puas memandangi wajah ketakutan Anin, Rega melepaskan cekalannya, berikut dengan senyuman lebar yang menandakan bahwa ia sedang bahagia. Tidak tahu karena apa, tetapi hal sederhana itu seperti sebuah peristiwa bersejarah yang patut diabadikan oleh Anin. Tak berselang lama, Rega menaruh ranselnya di paha Anin. Dengan sikap tidak peduli terhadap reaksi gadis yang sedang melamun itu, Rega merebahkan tubuhnya di kursi, menjadikan paha Anin sebagai penopang kepalanya. Lelaki itu memejamkan mata sambil berpangku tangan, membiarkan kenyamanan dan kesunyian mengikat keduanya. "Iya, gue cemburu saat waktu berusaha mempertemukan lo sama Dante. Membuang gue jauh-jauh supaya lo bisa berduaan sama b******n itu." Oke, Anin mengerti. Kali ini ia yakin Rega tidak main-main dengan ucapannya, buktinya sejak tadi Rega memendam kemarahan yang tak bisa disalurkan dengan baik, karena itulah saat ini Rega memilih tempat yang jauh dari keramaian. Rega ingin mengobrol bersama Anin dan menghabiskan waktu dengan bersantai tanpa mengingat betapa beratnya hari esok. "Besok nggak lagi, deh," ujar Anin. Rega balas bertanya. "Kenapa?" "Gue udah kirim permohonan sama semesta, biar dia nggak mentransfer jarak lagi untuk memisahkan kita." Anin menatap wajah Rega, lalu mengelus puncak kepala Rega penuh kelembutan. "Jangan terlalu berharap sama gue, Nin." Perkataan Rega kali ini sukses mematahkan kebahagiaan Anin yang sedang berada di puncaknya. "Hati manusia selalu berubah-ubah, seperti cuaca. Sama seperti cinta yang terkadang nggak bisa menetap di satu hati." "Lo nggak bisa menentukan ke mana hati lo akan mampir," tambah Rega, membuat Anin semakin membungkam mulutnya. Anin tersenyum kecut, hatinya seolah teriris tipis-tipis oleh kata-kata tajam dari Rega. "Hati juga bisa lelah berjuang, Ga. Hati juga tau kapan dia harus berhenti. Lo nggak perlu mengingatkan gue soal itu, gue masih inget jalan untuk mundur." "Gue cuma takut nggak bisa ngelupain Tania, ujung-ujungnya nggak bisa jatuh cinta lagi, dan pasti lo terluka lagi karena gue." Dari nada suaranya, jelas Rega sedang sedih. Ia tak bisa jatuh hati pada seseorang dengan mudah, dikarenakan masa lalunya yang menyedihkan. Perlahan air di kedua pelupuk mata Anin menetes jatuh. "Bukannya gue udah ambil resiko itu dari awal?" tanyanya dengan suara bergetar. "Gue rela terluka, agar gue bisa menetap di sisi lo. Tapi lo selalu mendorong gue untuk mundur." Rega mengepal kuat tangannya, entah mengapa hatinya berdenyut sakit saat Anin menangis di dekatnya. Persis ketika dulu Tania menangis di hadapan Rega karena telah berbohong kepadanya. Membuat tubuh Rega bergerak ingin memeluk gadis itu, tetapi ia urungkan sebab hal itu hanya akan menambah harapan palsu untuk Anin. Perlahan kelopak mata Rega terbuka seperti kuncup bunga yang mekar, iris matanya langsung mendapati kesedihan di wajah Anin. Seakan membuat Rega tersihir, tangan kekarnya tanpa sadar bergerak mendekati wjah Anin yang sudah memerah karena banyak menangis. Dengan lembut Rega menghapus jejak air mata yang belum mengering di pipi Anin. "Gue pulang!" Tak berlangsung lama, gerakan Rega langsung ditepis oleh Anin, ia menghapus jejak air matanya kasar. Mendengar nama Anin yang semakin tidak stabil, Rega bangkit dari tidurnya. Memutar tubuh menghadap gadis itu, namun Anin kelihatannya enggan berbincang dengan Rega, buktinya sekarang cewek cantik itu berdiri dari duduknya, menaruh ransel Rega di ujung kursi. "Besok belajarnya di rumah lo aja, jangan ke sini." Matanya tak mau memandang wajah Rega, air mata masih saja berlinang di pelupuk matanya. Mendengar kalimat itu dari bibir Anin, Rega ikut berdiri, seolah tidak merelakan Anin pergi dalam keadaan marah. "Kenapa?" "Gue pergi." "Gue nggak ngijinin lo pergi!" Sebelum Anin melangkah meninggalkan tempat itu, tangan Rega buru-buru bergerak meraih pergelangan tangannya, menarik tubuh Anin dalam pelukannya. Anin yang terkejut karena sikap Rega dibuat terhening, dalam pelukan lelaki itu ia tak bisa apa-apa selain membungkam mulutnya. Rega memperdalam pelukannya, megusap kepala Anin lembut, memberi kenyamanan agar gadis itu dapat menenangkan diri. "Mulai sekarang bagi kesedihan lo sama gue!" pintanya tegas. Anin mulai terisak kembali, tangannya mengepal kuat. Tenggorokannya semakin sakit menahan tangis yang tak kunjung selesai. "Nangis, Nin." Rega memejamkan matanya, ikut merasakan pedihnya luka yang dirasakan Anin. "Harapan terkadang memang menyakitkan jika disertai dengan kekecewaan, terlebih sekarang takdir sedang menuntun lo menuju kebahagiaan." Sedikit demi sedikit tangisan Anin terdengar, semakin membesar hingga akhirnya tangisan itu memecah kesunyian. Bibir Anin yang menggemaskan bergetar, tangannya mengepal kuat ujung seragam Rega, menyalurkan setiap kesedihan yang ia pendam sejak lama. "Janji kalau lo akan jatuh cinta sama gue, Ga," tuntut Anin disela tangisnya. Tangan Rega berhenti mengelus kepala Anin, kemudian mendekap kencang gadis itu. "Gue nggak bisa janji untuk jatuh cinta sama lo, tapi gue bisa janji untuk selalu melindungi lo." Entah terbawa suasana, Anin kembali tersulut emosi, lantas mendorong kuat tubuh Rega. "Gue nggak mau dilindungi sama lo!" Anin frustrasi, sampai-sampai ia tak sadar atas apa yang telah ia lakukan kepada Rega. Gadis itu mengusap wajahnya dalam tangisan, memandang Rega yang sudah berjarak dengannya. Tidak tahu harus bagaimana lagi, Anin melangkah pergi sambil menangis tersedu-sedu. Rega memandang gadis itu lekat, tidak mengerti atas apa yang baru saja terjadi. Dirinya sadar kalau Anin itu labil, tidak seperti Tania yang bersikap dewasa menanggapi setiap perkataannya. Mungkin karena itulah Rega tak bisa menyatu dengan Anin, mereka sedikit sama namun terlalu berbeda. Lo harus tau gimana hati gue, Nin. Gue nggak mau memberikan harapan yang bahkan nggak sanggup gue wujudkan untuk lo. Lebih baik lo terluka sejak awal daripada terluka saat lo lagi sayang-sayangnya sama gue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN