MAMPIR KE KANDANG MACAN
"Hati boleh memilih. Namun jika Tuhan berkehendak lain, hati bisa apa?"
—Dante Abraham—
***
Melalui proses pemaksaan yang panjang, akhirnya Dante berhasil membawa Anin ke rumah megah layaknya sebuah istana. Tempat di mana Dante tumbuh dan dibesarkan tanpa kasih sayang ayah dan ibunya. Tentunya menjadi tempat yang selalu menyambut kedatangannya, bukan karena ayah dan ibu, melainkan karena Dante rindu dengan ibu keduanya.
"Aden, syukurlah, Aden udah pulang."
Keadaan yang sepi membuat Dante tersentak akibat kemunculan mendadak Bi Arung, pembantu sekaligus ibu kedua bagi Dante setelah ibu kandungnya. Wanita bertubuh sedikit gemuk itu tampak berbinar menyambut kedatangan keduanya di ambang pintu.
Dante yang biasa dipanggil Aden di sini tersenyum, bertolak belakang dengan Anin yang memperlihatkan wajah kurang ramah.
Cowok itu mengambil tangan Bi Arung, lalu menyalimnya. "Aden cuma sebentar, Bi," ucap Dante. "Mama mana?"
Bi Arung terlihat kesulitan menjawab pertanyaan Dante. "Anu, Den, nyonya udah seminggu nggak pulang," katanya hati-hati, takut hal tersebut akan membuat Dante merasa kecewa.
"Papa?" Dante bertanya lagi.
"Udah tiga hari Tuan Bramasta pulang subuh terus, Den."
Kemudian Dante tak bertanya lagi, seakan dirinya sudah terlalu paham dengan kelakuan orang tuanya. Begitulah keluarga Dante jika kalian ingin tahu, bisa dibilang ia telahir dari keluarga broken home yang selalu mementingkan keegoisan masing-masing, tak heran lagi kalau penghuninya sering beradu mulut saat mereka berkumpul bersama.
Tidak sabar ingin diperkenalkan dengan gadis berparas cantik di samping Dante, Bi Arung mencuri-curi pandang. "Itu siapa, Den? Pacarnya?" tanya wanita itu penasaran.
Dante terkekeh mellihat Anin yang langsung membuang muka, pura-pura tidak mendengar pertanyaan Bi Arung. "Doain, Bi, bentar lagi jadi pacar saya. Namanya Anin, galak banget."
"Aamiin," balas Bi Arung semangat sambil mengaminkan perkataan Dante, kalau Anin jelas ingin muntah—jijik. "Galak bagaimana? Cantik begini teh dibilag galak. Galakan Non Ziva atuh, Den."
Dante tertawa mendengarnya. Pasalnya, Ziva memang perusuh di rumah ini, tiap kali mampir cewek itu selalu membuat keributan, kalau tidak cekcok sama Bi Arung soal masak-memasak, pasti merusuhi Pak Arnan—satpam di rumah Dante—yang sedang bertugas.
"Ziva mah cewek jadi-jadian, Bi."
"Walah, temen Aden teh serem-serem semua."
Di samping Dante, Anin memainkan matanya sambil bersedekap. Memperlihatkan rasa ketidaksukaan pada lelaki yang tengah tersenyum lebar itu. Lain halnya dengan Bi Arung yang tersenyum usil sambil menaik-turunkan kedua alisnya, pun dengan Dante.
Tak berselang lama, Bi Arung mempersilahkan keduanya memasuki rumah. Tanpa ba-bi-bu Dante langsung menarik pergelangan tangan Anin menuju kolam ikan yang terdapat di samping rumahnya.
Sesampainya Anin di tempat itu, angin sepoi-sepoi berbahagia menyambut kedatangannya. "Adem banget di sini, anginnya sejuk," celetuknya tanpa sadar dan langsung membuat senyum Dante merekah.
"Kolam ini kenangan paling indah buat gue. Satu-satunya tempat yang paling gue kangenin, karena banyak kenangan yang gue lalui sama keluarga gue di sini. Sampai akhirnya seseorang dari masa lalu mama datang dan merubah segalanya. Merubah mama, merubah papa, pun dengan gue sendiri." Dante duduk di tepi kolam, memandangi ikan-ikan koi yang berkeliaran di dalamnya, bibir lelaki itu dengan enteng bercerita mengenai kisah keluarganya.
Anin hanya terdiam, tak mau banyak berbicara, sebab dirinya merasa tak berhak mendengar semua cerita ini, cukup Dante dan keluarganya saja yang memendam kisahnya. Awal kedatangan Anin ke tempat ini, perasaan Anin sudah mulai terasa tidak enak, seolah ia merasakan apa yang dirasakan oleh Dante tanpa lelaki itu beritahu sekalipun, wajar saja kalau lelaki itu tidak betah tinggal di rumahnya sendiri. Anin memilih berdiri di samping Dante, tanpa niat untuk duduk.
"Apa yang pengen lo tau dari gue?"
Ketika mata Anin beralih menerawang kolam ikan milik Dante, sebuah sentakan membuatnya terduduk tepat di samping lelaki itu dengan kekagetan. Membuat matanya melebar dan refleks memukul bahu Dante.
"Maksa banget, sih?!" pekiknya marah.
"Lo kalo nggak dipaksa nggak bakal mau."
Mata Anin menatap nyalang cowok yang ia anggap setengah gila di sampingnya. "Nggak ada cara lain apa," gerutunya sambil membuang muka.
Dante mengalah. "Oke, gue minta maaf." Kemudian matanya menatap lurus ke depan. "Jadi, apa yang membuat lo penasaran tentang gue?"
Anin diam, matanya kembali menatap ikan yang berkejar-kejaran di dalam kolam. Anin sendiri bingung, ia tidak tahu hal apa yang membuatnya harus terjebak di sini bersama Dante, tepatnya hal apa yang membuat Anin penasaran dengan laki-laki yang hampir merusak masa depannya itu.
"Nggak tau," cuek Anin sambil mengedikkan bahu.
Lelaki itu menoleh cepat. "Kok nggak tau?" herannya. "Bukannya tadi lo nanya kenapa gue kabur dari rumah?"
"Iya," sahutnya cepat. "Terserah lo aja, mau jawab apa enggak. Nggak penting juga, kan."
"Terus apa yang menjadi kepentingan lo di dunia ini?"
Tiba-tiba Dante menarik bahu Anin agar menghadap lurus ke arahnya, mata tajamnya pun menusuk Anin, membuat cewek itu gugup dan tidak tahu harus melakukan apa. Yang bisa ia lakukan hanya mengatup rapat bibir merah mudanya. Sedang kedua matanya bergerak gelisah menghindari kontak mata Dante.
"Apa, Nin?" Dante mengguncang bahu Anin. "Apa nggak bisa lo ngasih gue sedikit harapan?"
Hati Anin berdenyut sakit, tak kuasa menahan luka. Untuk menyembunyikan perasaan itu, Anin memilih menunduk dengan pikiran yang terpecah karena satu nama. Tentu. Siapa lagi yang mampu membuat Anin kehilangan akal sehatnya selain Rega? Lelaki yang sudah lama ia taksir, sampai sekarang masih belum membalas perasaannya. Kalau pun Rega mengungkapkan sesuatu, tak ada bukti kuat yang membuktikan bahwa lelaki itu benar-benar sedang berusaha mencintainya.
"Nggak bisa!"
"Kenapa?!"
"Karena harapan itu akan membuat lo semakin terluka!"
Kali ini Anin berhasil membukam mulut Dante, membuat cowok itu terpaku pada wajah Anin. "Gue nggak mau melukai siapa pun. Gue nggak mau ngasih lo harapan palsu, Kak. Dan pada akhirnya kita sama-sama terluka," jelasnya.
Senyuman tipis terlihat, perlahan Dante melonggarkan cengkeramannya di bahu Anin. "Lo terlalu jujur, Nin. Terlalu cepat memberikan jawaban," ungkapnya. "Tapi, nggak masalah, malah bikin gue tambah suka. Gue udah ambil resiko untuk berjuang buat lo. Dengan atau tanpa balasan dari lo, gue akan tetap suka sama lo."
Entahlah, hati Anin berkata lain. Mungkin tak akan genap satu tahun, ia yakin lelaki ini akan berhenti mengejarnya. Iya, percayalah bahwa hati Anin masih menunggu seseorang, laki-laki berwajah tembok yang sialnya masih terjebak dalam masa lalunya. Usaha Anin dalam beberapa bulan ini belum membuahkan hasil, tapi ia percaya suatu hari nanti Rega akan terbangun dari mimpi buruknya ini.
Anin menekuk wajah. "Lo udah ambil keputusan yang salah, Kak."
"Salah? Mencintai lo keputusan yang salah?" Kening Dante berlipat-lipat. "Salah dari mana?"
"Karena hati gue udah memilih orang lain, yang pastinya—"
"Rega si cowok pengecut itu?"
Sebelum Anin menyudahi kalimatnya, Dante buru-buru menyela sambil meliriknya.
"Hati boleh memilih, Nin. Kalau Tuhan maunya lo nikah sama gue, hati lo bisa apa?"
"Bener juga. Berarti kalau Tuhan mau Rega hidup dalam cangkang masa lalu, gue udah nggak bisa berbuat banyak."
Meski hatinya nyeri mendengar Anin menyebut nama Rega terus-menerus, Dante tetap mengangguk untuk memberikan pengertian. "Mungkin," sahut Dante sekenanya.
Setelah hening beberapa saat, Bi Arung datang sambil membawa teh hangat di atas nampan dan sebungkus biskuit untuk pengganjal perut. Dilihat dari wajahnya, wanita paruh baya itu panik akan sesuatu hal, mendorong Anin untuk mempertanyakan raut ketakutannya.
Sembari menyambut teh hangat, Anin berucap, "Bibi kenapa mukanya panik gitu?"
Bi Arung menggaruk lehernya, risih dan ketakutan. "Anu, Non. Itu, apa namanya, ada orang ngamuk-ngamuk di depan," jelasnya.
"Ngamuk-ngamuk? Siapa, Bi, Bonar? Pak Arnan ke mana emang?" Dante ikutan bingung dan panik, Bi Arung tampak menggeleng sambil meremas ujung bajunya.
"Pak Arnan lagi ke luar, Den. Tadi, Bibi suruh beli sesuatu ke warung." Bi Arung semakin merasa bersalah. "Itu, orangnya tinggi, putih, alisnya tebel, jarang senyumnya kayaknya, Den. Bibi takut di luar dia nendang pot bunga, marah-marah nyariin Non Anin."
Tidak salah lagi.
Anin dan Dante sudah yakin dengan satu nama. Rega Algatama. Hanya dia yang mampu melakukan hal gila seperti ini, seketika itu juga Anin dilanda kecemasan tingkat nasional. Kakinya segera dibawa melangkah setengah berlari menuju pintu depan, nampan yang ia terima dari Bi Arung sontak ia kembalikan lagi kepada wanita itu.
Melihat reaksi kepanikan Anin, tak membuat alasan bagi Dante untuk tidak mengambil tindakan, membuat dirinya harus mengekor di belakang Anin, pun dengan Bi Arung.
"Anin, keluar lo!"
"Keluar sebelum rumah ini gue bakar!"
"Rega, stop bikin rusuh di sini!" maki Anin saat dirinya sudah berpapasan dengan pemuda itu. Melihat Anin baik-baik saja, ada kelegaan yang luar biasa tercetak di wajah Rega.
Ketika mata tajam Rega bertemu dengan mata kecil milik Dante, lelaki itu segera menggenggam tangan Anin kemudian membawanya pergi dari rumah, tentunya tanpa izin dari tuan rumah. Namun sepertinya Dante juga tak merelakan Anin pergi bersama Rega detik itu, hingga keduanya kembali berperang lewat tatapan.
Dante menghalangi jalan Rega, menatap cowok itu sinis. "Gue masih mau ngobrol sama Anin. Tolong jangan ingkar janji," katanya baik-baik, tak menyulut emosi sedikit pun.
Rega membalas nyalang tatapan itu, seolah tak terima. "Dia asisten gue, lo bawa dia pergi harus dengan izin gue! Cuma gue yang berhak atas Anin."
Dante tersenyum remeh. "Baru asisten, bukan istri, gue yakin lo bisa bedain dua hal berbeda ini. Tau diri sama batasan lo!"
"Nggak usah sok, gue lebih paham dari lo. Lo sendiri nggak sadar sama batasan lo?" Kali ini Rega menyuguhi Dante pertanyaan. Anin yang sedang berdiri di belakang Rega hanya mampu menyaksikan perdebatan dua lelaki itu dalam kebekuan. "Seenggaknya dia terikat sama gue, nggak kaya lo. Temen bukan, sodara bukan, sok kenal sok dekat, modus basi lo udah kebaca sama gue!"
"Maksud lo apa?!"
"Minggir!"
Dua kali dibuat terlonjak kaget, Anin melebarkan pupil matanya, semakin menguatkan genggaman pada Rega. Dalam diamnya Anin berpikir bahwa ia tak mungkin membiarkan dua lelaki itu saling beradu mulut, bisa-bisa berkelahi lagi. Luka tadi siang saja belum sembuh, ditambah lagi sama luka baru, ‘kan tidak lucu.
Kaki Anin berjalan maju, berada di tengah-tengah Rega dan Dante, sementara tatapan gadis itu ditujukan kepada lelaki manis bernama Dante. "Lain kali kita ngobrol lagi, Kak, permisi."
Semakin geram di tempat ia berdiri kaku, Rega buru-buru menarik Anin menjauhi Dante—muak melihat kedekatan mereka—padahal baru beberapa kali bertemu, mereka sudah sedekat ini, entah bagaimana jadinya kalau mereka sering bertemu? Makin besar kepala si b******n itu.
"Gue tunggu, Nin." Dante tersenyum memandangi Anin yang ditarik paksa oleh Rega untuk segera meninggalkan lokasi kejadian. "Gue yakin lo orang yang gue cari selama ini, Nin."
***
Sudah setengah perjalanan terlampaui, yang membayangi justru hanya kesenyapan. Mengalahkan keramaian jalan raya yang sedang mereka—Rega dan Anin—tempuh. Suara klakson dan deruman knalpot seolah hilang ditelan kesunyian.
"Aduh! Rega, pelan-pelan kenapa, bahaya!" teriak Anin terkejut, saat Rega menambah kecepatan laju motornya secara mendadak. Kalau Anin tidak cepat-cepat melingkarkan tangannya di pinggang lelaki jangkung itu, entah apa yang akan terjadi.
"Udah tau bahaya, ngapain mampir ke kandang macan?" Sebelum menyahut ucapan Anin, Rega menyempatkan diri melirik gadis itu melalui spion motornya. "Mau diterkam beneran?"
Di belakang, Anin mengerucutkan bibir, tidak menyangka kalau Rega marah hanya karena hal sepele. "Lo marah, ya?" tanyanya memastikan. Paham letak kesalahannya di mana.
"Lo emang suka bikin gue marah, ‘kan?"
"Iya, gue ngaku salah. Gue minta maaf."
Ketika Anin merasa laju kendaraan yang sedang ditumpanginya melambat, gadis itu memiringkan kepalanya, berucap di dekat telinga Rega supaya terdengar jelas.
Entah mengapa saat Anin mengalah seperti itu, ada rasa bersalah dalam diri Rega. "Ngobrol apa aja di kandang macan?" tanya Rega penasaran. Sedikit berupaya agar gadis di belakangnya merasa lebih nyaman.
Mata Anin menatap langit. "Banyak hal," jawabnya.
"Salah satunya?"
"Macannya bilang, dia suka sama gue," jujur gadis itu lempeng.
Tanpa disadari, Rega menarik sudut bibirnya ke bawah. Pertanda bahwa sedang meremehkan Dante. Dia benar-benar tidak suka kedekatan mereka, Anin dan Dante. "Udah tau," pungkasnya sebal.
"Itu doang reaksi lo?" heran Anin setengah kesal, dan Rega menjawab kembali. "Ya, terus gue harus bereaksi kayak gimana?"
Anin menghela napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Menghadapi lelaki seperti beruang kutub itu butuh kesabaran yang ekstra, kalau tidak demikian mungkin sebelum mencoba kita sudah memilih memundur. Tepatnya mengaku kalah sebelum berperang.
"Tadi siang di sekolah pas lo berantem, rame banget yang liat. Gue pikir bakal dipisahin, nyatanya cuma nontonin." Karena bingung mau berkata apa lagi, Anin mengalihkan pembicaraan.
Di balik helm fullface-nya Rega tersenyum, senang jika Anin mencemaskannya. "Makanya jangan percaya sama siapa pun," kata Rega.
"Sekalipun sama lo?" balas Anin.
"Kalo itu pengecualian."
"Kenapa?"
"Lo pasti tau alasannya apa."
Oh, iya benar, Rega cinta pertamanya, Anin tak dapat menyangkalnya. Lelaki itu pandai sekali membuat jantungnya meronta-ronta ingin keluar, wajah Anin pun dibuat merona seperti tomat.
"Jangan deket-deket sama Dante kalau gue nggak lagi sama lo," ujar Rega tiba-tiba, mendadak aneh.
Anin memasang ekspresi bingung. "Kenapa?" tanyanya, berharap agar Rega berbagi sedikit rasa cemburu padanya.
"Karena lo nggak cocok berdampingan sama dia," balas Rega lagi, terkesan mengejek.
Seketika kecewa melanda Anin. "Ternyata masih belum, ya."
"Belum apa?" tanya Rega bingung.
Anin menoleh. "Lo belum cinta sama gue."
Kening Rega semakin mengkerut. "Kalau belum cinta kenapa emang? Jadi masalah buat lo?" tanyanya lagi.
Mendengar Rega merespons jutek kalimatnya, Anin merengut kesal sambil mengatur napasnya. Saat itu refleks Rega menoleh ke kaca spion, lantas bertanya lagi ada apa. Kemudian Anin menggeleng sebagai jawaban hingga kesenyapan kembali menghampiri keduanya.
"Gue mau langsung balik, habis ini lo mau ke mana?" Tidak betah berlama-lama dengan sunyi, akhirnya Anin mengalah. Dirinya kembali bertanya.
"Mau belajar mencintai lo."
Mata Anin membulat, matanya terpaku pada wajah Rega yang bersembunyi di balik helm, lidahnya pun kelu untuk mengutarakan keterkejutan. Hingga kemudian Anin memilih untuk tidak terhanyut dalam ucapan lelaki jangkung di depannya. Lelaki itu pandai sekali membalikan kata-kata.
"Ngapain?" heran Anin.
"Katanya kalo cemburu berarti udah suka."
"Dan sekarang lo cemburu?"
"Enggak, sih."
Mendengar jawaban Rega yang hanya bermaksud untuk mempermainkannya, Anin langsung melayangkan sumpah serapah dalam hatinya. Menyumpahi lelaki itu dengan segala perkataan buruk yang bersarang di otaknya.