BAB 7

1606 Kata
KESEMPATAN BERHARGA   "Bahagianya memang tak bersamaku, namun setidaknya aku pernah berjuang untuk membahagiakannya dengan caraku." —Dante Abraham— *** Dua lelaki bertubuh jangkung saling seret menuju lapangan, untuk kesekian kalinya amarah berhasil menguasai diri masing-masing. Murid-murid yang sedang mengisi tenaga di kantin tampak berbondong-bondong menuju tempat kejadian, menyaksikan dua laki-laki yang tengah bergulat di lapangan. Tak lupa, sahabat sehidup semati Dante berhamburan dari kantin. Keduanya berniat membantu lelaki itu, tetapi Dante memberi aba-aba agar mereka tidak perlu ikut campur. Alhasil, Eros dan Bonar terpaksa menjadi penonton dadakan. Di sana juga ada Anin, muka paniknya terbaca jelas, matanya memandang sedih Rega yang berhasil menjatuhkan Dante, lalu memukul lelaki itu berkali-kali. "Nggak usah pake cara-cara kotor buat dapetin dia, paham lo!" Dante berusaha melawan, namuan ia kalah kuat dari Rega yang terlihat seperti orang kesurupan. Alhasil darah segar mengalir dari hidungnya, membuat Anin memekik kencang dan segera berlari menghampiri Rega, menarik tubuh cowok itu agar menjauh dari Dante. "Lo pikir dengan berantem sama Kak Dante masalah itu bakalan selseai? Semuanya kembali normal?" Setelah menampar keras pipi Rega, Anin memarahi lelaki itu. "Gue nggak nyangka lo serendah ini!" Perlahan Rega menyentuh pipinya, wajahnya menekuk penuh sesal. "Gue kayak gini karena gue peduli sama lo," lirihnya seraya menatap mata Anin. Mata Anin memerah, tetesan bening meluncur di kedua pipinya. "Berhenti pura-pura peduli sama gue, karena cara sampah lo itu bikin gue makin sulit melupakan semua hal tentang lo." Rega menunduk sedih, paham betul kalau dirinya salah. Lagipula perasaan yang ia miliki masih sama, tetap untuk satu nama—Tania Adamajaya. Lalu apa yang ia lakukan ini? Hati kecilnya merasa terluka saat ia tahu bahwa Anin sedang berusaha menjauh darinya. "Heh! Apa-apaan ini?!" "Bubar! Semuanya bubar!" Kedatangan Pak Wirya si guru BP paling sadis seantero sekolah membuat penonton dadakan membubarkan diri secara tidak rela. Mereka bersorak pada guru berwajah sangar tersebut, sedang Anin membantu Dante untuk bangkit. Ia tidak tega melihat Dante dalam keadaan lemah dan berlumuran darah, apalagi karena dirinya. Bonar menghalau teman-teman sekelasnya yang didominan oleh perempuan. "Bubar kalian! Norak, macam nggak pernah liat orang berantem aja," ujarnya sambil mengayunkan tangan—seperti menghalau ayam agar kembali ke kandangnya. "Bar-bar lo, Nar!" bentak Eros melihat kelakuan sahabatnya. "Tu mulut abis makan apaan, mercon? Meledak mulu perasaan." Kesal dikata-katai oleh sahabatnya sendiri, Bonar membalas dengan mengusap wajah Eros menggunakan tangan kirinya. Gerakan spontan terjadi, Eros membalas dengan mencongkel mata Bonar. Alhasil keributan tak dapat dihindari, keduanya saling balas. "Eh, kau macam nggak paham kalau aku dah marah-marah kek gini. Harus ada yang jadi bulan-bulananku," curhat Bonar dalam posisi memiting kepala Eros. Eros mendengus mendengar ucapan Bonar. "Ya, tapi nggak gue juga kali," rutuknya. "Lo gelut aja, tuh, sama Pak Wirya." "Kutonjok muka kau, rontok gigi kau, ya! Cengenges lah kau sekarang," bentak Bonar lagi, membuat Eros ketakutan dan langsung kabur tunggang-langgang menuju kelasnya.Pak Wirya berdiri tepat di hadapan Rega. Mata tajamnya seolah membunuh lelaki itu. "Kamu anak baru, sudah berani membuat ulah di sekolah ini?" tanyanya tidak percaya. "Sama anak kepala sekolah lagi. Tau nggak kamu Dante ini kebanggaan semua guru di sini?" "Enggak, Pak!" balas Rega tegas, tak gentar sekalipun. "Yang saya tau dia cowok berengsek yang udah merusak kehidupan seseorang." "Minta maaf!" sentak guru itu kemudian. "Nggak akan!" maki Rega dengan giginya yang bergemeletuk geram. Anin dan Dante memandang ke arah yang sama, menatap Pak Wirya dan Rega dengan tatapan berbeda. Keduanya jadi bingung harus bagaimana, mereka tak mau masalah ini semakin rumit. "Eumm, Pak," seru Dante sambil berjalan tergopoh-gopoh. "Masalahnya nggak usah diperpanjang, saya yang salah di sini. Bilang sama kepala sekolah, masalah ini nggak akan menyeret nama dia." "Baik! Asal kamu balik lagi ke rumah." "Saya nggak akan pernah kembali ke rumah itu, bilangin sama atasan Bapak! Saya lebih memilih luntang-lantung di jalanan daripada hidup sama dia dengan batin sengsara. Saya nggak suka!" Percakapan antara Dante dan Pak Wirya seolah menjadi teka-teki yang dapat dipecahkan dengan mudah oleh Anin. Lain halnya dengan Rega yang memilih untuk berlalu menuju ruang BP, menyerahkan diri tanpa memperpanjang percakapan. Bonar yang menyaksikan perdebatan guru dan sahabatnya segera menengahi. "Santai, Pak! Itu hidung si Dante perlu dibetulkan sepertinya," racau pemuda itu sambil menunjuk hidung Dante yang mengeluarkan darah. "Obatin dia!" suruh guru itu. "Setelah selesai, silahkan berkunjung ke ruangan saya untuk menjalani persidangan pertama kalinya." Setelah mengucapkan kalimat itu, Pak Wirya melangkah buru-buru menuju ruangannya, siap menyidang Rega mengapa berani berurusan dengan anak kepala sekolah dan membuat keributan di sekolah ternama ini. Detik berikutnya Bonar memapah Dante. "Biar kuantar kau ke sana," paparnya. "Gue ikut!" Anin berseru kencang tanpa sadar. Hingga saat dua lelaki itu menoleh, dirinya berubah menjadi gugup. "A-ee, itu... g-gue mau ngobatin luka lo." "Pasti! Dengan senang hati gue menerima kedatangan lo di hidup gue, Nin." Gembira mendengar Anin menawarkan diri untuk mengobati lukanya, Dante langsung mendorong tubuh Bonar sampai membuat cowok berbadan besar itu jatuh tersungkur. Kemudian pemuda itu menyumpahi Dante yang sudah melangkah menjauhinya, tentunya sambil bergandengan dengan Anin. "Kurang ajar kali kau, Dan! Lupa kau sama aku!" "Itu nona cantik beruntung kali dapetin Dante," celetuknya kemudian, kagum akan kecantikan paras Anin. "Nggak macam si Ziva. Cantik ada, otak cuma sejengkal, cuih! Geli-geli aku dapat cewek macam dia." *** "Anin, lo gapapa?" "Gue baik-baik aja, jauh sebelum lo muncul dalam kehidupan gue." Di ruang kesehatan yang biasa disebut UKS, dua remaja berlawan jenis saling pandang dalam tatapan yang berbeda. Keduanya mencoba saling mengakrabkan diri, mengungkapkan apa yang selama ini terkubur dalam bungkamnya masing-masing. Terlebih Anin. Banyak hal yang ingin gadis itu tanyakan pada sosok gagah di depannya, namun ia tak punya keberanian sebab Anin paham dengan posisinya. Anin telah mengutarakan apa kata hatinya, mendengar hal tersebut tentu menyayat hati Dante. Meskipun Anin terus menolaknya, Dante tak pernah lupa bahwa gadis itu adalah pusat kebahagiaannya saat ini. Satu-satunya orang yang mampu membuat Dante ingin memperjuangkan hidup dan masa depannya. Iya. Ada rahasia besar yang membuat Dante menyukai gadis itu, bahkan sahabatnya pun tak tahu apa motifnya, hal apa yang ia suka dari Anin. Dante menunduk, bibir seksinya tak bisa bergerak karena Anin. "Gue minta maaf," katanya berusaha keras. Bibir merah muda Anin melengkung tipis. "Angkat kepala lo, Kak," pintanya. "Lo nggak punya kosa kata selain itu?" "Ada," pungkas Dante cepat. "Apa?" "Gue suka sama lo!" Anin terkaget mendengar pengakuan Dante yang kesannya hanya ceplas-ceplos mampu menggetarkan hatinya. Tetapi Anin berpikir kembali, kini wajahnya berubah kecut. "Mungkin lo lupa apa yang udah lo lakuin sama gue," ujarnya. Saat tangan Anin masih bergerak di sekitar wajahnya, Dante buru-buru menyentak tangan gadis itu. "Gue nggak akan pernah lupa sama apa yang udah gue lakuin. Untuk itu, gue minta persetujuan lo!" Mata Anin menyorot tajam, pikirannya mulai menduga-duga. "Persetujuan apa yang lo maksud, Kak?" "Kasih gue kesempatan yang sama!" tandas Dante. "Gue mau memperjuangkan lo, sampai titik terakhir di hidup gue." Terdengar hembusan napas panjang, Anin menunduk sepersekian detik hingga akhirnya tegak kembali. "Kenapa? Kenapa lo muncul lagi dalam kehidupan gue?" "Ranti cerita banyak hal tentang lo setelah dia pindah ke Yogyakarta." Anin terdiam, masih menunggu penjelasan Dante. Alasan ini lah yang sejak lama ia tunggu, alasan yang membuat Dante kehilangan akal sehatnya dan melakukan tindakan yang tak seharusnya dilakukan oleh seorang pelajar. "Ranti cerita apa yang udah lo lalui di SMA Gemilang setelah dia nyebarin fitnah tentang lo. Dia cerita semuanya, tentang lo dan kehidupan lo, yang akhirnya membuat gue tersadar, yang membuat gue ingin menebus semua kesalahan gue sama lo." "Semuanya udah terlambat! Berapa kali harus gue bilang?!" bentaknya berurai air mata. "Lo dan Ranti merusak segalanya!" "Karena itu, gue mau memperbaiki semuanya, saat itu gue khilaf, Nin. Dan lo harus tau, gak ada kata terlambat untuk berubah." Setelahnya tak ada lagi sahutan dari Anin selain tatapan yang membekukan, air mata Anin yang berseluncuran di pipi membuat Dante tidak karuan. "Sekalipun lo nggak maafin gue, membenci gue selamanya, setidaknya lo kasih gue kesempatan untuk menebus semuanya, Nin. Biarin gue menjaga dan melindungi lo sampai titik darah penghabisan." Anin terkekeh kecil, lalu mengusap air matanya. "Kayak mau perang aja," cibirnya. "Gue udah mulai perang dari semalem, Nin," adunya, membuat Anin membulatkan mata. "Sama siapa?" kaget Anin, tangannya masih dalam genggaman Dante. "Lo liat wajah gue babak belur tadi pagi?" Anin mengangguk. "Malamnya gue berantem di depan rumah lo sama Rega. Habis itu kita balapan dan Rega jatoh sampe kepalanya kepentok batu." "Dan kalian jadiin gue sebagai taruhan?" "Bukan!" bantah Dante. "Gue Cuma minta agar Rega nggak ngelarang gue buat deketin lo." "Sama aja!" Cewek itu menghempas tangan Dante, marah. "Nin, tolong jangan menghindar dari gue," mohonnya pada Anin yang sudah bangkit dari duduknya. Sebelum Anin meninggalkan ruangan itu karena sudah selesai mengobati luka Dante, dirinya teringat akan sesuatu. "Lo kabur dari rumah, kenapa?" Kali ini Dante yang terdiam, membuat cowok itu menghela napas panjang. Secara spontan topik pembicaraan dialihkan bergitu saja. "Gue akan ceritain semuanya, asal nanti sore lo pulang sama gue!" Anin tersentak kaget, secepat itu Dante mengakrabkan diri dengannya? Anin tidak habis pikir. "Gue nggak bisa!" jawabnya ketus. "Pulang sekolah gue sibuk, banyak kerjaan." "Gue janji, besoknya gue nggak akan muncul lagi di hadapan lo! Cuma besok, sih." Otak Anin berpikir keras, menimbang penawaran Dante yang sebenarnya tidak terlalu mnenggiurkan. "Oke!" putusnya setelah terhitung beberapa detik. "Gue jemput ke kelas lo." "Terserah!" Merasa percakapan antara dirinya dengan Dante telah usai, Anin cepat-cepat melangkah meninggalkan ruangan itu. Banyak hal yang sedang ia pikirkan, salah satunya mengenai Rega yang dapat terjerat banyak masalah karena berurusan dengan mantan ketua OSIS SMA Cemerlang—Dante Abraham. Anin semakin mempercepat langkahnya. "Gue harus bernegosiasi sama Kak Dante, biar Rega aman sekolah di sini. Supaya semuanya baik-baik aja, mungkin gue harus nurutin semua permintaan Kak Dante. Gue akan kasih dia kesempatan demi Rega."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN