REBUTAN
"Galak amat, belum pernah jatuh cinta sama gue, ya?"
—Dante Abraham—
***
Usai pelajaran pertama, Anin merebahkan kepala di atas meja. Frustasi dengan setiap masalah yang ia hadapi. Kini posisinya tepat di area kiri kantin, sebelum duduk, mata Anin sempat menemukan dua manusia laknat dalam hidupnya, Dante dan Ziva. Sementara Nata sedang memesan makanan bersama Galuh, takutnya kalau tidak cepat-cepat dipesan keburu habis, jadinya mereka tidak dapat jatah makan siang.
"Jadi gimana?" Sekembalinya, Nata membawa tiga mangkok batagor dalam satu nampan, baru saja berebut dengan Galuh tadi. "Ketemu nggak sama sosok misterius itu?" tanyanya kembali, lalu duduk di depan Anin.
Anin menegakan kepala, tidak nafsu makan dan tidak mau apa-apa. "Galuh mana?" heran Anin saat sepasang matanya tak menemukan keberadaan Galuh.
"Gue suruh pesen minum," balas Nata cekikikan. "Tadi pagi gue nggak berani nanya, muka lo pucet banget, ada masalah?"
Anin mengerucutkan bibir, ia kembali lesu seperti tadi. "Masalahnya berat, lo pasti kaget gue kasih tau," paparnya.
"Masalah apa emang?"
Nata mulai penasaran, tatapan matanya menuntut banyak jawaban, belum lagi lipatan-lipatan kecil yang memperkuat dugaan bahwa ia sangat penasaran.
"Kak Dante, dia cowok berengsek!"
"Ya elah! Kirain ada apa, lo nya aja yang salah nilai dia," tukasnya kemudian. Nata langsung menarik batagornya, melahapnya seperti bayi gorila yang kelaparan.
Berbeda dengan Nata yang melahap makanannya, Anin justru mengaduk-aduk makanan khas Bandung tersebut. Sampai ia berkata, "Kak Dante tadi nyium gue."
Uhuk! Uhuk!
Detik itu juga, Nata tersedak batagornya yang mendadak salah jalur, mana minum pesanan mereka belum datang, udah kepedasan pula. Nata seperti mau menangis, air mata berlinang di pelupuk matanya, ia terbatuk-batuk sambil memegang tenggorokannya, Anin jadi kasihan melihat sahabatnya ini.
"Makannya pelan-pelan, Nat," seru seseorang.
Nata menoleh buru-buru sebab tak asing lagi dengan suara cool itu. Benar saja, sudah ada Galuh yang berdiri tepat di belakangnya. Gadis itu bangkit lalu menyambar jus jeruk pesanannya, meneguknya sampai tersisa setengah gelas.
"Iya, Nata udah kebiasaan begitu." Tiba-tiba Anin berceletuk tanpa rasa bersalah, alhasil Nata marah dan menatap nyalang ke arahnya. "Gue kayak gini karena omongan lo barusan, Nin. Liat situasi, dong, kalo mau ngomong!"
Anin kaget dan ikut berdiri, muka Nata sudah memerah saking marahnya pada Anin. "Eh? Maaf, ya, gue nggak maksud bikin lo cepet mati, cuma tadi mau curhat aja, lagian ‘kan lo udah nanya kenapa."
Nata berdecak. "Temen k*****t lo emang!" Gadis berbando pink itu kembali duduk.
Galuh tersenyum di samping Nata. "Sini gue bersihin dulu, di sudut bibir lo ada sisa kuah batagornya," ucap Galuh, lalu menyambar tisu yang sudah disediakan di atas meja, membersihkan sudut bibir Nata telaten, kemudian mereka saling tatap dengan wajah datar, seolah biasa-biasa saja.
Bikin bete aja, sih, mereka, gerutu Anin sebal melihat keduanya. Tidak mau melewatkan pertunjukan Galuh, mata Anin tetap memperhatikan perlakuan Galuh kepada Nata. Seperti kekasihnya, padahal mereka cuma sahabatan. Oh, ya, Tuhan! Anin kepanasan sendiri melihatnya.
"Selesai," ujar Galuh, kemudian duduk di samping Nata.
"Makasih!" ketus Nata, matanya menatap tajam Anin. "Lo harus tau Kak Dante itu orangnya kayak gimana, jangan asal ceplos doang."
"Nggak peduli gue, dia udah bikin gue menderita dan dihina banyak orang. Gue benci sama dia," balas Anin, masih betah berdiri dan kekeuh pada pendapatnya mengenai Dante.
"Lo harus tau, Dante itu mantan ketua OSIS di sini, juara kelas dan kesayangan para guru. Kalau lo sempet macam-macam sama dia, penggemarnya siap sedia buat mendepak lo dari sekolah ini. Gue denger akhir-akhir ini dia berubah, kayak lagi memperlihatkan wujud aslinya gitu. "Suara meneduhkan Galuh mengalihkan setiap perhatian, tak terkecuali perhatian Anin. Kalau Nata, memilih sibuk melanjutkan makan batagor, karena cewek bertubuh langsing ini doyan makan.
Kening Anin mengerut bingung. "Berubah gimana? Gue liat dia tetep berengsek, tadi pagi aja dia udah—"
"Dia suka bolos sekarang, melanggar aturan, kayak yang lo bilang, dia berengsek! Pokoknya udah berbanding terbalik sama sikapnya yang dulu."
Sebelum Anin benar-benar menyelesaikan perkataannya, Nata segera menyambar agar masalah mengenai Dante yang mencium Anin tetap menjadi rahasia mereka berdua. Kalau Galuh tahu dan beberapa anak di kantin mendengar, Nata jamin besoknya Anin tidak bisa lagi hidup tenang di sini.
Mendengar nama Dante saja sudah membuat Anin bergidik ngeri, apalagi kalau sampai ia berpapasan dengan lelaki itu, bisa pingsan mendadak dia.
"Terus urusannya sama gue apa, Nat?"
"Dia suka sama lo!"
"Hah?!" Kali ini mulut Anin menganga lebar, tak lupa beberapa perhatian tertuju padanya. "Lo gila, ya, atas dasar apa lo bilang gitu, ogah gue! Mendingan gue sama Rega, lah!"
***
Di sudut kantin ada Ziva yang sedang merengek kepada Dante agar lelaki itu mau pulang bersamanya sepulang sekolah nanti. Si lelaki nampak tak peduli dan tak mau ambil pusing, sementara matanya jelas menyisir tempat lain. Tatapan matanya jatuh pada Anin yang tampak sedang berdebat dengan Nata dan Galuh.
"Udah lah, Bro, nggak usah diliatin terus, samperin aja langsung," celetuk Eros, sahabat sekaligus teman sebangku Dante.
Dante cuma tersenyum menanggapi celetukan sahabatnya, tetapi ada lagi yang meledek, namanya Bonar. "Lama-lama kau liatin nanti manisnya berkurang, sudahlah kau temui saja dia!" kata laki-laki berambut keriting itu dengan logat Medan yang kental. Bonar perokok aktif, jangan heran kalau di mana ada dia pasti ada bau rokok yang menyengat. Kadang-kadang, dia juga memakai bahasa gaul seperti teman-temannya.
"Banyak omong lo bangke!" Tiba-tiba Ziva menyambar, melirik Bonar dan Eros tidak suka. "Bacot lagi gue cemplungin lubang buaya lo berdua!"
Bonar terkekeh, lain dengan Eros yang langsung menciut. Wajar saja Eros si cungkring takut sama Ziva, secara Eros cuma orang biasa tanpa kuasa. "Kau macam tak paham Dante, kau pun tak sadar diri rupanya! Kau ini bukan seleranya, mendingan kau pulang sama aku nanti," tukas Bonar lagi. Cowok bertubuh besar ini paling senang meledek Ziva, dia juga berharap suatu saat akan meluluhkan ratu kegelapan itu.
Ziva memasang muka orang yang mau muntah, persis seperti ibu-ibu hamil pas lagi mual. Iya, cewek itu urat malunya memang sudah putus sejak lama. Jangan heran kalau sikapnya kadang-kadang seperti orang gila, atau seperti simpanse kalau lagi ngamuk.
"Pulang sama cowok jelek, ngapain?!"
"Nggak sadar diri kali kau, kau cantik juga karena duit, paham kau!"
"Bodo amat! Dari pada elo, udah kaya, muka udah dipermak, tetep aja jelek!"
"Alamak! Kalah aku debat sama dia," gumam Bonar kemudian, berbicara pada Eros yang enggan ikut campur.
Tidak peduli dengan dua manusia kantong kresek di depannya, mendadak Ziva mengait lengan Dante, cowok itu pun tersentak. "Berisik banget lo dari tadi, bikin gue nggak selera makan!" marahnya pada cewek itu, semburat tawa pun pecah seketika, siapa lagi kalau bukan Bonar yang terpingkal-pingkal.
Dante benar-benar tidak suka ada yang mengganggu ketenangannya, apalagi si Ziva ini, kemana dia pergi cewek setengah laki-laki itu selalu saja membuntuti. Kalau bukan dia, kadang mata-matanya. Sial memang kalau sudah terlanjur mengenal Ziva, hal tersebut kadang jadi penyesalan bagi Dante. Tapi nasi sudah terlanjur jadi bubur, nggak bisa lagi jadi padi, eh, jadi nasi.
Dante berdiri, Ziva ikut-ikutan berdiri. Melihat hal itu, Dante melepas paksa genggaman Ziva di lengannya, kemudian berlalu pergi dengan raut kesal yang sudah siap dimuntahkan, kalau-kalau si cewek bad itu mencoba menghentikannya.
Setelah itu Ziva diledeki Bonar habis-habisan, sampai cewek bengal itu kelewat emosi dan berlalu dari kantin, melihat itu Eros dan Bonar langsung bersyukur dalam hati. Kalau Ziva tak kunjung pergi, kantin ini bisa-bisa jadi tempat pelampiasan kemarahan Ziva dan kawan-kawannya.
"Hai! Boleh gabung?"
"Kalo dijawab enggak pun, Kakak akan tetep maksa, kan!"
Setibanya Dante di meja Anin dan teman-temannya, cowok berparas cool tapi menarik itu langsung mengambil posisi duduk di sisi kanan Anin. Sontak saja, aksi nekat Dante dihujani perkataan ketus dari Anin.
Kekehan Dante memelan, "Galak amat, belum pernah jatuh cinta sama gue, ya?" katanya tidak nyambung, Nata dan Galuh sudah mengambil ancang-ancang buat kabur.
"Idih, nggak mau! Dan nggak akan pernah!" sinis Anin lagi.
Cowok berkulit putih itu mengangguk paham, seraya menarik sudut bibirnya ke bawah. "Kalo hati lo bilang iya?"
"Gue tetep nggak mau, jangan maksa dong!"
"Gue suka sama lo, hari ini, tiga hari kedepan, tiga puluh tahun kemudian, ratusan tahun, ribuan tahun dan selamanya!"
Oh, sial! Masalah apalagi ini? Dalam hati Anin terheran-heran.
Senior yang satu ini memang nekat sekali, seolah punya belasan nyawa di sini. Bukan masalah kata-kata Dante yang membuat Anin mengambang di udara, masalahnya karena Dante mengeraskan suaranya dan membuat beberapa siswi di kantin memandang mereka sambil bergosip di tempat. Menatap Anin sebelah mata.
Di tempatnya duduk, Anin terpaksa mematung menatap batagor yang belum ia sentuh. Anin sangat tidak nyaman Dante duduk di sebelahnya, sebab merasa beberapa orang mengintai kebersamaan mereka.
Aduh, gue ninggalin Rega tadi di kelas, ringis Anin dalam hati. Coba aja tadi gue nggak ikutan Nata yang barusan kabur, nggak bakal kayak gini ceritanya. Haduh, siaga satu ini mah.
Anin bangkit, matanya tidak mau melihat Dante. "Gue balik ke kelas, jangan ngikutin!"
Dante memilih untuk bangkit, menyusul kepergian Anin.
Merasa ada yang mengikuti, cewek itu menoleh ke belakang. "Udah dibilang jangan ngikutin, batu banget, sih?" sebalnya.
"Kalau gue jadi bayangan lo, nggak masalah, dong?"
"Terserah! Kalau nanti gue nyakitin lo, jangan ngadu sama semesta, ya. Gue nggak mau dimusuhin lagi." Melihat Dante yang tidak seposesif tadi pagi, Anin jadi luluh sendiri.
Mendengar Anin menjawab ucapannya dengan nada lembut, Dante tersenyum lebar. "Gue janji! Gue akan minta supaya semesta bikin lo bahagia, pastinya bahagia lo sama gue, kan?"
"Pede lo tinggi banget, Kak!"
"Tapi lo suka, kan?"
Anin membalikan badannya, lalu melangkah kembali seperti biasa, suasana kantin sudah dipenuhi bisik-bisik nyaring yang menusuk telinga, berlama-lama di sana tidak baik untuk kesehatan jiwa. Jadi Anin memilih pergi, namun sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu, mata Anin menemukan sosok Rega.
Si cowok bambu yang mampu meluluhkan hati Anin sejak pertemuan pertama mereka. Anin senang Rega menginjakan kaki di kantin, ini perdana, loh. Saking senangnya Anin bahkan sudah merentangkan tangan mau memeluk Rega, tapi sayang cowok itu malah melewatinya dan berdiri kokoh seperti tembok di hadapan Dante.
Bugh!
Tanpa banyak gaya dan basa-basi, Rega melayangkan pukulan ke wajah Dante. Tepat mengenai sudut bibirnya, membuat kakak kelas itu terpental saking kuatnya pukulan Rega.
"Rega, lo kenapa, sih, kenapa mukulin Kak Dante?" Anin buru-buru menarik Rega untuk mundur, kantin mendadak riuh seketika, seperti pasar malam.
Setelah lama memandangi Dante dalam kemarahan, akhirnya Rega melirik nyalang Anin. "Ngapain lo sama Dante di post satpam tadi pagi?" tanyanya curiga.
Mata Anin melotot, kaget Rega mengetahuinya.
Setelah menepis lukanya, Dante kembali bangkit. "Gue yang salah, bukan Anin. Urusan lo sama gue!"
"ENGGAK!"
Anin membentak keras di tempatnya, sekaligus ketakutan juga.
"Nggak ada yang boleh berantem di sini," ujar Anin memperingati, menatap Dante dan Rega bergantian.
Kepala Rega memanas kembali, amarah menjalar seperti api. "Dia ngecup pipi lo, kan?" ujarnya lembut, berharap hanya ia berdua yang dapat mendengar. Mata Rega telah menyapu penjuru kantin, setiap tatapan kini jatuh padanya.
Anin semakin kaku di pijakannya, batinnya benar-benar tidak tenang. Karena itulah ia berdiam diri.
Dante berusaha menjelaskan. "Ga, gue cuma—"
"Jangan ikut campur lo, b*****t!" pekik Rega emosi. "Lo yang bikin dia kayak gini!"
Sungguh, hati Anin bergetar hebat saking takutnya melihat kemarahan Rega. Jika tahu begini lebih baik ia mengajak Nata bersamanya. Anin menyesal, setetes air jatuh di pipinya.
"Lo apaan, sih, Ga? Udah, jangan nyari masalah!" Anin dilanda rasa takut setengah mampus. Takut dua lelaki itu ribut dan memperkeruh suasana.
"Dia ngerendahin diri lo sebagai perempuan, gue nggak terima dia ngelakuin hal itu sama lo!"
"Rega, itu bukan masalah besar yang harus diperpanjang!"
"Gimana kalo suatu saat dia mengecup ini." Rega menyentuh bibir Anin dengan telunjuknya, membuat gadis itu bungkam seribu bahasa. Mata mereka bertemu dalam makna yang berbeda. "Gimana kalo suatu saat dia ngelakuin kejadian yang sama? Kejadian di mana lo hampir jadi milik dia seutuhnya, Nin?"
Masih dalam aksi bungkamnya, Anin mencerna setiap kalimat Rega. "Gue nggak mau kehilangan lo! Udah cukup gue dikutuk sama langit dan bumi karena nggak becus jadi pacar Tania."
Rega melunak. "Gue nggak mau lo diambil sama orang lain, apalagi sama dia!"
Rega menunjuk Dante yang masih berdiam diri di tempatnya, mengumpulkan tenaga untuk unjuk keberanian di lapangan.
"Lo nantangin? Ayo! Gue tunggu di lapangan!"