BAB 5

1764 Kata
PEMBATAS DAN MASA DEPAN   "Butuh nggak butuh gue akan tetap ada di samping lo, menjadi pembatas antara lo sama Rega." —Dante Abraham—   ***   Paginya, Rega terbangun di kamar Farel, tepat di samping kebo setengah badak itu. Matanya melirik langit-langit kamar, kemudian melempar tatapan pada jam yang menempel di dinding. Pukul 06.00 pagi ia terbangun dari tidur nyenyaknya hanya karena memikirkan Anin. Sebelum bangkit, Rega merintih kesakitan sambil mengerang memegang kepalanya, luka di dahi itu membuatnya pusing. Tanpa diminta, kejadian malam itu berputar-putar di kepalanya, kejadian yang menyebabkan Rega terluka dan bergelimang tanah kuburan. Sebenarnya perkataan mengenai dirinya yang bertemu dengan Tama itu bohong, alasan itu Rega gunakan hanya untuk menemui Anin. Rasa rindu yang hampir membunuhnya membuat Rega nekat membahayakan diri. Malam itu hujan turun dengan derasnya, membuat Rega begitu merindukan dua sosok yang bergabung dalam diri Anin menjadi satu. Ayah dan juga kekasihnya di masa lalu. Untuk melepas rindu, Rega mengendarai motornya menuju rumah Anin. Sesampainya Rega di pekarangan rumah, ada Dante yang terlihat berteduh di teras. Karena marah, Rega langsung memakinya. "Woi, b*****t! Ngapain lo di sini?!" Dante terkejut, ia bangkit dari duduknya dan langsung mendapat bogeman mentah dari Rega. Cowok tinggi dan tampan itu terhuyung, nyaris tumbang. "Apa-apaan, sih, lo?!" marahnya kemudian. "Gue nggak suka lo di sini!" "Anin punya gue!" sentak Rega, memutuskan secara sepihak. Padahal banyak keraguan di hatinya, apalagi soal apakah ia mencintai Anin atau tidak, yang jelas ia benar-benar sedang berusaha. "Bagi lo Anin cuma pelarian," maki Dante tak kalah keras. "Jadi lo nggak punya hak untuk ngusir gue dari kehidupan dia." Di depan Dante, Rega tersenyum masam. "Hak apa yang lo maksud? Hak untuk ngehancurin masa depan dia? b******n tau, nggak, lo!" desis Rega semakin marah. Kejadian di mana Anin hampir kehilangan masa depannya membayangi pikiran Rega. Tidak terima Rega terus mengatainya, Dante balas memukul, kali ini Rega yang hilang keseimbangan, membuatnya mundur beberapa langkah. "Gue nggak seberengsek itu! Tutup mulut lo sebelum gue habisin lo di sini!" Ketika Rega mundur, Dante menarik kerah seragamnya, matanya menatap tajam wajah Rega, melayangkan pukulan untuk kedua kalinya. Merasakan hal yang sama, Rega bangkit kembali. Membalas pukulan Dante bertubi-tubi, begitu terus sampai keduanya lelah dan berhenti. Di bawah guyuran hujan, di depan rumah Anin. Rega dan Dante merebahkan tubuh karena kehabisan tenaga. "Lo nggak dapet izin dari jagat raya buat deketin peri gue!" Rega memekik kencang, melawan partikel hujan yang turun menghantam wajahnya, membuat dirinya tak bisa menatap gelapnya langit dengan jelas. Di sebelah Rega, Dante tersenyum miring, kemudian menoleh dengan muka babak belur, pun dengan Rega. "Kalo gitu, gue tantang lo balapan malam ini. Kita liat, semesta memihak gue, atau memihak Rega si pecundang," ujarnya penuh penekanan. Setelah mengucapkan itu, meski belum mendengar sahutan dari Rega, Dante kembali berucap. "Kalo gue menang, jangan pernah lagi menghalangi gue untuk masuk ke dunia Anin. Biarin gue ikut berjuang, karena Anin emang pantes diperjuangkan! Bukan cuma masa lalu yang harus lo kenang, masa depan juga harus lo kejar. Mulai hari ini kita bersaing untuk dapetin Anin!" Detik berikutnya Rega menoleh ke samping, tatapannya beradu dalam kemarahan dan kekesalan yang menyatu. "Lo bakalan nyesel saingan sama gue. Karena sejak dulu, gue yang ada di hati Anin. Bahkan tanpa perlu ditanya lagi!" katanya percaya diri. Dante semakin tertantang. Perlu kalian ingat, mereka seumuran, jadi Rega tidak mau memanggil Dante menggunakan embel-embel kakak atau abang. Dikarenakan dulu Rega mau sekelas dengan Renata, makanya dia telat masuk dan jadinya mereka seangkatan, walau kenyataannya terpaut usia satu tahun. "Jangan cuma ngomong doang, buktiin!" "Oke, lo jual gue beli!" Kedua pemuda itu langsung melesat menuju motor masing-masing, lalu melaju keluar dari pekarangan, saling membelah jalan, menghadang derasnya kekuatan hujan. Di jalanan, mereka saling selip-menyelip. Tidak peduli jalanan licin, kendaraan roda empat bergelimpangan, nyawa melayang atau yang lainnya. Yang ada di otak mereka hanya satu, kemenangan. Tanpa memikirkan risiko, kedua pemuda itu bertarung di jalanan. Gue nggak akan biarin Anin jatuh ke pelukan lo. Sekalipun gue nggak mencintai dia, gue nggak pengen Anin jadi milik cowok berengsek kayak lo! Tanpa sadar, Rega menambah kecepatan laju motornya, meninggalkan Dante di belakang. Tetapi sayang, kesialan sedang berpihak kepadanya. Rega tergelincir hingga jatuh ke jalan, kepalanya membentur batu sampai darah segar mengalir di wajahnya. Sial-sial-sial! Rega merutuki kebodohannya. Seharusnya ia lebih berhati-hati, tapi karena terlalu emosi ia tidak bisa berpikir dengan baik. Pikirannya juga dikacaukan oleh perkataan Dante yang tidak main-main. "Gue menang! Pertanda bahwa jagat raya memihak gue. Selanjutnya, lo hati-hati sama apa yang akan gue lakuin untuk dapetin Anin." "Gue nggak akan biarin lo ngerebut Anin, sialan! Lo menang cuma kebetulan, jangan besar kepala!" Dante  berhenti tepat di dekat Rega yang baru saja jatuh dari motornya. Dengan posisi yang masih bertengger di atas kendaraan roda dua itu, Dante meremehkan Rega dan tersenyum membanggakan kemenangannya. "Jaga Anin baik-baik, jangan sampe dia jatuh hati sama gue!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Dante berlalu meninggalkan Rega. Sambil memandang kepergian Dante, Rega mengepal kuat tangannya. "Hati Anin cuma buat gue, Anin ada untuk menyempurnakan hidup gue." Setelah itu Rega kembali menghampiri motornya, melaju kencang menuju tempat peristirahatan Tania. Setelah lama bermain-main dengan pikirannya dengan mengingat kejadian semalam, Rega bergegas keluar dari kamar, mencari sosok Anin. Tapi yang ia temukan hanya kunyuk kecil di tempat tidur serta gadis bernama Nata di meja makan, sedang sarapan. "Anin mana?" Rega duduk, kemudian meneguk segelas air putih. Nata menatap lelaki itu jijik. "Ih, jorok banget, sih, Ga. Cuci muka dulu sana," ujarnya, lalu menggigit sandwhich buatan Anin. Tanpa peduli, Rega menatap Nata intens. "Anin ke mana?" ulangnya lagi. Nata tergagap, ketakutan melihat cara Rega memandangnya. "A-engg itu, Anin udah berangkat. Anin nitip pesan, katanya lo jangan khawatir sama kondisi keluarga lo. Semalem Anin udah nelepon Renata, ngasih tau mereka kalau lo tidur di sini," jelasnya panjang lebar, sudah seperti guru sosiologi yang sedang menjabarkan peristiwa bersejarah. Selagi Rega terdiam menatap gelas di depannya, Nata memberanikan diri untuk kembali bersuara. "Tadi cowok yang namanya Wisnu ke sini, dia nganterin tas lo, di dalamnya ada seragam sama sepatu, terus—" "Di mana?" "Apanya?" Bibir tebal Rega berdecak kesal. "Tas gue di mana sekarang?" Di tempatnya Nata terkekeh pelan, malu sendiri. "Di kamar Farel, deket nakas." Tanpa mau berlama-lama mendengarkan kalimat panjang Nata, Rega berlari ke kamar Farel, meraih tasnya lalu memakai seragam putihnya. Sambil berjalan ke ruang tengah, lelaki jangkung itu memasang kancing bajunya. Sebelum Rega benar-benar meninggalkan rumah, Nata berteriak dari area meja makan, tepatnya berdekatan dengan dapur. "Regaaa, lo nggak mandi dulu? Astagaaa, jorok banget, sih!" "Gue minta tolong sama lo, bangunin kebo setengah badak itu dari mimpinya! Gue nggak mau dia nambah beban pikiran Anin." *** "Ya ampun! Gue lupa kalo jam segini gerbang belum buka." Sesampainya di depan gerbang sekolah, Anin menepuk pelan jidatnya, baru sadar kalau jam segini gerbang masih tutup. Dengan kata lain, kepagian berangkatnya. Tetapi untuk kali ini Anin bukan kepagian, dia memang sengaja berangkat pagi-pagi demi bertemu orang misterius yang selama ini memberikannya kotak dan surat misterius. Anin menggigit bibir bawahnya, memandang gerbang dengan bingung. "Terus gimana masuknya? Gagal, deh, ketemu orang misterius itu," serunya kemudian. Tak berselang lama, ia kembali berujar. "Gue panjat aja kali, ya, pagarnya?" Anin menimbang-nimbang dan menelaah bahaya apa yang akan menghadang nantinya. Sekian lama berpikir, akhirnya ia memutuskan. "Fix! Hari ini gue panjat gerbangnya," katanya bersemangat. Dengan langkah penuh percaya diri dan semangat yang semakin meningkat, Anin mendekati gerbang, perlahan kakinya ia pijakan pada titik yang bisa dijadikan sebagai tumpuan, tempat kakinya bisa berpijak dan menjaga keseimbangan tubuh. Perlahan tapi pasti, Anin semakin tinggi, hingga akhirnya ia meloncat turun dan sampai di area sekolah. Anin tersenyum bangga berhasil melewati gerbang yang menjulang cukup tinggi di hadapannya. "Akhirnya bisa masuk juga," ujar Anin lalu membelakangi gerbang, melangkahkan kaki menuju kelasnya. Belum sampai Anin menginjakkan kaki di koridor, seorang laki-laki mendadak muncul menghadang langkahnya, membekap mulut Anin tergesa-gesa lalu membawa gadis itu bersembunyi di post satpam. Dari dalam sana Anin melihat sosok Rega yang bermuka bantal celingak-celinguk mencari keberadaannya. Sambil membekap mulutnya, laki-laki itu menempelkan tubuh Anin ke dinding, pandangannya cukup mengintimidasi. Setelah Rega menjauh dari post, barulah Anin bisa bernapas lega. "Berengsek!" Sebuah tamparan gratis Anin layangkan pada pemuda itu. Matanya menyiratkan kemarahan yang tak pernah padam. "Maksud lo apa?!" teriak Anin keras. "Mentang-mentang lo senior di sini, lo pikir bisa berlaku seenaknya sama gue?" "Gue minta maaf!" ucap Dante, tampak menyesal. Dia lah Dante Abraham, salah satu sosok yang dibanggakan di sini. Anin bingung kenapa cowok perusak itu bisa di sekolah pagi-pagi begini, tapi ia tidak mau ambil pusing, kalau Anin bertanya bisa-bisa Dante semakin gencar mendekatinya. Padahal Dante tahu bahwa setiap kali ia menampakkan diri, kejadian buruk itu kembali terbesit di ingatan Anin. Tubuh Anin merosot turun, memalingkan wajahnya dari Dante dan terlihat sangat lesu. "Jangan muncul lagi, berapa kali harus gue bilang supaya lo ngerti, Kak?" Kali ini Anin mencoba bersikap baik, walau ia tidak tahu apa tujuan Dante membawa dirinya ke sini. "Gue nggak akan ngerti sebelum lo sadar bahwa Rega penyebab luka lo selama ini," papar Dante sambil berjongkok di sisi Anin. "Terus maksudnya lo nyuruh gue jauhin Rega?" Anin kembali menatap Dante sinis. "Gue udah cukup baik, ya, menghadapi orang yang nggak menghargai perempuan kayak lo," desis Anin. "Lo nggak bisa selalu mengandalkan Rega, lo juga butuh orang lain." Anin menegakkan kepala, menatap Dante nyalang. "Lo mau bilang kalo gue butuhin lo? Nggak akan pernah!" Sorot mata Anin menajam. "Bukan lo yang membutuhkan gue, tapi gue yang membutuhkan lo, Anindita Maheswari." Anin terdiam, merasa ada sesuatu yang janggal dari kalimatnya. Maknanya terkesan lain dan membuat Anin kehilangan kata-kata. Mengubah suasana panas seketika menjadi semakin panas. Gerah! "Gue butuh lo untuk bahagia. Lo adalah pusat dari segala kebahagiaan gue," jelas Dante menggebu. "Gue mau, lo ngasih gue kesempatan untuk bikin lo jatuh cinta sama gue." "Enggak!" sentak Anin, membuat harapan Dante pupus seketika. Begitulah Anin, hatinya memang sudah sepenuhnya diberikan kepada Rega. Tetapi bukan Dante namanya kalau kehabisan cara untuk memikat seorang gadis. Ia tak akan kalah dari Rega. Seraya memandangi gadis cantik di depannya, Dante tersenyum lebar. "Butuh nggak butuh gue akan tetep ada di samping lo, menjadi pembatas antara lo sama Rega," katanya penuh penekanan. Beberapa saat kemudian Dante menyambar pipi kanan Anin, memberi kecupan di sana tanpa izin dari sang pemilik. Anin bergeming, sorot matanya menyiratkan kekagetan. Kedua bahunya yang digenggam oleh Dante kaku seperti patung lilin, gadis itu terperanjat untuk kesekian kalinya oleh ulah Dante. "Selamat datang masa depan. Jangan selalu menoleh ke belakang, karena kalo keseringan, lo bisa lupa punya masa depan." Sambil mengucapkan kalimat menghipnotis itu, Dante mengusap puncak kepala Anin. Sementara Anin tak memperlihatkan banyak reaksi, tubuhnya membeku dengan wajah terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN