ABU-ABU SEBUAH KETIDAKPASTIAN
"Masa abu-abu. Sebuah masa, di mana ketidakpastian dijadikan manusia sebagai proses menuju kedewasaan."
- Anindita Maheswari –
***
Di kamar, Anin memandangi puluhan kotak berpita dengan berbagai ukuran serta seratus surat yang menyerupai burung dalam berbagai macam warna, pemberian sosok misterius. Ada warna merah, hijau, biru, kuning, merah muda dan oranye. Namun dalam dunia Anin, hanya ada dua warna yang mewakili hidupnya. Selain warna hitam yang mengundang ketakutan, ada warna abu-abu yang mengundang ketidakpastian dan kesedihan.
Anin mengulum senyum menatap puluhan kotak berpita yang tersusun rapi dalam lemari khusus di sudut kamar, sementara surat berbentuk burung itu ia gantung di dinding dekat jendela sebagai hiasan, supaya kamarnya terlihat lebih hidup dan berwarna.
"Sekarang gue ngerti kenapa masa-masa SMA identik sama warna abu-abu," gumamnya menyendu. "Karena di masa itu, keputusan yang kita ambil masih terlihat abu-abu, tidak jelas. Emosi kita juga masih abu-abu, salah sedikit langsung mengaum. Masa abu-abu. Sebuah masa di mana ketidakpastian dijadikan manusia sebagai proses menuju kedewasaan, patut dijadikan wadah pembelajaran."
"WOY! SERIUS AMAT HIDUP LO!"
"FAREL!"
Anin mengerucutkan bibir ketika adik satu-satunya itu mengagetkan dirinya. Tanpa rasa bersalah, pemuda 15 tahun itu langsung duduk di sebelahnya. Menatap Anin bingung, karena setiap malam Farel akan melihat kakaknya berkutat dengan buku harian berwarna abu-abu, sambil menatap ke sekeliling kamar, menyalurkan setiap rangkaian kata yang berhasil lahir dari kepalanya.
"Kak, di luar ada Kak Nata!"
"Beneran?"
"Menurut lo?"
"Nggak usah sok misterius, bikin pusing aja!"
Farel mengangguk yakin, pasalnya sebelum menemui Anin di kamar, ia sudah mempersilahkan Nata masuk dan menyuruh gadis itu menunggu di ruang tengah. Setelah Anin beranjak menuju ruang tengah, Farel segera melenggang menuju kamarnya.
Anin menghampiri Nata yang sedang berusaha menghangatkan tubuhnya. "Nat, lo kehujanan?" panik Anin melihat temannya basah kuyup. "Farel emang bener-bener, ya, jadi orang!"
Nata bangkit dari duduknya, menebar senyum ramah seperti biasanya. "Gapapa, udah nggak usah marah-marah!"
"Buruan ke kamar gue, lo bisa masuk angin kalo nggak ganti baju!" Buru-buru Anin menarik Nata menuju kamarnya, reaksi tubuh memang tak akan pernah bisa membohongi orang lain.
"Tapi, Nin, gue nggak bawa baju ganti," katanya pada Anin.
Anin mengibaskan tangannya setelah tiba di kamar. "Udah nggak usah lo pikirin! Baju gue banyak dibeliin Om Tama sebelum dia meninggal beberapa minggu yang lalu," ucap Anin tanpa sadar, membuat Nata yang mendengarnya kebingungan.
Wajah Nata yang tadinya bingung kini berubah penasaran, tetapi ia ragu untuk bertanya lebih jauh pada Anin. "Om Tama... siapa, Nin?"
Anin berjalan menuju lemari, mengeluarkan handuk putih yang masih baru serta beberapa pakaian untuk Nata, kemudian memberikannya pada gadis itu. "Papanya, Rega," jawab Anin, sedikit mampu menjawab rasa penasaran Nata. "Buruan ganti baju lo, nanti gue ceritain."
Nata mengangguk setuju, lalu berjalan menuju kamar mandi. Sepeninggalan Nata ke kamar mandi, Anin buru-buru melenggang menuju dapur, menyeduh cokelat panas untuk Nata. Setelah itu ia kembali lagi ke kamar, menemui Nata yang saat itu sedang mengeringkan rambutnya.
Anin menyodorkan gelas. "Diminum, Nat."
"Makasih, Nin. Maaf ngerepotin." Nata balas tersenyum.
"Anggap aja rumah sendiri, Nat."
Selagi matanya memandang kamar Anin, Nata menyeruput cokelat panas buatan Anin pelan-pelan, mencari kehangatan di balik pekatnya warna coklat yang terbentuk dalam gelas. Setelah itu, Nata duduk di tepi ranjang, diikuti oleh Anin yang juga melakukan hal yang sama dengan Nata.
Sebelum mulai bercerita, Anin menekankan perasaannya bahwa hujan kali ini tidak boleh mengundang air mata. Gadis itu menghela napas dalam-dalam, sebenarnya terlalu berisiko menceburkan diri ke ingatan masa lalu, tetapi demi menghilangkan rasa penasaran Nata, juga menghalau dugaan buruk tentangnya, karena itu Anin rela melakukannya. Hitung-hitung sebagai tanda bahwa ia sangat merindukan sosok Tama yang menjadi ayah kedua baginya, walau hanya beberapa minggu, kenangan itu cukup berkesan.
"Ritama Algatama, papa kandung Rega yang meninggal beberapa minggu yang lalu. Satu-satunya orang yang mau memberikan kecukupan untuk hidup gue yang berkekurangan." Anin menunduk, menatap cokelat panasnya. "Hanya karena satu harapan yang berusaha ia wujudkan, Om Tama rela memberikan apapun asal Rega bisa keluar dari masa lalunya."
Tiba-tiba Nata memotong kalimat Anin. "Maksudnya? Kok, gue nggak ngerti, ya?"
Anin menoleh, kemudian tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan air mata di balik pelupuk matanya. Malam ini, ia tidak boleh menangis, karena Anin yakin Rega akan datang menemuinya. Bahkan tiap kali hujan datang membasuh bumi, membasuh luka-luka dan mengakibatkan luka itu tak kunjung mengering. Tiap kali hujan datang, saat itu lah Rega akan menemui Anin, bagaimanapun caranya. Jadi tidak boleh ada kesedihan yang terlihat di wajah Anin.
Setelah beberapa detik memandangi wajah kebingungan Nata, Anin bangkit dari duduknya, menaruh gelas di nakas lalu berjalan menuju lemari buku. Sebuah map berhasil keluar dari benda kayu itu, kemudian Anin memberikannya pada Nata.
Anin tetap berdiri, menatap guyuran hujan dari jendela kamarnya. "Semuanya berawal dari surat perjanjian, Nat. Harusnya gue nggak menyetujui keputusan Om Tama saat itu, mungkin sekarang gue masih bisa liat Om Tama ketawa bareng sama Rega. Mungkin gue juga nggak akan ketemu sama Dante, cowok yang udah mengacaukan hidup gue."
Setelah membaca surat perjanjian itu, Nata mengangkat kepala, melihat Anin dari belakang. "Nin, ini namanya amanah dari Om Tama buat lo. Nggak perlu lo sesalin, mungkin waktu sedang berusaha menjawab pertanyaan lo selama ini. Apakah Rega bisa keluar dari masa lalunya, atau enggak sama sekali."
"Menurut lo gitu?"
"Kejadian ini bukan tanpa alasan, Nin."
Nata ikut bangkit, memilih berdiri di samping Anin sambil menyentuh pundak gadis itu. "Menurut gue, Om Tama mempercayakan Rega sama lo. Maksudnya, secara nggak langsung Om Tama mau lo mendampingi Rega, selamanya!"
Tak kuat lagi membendung air mata, pada akhirnya air bening itu membuat jalan setapak di kedua pipi Anin. Anin memutar tubuhnya menghadap Nata, menatap mata gadis itu sedih, kemudian memeluknya.
Perlahan terdengar isakan Anin. "Gue kehilangan banyak hal karena surat perjanjian ini, Nat. Banyak hal. Bukan cuma kehilangan ayah kedua buat gue, gue juga kehilangan harapan untuk merubah sikap Rega. Gue cuma beban buat Rega, harusnya gue nggak ketemu sama Rega waktu itu, seharusnya—"
"Aniiin, lo nggak salah," seru Nata kekeuh. Bergegas memotong ucapan Anin sebelum gadis itu semakin menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. "Lo harus inget satu hal. Om Tama mempercayakan Rega sama lo, dia nitipin Rega buat lo. Artinya, lo harus jaga dia, bantu dia keluar dari masa lalu."
"Untuk masalah perasaan, lo pasti tau bahwa seiring berjalannya waktu, perasaan itu akan berubah."
"Seperti perasaan gue yang perlahan menghilang buat dia," lirih Anin. Mendengar hal itu, Nata hanya bisa terdiam. Masalah yang dialami Anin terlalu rumit dan membuat otaknya berpikir keras.
"Jadi, gimana keputusan lo? Jangan ngerasa bersalah terus, lo nggak salah. Lo cuma orang yang dipilih Om Tama untuk membantu Rega keluar dari masa lalu. Meskipun pake surat perjanjian gini," jelas Nata lagi, berusaha menghibur Anin yang terlihat masih ragu.
"Mungkin." Anin mengangguk setelah melepas pelukannya.
"Jadi nggak, sih, kita buka kotak misterius itu? Keburu mati penasaran gue."
Melihat Nata seantusias itu, ada rasa keingintahuan kuat yang muncul dalam diri Anin, mendorong Anin untuk cepat-cepat membuka kotak pertama. Penasaran siapa orang baik selain Om Tama yang mau menyelamatkan hidup Anin yang bisa dibilang tidak berharga.
"Bukannya itu cara kedua?" sanggah Anin segera. Soalnya tadi pagi Nata bilang cara pertama agar bisa menemui orang misterius itu adalah datang ke sekolah sebelum pukul setengah tujuh.
Melihat reaksi Anin, Nata kemudian terkekeh. "Iya, sorry, gue lupa, Nin."
Selang beberapa detik setelah kekehan Nata menghilang, gedoran yang berasal dari pintu masuk mengagetkan keduanya, tak terkecuali Farel yang langsung ngacir ke kamar Anin.
Pemuda berkulit putih itu berdiri di pintu kamar, mukanya panik, khawatir kakaknya kenapa-napa. "Kak, lo gapapa?"
Nata dan Anin menggeleng serempak, mereka sama kagetnya seperti Farel.
Anin segera melangkah menghampiri adiknya, disusul oleh Nata di belakang. "Rel, buruan cek pintu depan!" suruhnya.
Farel mengangguk, "Oke. Nanti kalo misalnya itu maling, gue minta tolong pukul dia pake ini, ya."
Pemuda yang tingginya melebihi Anin menyodorkan dua buah tongkat baseball, membuat dua perempuan itu terperangah bingung.
"Mana ada maling lewat pintu depan, nggak usah ngadi-ngadi, deh, Rel!"
"Mau ke akhirat bareng-bareng? Ya udah, nggak usah pake ini."
Mendengar penolakan dari kakaknya, Farel membuang tongkat baseball itu ke sembarang tempat, kemudian membuang muka karena kesal. Nata dan Anin menatap Farel lekat, sampai akhirnya gedoran keras itu kembali terdengar. Kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya, disertai rintihan juga.
Malas berdebat dengan adiknya yang sok jagoan dan sok pintar itu, Anin memberanikan diri meluncur ke pintu depan. Nata memilih menonton tanpa mengekor lagi di belakang Anin, pun dengan Farel yang kembali memungut tongkat baseballnya.
Seperti di film-film horor, suasananya sangat menegangkan, perlahan Anin menarik knop pintu sampai terdengar decitan kecil, hingga akhirnya pintu itu terbuka lebar-lebar. Tepat saat itu tubuh seseorang jatuh ke pelukan Anin.
"Rega," lirih Anin ketakutan.
"Kok bisa?" heran Farel di belakang Anin yang sudah jatuh terduduk dengan posisi memeluk Rega di lantai. "Kak, dia kenapa?"
Melihat sebagian wajah Rega dilumuri darah, Farel ikutan panik. Ia segera berjongkok di samping Anin, memeriksa bagian kepala Rega yang mengeluarkan cairan merah. Setelah beberapa detik, Farel menemukannya, tepat di dahi sebelah kiri lelaki jangkung itu.
Rega merintih kesakitan, hingga kemudian berkata, "Gue barusan ketemu papa, Nin."
Anin mengernyitkan kening, seolah bertanya bagaimana bisa. Tapi ia memilih untuk tidak menanyakan hal tersebut.
"Di mana? Di mana lo ketemu Om Tama?"
"Makam," jawab Rega.
Kening Farel berkerut. Sakit jiwa, nih, cowok, batinnya berujar kasar.
Detik berikutnya Anin melihat pakaian Rega yang sudah bergelimang dengan tanah kuburan, cowok keras kepala itu juga basah kuyup karena diguyur hujan deras.
"Makam?" beo Anin, berikut dengan kerutan di keningnya. "Jam segini lo ke makam? Lo gila apa?!"
"Gue... gue minta ikut sama papa, tapi papa nggak ngijinin gue. Dia bilang gue harus di sini sama lo," papar Rega lagi, sekarang ia juga susah bernapas.
Tiba-tiba pergelangan tangan Farel digenggam oleh Nata. "Rel, temenin gue ambil minum buat Rega," ajaknya, dibalas anggukan oleh Farel setelah cowok itu sadar dari lamunannya.
Air mata kembali tumpah di pipi Anin, tidak tahu untuk yang ke berapa kali, mungkin sudah tidak terhitung lagi. Di pangkuan Anin, Rega memandang lekat wajahnya, sesekali tersenyum tipis merasakan lembutnya sentuhan tangan Anin di wajahnya.
"Terus ini kenapa?" tanya Anin ketika tangannya tak sengaja menyentuh luka di kepala Rega, ada goresan juga di beberapa wajah dan bagian tubuhnya. "Kenapa lo bisa terluka kayak gini?"
Rega menelan ludah, tenggorokannya mengering, perlahan ia memejamkan mata, kemudian menyentuh tangan Anin yang sedang menahan kepalanya. "Gue kepleset di makam, lo tau di luar hujan, jalanan licin," jelasnya.
"Jalanan di makam yang licin, atau arena balapan yang licin?!"
Nada suara Anin meninggi, membuat Rega tersenyum kemudian menarik tubuhnya dari pangkuan gadis itu.
"Minum dulu, Ga."
"Makasih."
Nata juga sama paniknya seperti Farel dan Anin, mungkin tak sepanik dua remaja itu, hanya saja Nata ikut terbawa suasana melihat suasana mengharukan ini.
Setelah meneguk habis air dalam gelas, berbekal napas yang masih setengah-setengah itu Rega kembali berucap. "Sebelum nyampe di makam, sempet terjadi kecelakaan kecil sama gue. Untungnya nggak terlalu parah, makanya gue bisa ke sini."
"Kenapa ke sini, bukannya ke rumah lo?"
"Karena lo adalah tempat gue berpulang, Nin."
"Bohong!" Anin menangis lagi, kali ini sambil membuang pandangan. "Lo pembohong, Ga. Lo jadiin semuanya abu-abu, lo bikin perasaan gue ke elo jadi abu-abu. Lo bohongin gue selama ini."
"Karena gue sedang berusaha."
Anin tersenyum miring. "Berusaha menjauhkan gue dari hidup lo?"
"Berusaha mencintai lo sekuat yang gue mampu!" Rega menyentuh kedua pundak Anin, menatap intens gadis di depannya. "Karena lo masa depan gue selanjutnya, yang harus gue perjuangkan. Bukan cuma modal omongan, tapi juga pembuktian."