Sesuai ucapan Andreas, hari Senin dia menjemput Meggly. Bahkan lelaki itu datang lebih pagi untuk antisipasi. Bisa saja Meggly memilih menghindar atau bahkan berangkat jauh lebih pagi. Namun, pagi ini Andreas dibuat heran saat Meggly justru menunggunya di apartemen. “Kok tumben?” Andreas bergumam. Meggly yang mendengar gumaman itu terkekeh pelan. Dia lalu berjalan keluar apartemen meninggalkan Gisel. “Jadi, kita berangkat bareng?” tanya Andreas sambil mengekori Meggly. “Gue nggak bisa nolak, kan?” Senyum Andreas mengembang. Jika, Meggly terus seperti ini, dia yakin tidak perlu waktu satu bulan untuk membuat gadis itu luluh. Andreas mempercepat langkah lalu menggenggam tangan Meggly erat. “Gue seneng kalau lo nerima gue kayak gini.” Tidak ada respons apapun dari Meggly. Dia ingin tahu

