Bab 5
"Kamu ingin mengusirku Bang?" tanya Giselle pada Suaminya.
"Ya, aku tak sudi mempunyai istri sepertimu yang main gila dengan temanku!"
"Enggak Bang, jangan usir aku. Aku tak punya apapun, bagaimana nanti aku menghidupi anak kita?" Giselle menangis dan memohon.
"Aku tak akan berubah pikiran!" ucap Niko.
"Ayo Bu, kembali ke dalam kamar." ucap Suster.
"Diam Suter, saya mau ngomong sama suami saya ganggu aja sih!" bentak Giselle pada Suster yang membantunya.
"Nik, lo gak usah gegabah. Maksud lo apa nuduh gue ada fair sama Giselle, gak mungkinlah. Jangan percaya sama perkataan Kayla!"
"Iya Bang, Kayla itu pembohong. Dia hanya ingin mengadu domba dan menghancurkan rumah tangga kita." Giselle menimpali, mereka berdua kompak menyudutkan diriku.
Aku tak habis pikir dengan manusia dua ini, sudah tertangkap basah. Masih banyak alasan untuk mengelak, dasar busuk!
"Aku percaya dengan Kayla, aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kamu begitu manja pada Dylan dan minta gendong segala, aku memperhatikan kalian sedari tadi. Justru Kayla korban kebiadaban kalian berdua, di mana perasaan kalian bertingkah mesra di depan Kayla, yaitu istri Dylan dan sahabatmu!"
"Bang, aku tidak seburuk yang kamu pikirkan!" Giselle masih berusaha mencari pembenaran.
"Aku tak akan menerimamu kembali untuk pulang ke rumah. Dan lo Dylan, pantas aja lo nyuruh gue untuk ngurus kerjaan di luar kota ternyata kalian ingin menikmati momen ini berdua, pantesan. Picik lo!" umpat Niko pada Dylan yang kini terpojok, semua orang di sekitar kami melihat perdebatan ini.
"Tapi bagaimana nasibku dan anak kita Bang, jika kamu menyuruhku pergi!" Giselle mulai terisak, aku muak melihat tangisan Giselle yang terasa di buat dan penuh kepalsuan.
"Anak kita? Kamu yakin itu anak kita!" Niko menatap Giselle dan menyunggingkan senyumnya.
"Itu anakmu Bang, aku sangat yakin!"
"Tapi aku tidak yakin!" sahut Niko yang membuat Giselle semakin mati kutu.
"Kamu tidak boleh melepas tanggung jawab begitu saja Bang!"
Niko mengabaikan Giselle, pria itu pergi dengan raut wajah yang kecewa.
***
Giselle menatapku tajam
"Puas kamu Kay! Kamu senangkan aku di tinggalkan oleh suamiku. Ini kan yang kamu mau!"
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu, apa kamu tidak sadar diri!" bentakku.
"Apa bukti jika aku selingkuh dengan Dylan, dia hanya membantuku itu saja."
"Apakah membantu harus dengan berpegang dan menggendongmu mesra, cihhhh murahan kamu Giselle! Kamu tidak sadar atau memang sengaja lupa jika tempat kamu menggelendot manja itu adalah suami orang!" dengkusku kesal melihat Giselle yang masih merasa benar.
"Jaga mulutmu Kay! Jangan lancang pada Giselle. Kamu tak pantas menghujatnya! Dasar istri tidak tahu diri dan pengadu." ujar Mas Dylan membela Giselle.
Giselle yang di bela oleh Mas Dylan tersenyum ke arahku.
"Kamu memang pantas Kay di sia-siakan, karena sifat sok penguasamu itu!" sahut Giselle menimpali.
"Dasar kamu wanita jalang!"
Plaaakkkkk....! "Sekali lagi kamu menyudutkan anak saya, kamu akan merasakan akibat yang lebih sakit dari ini!" tiba-tiba Mama datang, dan menampar Giselle. Aku sontak kaget mendengar ucapan Mama, ia tak pernah berkata sekasar itu sebelumnya. Mungkin Mama tidak tahan mendengar kata-kata buruk itu di lontarkan padaku.
"Bu Nilam, berani sekali ya menampar anak saya. Perbuatan Ibu itu sungguh memalukan!" ucap Bu Ratna, Mama dari Giselle.
"Lebih memalukan mana dengan wanita perebut suami orang! Dan kamu Dylan, kamu harus membayar mahal atas perlakuanmu pada Kayla. Saya tak akan membiarkan mu hidup bahagia setelah ini!" ujar Mama, kemudian menghampiriku.
"Ayo Kay kita ke kamar," Mbok Sar mendorong kursi rodaku.
***
Suster masuk ke dalam kamarku, untuk memberi obat
"Suster, kamu tahu kan pasien yang bernama Giselle itu. Dia datang ke sini tanggal berapa dan dengan siapa?" tanya Mama.
"Pasien Giselle itu datang pertama kali ke rumah sakit dengan lelaki yang tadi berdebat dengan Ibu,"
"Maksudnya Dylan?" ucap Mama.
"Iya Bu, dengan bapak Dylan itu. Mereka datang pada sore hari, bertiga dengan Ibu wanita itu. Saya kira awalnya mereka adalah suami istri, karena terlihat sangat dekat. Bahkan bapak Dylan itu menunggu dengan setia saat Bu Giselle operasi caesar. Dulu Bu Giselle juga memeriksa kandungan selalu dengan Bapak Dylan"
"Makasih Sus, infonya."
Suster itu mengangguk.
"Oiya Sus, satu lagi jika boleh tahu siapa yang membayar administrasi biaya persalinan Giselle?"
"Bapak Dylan juga Bu setahu saya, karena kemarin dia yang meminta dan membayar biaya operasi caesar dan kamar Vip, tapi belum di lunasi sepenuhnya."
"Oke, terima kasih karena sudah memberitahu,"
Suster itu berlalu keluar dari ruangan.
"Kay, kamu dengar. Bahkan dia membiayai biaya rumah sakit wanita itu!"
Jadi Mas Dylan seloyal itu pada Giselle, aku jadi teringat dengan gaya hidup Giselle yang selalu tampak mewah bahkan dia bisa mempunyai barang mahal, seperti milikku. Niko memang berkecukupan, tapi untuk gaya hidup semewah itu, aku tidak yakin itu uang dari Niko. Pasti Mas Dylan yang telah memberinya uang.
"Aku yakin Ma, pasti selama ini Mas Dylan juga telah banyak menghamburkan uang untuk Giselle. Pantas saja dia bisa bergaya bak sosialita!" ujarku.
"Tak usah di sesali Kay, Mama sudah minta Papamu memblokir semua kartu kredit Dylan. Dan semua fasilitas mewah yang ia terima akan di tarik kembali. Mama pastikan dia akan hidup menderita!"
***
"Kay! Kenapa kartu kreditku tak bisa di gunakan?" Mas Dylan masuk ke dalam ruangan dan menghampiriku, kebetulan Mama sedang di kamar mandi.
"Oiya, benarkah? Jadi kartu kreditmu sudah di blokir.."
"Pasti kamu kan yang meminta pada Papamu, untuk memblokir kartu kreditku! Cepat sekarang berikan kartu kreditmu," Mas Dylan dengan nada memaksa meminta kartu kredit punyaku.
"Tidak, aku tidak akan memberikan kartu kreditku! Jangan sentuh tasku. Pasti kamu ingin membayar biaya rumah sakit si jalan itu kan!"
"Sudah jangan banyak bicara!"
Mama menyahut tasku yang berada di atas nakas, dengan cepat.
"Kamu ingin mencuri uang Kayla, memalukan!"
"Ma, Kayla masih istriku, dia harus menuruti semua perkataanku!"
"Kayla tak akan menuruti perkataanmu, pergilah dan urus wanita selingkuhanmu itu."
"Mama kenapa menyudutkanku, kalian tak punya bukti. Bukankah kamu yang meminta Kay, sebelum tes DNA itu di lakukan kamu tak boleh menuduhku!" ucap Dylan kekeh.
"Aku tidak berkata seperti itu, lebih baik kita tak usah bertemu dulu hingga Tes DNA itu di lakukan. Pergi lah mas, pergi!" perintahku.
"Pergi kamu Dylan, Kayla tak ingin melihatmu!" Mama mendorong tubuh Mas Dylan untuk keluar.
"Aku akan tetap pulang ke rumah!" dan Mas Dylan berlalu.