Rencana Kayla

765 Kata
Rencana Kayla "Jadi Mas, tidak bisa membayar biaya rumah sakit ini!" Giselle bersungut kesal, mendengar kabar yang di bawa Dylan. Kartu kredit Dylan di blokir oleh Papa mertuanya, yaitu Pak Ferdinand. "Maaf ya, kamu bayar saja dulu menggunakan uangmu. Aku janji akan menggantinya setelah masuk kantor lagi," "Janji ya Mas, kamu harus mengganti uangku!" Giselle kembali bersungut. Bu Ratna memandang ke arah Dylan jengkel "Ibu beri kamu waktu dalam seminggu untuk mengganti uang Giselle. "Baik bu, tenang saja uang segitu gampang untukku!" sahut Dylan. "Kamu harus berani ngelawan Kayla dan Mamanya itu. Jangan jadi, suami yang lembek!" tukas Bu Ratna. "Pasti Bu, aku bukan suami yang takut istri kok!" Alicia terbangun dan menangis, dia adalah nama bayi Giselle. "Sini aku gendong," Dylan menawarkan diri untuk menggendong bayi mungil itu. Giselle menyerahkannya pada Dylan "Lihat betapa cantiknya dia sepertimu..." ucap Dylan, dan berhasil membuat Giselle tersenyum malu. *** Hari ini, Kayla sudah di izinkan pulang dari rumah sakit. Mama Nilam dan Mbok Sar, mempersiapkan kepulangan Kayla. Drrrrt... Pesan masuk pada ponsel Kayla, dari Giselle. [Sampai kapanpun aku tak sudi, jika anakku melakukan tes DNA dengan Dylan. Kamu jangan memaksaku Kay, kamu tak berhak sama sekali!] begitulah pesan dari Giselle. "Baiklah, jika kamu tidak mau melakukan tes DNA, aku akan melakukannya dengan cari diam dan rapi." gumam Kayla, terlebih dahulu dia harus meminta bantuan Niko. Kayla melihat story terbaru Giselle, ketika di putar ada video berdurasi 3 detik. Melihatkan Dylan hanya dari belakang sedang meniman bayi, dengan caption. "Anteng ya Nak, senangnya di gendong.." Cihhh maksudnya apa mengunggah story seperti ini, sengaja ingin membuatku sakit hati. Perasaanku pada Mas Dylan perlahan sudah luntur, namun aku hanya sedikit miris dan menatap Alvino yang tengah nyenyak dalam tidurnya. Dia belum pernah sama sekali, merasakan gendongan sang Papa. Batin Kayla lirih. Kayla memandang bayinya "Apa salah bayiku?" gumamnya. Namun Kayla dengan cepat menghembuskan nafas, dia merasa tidak boleh melow begini. Toh masih banyak yang menyayangi anaknya terutama keluarganya, yang selalu peduli dengan mereka. "Kenapa Kay? kamu tampak sedih memandang Alvin," "Tidak apa-apa Ma," "Jangan bohong, cerita lah!" Kayla menunjukkan status terbaru Giselle pada Mama. Raut wajah Mama Nilam berubah kesal, ia menyerahkan kembali ponsel itu dan menuju keluar. "Mama, mau kemana?" tanya Kayla, namun Mama Nilam tak menjawab. *** "Aku maksudmu mengunggah story seperti itu, dengan terang-terangan ingin menunjukkan dirimu pelakor!" ujar Nilam dan menjambak rambut Giselle. "Sakit Tante, lepaskan!" "Ma, jangan jambak Giselle," ujar Dylan yang masih menggendong bayi Alicia. "Kamu juga pria tidak tahu diri, apa yang kamu lakuan di sini.." kini Nilam sudah berada di pucuk emosinya tak tertahankan, melihat sakit yang Kayla rasakan. Nilam menghempaskan genggaman dengan kasar, Giselle memegang rambutnya itu. Ratna, mengambil bayi Alicia pada gendongan Dylan. Nilam menghampiri Dylan Plaaakkk.....! "Suami macam apa kamu, tega kamu menyakiti anak saya! Secepatnya lakukan tes DNA dan enyahlah dari kehidupan Kayla!" Nilam keluar dari ruangan itu, setidaknya dia bisa memberi pelajaran pada dua orang tak tahu malu itu. *** Pak Ferdinand bahagia melihat cucunya yang sangat menggemaskan, tengah tertidur pada box bayinya. "Apakah Dylan sudah pernah menggendong Alvin?" tanya Pak Ferdinand, pada Kayla yang tengah duduk menyadari di ranjang. Kayla menggeleng "Belum pernah Pa," "Aku juga tidak sudi jika cucu kita di gendong oleh pria itu. Jangan sampai dia menyentuh Alvin," ujar Nilam. "Kamu tenang saja Kay, ada Mama dan Papa di sini yang selalu menjagamu dan Alvin. Betul kata Mama jangan biarkan dia menyentuh Alvin, karena dia tak pantas menjadi Papa untuk cucuku," *** Dylan pulang kerumah, dia tahu jika kedatangan pasti akan di tentang oleh Kayla dan orangtuanya yang kini berada di rumah mereka. Karena itu Dylan sengaja pulang larut malam. "Kamu sudah pulang Mas?" ujar Kayla yang tengah duduk di sofa. Dylan menghidupkan lampu "Kamu belum tidur Kay," "Belum Mas, aku tidak bisa tidur, oia duduklah di sini kau membuat dua gelas kopi masih terasa hangat," Kayla mengajak Dylan untuk meminum kopi. Dylan mendekat dan duduk di samping Kayla. "Minumlah Mas," Kayla menyerahkan gelas kopi pada Dylan, ia pun menuruti permintaan Kayla. Dylan menyesap kopi itu. Mereka hanya saling terdiam. "Lebih baik kita tidur, sudah larut malam," "Ya aku mau ke kamar," Dylan beranjak dari duduknya dan berlalu ke kamar. Kayla sengaja memberikan kopi itu untuk Dylan, dengan begitu dia bisa membawa bekas gelas kopi yang di minum Dylan, untuk menjadi alat tes DNA menggunakan air liur Dylan yang membekas pada gelas itu. [Aku sudah mendapatkan air liur Dylan, sekarang giliranmu Nik, mendapatkan sample dari bayi itu.] Kayla mengirim pesan pada Niko. Niko membaca pesan Kayla [Oke, kini giliranku kelakuan rencana kita.] balas Niko pada Kayla, karena kini Giselle masih pulang kerumah nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN