Bab 7
Dylan Pergi
Pagi ini Dylan sarapan seorang diri, tak ada satupun yang ikut makan bersamanya. Namun ia tak peduli, karena ia tergesa dan tak sabar ingin bertemu Giselle. Dylan juga sudah punya janji untuk mengganti uang Giselle dan membelikannya sebuah kalung, setelah mengambil uang di perusahaan nanti.
***
Dylan berjalan memasuki gedung kantor, namun baru saja tiba di depan pintu masuk dirinya di hadang oleh Security.
"Bapak Dylan, di larang masuk!" ujarnya.
"Saya Boss di sini, lancang sekali kamu mencegah saya!" jawab Dylan emosi.
"Tapi ini sudah perintah, yang harus saya lakukan,"
"Siapa yang memberi kamu perintah, berani sekali! Minggir saya mau masuk!" Dylan mendorong security itu.
Dylan kemudian bergegas ke ruangan kerjanya, tapi di sana sudah ada Pak Ferdinand duduk di kursi kebesarannya selama menjadi Boss di perusahaan itu.
Dylan sontak kaget melihat Papa mertuanya, berada di situ.
"Papa, sejak kapan Papa di sini?" tanya Dylan ramah, semenjak kemarin dia memang menghindari untuk bertemu Pak Ferdinand, jujur memang dia amat takut dengan mertuanya itu. Ibaratkan, untuk membuat hidup Dylan hancur, bagi Pak Ferdinand sangat mudah. Ibaratkan tinggal menjetikan jari, semua selesai.
"Santai, kenapa kamu terkejut melihatku?" ujar Pak Ferdinand tersenyum.
"Emm.. Enggak kaget Pa, tumben Papa datang ke kantor?" jawab Dylan canggung.
"Mulai saat ini, kamu tidak usah datang ke Kantor lagi.."
"Maksud Papa?"
"Karena saya tidak butuh kamu lagi, untuk menghandle semua. Jadi semua selesai dan pergilah,"
"Tidak, Papa tidak bisa seenaknya membuangku seperti ini. Karena aku telah membuat Perusahaan ini semakin berkembang dan menguntungkan banyak,"
"Berkembang? Saya sudah cek laporan keuangan. Banyak sekali uang perusahaan yang kamu gunakan. Kamu telah merugikan saya!"
"Pasti laporan itu salah. Pa, pikirkan sekali lagi-"
"Tak ada yang perlu kamu jelaskan. Sudah cukup kamu merongrong harta saya!"
"Apa ini karena Kayla? Apa ini permintaan nya?"
"Saya tidak mau memberi pekerjaan pada orang yang sudah menyakiti putri saya, di tambah lagi kamu sudah menyeleweng! Kemana uang itu kamu gunakan, apakah kamu pakai untuk membiayai perempuan simpananmu itu?"
Pak Ferdinand bangkit dari duduknya, dan menghampiri Dylan.
Bugghhh.... Pak Ferdinand melayangkan bogem mentah pada Dylan, yang membuatnya terhuyung dan memegangi rahangnya yang terasa sakit.
Walaupun usia Pak Ferdinand sudah memasuki 48 tahun, tapi fisiknya masih terlihat gagah dan tampan. Sungguh dia masih sangat mampu jika hanya memberi pelajaran pada Dylan.
Kini Pak Ferdinand mencengkram kerah kemeja Dylan, dan sekali lagi.
Bugghhhh....
Pinggir bibir Dylan berdarah, karena tapi tonjokan barusan.
"Jangan pernah macam-macam dengan keluarga saya, karena saya bisa menghancurkan hidupmu!"
"Aku akan laporkan Papa, karena telah melakukan kekerasan padaku!" ujar Dylan.
"Lakukan jika kamu bisa," ujar Pak Ferdinand tanpa takut sama sekali.
***
Dylan berjalan keluar ruangan sedikit terhuyung, dan merasakan pusing.
Ada empat bodyguar yang mengawalnya untuk segera pergi daru perusahaan itu.
Niko lewat dan menghampiri Dylan, dia tertawa mengejek.
"Enak lo, di hempas jadi gembel sama pak Ferdinand. Mampus! Ini belum seberapa," ujar Niko.
"Kurang ajar, berani lo ngejek gue!"
"Kenapa gue takut, lo juga bukan boss di sini lagi!" Niko berlalu, tangan Dylan mengepal mendengar ejekan Niko barusan.
***
Dylan menghampiri mobilnya, namun di hadang oleh bodyguard dengan badan tinggi dan gagah itu.
"Minggir, gue mau masuk!" bentak Dylan.
"Perintah pak Ferdinand, semua fasilitas yang anda nikmati sekarang akan di ambil, termasuk mobil ini!" ujar bodyguard yang bernama Glen.
Dylan berusaha memberontak, namun ke empat bodyguard itu tak sepadan dengan tenaga Dylan yang seorang diri.
Akhirnya Dylan menyerah dan pulang menggunakan taxi yang di oder, secara online.
***
Saat dia sampai di depan rumah, pemandangan yang sangat aneh Dylan dapati. Rumah di penuhi enam pengawal, mereka berjaga di depan.
Saat Dylan akan memasuki halaman rumah, seorang bodyguard menghampiri dan membuang sebuah tas tepat di hadapan Dylan.
"Anda tidak boleh masuk, itu tas Anda yang berisi baju!" ujar bodyguard itu.
"Siapa yang menyuruh melakukan ini..!" bentak Dylan.
"Ini sesuai dengan perintah Bu Nilam, anda tidak boleh menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Begitulah perintahnya!"
"Izinin gue masuk, gue harus bicara pada Kayla."
"Tidak boleh, silahkan pergi dan bawa tas itu!"
"Kay, Kayla keluar. Kenapa kamu mengusirku, ini rumahku juga Kay. Kita menempatinya selama kita menikah!"
Namun tak ada satupun, Nilam ataupun Kayla yang keluar.
"Silahkan pergi!"
Dylan meremas rambutnya frustasi, dia memungut tas itu dan pergi.
"Tunggu aku kembali, aku harus kembali.." gumam Dylan.
Sementara Kayla dan Nilam menatap kepergian Dylan dari sebuah jendela, pada kamar lantai dua.
"Lihat Kayla, itulah hukuman yang sepadan untuk suamimu. Jika dia berani berkhianat!" ujar Nilam.
"Iya Ma, karena aku sudah tak sanggup melihatnya di sini lagi," sahut Kayla.
Dia sudah merasa ikhlas, dan yakin untuk bercerai dengan suami penghianat itu.