Sayang Alicia

979 Kata
Bab 9 Tanpa menghiraukan Giselle, Niko terus berlalu. Giselle mempunyai rencana dia mendorong Niko dengan sekuat tenaga dan membuat pria itu terjatuh, sertifikat itu terlepas dari tangannya. Namun saat Giselle ingin memungutnya, Niko mencengkram tangan Giselle dengan erat. "Lepaskan Bang tanganku, sakit!" "Jangan pernah berbuat licik lagi, aku akan menyerahkannya pada Kayla!" ujar Niko, dan masih mencengkram tangan Giselle. Giselle meronta berusaha melepaskan cengkraman Niko yang begitu kuat. "Aku tidak mau kamu memberikan itu kembali, pada Kayla!" Giselle berusaha mempertahankan. "Jadi kamu mau masuk penjara, itu sama saja pencurian! Kembalikan, aku ingin memberikannya pada Kayla!" Niko bangkit dan berhasil merebut paksa sertifikat yang sebelumnya, sudah berhasil di rebut oleh Giselle. "Kenapa kamu ikut campur urusanku Mas!" bentak Giselle. "Ini sudah kewajibanku, agar tidak ada lagi yang tersakiti oleh perbuatanmu dan Dylan. Sejak kapan kalian berselingkuh?" tanya Niko dan menyudutkan tubuh Giselle pada tembok. Kini mereka saling berhadapan, nafas Giselle tersengal karena pertanyaan menohok yang Dylan lontarkan barusan. "Aku tidak berselingkuh dengan Dylan!" bantah Giselle. "Munafik! Kelakuan kalian berdua sudah sangat cukup menjelaskan apa yang kalian lakukan selama ini. Tak usah mengelak lagi!" Desis Niko. "Kami hanya berteman itu saja!" "Ini sertifikat kenapa di berikan padamu jika hanya berteman!" sentak Niko, yang membuat Giselle terkejut. "Muak aku padamu, menjijikan!" umpat Niko pada Giselle. "Kenapa kamu selalu membela Kayla, apakah jangan-jangan kamu yang bermain gila dengannya. Kalian saling membantu, apa ada hubungan di balik itu?" tandas Giselle. "Jadi kamu ingin membalikkan fakta, bukankah itu yang kamu lakukan dengan Dylan. Bahkan saling bermesraan di tempat umum, Munafik!" Niko pun berlalu pergi. Giselle hanya diam, tanpa berniat ingin menjawab Niko kembali. Dia selalu saja di skakmat oleh Niko, jika berbicara. *** Bayi Alicia menangis di dalam box bayinya. Giselle menghampiri bayinya, ia memutar bola mata malas saat melihat bayi itu menangis. "Hiss... Diem! Berisik tahu gak," teriak Giselle pada bayinya. Bayi itu semakin menjerit kencang, Giselle sama sekali tak berniat menggendong Alicia. Bahkan dia tak bergeming atau kasihan pada bayi mungil itu. "Diam gak..!" bentak Giselle dan pergi keluar kamar meninggalkan Alicia yang masih menangis kencang. "Sel, itu anakmu menangis, kenapa tidak di susui?" Bu Ratna, baru daja datang. "Males Ma, aku lagi banyak masalah! Tambah dia nangis mulu, makin pusing ni kepala!" tukas Giselle, dan duduk di sofa ruang tamu. Bu Ratna merasa kasihan pada cucunya, Giselle memang keterlaluan membiarkan bayi yang baru saja berusia 2 minggu itu, menangis begitu saja. Dia juga memompa Air ASI dan memilih membuangnya di banding di berikan pada Alicia. Dengan santai Giselle mengabaikan Alicia, dan menonton televisi sambil bermain dengan ponselnya. "Kamu kenapa cemberut gitu sambil nonton televisi?" suara itu mengejutkan Giselle, ternyata ia adalah Dylan. "Mas Dylan, datang kenapa tak mengabari terlebih dahulu," "Maaf, aku hanya ingin mengetahui kabarmu. Sudah 2 hari ini kita tak bertemu," ujar Dylan dan duduk di samping Giselle. "Kabarku tidak baik mas, Sertifikat rumah Kayla, sekarang ada pada Niko. Suami bodohku itu akan menyerahkan kembali pada Kayla!" gerutu Giselle. "Kamu juga tidak hati-hati. Bagaimana bisa, Niko tahu tentang sertifikat itu?" tanya Dylan. "Aku tadi sedang memegang sertifikat itu, dan Bang Niko, main serobot aja!" ungkap Giselle dengan raut wajah kesal. "Ahhh... Sial! Baru saja aku pun ingin mengambilnya. Sertifikat itu bisa kita gadaikan!" "Bagaimana nanti, jika Kayla melapor dengan tuduhan pencurian?" tanya Giselle. "Itu urusan belakangan, karena sekarang aku butuh duit!" "Kamu juga Mas, seharusnya bisa bertahan di rumah itu sampai bisa mendapatkan apa yang kita mau!" Giselle mendengkus kesal. "Aku belum puas, hal kemarin belum cukup membuat Kayla menderita!" gumam Giselle kembali. "Lantas aku harus berbuat apa!" Dylan kesal, di sudutkan oleh Giselle. Bu Ratna menghampiri mereka berdua, dan membawa Alicia. "Sel, susui dulu Alicia. Kasihan dia tak berhenti menangis..." ujar Bu Ratna, dan ingin menyerahkan Alicia pada Giselle. Dylan menatap tajam ke arah Giselle. "Sejak kapan kamu menyusui nya langsung?" ujar Dylan. "Enggak kok Mas, kamu salah paham..." "Mama, sana mendingan buatkan s**u formula untuk Alicia. Aku tidak ingin menyusuinya menggunakan payudaraku!" ujaf Giselle kembali, mulai semalam dia tak mau menyusui Alicia secara langsung. Dan beralih pada s**u formula. "Kenapa? Bukankah ASI mu lancar?" ucap Bu Ratna. "Bawel banget, sana buatkan s**u tabung saja!" perintah Dylan pada Bu Ratna. Bu Ratna menuruti perintah Dylan, dan pergi ke dapur bersama bayi Alicia, untuk membuat s**u. "Ingat, jangan pernah kamu menyusuinya. Nanti bisa rusak!" Dylan menatap ke arah Giselle. "Ya aku paham!" sahut Giselle. *** Niko yang semula ingin bertemu Kayla, terpaksa kembali. Karena ia melupakan sesuatu, untuk mengambil laptopnya. Karena setelah itu dia akan bertemu klien. Saat ingin masuk, Niko melihat sebuah motor sport terparkir di halaman rumahnya. "Pasti ada dia di dalam," gumam Niko. Saat ia masuk ke dalam rumah, Niko tak nampak Giselle. Suasana hening sekali, Niko memutuskan untuk ke kamar. Pikiran buruk berkecamuk di benaknya, apa yang sebenarnya mereka lakukan, batinnya. Ceklekk...! Pintu terbuka sedikit. Niko mengintip apa yang di lakukan Giselle dan Dylan. Mereka tampak sibuk, membuka sesuatu. Tampak hal yang sangat berharga dan penting. "Wow, milik siapa itu?" suara Niko membuat mereka berdua sontak kaget. Giselle menyembunyikan sesuatu di tangannya. "Perhiasan mencuri di mana?" tukas Niko. "Tentu saja ini milikku!" elak Giselle. "Aku tak menyangka, selama menikah 2 tahun ini baru tahu kebusukanmu. Kau wanita jahat!" Niko menarik paksa tangan Giselle dan mengambil perhiasan itu, dan setelah itu ia menarik Giselle dengan paksa untuk keluar dari rumah. "Pergi kamu sekarang juga!" pekik Niko. "Niko, jangan usir Giselle. Apa yang kamu lakukan!" Bu Ratna panik melihat keadaan yang terjadi. "Mama juga, jadi selama ini Mama juga mendukung putri Mama ini bermain gila dengan pria ini hahhh..!" "Mereka tidak berbuat hal macam-macam Nik, mereka hanya te-" sebelum Bu Ratna bicara, Niko sudah memotongnya terlebih dahulu. "Teman macam apa! Mama juga silahkan pergi bersama mereka!" perintah Niko dia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu dari dalam. "Bang, buka! Alicia masih di dalam Bang!" Giselle berharap Niko membuka pintu dan ia tak ingin pergi dari rumah itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN