Giselle menggedor rumah, percuma Niko tak menghiraukannya.
"Nik, buka ini istri lo jangan di buang gitu aja. Lo sama aja dengan Kayla suka bersikap semena-mena!" teriak Dylan, agar Niko membuka pintu.
Namun Niko tak bergeming, dia tetap tak membuka pintu untuk mereka.
"Kamu sih Mas, nekat datang kemari!" bentak Giselle.
"Bukankah sudah biasa aku datang kemari," sahut Dylan.
"Tapi ini beda, waktunya tidak tepat! Banyak barang berhargaku di dalam rumah ini, bagaimana aku mengambilnya jika dia sama sekali tak mengizinkanku masuk!" gerutu Giselle.
"Mama pusing dengan kalian, sekarang sama-sama terusir apa yang akan di pertahankan lagi. Kamu juga Dylan, kapan akan mengganti uang Giselle?" Bu Ratna mengungkit uang biaya rumah sakit Giselle.
"Bawel banget sih, aku juga udah banyak memberi untuk Giselle!" jawab Dylan sinis.
Bu Ratna yang sangat matrealistis, selalu saja membahas uang.
***
Niko menghampiri Alicia, bayi itu menangis. Dia mencoba menggendong Alicia dan menimangnya. Dalam batin Niko, dia sedih melihat bayi itu yang kini di pertanyaan status bapak biologisnya.
"Apakah kamu bukan anakku?" gumam Niko. Dia berdiri di hadapan kaca yang besar, Niko menatap dirinya yang begitu menyedihkan.
Dulu Niko, sangat sering di beri pekerjaan keluar kota oleh Dylan, untuk bertemu klien.
"Apakah di saat itu, kalian bermain serong di belakangku?" desis Niko, ketika membayangkan Giselle yang asik bersama Dylan, selama ia pergi.
Lamat-lamat Niko mengamati Alicia yang kembali tertidur dalam gendongannya, bayi itu tampak nyaman bersama Niko.
Niko merasa, jika Alicia ada kemiripan dengan Dylan. Bukankah anak perempuan lebih mirip dengan ayahnya? Atau dia saja yang merasa tersugesti dengan pemikirannya kini.
Rasanya hati Niko berat memberikan Alicia pada Giselle, dia merasa jika Giselle tak becus mengurus bayi ini. Secara hukum pun, Nama Niko lah yang tercantum pada Akta Alicia.
"Aku tidak peduli jika dia memang anak Dylan. Aku kasihan pada bayi ini, lebih baik aku merawatnya saja.." gumam Niko, dia berencana untuk menyewa jasa babysitter untuk mengurus Alicia kedepannya.
Dia merasa, jika Alicia tak baik tumbuh pada lingkungan toxic apalagi di antara Giselle dan Dylan seperti pasangan psycho.
***
Giselle berteriak, minta di bukakan pintu. Ia ingin mengambil kunci mobil dan barang lainnya. Namun, Niko tak acuh dia lebih memilih diam.
"Sudahlah, kita pergi saja dulu. Besok kita kembali," ujar Dylan.
Akhirnya Giselle menyerah dan pergi bersama Bu Ratna. Dylan pergu terlebih dahulu, menggunakan motor yang ia kendarai.
"Bu Giselle, nampaknya sedih ada apa?" tanya bu Ratih tetangga mereka, yang sedang berjalan bersama ibu-ibu lain di komplek itu.
"Saya di usir Bu, sama suami saya karena ia mempunyai wanita lain!" isak Giselle, memasang wajah memelas.
"Iya ibu-ibu, menantu saya kerjaannya selingkuh. Padahal Giselle baru saja melahirkan 2 minggu lalu.." timpal Bu Ratna, untuk mengundang simpati dan membenci Niko.
"Masa sih Pak Niko begitu?" sahut mbak Destia.
"Mbak Destia, udah jelas ini Bu Giselle lagi sedih di usir.
"Mungkin karena mbak Giselle yang selingkuh, saya sering melihat ada lelaki lain yang datang kerumah itu. Sampai saya hapal mobil pria itu!" jelas Mbak Destia. Kebetulan gebang rumah mereka tidak tinggi, dan rumah mbak Destia di hadapan rumah Niko. Dia sering mengintip di balik gorden rumahnya, saat Dylan datang mengunjungi Giselle.
"Mbak Destia, jangan fitnah saya!" bentak Giselle dan mengajak Bu Ratna cepat pergi dari situ.
Ibu-ibu komplek yang semula simpati pada Giselle, malah menjadi julid.
"Mbak Destia, emang bener ya?"
"Iya Bu Ibu, sayang sering lihat dari dalam rumah saya!"
"Mbak Destia ngintip ya!" sahut Bu Ratih.
"Habis saya sebel sama si Giselle itu, bawa laki-laki asing kerumahnya saat suaminya kerja. Mana gayanya sombong banget lagi sok kaya!" ujar Mbak Destia.
"Mungkin cari uang tambahan, jadi selingkuh!" ibu-ibu tadi malah bergosip ria tentang Giselle.
***
Niko masuk ke dalam ruangan Giselle, yang biasa ia gunakan untuk bermake-up dan menyimpan semua koleksi makeup, sepatu, dan tas brandednya.
"Apakah ini yang di berikan Dylan padamu?" desis Niko, karena ia sadar walaupun ia berkecukupan tapu Niko pasti tak bisa membelikan Giselle, tas dan sepatu yang berharga daru puluhan hingga ratusan juta ini.
Niko merogoh ponsel yang berada di dalam saku celananya, ia memotret tas dan sepatu Giselle satu persatu. Niko mempunyai niat untuk menjual barang branded itu di sebuah situs belanja online barang branded yang berstatus pre-loved.
Pria itu menyunggingkan senyumnya "Jika Giselle tahu, barang ini aku jual pasti dia akan menjerit dan pingsan!" Niko semakin terkekeh membayangkan reaksi Giselle nanti.
***
"Bu Kayla, ada yang ingin masuk bertemu Ibu.." ujar Glen.
"Siapa?" tanya Kayla.
"Seorang wanita, dia bilang jadi dia adalah nenek dari Alvino."
Kayla sontak bangkit dari duduknya, apakah itu Mama Marta, batinnya.
Kayla berjalan keluar rumah, tepat di depan teras sudah ada Mama Marta.
"Kay, Mama ke sini ingin melihat cucu Mama." Bu Marta berjalan saja tanpa menunggu jawaban Kayla.
"Mama tidak boleh bertemu Alvin!" ujar Kayla tegas.
Bu Marta berbalik "Kamu gak ada Hak ya Kay! Larang Mama bertemu cucu sendiri!" dengkusnya kesal.