Part 4

1031 Kata
Rudi Herlambang Tari sedang terbaring lemah di atas kasur ruang rawat inap Rumah Bersalin Tuti Astuti. Rumah bersalin yang cukup terkenal di daerahku. Fasilitas yang di sediakan cukup lengkap, namun harganya terjangkau. Membuat Rumah bersalin ini selalu penuh setiap harinya. Apalagi saat menjelang sore dan pagi hari, saat jadwal periksa kandungan. Dulu aku ingin mengajak Tari untuk periksa disini, namun Tari menolak lembut ajakanku. Tari mengira Rumah bersalin ini mahal, sama sepertiku pada awal mulanya. Maka saat tadi aku pulang kerja dan mendapati dan mendapati Tari sedang duduk di lantai teras rumah kontrakan kami dengan di kelilingi beberapa orang warga, aku menjadi sangat panik juga khawatir. Tak ada pilihan lain, selain membawanya ke rumah bersalin ini. Karena hanya ini jarak yang terdekat dengan rumah kami. Berbagai perasaan bergejolak di dalam d**a. Namun ku abaikan semua ke khawatiranku mengenai biaya, yang aku fikirkan saat ini hanyalah menyelamatkan Tari. Urusan uang bisa ku cari belakangan. Toh aku masih punya motor ini. Aku bisa menjualnya. Namun aku bisa bernafas lega, setelah tau biaya bersalin disini. Dengan uang yang aku sisihkan setiap hari selama hampir 5 bulan sudah lebih dari cukup untuk membayar biaya bersalin Tari. "Mas..." lirih suara Tari membuyarkan lamunanku. Cepat ku menoleh ke arahnya. "Sakit lagi sayang?" tanyaku penuh ke khawatiran. Dia hanya mengangguk lemah. Peluh membasahi dahinya, bahkan sekarang baju kaos milikku yang belakangan ini sering dipakainya tampak basah oleh keringat. "Maafkan mas ya, sayang" kataku lagi. Sambil ku usap punggungnya, cara untuk sedikit mengurangi rasa sakit di perutnya seperti yang tadi di perintahkan oleh assisten bidan. "Tidak mas. Tak usah shhh minta maaf" jawab Tari dengan senyum tersungging di bibirnya. Senyum terpaksa. Senyum dan ringisan yang menyatu. "Setelah sakitnya hilang, mas suapin makan ya?" bukan pertanyaan, namun lebih ke perintah. Lagi dia hanya mengangguk lemah. Ahhh sakit hati ini melihatnya tak berdaya. Ingin rasanya aku menggantikan posisinya. Jujur saja aku sangat tidak tega melihatnya. Kali ini ringisannya berubah isakan. Tak ada yang bisa ku lakukan selain mengusap punggungnya berulang kali. "Gimana? Udah enakan perutnya?" aku kembali bertanya, saat kerut wajah tangisan berangsur berubah. Dia mengangguk kecil. "Sekarang makan ya?" Tanpa menunggu jawaban darinya, ku ambil piring yang tersaji di atas nampan. "Ada sop, tahu goreng sama ayam goreng. Mas suapin yaa" 3 suapan berhasil di telan olehnya, meski nampak sekali dia susah payah. Entah karena tak suka atau tak selera karena rasa sakitnya. "Udah ahh mas..." "Lho koq udah? Baru 3 suap. Katanya sayang sama ade. Melahirkan itu butuh tenaga lebih lho. Kalau belum makan, nanti lemes" . . . . . . Lestari Andriani "Lho koq udah? Baru 3 suap. Katanya sayang sama ade. Melahirkan itu butuh tenaga lebih lho. Kalau belum makan, nanti lemes" Jawab mas Rudi ketika aku menolak untuk makan lagi. Bukan karena masakannya yang tak enak, tapi perutku yang mulai terasa sakit lagi. Namun dengan sekuat tenaga ku tahan rasa sakit itu. Aku tak ingin melihat wajah mas rudi yang berubah keruh dan pucat, setiap kali aku kontraksi. Dengan sangat terpaksa, kembali ku telan suapan demi suapan yang di berikan mas rudi padaku. Hingga isi dalam piring tandas tak bersisa. Wajah mas rudi terlihat gembira. Ku paksakan sebuah senyuman. Senyum paling berat yang harus ku lakukan. Bagaimana tidak, aku harus tersenyum saat kontraksi kembali terjadi. Sekitar pukul 3 dini hari, rasa sakit di bagian bawah perut dan juga mulas kembali datang. Kali ini bahkan lebih dahsyat lagi dari sebelumnya. Tak terasa bibir bawahku berdarah akibat aku menggigitnya untuk menyembunyikan rasa sakit itu. Terlalu sakit kali ini. Sungguh. "Sakit banget mas. Aku gak kuat" nafasku tersenggal. Mas rudi yang panik segera berlari ke luar ruangan. Tak berapa lama mas rudi kembali bersama bidan tuti dan mba ira. Kembali aku di perintah untuk melakukan hal yang saat pertama kali aku datang kesini. Hilang sudah rasa malu dalam diriku. Aku tak lagi segan atau sungkan saat membuka lebar pahaku dan membiarkan bidan melakukan tugasnya. Jika tadi saat bidan melakukan periksa dalam, aku merasa kesakitan. Kali ini tidak. Entah karena pembukaannya sudah lebih banyak, atau rasa sakit di periksa dalam seolah hilang karena ada rasa sakit yang lebih hebat. "Sudah bukaan 9 pak" Kata bidan tuti seraya menari kembali tangannya dari bawah sana. "Ira, tolong bantu pak rudi pindahkan bu Lestari ke ruang tindak ya" lanjutnya lagi sembari membuka sarung tangan karet dan membuangnya di to k s****h khusus medis. "Baik, bu" jawab mba ira. . . . . . Rudi Herlambang Tari memegang erat tanganku. Wajahnya penuh dengan peluh. Air mata menetes dari sudut matanya. "Bu Tari nanti jika kembali merasakan kontraksi ibu pegang kuat-kuat lututnya yaa, dengan posisi kepala terangkat. Tapi bo kong ibu harus tetap menempel di kasur. Bapak bisa bantu dari belakang. Bantu juga untuk memainkan p****g ibu tari ya pak. Memainkan p****g saat sedang melahirkan seperti ini dapat merangsang kontraksi kembali" panjang lebar mba ira menjelaskan apa saja yang harus aku lakukan. Aku hanya mengangguk. Saat ini bidan Tuti sudah siap dengan alat tempurnya. Sarung tangan plasti yang menutup sampai sikutnya, juga nampan stenless yang berisi gunting dengan berbagai bentuk, dan ahh entah apa lagi. Alat yang begitu asing baginya. "Gimana bu? Masih kontraksi?" tanya bidan tuti pada Tari yang di jawab dengan sebuah anggukan pelan. "Saya pecahkan dulu ya ketubannya" Lagi. Tari hanya mengangguk. Pasrah mungkin, atau terlalu lelah menahan rasa sakitnya. "Bu koq semakin sakit" tanya tari beberapa detik setelah keluar cairan berwarna bening dan sedikit ada noda darah. "Kalau sakit bagus, bu. Artinya ade bayinya sudah gak sabar mau liat papa mamanya. Tahan yaa sebentar. menunggu bukaannya lengkap. Saya dan mba ira sambil menyiapkan perlengkapan bayinya yaa" Sepeninggal ibu bidan juga assistennya, rasa mulas yang menderaku semakin menjadi. Hingga tanpa sadar aku menggigit pergelangan tangan mas Rudi yang sedang mengusap puncak kepalaku dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menopang berat tubuhnya di pinggiran kasur. Peluh semakin membanjiri tubuhku. "Mas, aku gak kuaaaattt" Teriakku dengan sisa tenaga yang ada. "Aku mau pup mas. Udah gak tahan" "Biar mas bantu" dengan cekatan mas Rudi membangunkanku dari tidur. Setelah tubuhku terduduk, mas rudi mulai menurunkan kakiku satu per satu hingga menggantung di ranjang. Belum sempat mas rudi mamangku tubuhku agar turun, suara bidan Tuti terdengar setengah teriak dari ambang pintu. "Lho, kenapa mba nya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN