Lestari Andriani
"Tarik nafas dalam-dalam yaa, bu. Tolong kakinya di rentangkan. Tidak apa-apa bu, rileks saja ya. Nah begitu bu" kata bidan Tuti memberi intruksi. Dan hepmh... Aku tersentak kaget. Ketika bidan Tuti memasukan tangannya ke dalam inti tubuhku. Mataku seketika saja terbelalak. "Posisinya sudah bagus. Kepala ade bayi nya sudah bisa terpegang" kata bidan tuti lagi.
"Mau melahirkan bu?" kata mas rudi dengan wajah yang berbaur antara bingung dan cemas.
"Iya pak. Sebentar lagi. Sekarang sudah bukaan ke 7. Nanti subuh sudah lahiran. Insya Allah" senyum kecil mengembang di sudut bibir bidan tuti. "Bapak sudah siapkan perlengkapannya?" tanya bidan itu lagi.
"Perlengkapan apa bu, maaf. Saya tidak mengerti" jawab suamiku yang masih menggenggam tangan kananku. Aku hanya bisa mendengar percakapan antara suamiku dan bidan tuti, tanpa ingin ikut bicara. Aku sudah terlalu kewalahan menahan rasa sakit yang menyerang perut bagian bawahku.
"Kain basahan buat darah 4 buah, kemeja untuk ibunya 2 buah, dalaman buat ibu, gurita, baju bayi, popok, kain pernel itu sebanyak-banyaknya ya pak"
"Iya bu, saya bawakan sekarang" jawab suamiku yang langsung pamit padaku lantas melesat pergi. Tinggalah aku berdua dengan bidan tuti di ruangan yang lumayan luas dengan dinding di cat putih bersih pada bagian atasnya, namun setengah dari dinding itu kebawah di lapisi keramik dengan warna senada.
"Ibu kalau sakit lagi, tarik nafas dalam-dalam melalui hidung dan buang dari mulut. Jangan berteriak ya bu. Ibu harus menyimpan banyak tenaga untuk melahirkan nanti" Bidan tuti menghampiriku yang masih meringis kesakitan. "Ibu sudah makan?" Tanya bidan Tuti lagi. Ku jawab dengan sebuah gelengan di kepala. "Sebentar saya siapkan makan untuk ibu ya" kembali bidan tuti berkata. Namun kali ini dia sambil berlalu pergi dari ruangan ini.
Hening suasana di ruangan ini, hingga aku dapat mendengar dengan jelas suara detik pada jam dinding. Waktunya sudah menunjukan pukul 01:05 dini hari. Sakit yang menyerang perut bagian bawahku kini durasinya semakin cepat. Yang awalnya 10 menit sekali, kini menjadi 5 menit sekali. Saat kontraksi itu datang, ku lakukan titah bidan tuti. Tarik nafas dari hidung lalu keluarkan dari mulut. Memang rasa sakit itu tidak hilang, namun sedikit berkurang.
"Selamat malam, bu" seorang wanita yang usianya sama denganku menghampiriku dengan sebuah map yang mirip dengan yang sering ku bawa ke sekolah dulu saat ujian. Senyum ramah menghiasi wajahnya. "Perkenalkan saya Ira. Saya yang akan membantu ibu" lanjutnya lagi. Ku paksakan sebuah senyuman tersungging di bibirku. Entahlah apa itu terlihat seperti sebuah senyuman, atau malah seperti meringis. "Bu, ijinkan saya untuk mengisi data ibu ya" lanjutnya lagi masih dengan senyum ramah. "Nama ibu?"
"Lestari Andriani... shhhh" saat ku sebutkan namaku, tiba-tiba kontraksi datang kembali. Aku meringis seraya meremas ujung kasur dengan kedua tanganku.
"Ibu kontraksi lagi yaa? Saya bantu miringkan tubuh ibu ke tembok ya bu, agar sakitnya sedikit berkurang"
Lagi. Aku hanya mengangguk pasrah. Mba Ira lantas mengusap pinggang bagian belakangku. Usapan yang sedikit agak di tekan. Membuat rasa sakit itu berangsur berkurang, lalu hilang.
"Gimana bu? Sudah mulai enakan?" tanyanya. Ku jawab dengan sebuah anggukan kecil. "Saya lanjut lagi ya bu. Nama suami?"
"Rudi Herlambang"
"Usia berapa bu?"
"24 tahun"
"Kelahiran pertama?"
"Iya"
"Ibu mau ambil ruang perawatan yang mana? Disini ada kelas 1, kelas 2, kelas 3 dan paket peduli. Perawatannya sama saja, hanya ruangannya yang berbeda. Dan obatnya untuk kelas 3 dan paket peduli menggunakan obat generic. Maaf bu, sebelumnya saya mau tanya suami ibu bekerja dimana?"
"Di distributor mba"
"Oh baik, jadi ibu mau ambil yang mana?"
"Paket peduli itu gimana mba?"
"Paket peduli adalah bentuk kepedulian kita kepada pasien dengan maaf, ekonomi menengah ke bawah. Biayanya 600 ribu rupiah. Menginap 1 malam. Untuk kelas 3 biayanya 1 juta rupiah. Menginap 1 malam. Untuk yang kelas 2..."
"Saya ambil kelas 3 saja mbak" Jawabku memotong kalimat mba Ira. Bukan dia bermaksud untuk berlaku tidak sopan, namun sudah di pastikan biaya perawatan kelas 1 dan 2 di luar batas kemampuannya. Apalagi di tambah kontraksi yang terus menyerangnya tanpa ampun. Peluh membasahi dahinya.
"Baik bu, saya siapkan kamarnya sebentar ya bu. Barangkali ibu mau memilih no bed nya?" Tanyaba Ira masih dengan suara lembut dan ramah.
"Gak usah mba. Dimana saja" jawabku sedikit kasar, karena masih berusaha menahan rasa sakit yang kembali menyerang. Aku menggeser tubuhku, mencari posisi yang paling nyaman, namun sebuah tangan menekan bagian pinggulku.
"Bu, panggul nya jangan di angkat ya. Nanti sobek. Ibu sud..." belum selesai kalimat yang mba ira katakan, suara seseorang masuk ke dalam ruangan ini membuat aku yang sekarang sudah dalam posisi terlentang menoleh bersamaan dengan mba Ira ke arah pintu.
"Malam bu, saya suaminya Tari" Kata mas heru. Kepalanya menyembul di balik pintu yang terbuka sedikit. Sepertinya mbak ira faham siapa tari yang di maksud mas bayu. mengingat Malam ini hanya ada satu pasien lain yang juga sedang menunggu kelahiran anak mereka.
"Mari pak masuk. Perkenalkan saya Ira, assisten bidan Tuti" Mbak Ira tersenyum ramah. Lantas mba Ira meminta mas Rudi memilih kamar kelas 3 yang nantinya akan aku pergunakan pasca melahirkan.
Setelah cukup lama menunggu, di kamar kelas 3 inilah sekarang aku berada. Ruangan yang lebih besar dari ruangan tindakan tadi, memiliki 4 kasur yang berjajar rapi. Masing-masing kasur di pisahkan oleh sebuah nakas sedang dengan pintu dan laci. Juga di pisah oleh tirai yang bisa di tutup dan di buka. Mas rudi memilih kasur paling pojok. Dekat dengan jendela menghadap keluar, dan kamar mandi. Ada 1 set sofa lengkap dengan mejanya di ruang ini. Jika kamar ini penuh, maka para pasien dan keluarga pasien harus berbagi sofa dengan pasien lain. Beruntung malam ini hanya ada 2 pasien saja. Seorang pasien lagi memilih ruang perawatan kelas 1. Aku tau, karena saat perjalanan ke kamar ini aku melewati kamarnya. Ruang yang lebih kecil dari yang ku tempati saat ini. Hanya bedanya disana ada 1 kasur saja, lengkap dengan 2 set sofa dan kulkas kecil di dalam nakas di bawah TV dengan ukuran 32' yang menempel sempurna di dinding kamar.
Setalah mengantar aku dan mas Rudi ke ruang inap, mba Ira pamit pergi. Dan tak berapa lama kembali ke ruang inapku dengan nampan yang berisi nasi dan serta lauk pauknya. Saat ini aku enggan untuk makan. Rasa sakit yang menyerangku menghilangkan selera makanku. Jadi nampan itu di biarkan saja di atas nakas.