Part 2

1008 Kata
Lestari Andriani Belakangan ini mas rudi begitu sibuk di kantornya. Hampir tiap hari dia pulang malam. Bahkan tak jarang dia harus mengisi hari liburnya dengan bekerja lembur. Setiap ku minta untuk tak terlalu sering lembur mas rudi hanya menjawab "Maafkan mas ya sayang. Mas harus lebih giat lagi bekerja untuk menghadapi persalinan kamu yang tinggal menghitung hari. Ini semua demi kita sayang" jawaban yang selalu sama kudengar. Mas Rudi memang hanyalah staf biasa. Bagian chekker gudang 1 dan 2. Seharusnya pekerjaannya rak terlalu berat jika melihat posisinya di kantor. Tapi ya memang senioritas dalam kehidupan masih sangat melekat. Atasan langsung mas rudi yang mempunyai jabatan sebagai kepala gudang hanya duduk berleha-leha menerima laporan dari mas rudi. Pekerjaan yang seharusnya di kerjakan oleh kepala gudang, malah di serahkan kepada mas rudi. Bahkan tak jarang mas rudi ikut bongkar muat barang dari dalam mobil kontainer. Bila ku tanya alasannya kenapa, jawaban mas rudi selalu sama. "Mas cari sampingan buat dana jaga-jaga. Kita kan sebentar lagi mau punya anak" "Mas, aku bisa koq hidup lebih hemat lagi" jawabku. "Jangan sayang. Selama ini kamu sudah sangat cukup berhemat. Biar mas saja yang mencari uang tambahan agar bisa menambah uang belanja kamu" Malam ini pun demikian. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Bahkan sekarang sudah pukul 11 malam, mas rudi belum juga pulang dari kantor. Sementara sudah sejak subuh tadi, aku merasa tak nyaman. Perutku terasa sakit. Entah kenapa? Sakit yang kadang ilang dan timbul. Entah sudah berapa puluh kali aku bulak-balik ke kamar mandi. Rasanya mulas. Dan sekarang malah semakin menjadi. Keringat mulai bermunculan dari dahiku. Sementara bagian bawah perutku terasa seperti di dorong dari dalam. 'Tok... Tok... Tok...' bunyi pentungan ronda terdengar dari luar rumahku. Aku berusaha bangkit dan berjalan menuju pintu rumah, ingin meminta tolong pada siapa saja yang lewat disana. Setelah bersusah payah, akhirnya aku dapat menggapai gagang pintu rumah. Namun bapak-bapak ronda yang tadi memukul kentungan sudah terlalu jauh di depan. Tenagaku sudah mulai habih karena menahan rasa sakit yang sangat luar biasa. Beruntung tak berapa lama aku berdiri di ambang pintu seorang pria paruh baya melintas di depan rumah kontrakanku. "P..Pak... Shh.. hu.." suaraku bergetar. "Astagfirullah, bu.. Kenapa?" tanya salah seorang bapak-bapak yang mungkin mendengar suaraku. "Bi.. sah... tho.. long sayahhh. Sayahhh su... dah... ti...dak... ku... ath..." Jawabku terbata menahan rasa sakit. "Hei... tolong... tolong..." bapak itu berteriak memanggil orang-orang yang sudah cukup jauh di depan sana. "Kenapa?" teriak salah seorang yang tadi ikut ronda. "Sepertinya ibu ini akan melahirkan" jawab pria paruh baya yang menolongku ini. Tak berapa lama mereka berlari menghampiriku yang sekarang sudah terduduk lemas di ambang pintu. Sungguh aku sudah tak lagi mampu menopang berat badanku sendiri. "Pak rudinya kemana bu?" tanya salah seorang warga yang entah siapa namanya. "Lemh... bur.. shhhh huuuuhhh..." "Coba bawa saja ke bidan Tuti di ujung g**g sana. Hp ibu mana? Biar saya hubungi pak rudi?" "Sa.. yahhh gak ... punyahhh pakh... shhh uhhh shhh...." "Ibu hafal no hp pak rudi?" Aku hanya mengangguk lemah. Dan langsung ku sebutkan 12 digit nomor mas rudi pada bapak itu, meski dengan suara terbata. Yang lantas di catatnya nomor yang ku sebut tadi ke dalan telepon genggamnya. "Jadi ini mau nunggu suaminya pulang dulu?" tanya seorang tang lain. "Bawa saja langsung ke bidan Tuti. Sepertinya si ibu sudah kesakitan. Biar saya yang menghubungi Pak Rudi untuk memberitahukan" "Ya sudah begitu saja. Mari bu. Ibu masih kuat berjalan?" Aku hanya menggeleng lemah. "Pakai motor saya saja, saya ambil dulu ke rumah" "Tahan sebentar ya bu" Pria yang tadi mengusulkan untuk mengantarku ke bidan menggunakan motornya melesat pergi. Padahal mungkin baru 2 menitan dia pergi, namun rasanya begitu sangat lama. Beberapa pria yang menemaniku, seolah berusaha memberiku kekuatan. Namun suara mereka seolah seperti gemuruh dalam telingaku. Aku terlalu sibuk menahan diri dari rasa sakit yang menyerang perutku. Sakit yang teramat sangat. 5 menit berlalu 2 motor metic mendekati rumahku. Motor yang satunya, aku yakin milik suamiku. Sedang yang lainnya mungkin milik orang tadi. "Sayang..." 'bruk' suara mas rudi memanggilku berbarengan dengan suara benda jatuh. Motor yang di kendarai mas rudi terjatuh ke tanah. Dia mungkin lupa menurunkan standar motor nya. Aku hanya meringis menatap mas rudi, sembari memegang perutku. "Pak, bawa saja langsung ke bidan Tuti. Sepertinya si ibu sudah sangat kesakitan. Mungkin mau melahirkan" Kata seorang pria. Ku lihat mas rudi hanya mengangguk. Tergambar jelas kepanikan dalam raut wajahnya. Dengan sekali hentakan, mas rudi memangku ku membawaku ke dekat motornya. Tanpa salam dan pamit mas rudi melesat pergi. Ku cengkram pinggang. Sementara bibir bawahku, ku gigit sekuat tenaga. Berharap dengan menggigit bibir bawahku, akan mengurangi sedikit rasa sakitku. . . . . Motor berbelok dan berhenti di depan pagar besi sebuah rumah yang di cat putih bersih. Tampak terlihat oleh mataku papan bertuliskan 'Bidan ada'. Dengan langkah tergesa mas rudi turun dari motornya dan membantuku untuk turun juga. Berjalan tertatih memasuki pagar rumah itu. Sambil menunggu seseorang membukakan pintu dari dalam, aku didudukan di kursi kayu panjang ber cat putih juga. Kursi yang biasa di pergunakan untuk menunggu giliran pemeriksaan rutin. Tak lama berselang seorang wanita setengah baya, dengan hijab yang sedikit berantakan mungkin karena tadi beliau terburu-buru mengenakannya membukakan pintu untuk kami. "Mari masuk" sapanya ramah. "Tolong bantu ibunya berbaring di atas kasur periksa yaa pak" lanjutnya lagi sambil memakai sarung tangan karet. "Ibu boleh di buka celana dalamnya yaa, biar saya periksa dalam" lanjutnya lagi. "Kakinya di tekuk ke atas yaa seperti orang mau melahirkan" "Di buka bu?" tanya ku heran. Aku menoleh ke arah samping. Tempat Mas Rudi berdiri sambil menggenggam erat tanganku. Wajahnya berubah pucat pasi. "Iya bu" bidan tersenyum ramah ke arahku, lantas memalingkan wajahnya ke arah mas rudi "Tolong di bantu yaa, pak" sambil menganggukan kepalanya. "I..Iya bu" "Sa.. yah... ma... lu.. buhh" Tiba-tiba saja rasa mulas seperti hendak ke belakang menyerang perutku kembali. Tanganku semakin erat mencengkram tangan mas rudi. "Ibu sedang kontraksi lagi? Coba ikuti saya ya bu, Tarik nafas dari hidung keluarkan dari mulut, ayo tarik nafas lagi lalu keluarkan. Kalau nanti ibu merasa kontraksi lagi, ibu lakukan seperti tadi ya" Aku hanya mengangguk. Lemah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN