"Rio." Pelan ku buka pintu ruangan kerjanya, masih sangat terang padahal ini sudah larut. Kepala ki muncul menyelinap masuk demi melihat sedang apa laki-laki yang sedang berbaik hati menerima kehadiran ku itu jam segini masih berdiam diri disini. Aku merasa seperti kehilangan teman, sahabat juga... pacar mungkin, bangun-bangun di tinggal aku sendiri, padahal seingat ki kami berdua sama-sama sedang bergelung didalam selimut sampai aku terlelap terlebih dahulu darinya. "Rio!" Suara ku sedikit meninggi, tidak lama setelah itu, aku menangkap sosoknya. Dia masih duduk dihadapan meja kerjanya. Rambutnya acak-acakkan, stelan piyamanya kini berganti dengan satu kaos oblong putih ngepas ditubuh tegapnya, tidak lupa kaca mata hitamnya nangkring dihidung mancungnya. "Kok bangun?" Tanyanya pelan, la

