Jingga’s POV Seminggu telah berlalu, dan butik sedang sibuk dengan perencanaan pembangunan rumah produksi. Kali ini, kami dibantu lagi oleh teman Tante Ve, yang merupakan seorang konsultan bisnis. Sehingga pekerjaan kami menjadi sedikit lebih ringan. “Pa … bangun.” Aku menggesek hidungku dengan hidung Kak Damar membuat tidurnya terusik. “Hm,” sahutnya kemudian menarikku ke dalam pelukannya dan mengecup keningku. Lalu, meringsut ke arah perutku. Aku tersenyum melihat kebiasaan Kak Damar yang satu ini. Beberapa hari terakhir, sebelum tidur dan saat bangun di pagi hari, dia selalu menyapa buah cinta kami di dalam perutku. Kini, dia tengah mengendusi perutku yang masih rata. “Morning, kesayangan Papa.” “Morning, Pa, dedeknya udah nggak sabar mau lihat rumah, nih.” Mendengar kalimatku K

