Hal Buruk dan Terindah

1401 Kata

Jingga’s POV Seminggu telah berlalu, dan butik sedang sibuk dengan perencanaan pembangunan rumah produksi. Kali ini, kami dibantu lagi oleh teman Tante Ve, yang merupakan seorang konsultan bisnis. Sehingga pekerjaan kami menjadi sedikit lebih ringan. “Pa … bangun.” Aku menggesek hidungku dengan hidung Kak Damar membuat tidurnya terusik. “Hm,” sahutnya kemudian menarikku ke dalam pelukannya dan mengecup keningku. Lalu, meringsut ke arah perutku. Aku tersenyum melihat kebiasaan Kak Damar yang satu ini. Beberapa hari terakhir, sebelum tidur dan saat bangun di pagi hari, dia selalu menyapa buah cinta kami di dalam perutku. Kini, dia tengah mengendusi perutku yang masih rata. “Morning, kesayangan Papa.” “Morning, Pa, dedeknya udah nggak sabar mau lihat rumah, nih.” Mendengar kalimatku K

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN