5. Permintaan

2673 Kata
"Dek Sarah, bangun!" "Eenghh..." Sarah menggeliat lalu kembali tidur. "Dek Sarah, ayo kita jalan pagi mumpung hari minggu." Ali mengguncang tubuh Sarah dengan lebih keras. Tetap saja gadis itu tidak bergerak sama sekali. "Dek Sarah...!!" Ali sedikit mengeraskan suaranya. Apakah rutinitas seperti ini harus berlangsung setiap hari? Ya Tuhan, punya istri kenapa susah sekali bangun pagi? Ali ke kamar mandi mengambil handuk kecil yang sudah dibasahi air. Ia mengelap wajah Sarah yang belepotan iler. Namun tetap saja, dinginnya air tidak membuat Sarah membuka mata. Ali mengambil kaos dan celana ringan untuk Sarah. Ia mengganti baju tidur Sarah dengan baju untuk jalan pagi. Tak lupa, Ali juga memakaikan kaos kaki dan sepatu untuk Sarah. "Dek, semua sudah nungguin di bawah, ayo!" Jalan pagi, olahraga dan ke pasar minggu memang menjadi rutinitas keluarga Ali setiap hari minggu. "Dek Sarah, " Ali mengguncang tubuh Sarah lebih keras. "Ngrrok... ngrroookk..." Yah malah ngorok. Ali mengangkat dan menggendong Sarah di belakang punggungnya. Daripada semua batal ke stadion, lebih baik ia membangunkan Sarah sambil jalan saja. Ali menggendong Sarah di belakang punggungnya dan berjalan menuruni tangga menuju ruang keluarga, dimana ayah bunda serta kakak dan adiknya menunggu. "Lho, Sarah belum bangun?" tanya Laras ketika melihat Ali turun sambil menggendong Sarah. "Belum Bun, dibangunin sambil jalan aja," jawab Ali. "Qiqiqi..."Alya tertawa melihat kegusaran Ali. "Kenapa tertawa?" "Kak Ali lucu." "Alya... jangan goda kakakmu," Rayhan menegur sang putri. Mereka sekeluarga berangkat bersama menggunakan mobil Ayah Ali, biar lebih praktis dan tidak bingung parkir nantinya. Laras, Bunda Ali duduk di samping ayah yang sedang mengemudi. Di kursi tengah, Ali serta Sarah dan di kursi belakang ada Alya dan mas Fatih. Selama perjalanan, Ali berusaha membangunkan Sarah, tapi gadis itu tetap terlelap dan sesekali mengigau. Bukan hanya mengigau, tingkah Sarahpun mulai tidak karuan. Ali menjadi tegang saat Sarah menjatuhkan kepala di pangkuannya, tepat di sananya. Ya Tuhan, kuatkan iman hambamu ini, Ali merapalkan do'a dalam hati. Bagaimanapun dirinya laki-laki normal, apalagi sebelum ini sudah beberapa kali dirinya melihat istrinya tidak berbusana. Sebetulnya kalau mau ngapa-pain juga tidak masalah, Ali kan suaminya yang sah, tapi tetap saja tidak bisa, Sarah sepertinya belum mengerti. "Dek Sarah, nanti kak Ali cium loh!" Ancam Ali sambil berbisik, malu kalau sampai terdengar yang lain. Sarah menggeliat kemudian membuka matanya perlahan. Dimana nih? Keras banget bantalnya, matanya mengerjap beberapa kali, pandangannya bertemu pandang dengan Ali yang juga sedang menatapnya. "Kak Ali..." Sarah mengedarkan pandangannya. Ini bukan di kamarnya. Sarah duduk, ia masih bingung. "Sarah, sudah bangun sayang?" sapa Laras. "Bunda, kenapa di sini?" "Kak Sarah lucu deh. Ini kita mau jalan pagi, olahraga trus lanjut sarapan di pasar minggu," ujar Alya. "Tapi kan tadi aku tidur?" tanya Sarah bingung. "Iya. Kamu dibangunin susah amat, makanya kak Ali gendong aja ke mobil. Memangnya mau ditinggal di rumah sendiri?" tanya Ali. "Ohh..." Sarah manggut-manggut, "tunggu... bajunya?" Sarah melihat ke baju yang digunakan sudah berganti, ia pun sudah memakai sepatu dan kaos kaki, "Kak Ali gantiin baju Sarah?!" Sarah berteriak dengan keras. Ali tercengang mendengar pertanyaan Sarah yang blak-blakan itu. Ayah dan bundanya terlihat tersenyum simpul di depan. Ali menoleh ke belakang. Ia pun melihat Fatih menahan senyum, begitu juga Alya yang cengengesan melihatnya. "Ohh.. itu... eh iya... tadi kak Ali yang gantiin baju kamu." "Yahh, kak Ali kenapa pakein baju kayak gini? Kaos jersey gak ada? Kak Ali kan punya banyak tuh di almari. Pelit amat, gak mau minjemin satu." Sarah protes. Ali melongo. Sementara seluruh anggota keluarganya yang lain menyamarkan tawanya dengan batuk atau berpura berdeham. "Ehh... itu baju Alya... kamu kan gak bawa ganti." Ali menggaruk tengkuknya, kikuk. "Ya udah gapapa, makasih udah digantiin bajunya." Ali tersenyum manis, membuat Ali tersipu malu melihatnya. Haiyah, baru juga disenyumin. *** "Kak Sarah di sini aja, nanti gantian main badminton sama Bunda." Alya menahan Sarah yang berniat mengikuti Ayah, Fatih dan Ali lari mengelilingi stadion. "What?! Gak deh, kak Sarah lari aja." Sarah melambaikan tangan pada Alya sebelum menyusul suami, kaka ipar dan ayah mertuanya. "Sarah tidak bermain badminton?" Rayhan terkejut melihat menantunya itu sudah berada diantara dirinya dan Ali. "Gapapa Ayah, Sarah lebih suka lari." "Jauh lho dek Sarah, biasanya kita muter di sampai alun-alun." Fatih menambahkan. "Gapapa Kak," Sarah menjawab cuek. Hah, mereka belum tau apa hika dirinya selalu memenangkan lomba lari? Sebuah ide muncul di benak Sarah. Ia mendekati Ali dan berkata, "Kak Ali, mau taruhan sama Sarah?" "Taruhan?" "Iya, buat seneng-seneng aja." Sarah menaik turunkan alisnya ke arah Ali. "Boleh, apa taruhannya?" "Siapa yang lebih dulu sampai alun-alun, dia yang menang." "Trus?" "Kalo kak Ali kalah, kak Ali harus nraktir Sarah makan sepuasnya di pasar minggu nanti ya," Sarah semangat sekali dan yakin bakal menang. "Boleh, kalo kak Ali yang menang?" tanya Ali. "Terserah deh, kak Ali mau minta apa," Sarah tersenyum lebar. Dalam hati sangat yakin jika Ali tidak akan bisa mengalahkan kecepatan larinya. Lihat saja larinya seperti banci begitu, mana bisa mengalahkan Sarah. "Ok," Ali tersenyum simpul, akhirnya ada kesempatan untuk menaklukkan Sarah. Ia sudah memikirkan apa yang akan diminta dari Sarah. "Ayah, kak Fatih... kita duluan ya." Sarah berlari mundur sembari melambaikan tangan ke arah kakak ipar dan ayah mertuanya. "Iya, hati-hati." Rayhan geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan mantunya yang kekanak-kanakan itu. Ali yang biasanya selalu tenang dan dewasa, sekarang malah meladeni Sarah untuk lomba lari. *** "Yes, menang!!" Sarah berteriak dan melonjak kegirangan. Ali tertinggal jauh di belakangnya. Suaminya itu terlihat tak bertenaga dan lari dengan santai saja. "Kak Ali... lama amat sih!" teriak Sarah. Tak berapa lama Ali sampai di sebelah Sarah. "Aku menaaaang... kak Ali harus traktir Sarah sepuasnya." Ujar Sarah dengan semangat empat lima. "Iya nanti kak Ali traktir." Jawab Ali sambil tersenyum simpul. Sarah tertawa gembira. Ali benar-benar terbius dengan senyuman Sarah. Cantik sekali. "Kamu cantik kalau tersenyum seperti tadi," puji Ali. Sarah menatap Ali horor. "Bener. Kak Ali gak bohong." Ujar Ali kalem. "Idiih... amit amit deh," jawab Sarah sambil bergidik ngeri. Ia kembali berlari meninggalkan Ali yang masih tersenyum sendiri seperti orang sinting. Ali berlari mengejar Sarah. Setelah sejajar dengan Sarah, Ali merangkul pundak Sarah. "Mau taruhan lagi?" tawar Ali. Senyum sinting masih tersungging di wajah kalemnya. "Hahaha... kak Ali mau bangkrut?" ejek Sarah. "Gak masalah." Jawab Ali. "Ok, kalo Sarah menang, kak Ali harus ngijinin Sarah bawa mobil sendiri ke sekolah." "Ok. Tapi kalo kak Ali yang menang, Sarah harus janji gak akan nolak apapun yang kak Ali minta." "Siapa takut," "Kita lari sampai ke tempat Bunda dan Alya, siapa yang lebih dulu sampai, dia yang menang." "Ayok, siapa takut." Sarah yakin, kali ini pun dia bisa menang. "Satu... dua... tiga..." Ali menghitung. Setelah hitungan tiga, Sarah langsung melesat. Ali? Dia geleng-geleng kepala melihat istri imutnya itu. Selama beberapa saat, ia hanya berjalan santai, menunggu Sarah agak jauh. Setelah Sarah agak jauh, barulah Ali mengejarnya tanpa kesulitan. Sarah terlihat sudah semakin dekat. Sebetulnya tadi Ali hanya berpura-pura kalah saja. Ali memang ingin mentraktir Sarah. Tapi kali ini Ali tidak mau mengalah, ada yang ia inginkan dari Sarah. Ali terus mengintil di belakang Sarah. Ia masih tidak mau menyalip Sarah. Biarkan saja gadisnya itu lengah dan merasa sudah menang. Ali terkekeh dalam hati membayangkan ekspresi kesal Sarah saat tau dirinya kalah. Mereka sudah semakin dekat dengan tempat Laras dan Alya bermain badminton. Sarah masih berlari dengan santai saja karena ia melihat juga Ali sepertinya larinya sudah tidak bertenaga. Sesaat Sarah merasa sudah menang, ketika tiba-tiba Ali berlari menyalipnya dan mendahului ke tempat Laras dan Alya. Parahnya, Sarah malah berhenti berlari. Ia merasa dicurangi. Tapi kak Ali menang fair kan? Sarah saja yang terlalu menganggap remeh. Dengan cemberut Sarah berjalan sambil menghentakan kaki ke arah Ali. Ali tergelak melihat Sarah. Lucu sekali. Sebenarnya dia gadis yang imut dan manis, hanya saja selalu ditutupi dengan perangainya yang seperti laki-laki. Laras dan Alya saling berpandangan melihat Ali yang tertawa tergelak melihat Sarah. Belum pernah mereka melihat Ali sebahagia ini. Ali yang pendiam dan tenang, bisa tertawa lepas dan bebas. "Kak Ali curang..." Sarah memukul lengan Ali. "Curang gimana?" "Ga tau. Pokoknya curang." Sarah memukuli Ali. Ali menghindari pukulan Sarah sambil tergelak. Senang sekali bisa menggoda istri premannya itu. Ali menangkap kedua tangan Sarah lalu menarik Sarah ke dalam pelukannya. Sarah membatu. Dia tak berusaha melawan. Entah kenapa, untuk pertama kalinya Sarah merasakan perasaan yang sangat nyaman. Tanpa sadar Sarah membalas pelukan Ali. Ia menyandarkan kepalanya di d**a Ali sembari memejamkan mata meresapi kenyamanan yang merasuki seluruh tubuhnya. Seumur hidup, belum pernah Sarah dipeluk seperti ini, bahkan oleh kedua orang tuanya. Mama papanya terlalu jarang di rumah. "Ehem... serasa dunia milik berdua nih, yang lain ngontrak." Ledek Alya. "Alya... gak sopan seperti itu." Tegur Laras. Ali dan Sarah saling melepaskan pelukan masing-masing. Mereka terlihat gugup dan salah tingkah. Senyum bahagia masih terpancar di wajah Ali. Sedangkan Sarah, ia terlihat cengo dan bingung. "Ayo, kita langsung jalan ke pasar minggu." Ajak Rayhan. Mereka berjalan beriringan menuju arah selatan stadion. Ali memberanikan diri menggandeng tangan Sarah. Yes! Gak nolak. Ali berusaha cuek dan terus menatap ke depan. Ia tahu Sarah sedang menatapnya bingung. "Kalian mau sarapan apa?" Tanya Laras. "Apa aja bunda." Jawab Ali dan Fatih. "Alya mau bubur ayam." "Sarah, mau bubur ayam juga?" Tanya Laras karena melihat Sarah seperti melamun. "Ehh? Bubur ayam? Mana kenyang bunda makan bubur ayam?" Jawab Sarah spontan, "uppss... maaf, maksud Sarah... ehh terserah bunda aja deh." Laras tersenyum mengerti. Ketika ia menyetujui Ali untuk menikah, sudah seharusnya juga Laras mulai membiasakan diri agar Ali lebih mandiri bersama istrinya. "Begini saja, Ali.. kamu ajak Sarah berkeliling. Nanti kita berkumpul di mobil jam 10. Bagaimana?" "Siap bunda." Jawab Ali semangat. Ia langsung menarik tangan Sarah menjauh dari keluarganya. "Dek Sarah mau sarapan apa?" Tanya Ali. "Pecel." Jawab Sarah. "Ok, kita beli pecel." Ali menggandeng Sarah mencari penjual pecel. Mereka makan sambil pecel sambil duduk lesehan. Sarah memakan nasi pecelnya dengan lahap. Ali belum menyentuh piringnya sama sekali. Ali lebih tertarik melihat Sarah makan. Sarah unik. Meski agak tidak tau aturan, tapi Sarah selalu menjadi diri sendiri. Kebanyakan cewek kalau makan cerewet. Takut gendutlah, gak mau ini lah, itulah, bikin jerawat lah. Tapi Sarah beda. "Kak Ali, kenapa gak dimakan?" "Ohh eh iya, ini kak Ali makan." "Kak Ali, Sarah boleh nambah gak?" Bisik Sarah. "Boleh. Tambah aja." Jawab Ali tak bisa menahan senyum. Sejak tadi ia sudah menunggu, apa Sarah akan minta tambah makan? Ternyata benar. Ali tak lagi berselera makan. Melihat Sarah membuatnya kenyang. "Kak Ali.. itu gak dihabisin?" Tanya Sarah. "Kak Ali kenyang." Jawab Ali kalem. "Yihaaa... sini biar Sarah habisin." Ali membelalak saat Sarah mengambil piringnya dan melahap sisa pecelnya. "Dek Sarah... kalau belum kenyang, tambah lagi gapapa." "Gak. Udah cukup. Ini sayang aja kalo makanan dibuang-buang hehehe..." Setelah makan pecel, Sarah dan Ali berkeliling pasar minggu. "Kak Ali... Sarah mau cilok." "Kak Ali... beliin jus..." "Kak Ali... ada kerak telor." "Kak Ali... haus, mau es kopyor." Begitulah sepanjang perjalanan, Sarah meminta dibelikan apapun yang terlihat oleh matanya. Sesuai janjinya, Ali membelikan semua yang diinginkan Sarah. *** Pukul 10 tepat, mereka kembali berkumpul di mobil. "Kita langsung pulang ya? Atau masih ada tujuan lain?" Tanya Rayhan. "Langsung pulang saja ayah, gerah.. belum mandi." Ujar Laras. "Baiklah." Semua mengangguk setuju. Rayhan menemudikan mobilnya sambil sesekali bersenda gurau dengan Laras. "Kak Ali mau?" Sarah menawarkan es kopyor di tangannya. "Kamu aja." Jawab Ali. "Cobain dulu, enak kok." Sarah menyodorkan sedotan ke mulut Ali. Mau tak mau Ali meminumnya. "Enak kan?" "Hmm... enak." Ali menetujui. Mereka semua terkejut saat mobil Rayhan tiba-tiba berhenti. Di depan terlihat ramai sekali. "Ada apa yah?" Tanya Fatih. "Sepertinya ada tawuran." Rayhan mengarahkan mobilnya ke sisi lain jalan, agar tak melewari tawuran. Sarah penasaran, siapa yang taruwan? Ia membelalak melihat Jack? Demon? Mereka dikeroyok? "Ayah stop!" Teriak Sarah. Rayhan yang kaget, otomatis menginjak rem. Begitu mobil berhenti, Sarah langsung keluar dan berlari menuju arah tawuran. Sarah membantu Jack dan Demon yang dikeroyok oleh lebih dari lima orang. Bagaimanapun diantara keempat sahabatnya, Sarah yang paling jago beladiri. Dalam waktu beberapa menit Sarah berhasil melumpuhkan kelima lawannya. Tapi, tak berapa lama, kawanan lima orang tadi datang menghampiri Sarah. Mereka tak terima kawan mereka dikalahkan. Laras dan Alya berteriak histeris melihat Sarah melawan mereka sendiri, karena kedua teman Sarah sepertinya sudah kehabisan tenaga, sehingga yang mereka lakukan hanya menghindari serangan. Ali tertegun di tempatnya. Sarah, istrinya yang imut harus berhadapan dengan segerombolan preman? Tanpa pikir panjang, Ali keluar dari mobil dan menghampiri Sarah. "Kak Ali ngapain ke sini." Teriak Sarah. "Kamu juga ngapain kesini." "Mereka teman Sarah." Teriak Sarah sambil menangkis beberapa serangan. Sarah pecah konsentrasi karena ada Ali. Ia harus melawan mereka sekaligus menjaga Ali. Bunda pasti sedih kalau Ali kenapa-kenapa. "Kak Ali, balik ke mobil! Sarah bisa sendiri!" Sarah masih berteriak sambil menangkis beberapa serangan yang ditujukan pada Ali. Sarah berdiri di depan Ali seperti tameng. Sarah tak membiarkan Ali keluar dari perlindungannya. "Dek Sarah... kamu yang kembali ke mobil!" Perintah Ali. "Gak!" "Kak Ali janji bakal kalahin mereka semua dengan satu syarat. Jika kak Ali berhasil, kamu akan memenuhi permintaan kak Ali. Semustahil apapun itu." "Kak Ali jangan bercanda." Sarah menoleh ke arah Ali. Karena lengah, satu bogeman mendarat di pipi Sarah. "b******k!" Teriak Sarah. Ia akan merangsek maju membalas, tapi Ali menahan tangannya. "Percaya sama kak Ali. Tolongin teman Sarah." Ali melirik ke arah Jack dan Demon yang sudah terkapar di pinggir jalan. Sarah mengangguk. "Sarah percaya kak Ali." Ujarnya sebelum berlari ke arah Demon dan Jack. *** "Ali, jaga Sarah baik-baik ya.." pesan Laras. "Baik, bund." Jawab Ali sambil mencium tangan Laras kemudian Rayhan. "Jadi suami yang bertanggung jawab." Pesan Rayhan. "Ya ayah, Ali tidak akan mengecewakan ayah." Saat ini Sarah dan Ali berpamitan, karena mulai malam ini Ali akan tinggal dirumah Sarah. "Alya... bang Fatih... Ali pamit dulu." Ali memeluk Alya bergantian kemudian Fatih. "Semuanya.. Sarah pamit ya, terima kasih bunda... ayah, Alya dan kak Fatih.." Ali mengangkat kopernya dan meletakannya di bagasi mobil. Ia kemudian membukakan pintu untuk Sarah. Ali melambai kepada seluruh keluarganya sebelum menjalankan mobil keluar dari halaman rumahnya. "Kak Ali sedih?" Tanya Sarah. "Hmm... pasti." "Maaf karena Sarah kak Ali jadi harus ninggalin mereka." "Bukan karena kamu. Memang harus seperti ini. Semua pasti akan hidup bersama keluarga masing-masing nantinya." Jawab Ali. "Iya..." jawab Sarah. Ia juga bersedih harus kembali ke rumahnya. Tinggal beberapa hari dirumah Ali membuat Sarah betah disana. "Dek Sarah masih ingatkan janjinya tadi pagi?" "Iya ingat, memangnya kak Ali mau minta apa?" "Kak Ali menang 2 kali kan? Berarti ada dua permintaan." "Iya... iyaa yang menang dua kali. Buruan bilang, mau apa? Jangan yang mahal-mahal ya, Sarah lagi bokek ini." "Gak mahal kok." Ali tersenyum. "Iya apaan?" "Pertama, kak Ali ingin sampai kapan pun, Sarah jadi istri kak Ali, jangan pernah meminta cerai." Deg! Bagaimana kak Ali tahu kalau dirinya berniat gugat cerai? "Kak Ali tau, kamu sering berbicara dalam tidurmu." Ali terkekeh geli melihat ekspresi syok di wajah Sarah. "Gak bisa diganti yang lain gitu permintaannya?" Tawar Sarah. "Tidak. Prinsip kak Ali, menikah sekali seumur hidup dan tidak ada perceraian. Kak Ali serius." "Permintaan kedua?" Tanya Sarah tanpa meng-iyakan permintaan pertama. "Kak Ali tadi bilang, semustahil apapun permintaannya, kamu harus ikuti." "Iyaaa... iya... " jawab Sarah pasrah sudah. "Kak Ali mau, malam ini Sarah kasih hak kak Ali sebagai suami Sarah." "Hah? Hak? Apaan tuh?" Sarah bertanya bingung. "Hubungan suami istri." Jawab Ali dengan jantung berdebar tak karuan. "Iya, hubungan kita kan emang suami istri kak..." Sarah bingung. "Maksudnya hubungan di tempat tidur." "Sarah gak ngerti deh kak Ali." "Gak ngerti ya?" "Enggak..." "Sarah sudah baligh bukan? Maksudnya sudah menstruasi?" Tanya Ali. "Busyet deh, kenapa kak Ali nanyain itu!" "Serius Sarah, kak Ali harus tau. Gak perlu malu, kak Ali sekarang sudah jadi suami Sarah kan?" "Iya... iya... sudah... rahasiain pokoknya!" "Berarti Sarah sudah baligh, sudah boleh berhubungan badan." "Kak Ali ini sebenarnya ngomongin apa ya? Sumpah Sarah gak ngerti deh." Ali terkekeh geli. Istrinya ini meski urakan tapi lugu juga. "Nanti ikutin apa kata kak Ali aja, ya?" "Iyalah... terserah kak Ali aja deh." Sarah memutar bola matanya, jengah. Ali mengulum senyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN