Ali terbangun saat mendengar alarm di ponselnya berbunyi. Rasanya masih ngantuk sekali. Badannya juga terasa pegal-pegal, tapi perasaan Ali terasa begitu ringan, lega bercampur bahagia. Akhirnya dirinya bisa memiliki Sarah seutuhnya. Ia tersenyum geli mengingat malam pertamanya bersama Sarah semalam. Sarah mencakar, memukul bahkan menampar wajahnya. Tidak hanya itu, Sarah bahkan menendang dirinya sampai jatuh terjengkang ke belakang. Korban kepala. Sekarang kepala bagian belakang Ali jadi benjol, tapi semua sepadan dengan apa yang Ali dapatkan.
"Dek... dek Sarah, bangun yuk, kita mandi bareng," ajak Ali. Entahlah semenjak bertemu Sarah, otak Ali sepertinya mengalami korslet, karena setiap berada di dekat Sarah, pikiran Ali selalu dipenuhi hal-hal seronok bersama Sarah. Inilah salah satu alasan mengapa Ali memaksa menikahi Sarah. Godaan Sarah begitu besar buat Ali. Kalau sudah nikah seperti ini kan enak, lepas kontrol puh jatuhnya halal. Hahaha...! Jangan protes, bagaimanapun Ali adalah laki-laki normal.
Ali bangkit dari ranjang dan memungut celana pendeknya. Ali memakainya sebelum melangkah ke dalam kamar mandi. Ia menyiapkan air hangat untuk Sarah. Tak lupa, ia juga mencampurkan beberapa tetes aroma terapi ke dalamnya.
Ali kembali ke kamar. Ia melihat Sarah masih pada posisi semula. Meringkuk seperti udang.
"Dek.. mandi yuk, kak Ali gendong ke kamar mandi ya?" Ali menyibak selimut yang menutupi tubuh Sarah. Ia tersenyum kala melihat noda merah di sprei, bukti hilangnya keperawanan Sarah. Semoga orangtua mereka mau mengerti, jika akhirnya Ali tak bisa menahan diri.
Ali mengecup kening Sarah sekilas sebelum mengangkat istrinya ke kamar mandi. Ali mendudukkan Sarah di bathup dan ikut ke dalamnya. Ali menyandarkan kepala Sarah di dadanya. Ia mengambil spon mandi dan mulai menggosok pelan tubuh Sarah.
"Eenghh..." Sarah menggeliat.
"Bangun..." Bisik Ali di telinga Sarah.
"Engh??" Sarah mengerjapkan mata beberapa kali. Dimana ini? Basah? Sarah melirik di bawahnya. Air? Banjir?
"Huaaa...!!" Sarah berteriak.
"Sstt... kenapa berteriak?" Ali bertanya heran.
"Kak Ali... banjir... buruan, kabur... lari..." Sarah meracau tak jelas.
Ali mengusap wajah Sarah dengan tangannya yang basah. Sarah mengerjap beberapa kali.
"Sudah bangun?" Tanya Ali kalem.
"Emm? Di kamar mandi?" Tanya Sarah dengan ekspresi lucu.
Ali terkekeh melihat Sarah. "Iya di kamar mandi dek, kamu pikir dimana?"
"Kirain banjir."
"Semalam memang banjir di kamar."
"Serius kak?" Sarah melotot lucu.
"Heem, kamu yang banjir." Goda Ali.
"Hahh?! Kak Ali ngomong apa sih? Gak jelas deh."
Ali tergelak dengan keras. Masih juga belum ngerti dia.
"Gak ada, kak Ali bercanda." Ali tersenyum.
"Ishh... Sarah udah serius, kak Ali malah becanda, gimana sih?"
Ali menarik Sarah kembali ke dalam pelukannya. Rasanya Ali ingin waktu berhenti saat ini. Ia ingin lebih lama menikmati masa-masa indahnya ini.
"Kak Ali, jangan begini dong... gak enak nih."
"Hmm... adek mau yang enak?"
"Kak Ali apa ya?!" Sarah sewot.
"Dek Sarah, boleh gak kalau setiap hari kak Ali bilang I love you?"
Sarah bergidik ngeri mendengar pertanyaan Ali.
"Kenapa? Adek gak suka?" Tanya Ali.
Haduuh! Apalagi ini, Adek? Geli banget deh... hoek! Sarah betul-betul meerasa aneh dan tidak nyaman dengan perlakuan Ali yang menurutnya lebay itu. "Sarah risih kak. Geli aja gitu..." jawabnya jujur.
"Iya itu karena Sarah belum terbiasa." Sanggah Ali.
"Lha terus ini, kita ngapain di sini?" Sarah heran.
"Mandi dek, ayo buruan ntar telat ke sekolah." Ali mendahului Sarah berdiri dan keluar dari bathup. Ali menyalakan shower untuk membilas tubuhnya. Sengaja ia tak memakai apapun, biar Sarah terbiasa. Ali ngakak dalam hati melihat Sarah melongo melihatnya.
"Kenapa malah liatin kak Ali? Sini buruan!" Panggil Ali.
Sarah bangkit dan berdiri, baru hendak melangkah keluar dari bathup, nyeri menyerang di bagian bawah tubuhnya.
"Aaahhh..." Sarah merintih.
"Kenapa dek?" Ali menghampiri Sarah. "Masih perih ya?" Tanya Ali.
"Ehh? Kok tau?" Sarah cengo.
Ali terkekeh geli. Ya taulah, kan Kak Ali yang bikin. Plak!! Apa yang ada di pikiranmu Ali? Mengapa otakmu jadi geser begini?
"Ya tau. Sini kak Ali bantu." Ali mengangkat Sarah dan membawanya ke bawah guyuran air shower, membilas tubuh mereka berdua. Ali mematikan shower dan mengambilkan handuk untuk Sarah. Setelah mengeringkan tubuhnya juga Sarah, Ali kembali menggendong Sarah ke kamar. Ia mendudukan Sarah di tepi ranjang dan mengambilkan baju ganti untuk istrinya itu.
"Sarah mau ijin dulu hari ini?" Ali menawarkan.
"Gak mau, nanti ada ulangan."
"Ya ikut ulangan susulan kan gapapa, Dek."
"Trus mau nyontek siapa? Ogah banget ngerjain sendiri." Sarah sewot.
"Memangnya ulangan apa?"
"Fisika."
"Ijin aja, ntar kak Ali ajarin." Ali berkata lembut seraya membelai kepala Sarah.
"Gak mau, trus Sarah mau ngapain di rumah? Demon, Ronald, Jack dan Randy juga pasti pada sekolah."
Ali sudah rapi memakai seragam, lengkap dengan dasi dan ikat pinggang. Betul-betul menampilkan sosok siswa teladan.
"Perlu kak Ali bantu pakai bajunya?" Ali bertanya sambil berjongkok di depan Sarah karena dilihatnya baju ganti Sarah masih tergeletak di atas kasur.
"Gak, Sarah bisa pakai sendiri." Sarah mengambil baju gantinya yang diketakan Ali di sebelahnya, dahinya mengernyit melihat benda asing di tumpukan baju gantinya. "Ihh... apaan ini?" Sarah memandang jijik dan melempar benda itu jauh-jauh.
"Kok dibuang, itu kak Ali yang beliin, dipakai ya?" ujar Ali tenang.
"Gak mau!" Sarah berjengit.
"Kak Ali bantu... " Ali memungut bra yang tadi dilempar Sarah.
"Sarah gak mau pake itu...!"
"Kenapa gak mau?"
"Malu, apa kata teman-teman Sarah nanti."
"Dek, semua perempuan pakai ini. Gak ada yang malu. Justru kalau kamu korsetin gitu bisa bahaya. Peredaran darah gak lancar dan bisa memicu kanker. Sarah mau sakit kanker?" Ali menjelaskan dengan sabar.
"Ya gak maulah, siapa juga yang kepingin sakit."
"Makanya, ayuk dipakai... kak Ali bantuin."
"Kalau pake kayak gini Sarah gak leluasa bergerak kak. Haduuh, bikin ribet. Liat nih, gedhe gini dipake lari-lari gak enak."
"Kalau ukurannya pas, enak kok... nyaman pasti. Ini kan juga kak Ali belikan yang sporty."
"Ck! Emang kak Ali pernah pakai? Gak kan?"
"Ya gak pernah, kak Ali tanya Bunda, trus browsing juga..."
Sarah menepuk jidatnya. Tanya bunda? Bener-bener bikin malu!
"Ok, Sarah mau pake tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Sarah mau tetep masuk sekolah."
Ali diam, berfikir sejenak. "Boleh, tapi janji ya kalau ada apa-apa, Sarah langsung hubungi kak Ali." Sejujurnya Ali merasa khawatir. Takut Sarah kenapa-kenapa. Pasalnya semalam Ali menyerah pada hasrat kelelakiannya dan menyerang Sarah tanpa ampun.
"Iya... iya..." jawab Sarah sambil mencibir, dikira dirinya bayi apa, yang kalau kenapa-kenapa harus ngadu?
***
"Sarah.. udah...!" Demon berusaha menarik tangan Sarah. Gadis itu kalap, dan ingin terus menghajar lawannya.
"Sar... dia dah bonyok... udahan..." Randy membantu Demon menarik Sarah agar menjauh dari Boy. Lawan Sarah yang sudah babak belur.
"Gak, dia belum ngaku salah!" Bentak Sarah.
"Dasar, cewek jadi-jadian lo!" Maki Boy.
Sarah sekuat tenaga melepaskan diri dari kekangan Demon dan Randy. Ia kembali merangsek maju dan mencengkeram kerah kemeja Boy. "Lo ngatain gue?!"
"Kalo iya kenapa? Lo mau hajar gue? Hajar aja, gue pastiin lo bakal dikeluarin dari sekolah."
Bugh!
Satu bogeman Sarah mendarat di wajah Boy. Cowok itu jatuh tersungkur ke samping. Sarah maju hendak kembali menghajar Boy saat sebuah tangan dingin mencekal pergelangan tangannya dengan lembut.
"Dek Sarah...!" Ali memanggil Sarah pelan dan tenang.
Sarah yang masih dikuasai emosi tak menggubris panggilan Ali.
"Lepasin!" Bentak Sarah. Ia memberontak menarik tangannya dari cekalan Ali. Tapi rupanya cowok itu kuat juga. Bahkan Demon dan Randy memegangi berdua saja masih kualahan.
Ali maju, membalik tubuh Sarah kemudian memeluknya. "Sudah cukup." Bisik Ali sembari mempererat pelukannya. Ali bisa merasakan tubuh Sarah yang kaku dan nafasnya yang memburu. Kelihatan sekali gadisnya sedang sangat marah.
Sarah masih berusaha memberontak. "Sstt... tenanglah." Ali mengusap lembut punggung Sarah, menarik kepala Sarah dan menyandarkannya di dadanya. Ali mengecup rambut Sarah, supaya istrinya itu bisa tenang.
Tadi Ali tidak sengaja melewati aula saat kembali dari ruang guru dan mendengar keributan dari dalam aula. Saat salah seorang murid keluar dari aula, Ali bertanya apa yang terjadi di dalam. Dia menjawab Sarah berkelahi dengan Boy siswa kelas 3.
Masih tetap memeluk Sarah, Ali mengarahkan pandangannya ke arah Boy."Kamu ada masalah dengan Sarah?" Tanya Ali pada Boy.
"Tanya padanya. Dia yang menyerangku lebih dulu."
"Benarkah?" Ali melepas pelukannya pada Sarah. Ia maju dan berhadapan dengan Boy. Ditatapnya Boy tanpa mengatakan apapun, tapi sepertinya Boy merasa terintimidasi. Boy kelihatan salah tingkah.
"Apa yang kamu lakukan padanya? Sarah tidak mungkin menyerangmu tanpa alasan." Ali berkata dengan sangat tenang. Tapi justru ketenangannya itu yang bisa membuat lawannya mengkerut.
"Aku tidak melakukan apapun!" Teriak Boy, tapi ia tak berani melihat langsung pada Ali.
"Aku berusaha bicara baik-baik, tapi jika kamu ingin menyelesaikannya dengan kekerasan, kita selesaikan di luar sekolah tanpa menggunakan atribut sekolah. Aku tunggu sepulang sekolah di area bertarung king crocs." Ali berkata tenang, jelas dan penuh intimidasi. Sebenarnya ini bukanlah sifat Ali, mencari keributan atau menantang lawan. Tetapi bagaimanapun juga Ali harus membela dan melindungi istrinya tercinta.
Ali berbalik. Ia menghampiri Sarah, merangkul gadisnya dan membawanya keluar aula. Seperti kerbau jinak, Sarah menurut tanpa banyak perlawanan meski emosi masih menguasainya.
Ali menuntun Sarah memasuki kantin sekolah. Ia tahu, dengan kondisi masih dikuasai amarah, tidak mu gkin mengantar Sarah kembali ke kelasnya. "Duduklah." Ali menarik kursi untuk Sarah.
Ali mengambil teh botol dan memesan beberapa makanan untuk Sarah.
"Minum dulu," ujar Ali lembut.
Sarah menolak. Ekspresi wajahnya masih kaku menahan marah.
"Minumlah sedikit." Ali mengarahkan sedotan ke mulut Sarah. Mau tak mau Sarah membuka mulutnya. Tanpa sadar Sarah menghabiskannya dalam sekali teguk. "Mau lagi?" Ali menawarkan, tapi Sarah menggeleng.
Tak berapa lama, makanan pesanan Ali datang. Bakso, pecel, siomay, dan mie ayam.
"Makanlah."
"Ini semua buat Sarah?" Wajah Sarah yang semula keruh seketika berubah cerah begitu melihat banyak makanan di hadapannya.
"Hmm," jawab Ali singkat. Ia menahan tawanya dalam hati. Liat makanan, langsung semangat dia.
"Kak Ali beneran gak mau?" Tawar Sarah dengan mulut penuh makanan,
"Sarah aja." Ali menjawab kalem. Melihat Sarah makan dengan lahap sudah cukup buat Ali.
"Ya udah, Sarah habisin semua nih."
Sarah memakan dengan lahap semua makanan yang dipesan Ali. Sesekali ia tersenyum gembira ke arah Ali.
"Tadi si Boy kenapa?" Ali mulai memancing Sarah setelah yakin mood Sarah mulai membaik.
"Ehh? Boy? Kurang ajar banget dia itu! Kalo gak ada kak Ali, udah Sarah bejek-bejek dia." Sarah menjawab sambil terus mencomot baksonya.
"Iya, apa yang dilakukan Boy sampai Sarah harus menghajarnya seperti tadi?"
"Dia mau nyelakain Sarah."
"Nyelakain gimana?" Ali masih berusaha tenang, tapi hatinya geram juga mengetahui ada yang berniat mencelakai wanitanya tercinta.
"Dia taruh silet dan paku berkarat di sepatu futsal Sarah. Untungnya belum sempat Sarah pake itu sepatu." Sarah menjelaskan sambil memakan mie ayamnya dengan sumpit.
"Sarah tau darimana jika Boy yang melakukan, bisa saja orang lain kan?"
"Ehhm... ada yang liat Boy masuk sana. Dia kan gak ikutan futsal, ngapain masuk ke sekretariat futsal?"
"Sarah yakin itu Boy?"
"Liat aja di cctv, ada kok rekamannya. Boy gak tau kalo anak-anak pasang cctv di sana."
Ali mengepalkan kedua tangannya. Meski di hadapan Sarah ia berusaha bersikap tenang, tapi tetap saja emosinya merasa terusik. Kurang ajar si Boy!
"Dek Sarah ingat pesan kak Ali tadi di rumah?" Ali bertanya kalem.
"Yang mana?"
"Kalau ada apa-apa, kasih tau kak Ali. Termasuk kalau ada yang gangguin Sarah."
"Kenapa? Masalah kayak gitu mah bisa Sarah selesaikan sendiri kali..."
"Karena, sekarang Sarah sudah jadi tanggung jawab kak Ali."
"Ck! Sarah bukan anak kecil lagi kak.." protes Sarah.
"Iya kak Ali tau. Janji ya, lain kali Sarah kasih tau kak Ali."
"Gak mau! Ntar dikira Sarah pengecut, penakut lagi...!" Sarah menyeruput kuah mie ayam langsung dari mangkuknya. Penampilan Sarah benar-benar mirip preman sekolah. Rambut awut-awutan, kemeja dikeluarkan dengan lengan ditekuk sampai pundak. Preman yang cantik.
Ali geleng-geleng melihatnya, tangannya terulur merapikan rambut Sarah yang jatuh menutupi matanya. Ia juga merapikan lengan kemeja Sarah yang ditekuk sampi bahu dengan menguraikan lipatannya. Ali tak rela lengan Sarah yang putih bening jadi tontonan banyak mata.
"Apaan sih kak Ali, gerah ni...?!"
"Kasian cowok yang pada ngiler liat lengan Sarah." Goda Ali.
"Kenapa ngiler?" Sarah terkejut.
"Hmm... pingin gigit kamu." Jawab Ali asal.
"Hah! Sarah gigit balik lah...ehm, kak Ali... Sarah boleh nambah sop buah? Hehehe..."
Sesaat Ali tertawa sebelum menjawab, "boleh, bentar kak Ali pesanin."
"Makasiih... kak Ali baik deh.. hahahaa..." Sarah tertawa ceria.
"Kak Ali rela melakukan apapun asal bisa melihat tawa itu selalu." Batin Ali.
***
"Kita mau kemana kak?" Sarah bingung, karena sepulang sekolah, bukannya pulang, Ali melajukan mobilnya ke arah berlawanan rumah.
"Nanti kamu juga tau."
"Sarah lompat nih kalo gak dikasih tau." Ancam Sarah.
Ali tergelak mendengar ancaman Sarah. "Jangan lompat dong. Kak Ali mau ajak Sarah ngecek toko." Jawab Ali.
"Toko apa?" Sarah bertanya Heran.
"Toko buku." Jawab Ali singkat. "Nah, kita sudah sampai."
Ali memarkirkan mobilnya, kemudian mengajak Sarah turun.
Ini kan toko buku yang sering Sarah kunjungi. Lumayan rame karena memang terkenal lebih murah dibanting toko buku lain. Di sini juga banyak diskon, terutama untuk novel-novel karya anak bangsa.
"Ayo." Ali menggandeng tangan Sarah dan mengajaknya memasuki toko. Tapi yang membuat Sarah heran, Ali mengajaknya masuk lewat pintu belakang yang bertuliskan 'khusus karyawan'.
"Kak... ini khusus karyawan lho."
Ali tersenyum simpul dan menarik Sarah menuju sebuah ruangan dimana semuanya berdinding kaca. Sepertinya ini ruang office.
"Mas Ali, selamat datang." Sapa salah seorang bapak-bapak yang memakai pakaian safari hitam. Ali menyalaminya di ikuti Sarah.
Sarah melihat nametagnya. Pria paruh baya itu bernama 'Heru' dengan jabatan sebagai office manager.
"Kenapa tidak memberi kabar dulu Mas, kalau mau datang?"
"Kebetulan lewat pak Heru, jadi sekalian mampir." Ali tersenyum sopan.
Ali menggiring Sarah memasuki sebuah ruangan di sudut office.
"Duduklah dulu." Ali menunjuk sofa di sebelah pintu masuk.
Sarah menurut. Ia duduk di sofa. Sarah mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sarah sedikit terkejut saat Ali duduk di kursi utama dengan sandaran yang tinggi, dan makin terkejut membaca tulisan yang tertera di atas meja.
Ali Sava Adyatma
Chief Executive
Ali menghubungi bagian OB dan meminta mereka membawakan minuman dan makanan ringan.
Sarah hanya mengamati saja, tak tau apa yang harus dilakukan. Beberapa orang keluar masuk ruangan Ali membawa laporan. Petugas Office boy juga mengantarkan minuman dan cemilan untuk Sarah. Sarah melihat Ali sedang memeriksa laporan yang diantar beberapa pegawainya.
Siapa yang menyangka Ali yang masih kelas 3 SMA memiliki beberapa usaha sendiri. Enterpreneur muda. Pantas saja dia terlihat percaya diri sekali ketika melamar Sarah. Tunggu dulu!! Kenapa dulu mas kawin yang diberikan cuma lima puluh ribu?! Ck! Pelit sekali, umpat Sarah dalam hati. Awas saja, setelah ini Sarah akan lebih sering meminta traktir makan. Hehehe...
"Kamu lelah?" Ali bertanya tanpa menoleh ke arah Sarah. Pandangannya tetap fokus pada laporan yang sedang ia periksa.
"Dek Sarah...?!" Panggil Ali lebih keras. Masih tidak ada jawaban.
Ali meletakan laporannya di meja dan menoleh ke arah Sarah. Alamak, sudah tidur rupanya. Ali tertawa sendiri seperti orang sinting. Bisa-bisanya Sarah tertidur di tempat seperti ini. Ali menghampiri Sarah. Ia mengangkat kaki Sarah yang menggantung di lantai dan menyamankan posisi tidur Sarah. Ia melepas jaket yang ia kenakan untuk menyelimuti Sarah, kemudian membungkuk dan mengecup bibir Sarah.
"I love you."